
Keesokan harinya, Mereka pun bangun, sarapan. Kemudian mengunjungi kedua orang tua Riyanti di kediaman utama.
"Senangnya melihat kalian sudah sampai ke Jakarta. Gimana honeymoon nya apakah menyenangkan?" tanya ayahnya Rianti dengan mata berbinar-binar.
"Kalau kalian mau, Mama bisa menyiapkan perjalanan ke Bali untuk honeymoon kalian yang kedua!" ucap ibunya Rianti sambil melirik kepada suaminya.
"Tdak usah Mah! Rianti tidak menginginkan Bali. Sudah cukup perjalanan kemarin sangat melelahkan!" ucap Riyanti dengan senyuman manjanya.
"Kenapa kedua orang tuamu tidak ikut kembali bersama kalian?" tanya ibunya Rianti sambil menatap Bagas.
Bagas menarik nafasnya tampak ragu, untuk berbicara. Tetapi akhirnya Rianti mengambil alih untuk memberitahukan kepada kedua orang tuanya.
"Ayah dan ibu sudah tua. Mereka bilang ingin pensiun dan menikmati masa tua mereka di kampung!" ucap Riyanti sambil memeluk ibunya dengan manja.
"Kemarin kenapa tidak mengatakannya kepada kami? Kalau tidak kami pasti kemarin mencari penggantinya!" ucap ibunya Riyanti seperti kecewa.
"Maaf, Pah, Mah! Memang keputusan itu mendadak. Saat kami akan pergi, baru ayah dan ibu kepikiran untuk pensiun.
Ucap Bagas, tampak ayahnya Rianti menarik nafas dalam. Berusaha untuk memaklumi keputusan kedua besannya untuk tidak bekerja lagi di rumahnya.
"Ya, Sudahlah tidak apa-apa! Emang ayah ibumu sudah tua. Mereka bekerja di rumah ini sudah lebih dari 20 tahun. Wajar sih kalau mereka ingin mengundurkan diri!" ucap ayahnya Rianti memaklumi.
"Lalu, Bagaimana dengan pekerjaanmu di rumah sakit Bagas?" tanya ibunya Rianti.
"Saya mulai bekerja siang ini dan Mah! Saya mengajak Rianti untuk datang ke sini, untuk meminta izin untuk mengajak Rianti. Tadi Saya ditelepon Oleh Direktur Rumah Sakit, mereka akan menugaskan saya ke daerah. Jadi saya akan membawa Rianti bersama saya ke sana!" ucap Bagas dengan suara agak gemetar.
__ADS_1
"Tugas ke daerah? Kenapa tiba-tiba seperti itu padahal kalian baru menikah!" ucap ibunya Rianti dengan terkejut.
"Iya Mah, tadi malam terjadi bencana gempa di Kalimantan. Dan di sana kekurangan Dokter. Oleh karena itu mereka meminta bantuan kepada Rumah Sakit tempatku bekerja, untuk mengirimkan tenaga medis ke sana!" ucap Bagas sambil menundukkan kepalanya.
"Mama tidak mengizinkan Rianti ikut kamu ke daerah. Masa iya baru pengantin baru sudah dibawa hidup susah seperti itu?" ucap ibunya Rianti dengan mata melotot tajam.
"Mah! Bisakah kau diam biarkan papa bicara!!" ucap ayahnya Rianti dengan nada tinggi.
Sejurus kemudian, ayahnya Riyanti berbicara menghadap Bagas. Dengan wajah serius sehingga membuat Bagas merasa seperti sedang diadili.
"Bagas ayah bukannya tidak mengizinkan Rianti untuk ikut bersamamu. Hanya saja apa Rianti bisa untuk mengikutimu?" ucap ayahnya Rianti dengan mimik wajah yang sangat serius.
"Rianti bisa kok, ikut dengan Mas Bagas. Papa sama Mama jangan khawatir!" ucap Rianti berusaha untuk meyakinkan kedua orang tuanya bahwa dia siap mengikuti suaminya kemanapun dia pergi.
Ibunya Rianti berdiri dan berkaca pinggang, menolak tegas keputusan suaminya itu. Untuk membiarkan putrinya dibawa ke Kalimantan oleh suaminya.
" Putri Mama tinggal satu. Bagaimana mungkin akan pergi jauh juga dari mama? Apakah kau tidak berpikir kalau kami juga menyayangi Rianti?" tanya beliau tampak kecewa dengan keputusan suaminya.
"Memang seperti itu kalau punya anak perempuan, Mah! Kalau sudah menikah, dia akan pergi mengikuti suaminya. Seorang anak perempuan itu tamu, bagaikan tamu di rumah ayahnya. Setelah menikah tidak boleh lagi kita ikut campur urusannya. Dia telah menjadi tanggung jawab suaminya!" ucap ayahnya Rianti, sambil mengelus tangan istrinya agar tidak marah lagi.
"Tapi Pah, nanti kalau Mama rindu dengan Rianti, Bagaimana? Kalimantan itu jauh loh!" protes istrinya masih tidak suka dengan keputusan suaminya.
"Mama itu punya Papa, sebagai suamimu. Kita akan menghabiskan masa tua kita berdua. Jadi mama nggak usah merengek seperti itu. Rianti itu hak suaminya bukan hak kita lagi sebagai orang tuanya!" ucap suaminya sambil menatap tajam ke arah istrinya. Ibunya Rianti masih belum rela, Rianti dibawa pergi oleh Bagas keluar daerah.
"Jangan khawatir Mah, tidak akan lama kok. Setelah bencana itu selesai dan masyarakat berhasil diobati. Kami akan segera kembali ke Jakarta. Itu hanya tugas sementara saja, dalam rangka kami membantu bencana di sana!" ucap Bagas berusaha menenangkan kedua mertuanya.
__ADS_1
"Tapi tetap saja, Kami khawatir. Bagaimana mungkin kami mengirimkan putri kami ke daerah bencana seperti itu?" sengit ibunya Rianti sambil menatap tajam ke arah Bagas.
"Sudah Bagas, Riyanti! Sudah sana kalian pulang saja. Biar urusan Mamamu, Papa yang akan menyelesaikannya. Kalian tidak usah khawatirkannya!" akhirnya Papanya Rianti mengambil keputusan seperti itu.
"Baiklah, Pah, Mah! Kami sekalian pamit ya? Karena nanti siang kami akan langsung berangkat ke Kalimantan. Bersama dengan tim medis lainnya!" ucap Bagas sambil mengucapkan salam kepada kedua mertuanya.
"Kau harus menjaga Riyanti! Jika terjadi apa-apa dengan dia, Mana pastikan tidak akan pernah memaafkanmu!" ucap mamanya Rianti dengan tegas sambil menunjuk-nunjuk hidung Bagas.
" Iya Mah. Bagas pasti akan menjaga Rianti Jangan khawatir!" ucap Bagas sambil menyalami kedua mertuanya. Kemudian pergi dari rumah mereka dengan perasaan sedikit was-was, gara-gara melihat sikap ibu mertuanya lagi, yang tampak memusuhinya.
"Sudahlah, Mas! Nggak usah dipikirkan. Mamah memang seperti itu, tapi hatinya baik kok. Dia hanya khawatir terhadapku!" ucap Riyanti sampai mengelus tangan suaminya.
"Iya Mas paham. Kalau mereka sangat menyayangimu dan ini menjadi beban berat untukku!" ucap Bagas sambil fokus menyetir.
"Tenanglah Aku pasti bisa menjaga diriku sendiri kau bisa fokus dengan pekerjaanmu!" ucap Rianti berusaha menenangkan suaminya. Yang tampaknya terpengaruh dengan ucapan ibunya.
"Bagaimana nanti, cara kita berangkat ke Kalimantan ya?" tanya Rianti tampak antusias.
"Sepertinya, Mamamu benar. Akan sangat berbahaya kalau kamu ikut ke sana. Di sana daerah rawan bencana. Bisa Kapan saja datang gempa susulan, dan itu sangat berbahaya. Apa tidak sebaiknya kau menunggu saja di Jakarta? Setelah selesai, Mas akan kembali ke sini!" ucap Bagas sambil menatap lekat Rianti.
"Tidak mau seperti itu mas! Bagaimana aku bisa enak tidur, enak makan. Sementara kondisimu di sana, Aku tidak ketahui. Aku ingin selalu berada di sampingmu itu saja!" ucap Rianti dengan tegas dan tidak mau dibantah. Bagas tampak menarik nafasnya dengan dalam.
"Tapi sejujurnya, Mas pun merasa khawatir kalau kamu ikut ke Kalimantan juga!" ucap Bagas menatap Riyanti dengan lekat.
" Ayolah, Mas! Jangan begitu. Bukankah kita sudah sepakat kalau kita akan berangkat bersama?" ucap Rianti sambil memegang tangan suaminya. Berusaha meyakinkan bahwa dirinya sanggup untuk mengikuti suaminya kemanapun dia pergi.
__ADS_1