
"Ayo kita temui kedua orang tuamu! Aku akan memintamu untuk menjadi calon istriku!" ucap Dipta.
Nadia terkesiap dan terkejut ketika dia mendengarkan apa yang dikatakan oleh Dipta kepadanya. Nadya langsung mendorong tubuh Dipta yang saat ini masih memeluknya dengan erat. "Lepaskan!" pinta Nadya.
"Ayolah! Antar Aku ke meja kedua orang tuamu. Aku serius! Aku akan melamarmu hari ini juga. Coba kau Lihatlah cincin ini. Sekarang sudah ada di tanganku!" ucap Dipta sambil menunjukkan sebuah cincin berlian yang ada di saku jasnya.
Cincin itu memang sengaja dipersiapkan oleh Dipta. Tadinya akan dia gunakan untuk melamar wanita yang dijodohkan oleh ibunya dengan dirinya.
Tetapi setelah bercakap-cakap dengan perempuan itu selama setengah jam. Dipta merasa bahwa perempuan itu tidak cocok untuknya. Oleh karena itu, tadi Dipta memilih untuk melarikan diri dan ternyata Dipta malah bertemu dengan Nadia.
Akhirnya Ide gila itu pun muncul dengan meminta kepada Nadia untuk pura-pura menjadi kekasihnya di hadapan wanita yang dijodohkan oleh ibunya.
"Hentikan semua kegilaanmu! Sudah pergi sana! Aku mau kembali ke meja orang tuaku!" ucap Nadya ketua.
Nadya kemudian langsung meninggalkan Dipta seorang diri dan Nadya langsung berlari ke meja kedua orang tuanya dengan wajah yang bersemu merah. Karena sangking malunya dia sudah dicium oleh pria asing sebanyak dua kali pada malam ini.
"Ya ampun! Pria gila dari mana dia itu? Baru pertama kali bertemu sudah menciumku sampe dua kali. Oh... Ya ampun! Aku bisa gila nanti! Bahkan dia bilang mau melamarku lagi, benar-benar malam yang aneh!" ucap Nadya pelan, sambil terus memegang jantungnya yang saat ini sedang berdebar dengan kencang. Semuanya gara-gara ulah yang dilakukan oleh Dipta kepadanya.
" Ya ampun kurang ajar sekali dia sudah mencuri ciuman dariku!" Ya Allah betapa memalukannya! Kenapa aku tadi tampak menikmati ciumannya? Ah, benar-benar malam yanh gila!" Nadia terus bermonolog dengan dirinya sendiri menyesali kejadian yang baru saja terjadi terhadap dirinya bersama Dipta.
Nadya tidak tahu kalau dari tadi Dipta terus mengikutinya dan dia terus tertawa melihat tingkah laku Nadya yang saat ini begitu lucu di matanya. "Dia gadis yang menggemaskan!" ucap Dipta sambil tersenyum menetap ke arah Nadia yang saat ini sedang berjalan menuju meja kedua orang tuanya.
"Nadia! Kenapa lama sekali? Papa kira kau ketiduran di toilet!" ujar ayahnya Nadia karena dia bingung kenapa putrinya pergi ke toilet lama sekali.
__ADS_1
"Maaf Pah! Tadi ada kejadian yang tidak terduga. Makanya Nadia tertahan lama di sana!" ucap Nadia sambil memegang kedua pipinya takut terlihat kalau pipinya memerah saat ini karena sedang menahan malu.
"Selamat malam Pak Broto! Senang bertemu dengan anda!" ucap Dita sambil mengulurkan tangannya kepada kedua orang tuanya Rianti.
"Dipta? Kok kamu bisa ada di sini?" tanya Riyanti tampak bingung melihat sahabatnya ada di restoran yang sama.
"Halo Riyanti. Lama kita tidak bertemu ya?? Bagaimana dengan kabarmu?" Dita sambil menyelami Riyanti yang saat ini sedang menatapnya dengan heran.
'Ya Allah! Kenapa dia bisa mengenal mereka?' batin Nadya sudah mulai gemetar. Nadya yakut kalau sampai kedua orang tuanya mengetahui kejadian ciumannya bersama Dipta tadi. Pasti dia akan sangat malu sekali.
"Ayo duduk bersama kami Dipta! Kita sudah lama tidak bertemu seperti ini. Keluarga kami sedang merayakan bersatunya keluarga kami setelah Nadya keluar dari penjara!" ayahnya Riyanti sambil menatap Nadya yang saat ini tertunduk malu.
"Penjara? Kamu pernah dipenjara?" tampak Dipta terkejut mengetahui kenyataan itu. Dia melirik Nadya yang saat ini sedang menundukkan kepalanya karena rasa malu. Tampak bulir air mata mengalir dari pipi Nadya yang kusam.
Sejak bertahun lamanya berada di penjara. Nadya memang tidak pernah melakukan perawatan kulit lagi. Jadi wajar kalau kecantikannya tertimbun oleh kulit mati yang lama tidak dibuang dengan peralatan mahal.
Akan tetapi, tiba-tiba saja Dipta langaung menggenggam telapak tangan Nadya dan menatapnya dengan lekat.
"Duduklah! Ada yang ingin aku bicarakan dengan kedua orang tuamu dan kau harus mendengarnya!" ucap Dipta sambil menatap tajam manik mata Nadya yang kini menggelengkan kepalanya dengan tatapan sendu. Dipta menghapus air mata yang tanpa disadari oleh Nadia telah mengalir di pipinya.
Kedua orang tua Riyanti dan juga Riyanti tampak kebingungan. Ketika mereka melihat interaksi dua insan yang selama ini tidak pernah bertemu.
Dahulu Riyanti memang pernah menjalin hubungan dengan Dipta tetapi mereka tidak pernah berkunjung ke rumah masing-masing ataupun mengenal keluarga masing-masing sehingga wajar kalau Nadya tidak mengenal siapa itu Dipta.
__ADS_1
"Apa yang mau kamu lakukan? Tolong kau jangan bertindak gegabah!" ucap Nadia dengan wajah penuh permohonan kepada Dipta. Bahkan tampak mata Nadya sudah berkaca-kaca sejak tadi.
"Tidak apa-apa! Bukankah tadi aku sudah bilang padamu? Kalau aku akan melamarmu di depan kedua orang tuamu dan aku pasti akan menjadikanmu sebagai istriku!" ucap Dipta sambil meremas telapak tangan Nadya yang saat ini ada dalam genggamannya.
"Apa yang kau lakukan? Jangan bicara omong kosong! Hal seperti itu bukan main-main!" ucap Nadia dengan suara bergetar sambil terus menatap Dipta dengan serius.
"Tenanglah! Serahkan semuanya padaku, kau cukup menerima saja!" ucap Dipta pelan, berusaha untuk meyakinkan Nadia untuk bisa percaya kepadanya.
"Dipta, bisa tolong jelaskan semua ini kepada Kami bertiga? Karena kami tidak mengerti!" ucap ayahnya Rianti sambil menatap lekat kepada Dipta dan Nadya secara bergantian.
"Saya serius Om! Saya ingin melamar Nadya untuk menjadi istri saya. Besok saya akan datang bersama dengan Ibu saya untuk melamar Nadya secara resmi!" ucap Dipta sambil menatap tajam kepada Nadya yang tampak benar-benar bingung dengan keadaan yang saat ini sedang terjadi kepadanya.
"Apakah Nak Dipta yakin? Nak Dipta tidak masalah dengan status Nadya sebagai mantan narapidana?" tanya ayahnya Riyanti berusaha mencari keseriusan di wajah Dipta yang sampai saat ini masih menggenggam tangan Nadia dengan erat.
"Benar Nak Dipta! Tante takut, kalau nanti mamamu tidak menyetujui pernikahan kalian berdua. Bukankah Ibumu itu sangat pemilih dan juga over protektif sama kamu? Tante takut kalau nanti anak Tante hidup menderita menjadi istrimu!" ucap ibunya Riyanti sambil menatap tajam kepada Dipta yang tampaknya tidak gentar dengan semua ucapan keras yang diucapkan oleh kedua orang tuanya Riyanti kepada dirinya.
"Om dan Tante bisa mempercayakan semua itu pada saya yang penting berikan restu kalian berdua untuk saya melamar Nadya malam ini dan mengikat Nadya sebagai tunangan saya!" ucap Dipta pelan sambil mengeluarkan cincin yang tadi ditunjukkan kepada Nadya di hadapan kedua orang tuanya Riyanti dan juga Riyanti.
"Jodoh itu sungguh unik! Ada seseorang yang dikejar mati-matian tidak didapatkan. Eh, malah orang yang tidak di harapkan malah datang melamar! Om sungguh tidak mengerti harus bagaimana menanggapi ini!" Ucap ayahnya Riyanti sambil tersenyum kepada Dipta yang sekarang menatapnya dengan tajam bagaikan sebilah pedang.
"Aaya sudah berjanji pada diri saya sendiri. Bahwa saya pasti akan membawa calon istri ke rumah saya malam ini! Ketika tadi saya bertemu dengan Nadya tanpa sengaja. Saya yakin bahwa dialah jodoh yang sudah dikirimkan Tuhan untuk saya!" ucap Dipta sambil tersenyum kepada Nadya yang saat ini sedang menatapnya dengan bingung.
"Kau tidak boleh bercanda dalam hal seperti ini. Aku tidak mau kalau suatu saat kau menyesalinya!" ucap Nadya kemudian menundukkan kepalanya.
__ADS_1
"Baiklah Dipta! Om dan tante akan menerima lamaranmu. Asalkan Nadya juga mau untuk menerimamu dan bersedia menjadi calon istrimu!" ucap ayahnya Riyanti memberikan keputusan.
"Bagaimana Nadya?" tanya ayahnya Riyanti kepada putri sulungnya. Nadya hanya mengangguk saja dan menyembunyikan kepalanya dalam pelukan Dipta.