Lurah Pondokku Calon Suamiku

Lurah Pondokku Calon Suamiku
73. Nur Mengamuk


__ADS_3

"Apa iya, Anda datang kesini, untuk membujuk kami, agar suami saya menikahi anak Anda?" sengit Nur tanpa tedeng aling-aling.


"Kurang lebih seperti itu!" jawab Ayahnya Rianti.


"Lebih baik Anda keluar dari rumah ini!" Nur langsung berdiri dan mengusir Papanya Rianti.


"Sayang, tenanglah! Jangan tidak sopan dengan tamu kita!" Ali kemudian menarik tangan istrinya untuk duduk kembali, tapi Nur yang sudah terlanjur sakit hati, mana mau di ajak duduk lagi. Nur malah masuk ke kamar dan membanting pintu kamar.


"Astagfirullah! Maafkan istri saya, Pak! Dia memang kalau sedang emosi, jadi suka lepas kontrol!" ucap Ali sopan.


"Tidak apa-apa, Ustaz! Memang saya yang salah. Saya yang terlalu egois, meminta hal yang sudah pasti menyakitkan bagi istri Ustadz. Mohon maafkan saya!" ucap Papahnya Rianti dengan menundukkan kepalanya.


"Begini, Pak! Saya ada usul. Apakah bapak mau menerima?" tanya Ali serius.


"Apa itu, Ustadz?" tanya Papahnya Rianti penub harap.


"Bapak kenal dengan Dipta?" tanya Ali.


"Tentu saja! Dia dulu pernah punya hubungan dengan Rianti, mereka putus karena Rianti yang kuliah ke luar negeri!" jawab Papahnya Rianti.


"Ah, itu lebih bagus lagi. Saya punya ide. Bagaimana kalau kita mendekatkan Rianti dengan Dipta kembali? Saya rasa, masih ada harapan di antara mereka!" ucap Ali.


"Apa ustadz melihat hal itu?" tanya Ayahnya Rianti


"Ya, saya melihat, Rianti cukup patuh dengan Dipta. Saya akan membujuk Dipta, supaya mau memulai hubungan kembali dengan Rianti. Sekarang, saya minta Bapak untuk kembali dulu ke rumah. Banyak berdoa, agar Dipta dan Rianti hatinya kembali terpaut Karena, hanya itu saat ini yang saya lihat, mampu menjadi solusi untuk kita semua!" kemudian Papahnya Rianti pamit pulang.


"Maafkan sekali lagi, karena sudah mengganggu waktu Pak Ustadz. Saya berharap kelak kita akan bertemu lagi dalam keadaan yang jauh lebih baik!" Ali mengangguk-angguk lalu mengantarkan Papahnya Rianti ke depan.

__ADS_1


Ali lalu masuk ke kamar, mencari sang istri yang kini sedang marah. Pintu kamar yang tadi di banting, kini terbuka dan menampilkan wajah Nur yang masih emosi.


"Kapan tanggal pernikahan kalian?" tanya Nur ketus.


"Kenapa? Apakah Mama ingin Papa menikah dengan Rianti?" tanya Ali sambil menatap istrinya yang kini menatap dirinya dengan nyalang.


"Ceraikan saya dulu! Lalu Kalian bisa menikah!" Nur lalu mengambil koper dan memasukan semua barang-barang miliknya dan juga anal mereka.


"Sayang, kamu itu kebiasaan sekali. Suka mengambil kesimpulan sendiri. Tidak mau mendengar atau bertanya kepada Papa!" ucap Ali yang kini mulai memberikan panggilan romantis bagi keduanya. Papa dan Mama!


"Apa yang harus aku tanyakan? Bukankah, Mas memang mencintai Rianti?" ucap Nur kesal.


"Papa! Biasakan untuk memanggil Papa atau Aby, atau Babah?" Ali malah menggoda istrinya yang sedang mengamuk itu. Nur seketika melempar bantal di dekatnya.


"Gak usah banyak macam! Cepat katakan, Mas mencintai dia, ya kan?" sengit Nur makin kesal.


"Apa benar? Lalu bagaimana dengan Rianti? Dia bahkan sampai rela mati demi mendapatkan kamu, Mas!" Nur lalu duduk di tepi ranjang, melipat kakinya, dan menangis disana. Sesegukan sedih sekali!


"Papa gak peduli! Papa hanya peduli dengan istri Papa yang amat Papa cinta ini!" Ali lalu menarik Nur ke dalam pelukannya. Nur awalnya menolak tetapi akhirnya luluh juga, mau menerima uluran tangan suaminya.


"Bagaimana dengan Rianti?" tanya Nur.


"Rianti dan Dipta, dulu pernah menjalin hubungan, tetapi terputus gara-gara Rianti harus kuliah ke luar negeri! Tadi Papa minta ayahnya Rinati untuk mulai mendekati Dipta kembali, menjajagi, siapa tahu, mereka masih ada harapan untuk bersama lagi!" Ali lalu mencium kening istrinya dengan lembut. Nur hanya menutup matanya, meresapi cinta yang dikirimkan oleh suaminya.


"Apa benar, Mas menolak tawaran itu? Rianti anak seorang konglomerat yang kaya raya! Mas tidak mau jadi menantu orang kaya?" tanya Nur kembali sendu.


"Papa gak butuh semua itu! Papa hanya butuh senyum Mama dan Rafi! Itu lebih penting dari apapun juga!"

__ADS_1


"Gombal!" Nur akhirnya bisa tersenyum lagi.


"Papa serius!" ucap Ali. Mereka kemudian sholat dhuhur bersama lalu melihat para pekerja yang masih sibuk bekerja. ada juga sebagian yang sedang makan.


"Ayo kita main ke rumah Dipta setelah makan siang. Ini ko tumben ya, sudah seminggu Dipta tidak datang kesini?" ucap Ali sambil melihat ke arah para pekerja yang masih sibuk mempersiapkan pondok pesantren yang sudah 80% siap. Sebulan sekali, Mamanya Dipta datang untuk meninjau pembangunan. Menanyakan apa saja yang kurang,dan dia selalu siap menyediakan semua yang di butuhkan. "Papa khawatir, kalau Dipta sedang sakit, atau kenapa-kenapa, soalnya gak biasanya, dia lama sekali tidak berkunjung ke sini!" Ali langsung menaruh piringnya bekas makannya dan menuju Rafi, putranya yang kini sudah pintar berjalan dan mengoceh khas anak bayi.


"Anak Babah tambah tampan, kebanggaan Babah!" Ali lalu mencium pipi putranya dengan penuh kasih sayang.


"Ayo kita berangkat, kalau memang ingin menemui Dipta. Biasanya dia pulang kalau jam makan siang seperti ini." Nur sudah bersiap dan menunggu suaminya yang masih sibuk bermain dengan Rafi.


"Mah, coba telpon dulu Diptanya, siapa tahu tidak ada di rumahnya!" saran Ali masih fokus main dengan Rafi yang sedang lucu dan amat menggemaskan.


"Ya udah, Aku telpon dulu!" Nur lalu masuk ke kamar, mengambil ponselnya yang tadi dia charge.


"Biasakan panggilan Mama dan Babah! Buat ngajrin anak kita nantinya!" ujar Ali ketika Nur kembali ke ruang tamu.


"Belum terbiasa, udahlah! Gak usah terlalu banyak peraturan yang bikin pusing!" ujar Nur, lalu sibuk menelpon Dipta. Tapi sangat lama, telponnya tidak di angkat juga.


"Gak di angkat! Jadi gimana, nih?" tanya Nur, bimbingan.


"Mamah ga punya nomor Merry atau Mamahnya?" tanya Ali melihat istrinya sejenak.


"Coba aku cek, jarang banget, berhubungan dengan Merry ataupun Mamanya Mas Dipta!" Nur lalu mencari nomor Merry, ternyata setelah dicoba, akhirnya di angkat juga.


"Hallo Mba Nur. Apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Merry dengan sopan.


"Dipta kemana, ya? Ko lama sekali tidak ada kabarnya?" tanya Nur to the point.

__ADS_1


"Pak Dipta sedang pergi ke Purwokerto, Mba! Sudah seminggu dia di sana! Lagi kangen sama istri dan anaknya katanya. Jadi mengunjungi makam mereka di sana." ucap Marry memberikan informasi kepada Nur.


__ADS_2