
Keesokan harinya, Ali pergi ke pondok dalam rangka mengambil uang yang tadi malam dijanjikan oleh Pak Kiai, Ali langsung ke rumah Nadya. Tapi di sana sudah banyak polisi, yang mengepung rumah Nadya.
Ternyata polisi langsung menindaklanjuti laporan Ali, tentang mimpi yang dilihat oleh Nur dalam koma nya. Polisi langsung menyisir danau yang ada dalam mimpi Nur, dan benar saja, di sana di temukan tulang belulang dua orang manusia. Dilihat dari keterangan keluarga, Tukimin dan Tukiyem menghilang sekitar dua tahun lalu, setelah di selidiki, ternyata banyak orang yang telah menghilang setelah ngontrak di tempat Nadya. Polisi mengajak seorang ustadz untuk menghancurkan kamar rahasia yang di maksud oleh Tukimin dalam mimpinya Nur.
Benar saja, polisi melihat banyak foto yang di pajang di dinding kamar rahasia Nadya. Aroma darah begitu kuat menyeruak di hidung para petugas. Mereka langsung memasukan semua barang dalam kamar itu lalu membakarnya. Nadya yang sudah di borgol oleh polisi, hanya bisa pasrah dengan keadaan dirinya.
Ustadz tersebut lalu sholat di dalam kamar rahasia tersebut, gunanya adalah mengusir mahluk peliharaan Nadya. Setelah steril, Kost Nadya kemudian di segel oleh pihak kepolisian. Di tutup sementara demi penyelidikan lebih lanjut mengenai korban lainnya.
"Aisyah, tolong hubungi ayah ibuku di Jakarta, agar mereka menolong ku disini!" ucap Nadya sebelum di gelandang ke kantor polisi.
Semua penghuni kost lalu di minta untuk keluar dari sana. Sampai kasus tersebut selesai di selidiki. Aisyah yang tinggal satu rumah dengan Nadya juga di mintai keterangan.
Satu per satu warga penghuni kontrakan semua jadi saksi. Di tanyai tentang foto yang di pajang di kamar rahasia Nadya. Foto-foto tersebut telah di foto dahulu oleh pihak kepolisian sebelum di bakar habis.
Nadya menatap sayu, ketika melihat Ali mendekati dirinya. Ali meminta waktu kepada penyelidik, untuk bicara dengan Nadya.
"Maaf, aku datang kesini untuk mengembalikan uang yang pernah aku pinjam. Dengan ini, aku mengembalikan semua bala yang kamu kirimkan keatas keluarga saya, disebabkan oleh uang yang kamu pinjaman kepada saya. Saya permisi!" setelah memberikan uang tersebut, Ali langsung pergi dari sana. Nadya hanya melihat kepergian Ali yang secepat dia datang, secepat itu juga dia pergi. Hati Nadya sakit, melihat pria yang dia cintai begitu cuek dengan dirinya.
Cintanya untuk Ali yang membuat Nadya jadi ceroboh, hingga akhirnya kasus pembunuhan yang berlangsung bertahun-tahun lamanya dalam rangka memberikan tumbal bagi peliharaan dirinya kini terungkap satu persatu.
Polisi menemukan banyak kerangka mayat di belakang rumah Nadya. Sehingga Nadya tidak bisa mengelak lagi. Pengacara yang dikirimkan oleh orang tuanya tidak bisa membantu banyak. Nadya dijatuhi hukuman seumur hidup.
__ADS_1
Berdasarkan informasi terakhir, Nadya telah membunuh 45 orang dewasa dan 20 janin. Kabar itu sontak menggemparkan kota tersebut. Bagaimana begitu teganya seorang gadis cantik membunuh orang lain, hanya demi kekayaan.
Guru Nadya yang di panggil eyang juga kena imbasnya. Saat di tanya belajar dari mana, sontak Nadya menyebutkan nama gurunya.
Saat gurunya di selidik, ternyata gurunya juga ditemukan banyak melakukan kejahatan. Gurunya Nadya ternyata seorang dukun cabul yang sudah memerkosa para kliennya. Dengan alasan pembersihan jiwa, maka dia berbuat tidak senonoh kepada wanita- wanita malang itu.
"Mas, apakah kasus Nadya sudah selesai?" tanya Nur, yang kini sudah diperbolehkan pulang ke toko mereka. Orang tua Nur sudah kembali ke Cirebon.
"Kasusnya sudah sampai ke keputusan. Nadya di vonis hukuman penjara seumur hidup. Kita harus bersyukur berhasil membongkar kejahatan Nadya. Sekarang kita sudah memberikan pemakaman yang kayak bagi para korban Nadya."
"Mas, aku bersyukur, kamu gak sampai berbuat zina dengan Nadya. Pak Kiai bercerita, katanya Nadya juga mengirimkan pelet sama kamu, Mas?" tanya Nur agak canggung.
"Syukurlah, Untung anak kita gak kenapa-kenapa. Aku sudah takut sekali, kehilangan anak kita!" Ali mencium kening istrinya.
"Mas, apa kamu mencintaiku?" tiba-tiba Nur bertanya hal aneh, bagi Ali.
"Tentu saja, kenapa memangnya?" tanya Ali penasaran.
"Tidak apa-apa, aku hanya penasaran saja. Mas begitu gigih menolak godaan Nadya. Aku tahu semuanya, Mas! Bahkan aku tahu kalau kamu pernah hampir di perkosa oleh Nadya. Aku selama ini hanya diam, karena aku lihat Mas masih bisa menjaga Marwah Mas sebagai seorang suami. Terima kasih, ya Mas! Sudah bertahan bersama diriku!" Nur lalu memeluk suaminya.
"Kamu tahu semua yang Nadya lakukan padaku?" Ali tampak kaget mendengar pengakuan Nur.
__ADS_1
"Ya, aku selama ini tahu, tapi aku diam saja. Aku lihat Mas selalu menolak Nadya, jadi aku lega!"
"Sudahlah, sayang! Kita lupakan masalah Nadya. Kita bersyukur kita aman dan selamat, kamu harus banyak-banyak mengaji dan berdoa, agar selalu di lindungi oleh Allah!" Ali lalu mencium sang istri yang mulai membaik kondisinya.
"Bagaimana dengan wisudamu?" tanya Ali.
"Entah, aku kan hampir setengah bulan tidak ke kampus. Nanti kalau sudah baikan, aku akan cek lagi!" ucap Nur sambil memeluk suaminya.
"Ayo kita tidur, walaupun tempat ini kecil, tapi harus tetap bersyukur, kita masih punya tempat untuk berteduh dan tinggal bersama!" Nur hanya mengangguk lalu mulai memejamkan matanya.
Keesokan harinya, Ali sudah sibuk bersiap untuk membuka toko. Dia sudah mengecek barang apa saja yang habis dan perlu untuk belajar. Alhamdulillah, letak toko mereka strategi, jadi setiap hari selalu ramai pembeli.
Tidak terasa, akhirnya waktu untuk wisuda datang juga. Usia kandungan Nur juga sudah masuk usia 7 bulan. Saat yang paling di tunggu-tunggu akhirnya datang.
Saat wisuda yang harusnya di sambut dengan bahagia, malah mendapat kabar buruk dari Cirebon, yang mengatakan bahwa Mamahnya Nur meninggal karena kanker. Ali dan Nur pergi ke Cirebon dalam rangka menghadiri pemakaman dan juga tahlilan.
Usia kandungan Nur yang sudah jalan tujuh bulan, sudah tidak memungkinkan untuk bolak balik Purwokerto - Cirebon menggunakan motor lagi. Sungguh riskan dan bahaya.
Akhirnya, mempertimbangkan keselamatan anak dan ibu, Ali membiarkan Nur untuk tinggal di Cirebon sampai waktu melahirkan. Aku tinggal di Purwokerto seorang diri, karena toko tetap harus buka. Masih punya kewajiban untuk mengembalikan uang pondok yang digunakan untuk mengganti uang Nadya. Ali harus tetap semangat demi anak dan istrinya.
Apalagi sebentar lagi akan melahirkan, perlu banyak uang untuk persalinan dan acara pemberian nama anak. Begitulah hidup, kadang beban dan tanggung jawab yang harus kita tanggung, akan menguatkan kita agar terus berjuang dan berusaha demi orang yang kita cintai dan kita sayangi.
__ADS_1