Lurah Pondokku Calon Suamiku

Lurah Pondokku Calon Suamiku
67. Pembangunan Pondok pesantren


__ADS_3

Setelah makan malam selesai Ali kemudian mendekati Nur, kebetulan Raffi memang sudah tertidur sejak maghrib tadi, hati Nur rasanya deg-degan, sudah sangat lama Dia tidak merasakan hal seperti itu.


"Terimakasih, karena sudah mau kembali ke sisi Mas!" ucap Ali masih canggung. Nur melirik sekilas ke arah suaminya, lalu tersenyum simpul.


"Maafkan Aku ya, Mas! Karena cemburu yang membuta, membuat kita jadi terpisah begitu lama. Tapi Mas memang salah, ko! Mas seharian bengong seperti orang yang terkena genta. Orang bilang, yang bisa melepaskan genta adalah orang yang mengikatnya. Makanya aku memilih untuk pergi, dari pada hati semakin sakit!" ucap Nur mulai sendu lagi, hati Ali kembali mencelos, di dekatinya istrinya yang selama ini dia rindukan.


"Kalau Mas tidak mencintaimu, tidak mungkin Mas akan mencari kamu sampai sejauh ini. Kalau memang perempuan yang Mas cintai adalah Riyanti, saat ini Mas pasti ada di samping dia. Kamu kan tahu sendiri setiap hari Riyanti selalu mengejar-ngejar Mas. Lihatlah sekarang di jam seperti ini, Mas malah lebih memilih berada di samping kamu. Apakah itu kurang bukti cinta Mas untuk kamu, Sayang?" Ali secara perlahan menggenggam kedua tangan istrinya, mengecup nya sejenak, lalu mata mereka berdua berpandangan secara lekat, jantung keduanya berdetak begitu kencang, dengan lembut, Ali kemudian mencium Nur, dunia serasa berhenti seketika.


Seluruh urat saraf rasanya membeku, untuk sekian lama, mereka hanyut dalam permainan perasaan yang membuncah di angkasa. Nur maupun Ali, yang sama-sama menyimpan kerinduan yang sama selama ini, akhirnya tidak bisa membohongi perasaan mereka sendiri. Bahwa memang ada kerinduan yang tertanam di dalam jiwa mereka, jiwa yang kesepianku jauh dari pujaan hati.


"Mas mencintai kamu!" bisik Ali disela-sela ciumannya.


"Aku juga mencintai kamu, Mas!" mata Nur yang sudah berkabut, Ali tersenyum, mengetahui istrinya ternyata memiliki satu pemahaman dengan dirinya, segera di angkat tubuh Istrinya ke kamar mereka, Rafi terlihat tidur dengan nyenyak, bayi mungil itu, begitu pengertian, seakan paham, bahwa orangtuanya sedang di mabuk rindu, setelah hampir 6 bulan lebih berpisah.


"Mas rindu sekali sama kamu!" Ali terus menciumi istrinya, Nur yang masih merasa malu, hanya bisa menerima semua yang disuguhkan oleh suaminya.


Malam itu, menjadi saksi bisu atas dua insan yang dipisahkan karena kesalahpahaman, dan di satukan atas nama cinta. Malam itu menjadi sejarah dari cinta mereka berdua, yang kelak akan melahirkan seorang anak perempuan cantik calon hafizah.

__ADS_1


Keesokan harinya, mereka berdua bangun dengan perasaan bahagia, sudah lama perasaan semacam itu hilang dari hari-hari mereka, ya, kecemburuan yang terlalu besar, yang membuat Nur nekat kabur ke Jakarta. Membentangkan jarak yang sangat besar di antara dirinya dan suaminya.


"Sayang, ayo sholat shubuh dulu! Mas mau ke Mushhola dulu!" satu kecupan manis mendarat di kening Nur, Nur yang masih merasa bahwa itu hanya mimpi, masih belum percaya bahwa kini dirinya telah kembali bersama dengan suaminya yang tercinta, duduk bengong terlongong di tepi ranjang. Ranjang yang masih kacau, seakan habis kena gempa, yang mengingatkan Nur dengan pergulatan penuh cinta mereka berdua tadi malam.


Nur tersipu malu, mengingat begitu manisnya, saat-saat itu kembali lagi dalam kehidupan rumah tangga mereka berdua. Nur dikejutkan oleh tangisan Rafi, ah, Nur lupa dengan bayi tampan itu, sangking asyiknya dirinya saat membayangkan sisa percintaan dirinya bersama sang suami yang terjadi tadi malam.


Mereka berdua layaknya Pengan baru saja, tidak mau saling melepaskan satu sama lain, sehingga akhirnya berpelukan sampai shubuh tiba. Pipi Nur kembali memerah karena malu. Nur mengambil Rafi di tempat tidur nya, Ya, Dipta memang sahabat terbaikku. Dia memberikan segalanya untuk Rafi di rumah ini. Bahkan box bayinya terkesan begitu mewah. Seperti anak orang kaya saja.


"Anak Mamah lapar, ya?" Nur lalu menyusui Rafi, sampai dia terkantuk-kantuk lagi, tapi Nur ingat, bahwa dirinya belum sholat shubuh. Setelah Rafi kembali terlelap, Nur bergegas mandi dan sholat, setelah itu pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan bagi dirinya dan sang suami.


Perasaan Nur benar-benar bahagia. Saat suaminya kembali dari Mushhola, Nur menyambutnya dengan bahagia. Ali mengecup keningnya.


"Tadi sudah bangun, setelah di susuin, dia tidur lagi. Aku ke dapur dulu ya, buat sarapan untuk kita." Nur lalu berlalu dari hadapan Ali.


"Memang kita punya bahan makanan? Kita kan baru pindah Kemarin, dan belum sempat berbelanja apapun kok kamu sudah bisa masak sih?" tanya Ali penasaran. Ali duduk di meja makan, sambil memperhatikan istrinya.


"Merry yang belanja kemarin, dan mengisi kulkas kita penuh dengan bahan makanan!" ucap Nur sumringah.

__ADS_1


"Merry? Siapa dia?" Tanya Ali lagi, di bukanya kulkas yang ada di rumah itu, Ali takjub dengan isinya yang full dan wah. Banyak sekali bahan makanan di dalam sana.


"Merry itu yang bekerja di rumahnya Dipta!" jawab Nur.


"Tampaknya Dipta itu sangat perhatian sekali dengan kamu dan Rafi. Begitu banyak budi yang sudah dia berikan kepada keluarga kita. Entah bagaimana kelak kita akan membalas kebaikan Dipta yang sudah mempersatukan keluarga kita, yang sudah memberikan segala fasilitas yang tidak mungkin Mas bisa berikan kepada kamu dan Raffi. Mas merasa rendah diri di hadapan Dipta!" Ali mulai merasa insecure dengan Dipta yang selalu berusaha memberikan segalanya untuk istri dan anaknya.


"Dipta itu memang baik, Mas! Bukan hanya dengan kita. Itu, Merry dan Laila juga diselamatkan oleh Dipta dari rumah bordil, Dipta selalu baik kepada siapapun yang dia temui! Tapi sayang, hidupnya sungguh mengenaskan!" Nur yang sudah menatap sarapan di meja, kini ikut bergabung bersama suaminya duduk di sana.


"Maksudnya?" tanya Ali kurang paham.


"Pernikahan Dipta dan istrinya, tidak direstui kedua orangtuanya, Istrinya di usir oleh Mamahnya Dipta, pada saat Dipta bertugas keluar kota, di perjalanan, mereka mengalami kecelakaan dan meninggal di tempat. Dipta bahkan tidak melihat jenazah istrinya dan juga anaknya yang waktu itu masih seusia Rafi. Itulah, yang menjadi dasar, Dipta menolongku dan Rafi, dia merasa, seperti melihat istrinya dahulu yang kabur!" Tanpa terasa air mata mengalir di kelopak mata Nur, merasa sedih dengan kemalangan sahabatnya yang telah meneduhkan hatinya di kala gundah saat meninggalkan suaminya.


Tiba-tiba pintu rumah di ketuk, Nur dan Ali bergegas melihat siapa gerangan yang datang. Hari itu, Team yang ditugaskan oleh Dipta datang untuk meninjau lokasi pembangunan yang diperintahkan oleh atasan mereka.


Setelah berdiskusi dengan Ali dan Nur, mereka akhirnya memutuskan sebuah desain untuk pondok pesantren yang akan di bangun. Nur tampak puas dengan desain yang di tawarkan oleh team desainer di kantornya Dipta.


"Team desainer nanti akan menghubungi bapak dan ibu, untuk detailnya. Baiklah, kami permisi dulu, saya akan mengurus surat-surat dan dokumen untuk pendirian yayasan dan pondok pesantren yang baru!" pengacara Dipta dan beberapa orang yang masuk ke dalam team yang dikirimkan oleh Dipta, lalu pergi dari rumah yang kini ditempati oleh Ali dan Nur.

__ADS_1


"Alhamdulillah, impian kita memiliki pondok pesantren, sebentar lagi akan segera terwujud!" ucap Ali sambil mencium kening istrinya.


"Iya, Mas! Kita doakan, semoga Dipta segera menemui kebahagiaan dalam hidupnya!" ucap Nur sambil menatap suaminya, "Amien!" mereka kemudian melanjutkan sarapan mereka yang sempat tertunda.


__ADS_2