Lurah Pondokku Calon Suamiku

Lurah Pondokku Calon Suamiku
131. Dipta Drop


__ADS_3

"Dipta, Bima! Apa yang kalian lakukan di sana? Cepat kalian ke ruang tamu. Mama ingin bicara dengan kalian berdua!" ucap ibunya Dipta dengan suara lantang sehingga membuat Bima dan Dipta hanya bisa saling melirik satu sama lain.


"Semua gara-gara lu Bim! Lu selalu saja kasih masa buat gue!" desah Dipta dengan frustasi.


Dipta kemudian dengan lemas pergi dari kamarnya untuk menemui ibunya di ruang tamu apartemennya.


"Kita kan nggak ngapa-ngapain? Sudahlah lu nggak usah takut. Tante hanya salah saham saja dengan kita berdua!" ucap Bima dengan senyum usilnya.


Dipta melirik kesal kepada Bima, yang selalu saja menggampangkan apapun yang terjadi diantara mereka berdua.


"Lu selalu santai menanggapi apapun yang dipikirkan orang lain terhadap kita berdua. Padahal gue udah ke kebat kebit nggak karuan. Gue takut kalau mereka semua betul-betul berfikir bahwa kita bukan pria yang normal!" Dipta seketika bergidik dengan pikirannya sendiri.


"Kalian berdua duduk di situ!" tunjuk ibunya Dipta kepada Dipta dan Bima ke sebuah sofa yang ada di hadapannya.


Kemudian ibunya Dipta duduk di hadapan mereka berdua dan menatap keduanya dengan penuh rasa curiga.


"Apa yang kalian lakukan tadi di kamar?" tanya ibunya Dipta to the point. Karena dia sudah tidak sabar ingin mengetahui jawaban apa yang akan diberikan oleh keduanya.


Dipta melirik Bima sejenak, kemudian dia menundukkan kepalanya. Dipta meminta Bima untuk menjawab apa yang ditanyakan oleh ibunya saat ini.


"Lu jawab pertanyaan nyokap gue! Keusilan lu, selalu bikin gue dalam keadaan canggung kayak gini!" protes Dipta kepada Bima yang hanya nyengir saja.


"Kami tidak ngapa-ngapain tante. Saya hanya sedang merawat Dipta yang sedang demam!" ucap Bima dengan suara pelan dan pasti.


"Apa benar kalau sedang sakit Dipta?" ibunya Dipta dengan khawatir. Ketika dia melihat putranya yang memang terlihat agak pucat.


"Hanya demam doang Mah! Tadi Bima sudah memberikan obat dan sekarang sudah agak lebih baik! Alhamdulillah!" ucap Dipta lemah.

__ADS_1


Dipta kemudian membaringkan tubuhnya di sofa, karena saat ini tubuhnya masih lemah dan belum sanggup untuk duduk lama-lama.


Ibunya Dipta kemudian mendekati putranya dan memeriksa suhu tubuh Dipta.


"Kau memang demam, sayang!" ibunya Dipta sangat khawatir dengan keadaan putranya.


Rasa khawatir dengan keadaan Dipta, seketika pikiran yang tadi hinggap ketika melihat Dipta dan Bima di atas ranjang, seketika hilang menguap entah ke mana.


"Kita ke rumah sakit aja ya? Mama khawatir kalau kamu sakit parah, sayang!" ucap ibunya Dipta sambil mendekati putranya yang mulai memejamkan matanya.


"Dipta baik-baik saja Mah! Udahlah nggak usah berlebihan. Sebaiknya Mama pulang saja. Besok kan Mama harus pergi bekerja ke kantor. Ini juga sudah larut malam tidak baik kalau mama berlama-lama ada di luar!" ucap Dipta menyuruh ibunya untuk pulang dari apartemennya.


"Lah terus kamu gimana? Nggak mungkin dong mama ninggalin kamu sendiri dalam keadaan sakit hati ini!" ibunya Dipta tampak keberatan dengan apa yang diinginkan oleh putranya saat ini.


"Tante tidak usah khawatir dengan Dipta. Saya pasti akan menjaga Dipta sehingga besok dia bisa kembali bekerja dengan baik!" ucap Bima sambil tersenyum kepada ibunya Dipta yang saat ini menatap tajam dirinya.


"Bima sebaiknya lu pulang aja. Gara-gara lu pasti nyokap gue berpikir aneh-aneh tentang gue!" ucap Dipta frustasi.


Entah kenapa setiap orang yang melihat mereka berdua, selalu berpikir aneh-aneh tentang mereka berdua.


Padahal mereka hanyalah sepasang sahabat yang saling menyayangi satu sama lain. Tidak lebih! Apakah sesulit itu memiliki hubungan persahabatan dengan seorang laki-laki?


Persahabatan Dipta dan Bima sudah terjalin lebih dari 20 tahun Jadi wajar kalau mereka sudah merasa seperti seorang saudara.


"Gue nggak bisa ninggalin lu Dipta! Gimana gue bisa berpikir tenang sementara lu di sini sakit dan gak ada yang merawat!" Bima menolak perintah dari Dipta untuk meninggalkan apartemennya.


"Dipta, lebih baik kamu pulang sama mama saja. Kami tinggal di rumah mama, biar mama bisa mengurus kamu!" ucap ibunya Dipta.

__ADS_1


"Udah deh Mahn Dipta cuma demam doang. Besok juga pasti sembuh tadi Bima sudah memberikan obat buat Dipta!" Dipta sudah sangat kesal. Karena mereka terus saja ribut sementara kepalanya saat ini sedang pusing.


Ketika Dipta hendak bangun dari sofa tempat dia berbaring tadi, tiba-tiba saja tubuhnya ambruk dan pingsan.


Bima dan ibunya langsung panik seketika. Bima langsung mengangkat tubuh Dipta ke kamarnya dan membaringkan Dipta di atas ranjang yang ada di kamar Dipta.


"Bagaimana ini Bima? Apa yang harus kita lakukan terhadap Dipta? Kenapa dia tiba-tiba pingsan begini?" ibunya Dipta sudah cemas luar biasa melihat putranya yang sekarang sedang pingsan tidak sadarkan diri.


"Tenanglah Tante, sebentar saya akan berusaha untuk menyadarkan Dipta!" Bima kemudian pergi ke kotak obat dan mencari minyak angin untuk menyadarkan Dipta.


Setelah menemukan yang di cari, Bima langsung mendekati Dipta. Bima kemudian mendekatkan minyak angin tersebut di hidung Dipta sehingga secara perlahan kesadaran Dipta mulai kembali.


"Kita rumah sakit aja ya Dip? Gue khawatir kalau ada penyakit lain yang membuat lo jadi drop kayak gini!" Bima berusaha untuk membujuk sahabatnya agar mau dibawa ke rumah sakit.


Bima paling tahu, kalau Dipta itu paling anti untuk pergi ke rumah sakit. Dipta lebih baik kesakitan di rumah daripada harus tinggal di rumah sakit.


Dahulu waktu kembali dari Kalimantan. Kalau tidak dipaksa olehnya untuk mau diisolasi pasti Bima juga menolak.


"Gue tidak apa-apa Bim! Gue cuman kelelahan aja. Kemarin banyak karyawan yang pada mogok kerja, sehingga tenaga gue terforsir untuk mengurus mereka!" ucap Dipta dengan suara yang lemah.


"Tapi gue tetap khawatir dengan keadaan lu Dipta. Ayo kita ke rumah sakit ya? Kita harus periksa semua kondisi badan lu, biar tenang!" Bima terus mendesak Dipta agar mau dibawa ke rumah sakit. Bima saat ada sesuatu yang mencurigakan dari kondisi Dipta saat ini.


Tiba-tiba Dipta kembali drop dan pingsan lagi. "Kita bawa Dipta ke rumah sakit aja, Tante! Saya khawatir kalau ada penyakit lain di tubuhnya!" dengan cekatan Bima langsung mengangkat tubuh Dipta dengan bantuan ibunya dan seorang security.


Setelah perjuangan yang begitu keras. Akhirnya mereka berhasil membawa tubuh Dipta ke dalam mobil Bima. Mereka siap untuk berangkat ke rumah sakit milik keluarga Bima yang jaraknya tidak terlalu jauh dari apartemen Dipta saat ini.


"Bagaimana keadaan Dipta Bima?" tanya ibunya Dipta begitu khawatir melihat putranya sekarang yang kembali pingsan dan tidak sadarkan diri.

__ADS_1


"Kita akan tahu kondisi Dipta, setelah Dipta menjalani pemeriksaan lengkap Tante! Kita berdoa saja yang terbaik untuk Dipta!" ucap Bima mencoba untuk menenangkan ibunya Dipta yang saat ini masih menangis melihat putranya yang belum sadarkan diri sejak tadi.


__ADS_2