
Pov Ali
Salah seorang santri melaporkan, bahwa ada seorang supir angkot yang mengatakan bahwa istriku saat ini ada di rumahnya. Hatiku sungguh sangat senang sekali.
Aku segera menemui supir angkot tersebut, yang saat ini sedang ngetem di depan tokoku. Seorang santri sedang berbincang dengan pria itu.
"Assalamualaikum, kang, apa benar akang sudah menolong istri dan anak saya?" tanyaku tidak sabar lagi. Si akang supir angkot tersebut tampak memperhatikan diriku dari atas hingga bawah.
"Iya, sekitar empat hari lalu, ada seorang wanita bernama Nur dan bayinya yang bernama Rafi, ikut menumpang di angkot saya. Karena saya kasihan, makanya saya memberikan tumpangan di rumah saya untuk sementara, kebetulan kalau siang di rumah saya selalu tidak ada orang, karena saya dan ibu saya kalau siang selalu bekerja. Tadinya Nur memaksa ingin mencari kost, tapi oleh ibu saya di larang, karena ibu saya sudah suka dengan Bayi Rafi yang sangat lucu dan tampan. Bayi kecil itu, memberikan warna baru dalam dunia kami yang selama ini hanya monokrom." entah kenapa, mendengar tuturnya, tiba-tiba hatiku terasa sakit, aku yang suami dan ayahnya, telah menzalimi mereka dengan sibuk memikirkan orang asing yang tidak jelas rimbanya.
Hatiku rasanya tertusuk duri. Kenapa orang lain begitu bahagia dengan kehadiran mereka tapi aku? Setelah berbincang agak lama dengan supir angkot tersebut, aku meminta langsung untuk di antarkan ke rumahnya, aku ingin segera menjemput istri dan anakku.
"Ayo, Mas, kita ke rumah Mas nya, saya tidak sabar ingin bertemu dengan istri dan anak saya!" ucapku sangat bahagia karena akhirnya bisa bertemu lagi dengan mereka.
Saat kami sampai di sana, aku tidak sabar untuk bertemu dengan istriku, tapi aku heran, kenapa tidak keluar juga, berkali-kali di panggil oleh kami.
"Sebentar, Mas! Saya panggil dulu, siapa tahu sedang di kamar mandi. Mas nya menunggu di ruang tamu dulu, silahkan masuk!" Mas itu lalu membuka pintu rumahnya yang tidak di kunci.
Aku melihat ke sekeliling, rumah ini sederhana, tapi sangat bersih dan nyaman. Pantas istriku betah tinggal disini.
__ADS_1
"Aduh, Mas! Nur sudah tidak ada di kamarnya, barang-barang dia juga sudah tidak ada di sana! Bagaimana ini?" tiba-tiba Mas yang membawaku ke rumah ini muncul dengan wajah cemasnya.
"Ayo kita ke jalan besar, mungkin belum terlalu lama perginya!" ucapku sambil berdiri dan setelah Mas nya masuk ke angkotnya, kami pergi ke jalan besar, berharap bisa menemukan istri dan anakku. Tetapi nihil, tidak ada istriku di sana.
"Mas, kita berpencar, Mas nya ke terminal dan saya ke stasiun kereta. Nanti Masnya hubungi saya kalau ada info, saya juga begitu nanti, ini nomor telepon saya!" lalu Mas itu memberikan nomornya kepadaku.
Setelah bertukar nomor telepon, kami berpisah, aku mengikuti instruksinya untuk mencari istriku di terminal, tapi ternyata di sana juga tidak ada. Sudah lemas tubuhku. Pergi kemana dia? Apakah dia pergi ketika melihat kedatanganku? Apakah istriku sangat membenciku, sehingga lari ketika melihat diriku? Berbagai pikiran buruk berkecamuk dalam diriku. Aku marah, aku kesal dan juga sedih. Hatiku rasanya mau meledak saja.
"Assalamualaikum, Mas! Saya sudah mencari ke seluruh pelosok terminal, setiap Bus, tapi tidak ada istri dan anakku disini." ucapku lemas, saat menelpon Mas Badri.
"Sama, Mas! Saya juga tidak menemukan istri Mas disini. Kemana ya, kira-kira Nur pergi? Saya memikirkan Rafi yang sedang demam. Jadi cemas begini!" ucap Mas Badri lemas juga
Pov Nur
Saat aku melihat ada mobil bus yang lagi ngetren di jalan, jurusan Jakarta, aku masuk tanpa pikir panjang. Aku hanya ingin segera meninggalkan kota ini, tidak ingin bertemu dengan suamiku lagi.
"Mba mau kemana?" tanya seseorang yang duduk di sampingku, seorang pemuda yang tampan.
Aku menengok padanya, "Ke mana saja, aku gak ingin tinggal di kota ini lagi!" ucapku dengan sendu. Mas itu melihatku dengan tatapan terkejut.
__ADS_1
"Kenapa memang, Mba? Mba lagi ada masalah di kota ini?" tanyanya kepo. Aku membelai anakku yang kini mulai bergerak, menangis karena lapar. Aku menyusui anakku sambil menutup bagian dadaku dengan kain selimut yang aku gunakan untuk anakku. Malu sebenarnya menyusui di depan pemuda itu, dia juga nampak canggung. Tapi mau bagaimana lagi, anakku butuh susu karena sejak pergi dari rumah Mas Badri belum menyusu, dia pasti sangat kelaparan.
"Maaf, ya Mas! Bayi saya kelaparan!" ucapku canggung, Mas yang ada di sampingku hanya tersenyum canggung.
"Tidak apa-apa, santai saja! Dari pada nanti bayinya nangis, malah membuat orang lain terganggu. Lanjutkan saja, saya tidak apa-apa!" ucapnya sambil melihat ke luar jendela.
Setelah anakku kembali tidur, aku memejamkan mataku yang rasanya sangat lelah dan mengantuk. "Maaf, ya Mas! Saya ingin tidur dulu, lelah sekali!" ucapku. Mas itu lalu meminta kami untuk bertukar tempat duduk, saat ini aku duduk di kursi pinggir, dia khawatir anakku nanti terganggu dengan hilir mudik penumpang bus.
"Mba, duduk di pinggir jendela sini, saya khawatir deds bayinya nanti ke senggol-senggol penumpang lain." ucapnya penuh pengertian.
"Terima kasih atas kebaikan nya!" ucapku haru. Ya, di saat seperti ini, aku sangat sensitif terhadap orang yang berbaik hati menolong ku. Saat ini adalah saat terendah dalam hidupku.
"Mba, istirahat saja. Nanti saya bangunkan kalau kita sudah sampai Jakarta. Kebetulan saya juga mau ke Jakarta!" ucapnya dengan begitu ramah.
"Terima kasih, sekali lagi." setelah memastikan posisi tidur anakku aman, aku kembali tidur. Rasa lelah ini sungguh amat sangat. Lelah lahir bathin.
Aku terjaga saat kami sudah sampai daerah gebang. Aku galau, akan berhenti disini saja dan kembali ke rumah Papahku atau aku lanjut perjalanan ke Jakarta saja? Tapi di sana aku tidak ada tujuan sama sekali. Aku menatap anakku yang saat ini sudah bangun juga.
"Kenapa, Mba?" tanya Mas yang duduk di sebelahku. Dia tampaknya baru bangun juga.
__ADS_1
"Sebenarnya, ini adalah kota kelahiranku, aku sedang ragu apakah akan turun disini atau terus melanjutkan ke Jakarta." ucapku ragu.
Mas yang duduk di sebelahku tampak heran, dia menatap mataku dengan penuh simpati. Ya, mataku sudah berkaca-kaca soalnya. Sedih dan kalut, berbaur menjadi satu.