
Setelah dinyatakan benar-benar sehat, akhirnya Riyanti diizinkan pulang oleh dokter yang menanganinya. Persiapan pernikahan pun segera digelar, karena orang tuanya Rianti ingin segera meresmikan hubungan Rianti dengan dokter Bagas. Karena mereka khawatir kalau Rianti akan berubah pikiran lagi, dan menjadi masalah lagi di depan depan dengan Ali dan Nur.
Surat undangan rencana pernikahan mereka sudah disebarkan. Acara pertunangan pun sudah selesai dilaksanakan. Walaupun hanya sederhana saja, hanya makan malam keluarga, karena memang acaranya sangat mendadak, hanya ingin mengikat dua sejoli itu. Agar merasa yakin, bahwa mereka akan segera menikah.
Sebenarnya Ibunya Rianti merasa keberatan anaknya menikah dengan Dokter Bagas, yang ternyata adalah anak dari sopir mereka. Tetapi ayahnya Rianti menekankan, bahwa dia tidak peduli dengan status dan jabatan. Yang terpenting adalah Riyanti segera menikah dan tidak mencari masalah lagi dengan keluarga Ali dan Nur.
Dirinya tidak menginginkan Putri kesayangannya, menjadi biang keladi dari hanncurnya sebuah keluarga. Oleh karena itu Ayahnya Rianti tidak keberatan dengan lamaran Dokter Bagas. Walaupun hanya anak seorang sopir.
"Mama tuh rasanya sedih, kalau anak mau menikah hanya dengan anak seorang sopir. Walaupun dia seorang dokter dan ganteng! Hiks hiks!" drama air mata pun dimulai. Tetapi Rianti tampaknya tidak memperdulikan masalah status calon suaminya. Yang merupakan anak dari sopir mereka. Baginya, dia sudah merasa nyaman dan tenang berada di dekat Dokter Bagas yang ganteng dan sopan.
"Ma, Rianti itu nggak perduli, masalah seperti itu! Yang penting kan, Dokter Bagas baik sama Rianti. Apakah Mama lebih memilih Rianti memaksakan diri untuk menikah dengan suami orang lain? Dia juga nggak jelas kerjanya apa. Coba Mama mau pilih yang mana?" tanya Rianti. Tapi tetap saja hati mamanya Rianti masih belum ikhlas melepaskan putrinya kepada Dokter Bagas.
"Udah Rianti, nggak usah dengerin Mama kamu! Mama kamu kan memang seperti itu! Selalu saja, status kekayaan yang selalu ada dalam pikirannya!" ucap Papahnya. Istrinya melengos dan pergi meninggalkan ayah dan anak itu.
Ketika Dokter Bagas dan Mang Diman datang mengunjungi Rianti dan keluarganya, untuk membicarakan masalah persiapan pernikahan. Mamanya Rianti melihat mereka dengan tatapan permusuhan dan tidak suka.
__ADS_1
"Ada yang orang yang mau panjat sosial dengan menikahi orang kaya!" ucap Mamanya Rianti dengan sinis.
"Mama jaga bicara Mama! Jangan asal bicara aja! Lebih baik sekarang Mama masuk ke kamar! Jangan bikin malu Papa!" sengit bapaknya Rianti merasa kecewa, dengan istrinya yang sudah menyakiti hati calon menantunya.
"Belum jadi menantu resmi aja, kau sudah bikin saya dan suami saya berantem benar-benar bikin sial saja!" Mamanya Rinati lalu berlalu dengan mata berapi-api.
"Bu, kalau Ibu memang tidak merestui pernikahan saya dengan Rianti, dan ingin membatalkannya, tidak apa-apa! Kami tidak keberatan! Toh saya juga tidak terlalu membutuhkan pernikahan ini. Posisi kami di sini, adalah membantu keluarga Ibu, agar lepas dari masalah tentang Rianti. Kenapa di sini sepertinya kami yang mengemis untuk menjadi keluarga ibu!" dokter Bagas merasa marah, karena merasa harga dirinya telah diinjak-injak, sebagai seorang laki-laki terhormat. Dokter Bagas tidak terima kalau Ayahnya dihina oleh ibunya Rianti.
"Sudah miskin belagu lagi! Malang sekali nasib anakku menikah denganmu!" ayahnya Rianti sampai merah wajahnya. Mendengarkan makian istrinya terhadap calon menantunya. Tangannya sudah mengepal dan siap untuk menampar sang istri. Tetapi Mang Diman, menghentikan hal tersebut. Karena menurutnya memang tidak berguna untuk melakukan hal seperti itu, bukan kekerasan yang harus digunakan dalam masalah seperti itu.
"Silakan kalian urus pernikahan Rianti. Saya tidak merestui pernikahan ini! Jadi, saya tidak akan mau mengurus pernikahan bodoh ini!" ibunya Rianti kemudian meninggalkan ruang tamu.
"Maafkan ya, Dokter Bagas dan Mang Diman! Yah, begitulah Mamanya Rianti! Dia itu memang selalu begitu, suka ceplas-ceplos kalau bicara. Tapi hatinya baik kok! Nanti kalau sudah mengenal Bagas lebih baik, pasti dia akan berubah. Pelan-pelan saja untuk membujuknya!" ucap Ayahnya Rianti merasa tidak enak dengan Calon menantunya dan juga calon besannya.
"Tdak apa-apa Tuan! Kami ini memang rakyat kecil, sudah biasa menerima hinaan semacam ini. Tapi, bagi saya pribadi, selama saya tidak melakukan dosa dan kesalahan. Saya masih bisa menegakkan kepala saya. Walaupun dengan hinaan sekejam apapun!" ucap Mang Diman dengan suara pelan. Tetapi Dokter Bagas yang merasa terhina, tangannya sudah mengepal, menahan amarah di hatinya. Dokter Bagas tidak terima Ayahnya diperlakukan tidak hormat semacam itu.
__ADS_1
"Ayah! Lebih baik, rencana pernikahan ini tidak usah dilanjutkan! Awal saja sudah seperti ini, saya yakin tidak akan ada kebaikan di dalamnya!" Dokter Bagas sudah bersiap untuk meninggalkan rumah keluarganya Rianti. Tetapi Ayahnya Riyanti menahan kepergian Dokter Bagas dengan berderai air.
"Tolonglah saya Dokter Bagas! Tolonglah saya! Sekali Ini saja! Bagaimanapun, persiapan pernikahan sudah 100%! Kita hanya tinggal menunggu hari saja. Bagaimana mungkin, pernikahan ini akan dibatalkan? Apa yang harus saya lakukan? Ini benar-benar kejadian yang akan memalukan dan mencoreng keluarga kami!" ayahnya Rianti tidak mampu menahan kesedihan dihatinya.
"Dokter Bagas dan Mang Diman! Tolong maafkan Mamanya Rianti, ya? Nanti Rianti akan membujuk Mama. Tapi tolong! Jangan batalkan pernikahan ini! Itu akan menjadi noda hitam bagi ayah maupun bagi saya! Hiks hiks!" Rianti akhirnya menangis sedih.
Melihat wanita yang dia cintai bersedih, akhirnya Dokter Bagas pun luluh juga. Dia pun akhirnya duduk kembali dan tatapan matanya mulai melunak. Rianti tampak menyeka air matanya. Dokter Bagas yang awalnya ingin membantu proses penyembuhan hati Rianti yang saat ini sedang terluka karena cintanya yang bertepuk sebelah tangan, tetapi dia kini benar-benar jatuh cinta kepada Rianti.
"Maafkan Mas, Rianti! Kalau kata-kata Mas menyakiti hati kamu. Tetapi Mas juga bingung menghadapi sikap Mama kamu, kalau kita melanjutkan pernikahan ini, tampaknya hanya akan memberikan luka baru untuk semua orang!" Dokter Bagas menunduk tampak beban berat di wajahnya.
"Mas! Percayalah sama Rianti! Rianti pasti akan membujuk Mama, agar mau menerima pernikahan kita! Yang penting, Mas harus bersabar aja! Pelan-pelan, Mama pasti akan terbuka hatinya dan menerima pernikahan kita!" bujuk Rianti dengan lembut kepada calon suaminya. Ya, Rianti sudah jatuh cinta dengan Dokter Bagas.
Rianti sudah berhasil melupakan cinta sepihaknya terhadap Ali. dengan bantuan dokter Bagas Rianti bisa bangkit kembali dan menata kembali masa depannya.
"Baiklah Mas akan coba, untuk menerima Ini semua! Demi kamu dan Ayah kita! Tetapi, kalau sudah keterlaluan, maafkan Mas! Kalau mas tidak bisa diam saja, dengan hinaan dari Mamamu!" ucap Dokter Bagas tegas.
__ADS_1
"Iya, Mas!! Tenanglah! Rianti pasti akan membantu untuk membujuk Mama!" kemudian mereka berempat pun, akhirnya melanjutkan perundingan rencana pernikahan antara Dokter Bagas dan Rianti. Yang akan dilaksanakan dua hari lagi. Waktu yang begitu mepet, sehingga mereka harus ekstra tenaga dan ekstra waktu, mempersiapkan segalanya untuk menjadi sempurna.