
Tidak terasa sudah mau 40 hari kami melakukan KKN di desa ini, kini kami sibuk mempersiapkan perpisahan KKN, yang artinya kami akan mengakhiri tugas kami di desa ini. Rasanya senang sekali, aku kangen dengan teman-teman di pondok dan juga teman-teman di kampus.
"Nur, tadi ustadz yang kami undang untuk mengisi tausiah pada acara penutupan katanya lagi sakit. Jadi kita sekarang dalam masalah." ucap temanku tampak bingung.
"Apa yang bisa aku bantu?" tanyaku.
"Tunangan kamu, bisa kamu pinta dia untuk mengisi tausiah nanti?" ketua rombongan kami bergabung dalam obrolan.
"Nanti aku coba tanya dia."
"Sekarang hubungi dia, karena acaranya nanti malam. Kita butuh kepastian saat ini!" Nadin menatapku intens.
"Baiklah, aku telpon dia sekarang." aku lalu mencari kontak nama Mas Ali. Hatiku deg-degan, sudah lama aku tidak pernah menghubungi dia. Saat panggilanku disana mendapatkan jawaban, aku memberikan telpon ke tangan temanku, ketua rombongan KKN.
"Assalamualaikum, mohon maaf. Saya adalah ketua rombongan KKN yang bertugas di desa ini, nanti malam rencananya kami akan mengadakan perpisahan. Tapi Ustadz yang kami hubungi untuk mengisi acara berhalangan hadir. Apakah Anda bisa membantu masalah yang kami hadapi?" Aku lihat ketua rombonganku tampak manggut-manggut, lalu mengakhiri panggilan tersebut.
"Alhamdulillah, tunanganmu bersedia membantu kita. Ayo kita siap-siap! Jangan sampai ada kesalahan. Kita buat kesan yang indah untuk acara perpisahan malam ini!" kami bersorak kompak. Uporia kebahagiaan yang kami rasakan menjadi pecut semangat dalam mempersiapkan acara perpisahan nanti malam.
Anak-anak SD yang sudah kami latih untuk tampil sudah di dandani dan dipersiapkan. Kami sendiri sudah makan malam dan sholat isya. Acara akan segera di mulai. Tapi ketua rombonganku tampak gelisah. Dia mendatangiku dengan buru-buru.
"Nur, kenapa tunangan kamu belum datang? Ini acaranya sudah mau mulai!" Dia mondar mandir di hadapanku. Aku jadi pusing dibuatnya.
"Aku akan menghubungi dia. Tunggulah!" lalu aku pergi ke tempat yang tenang dan menghubungi Mas Ali. Tiga kali seringan, baru panggilan ku mendapatkan jawaban darinya.
"Assalamualaikum, Mas kamu sekarang di mana?" tanyaku to the point.
"Di pondok. Kenapa memangnya?" jawabnya terdengar santai.
"Ya Allah, Mas! Kami disini sudah kalang kabut menunggumu, ko kamu masih santai sih? Heran deh!" rajutku kesal.
"Apa kamu ingin aku datang ke sana?" tanyanya.
"Ya iya, lah! Kami sudah menunggumu dari tadi."
__ADS_1
"Apa kamu sudah memaafkan Mas?" tanyanya agak sendu. Aku mendengar dia menghela napas berkali-kali. Tampak kalau dia juga galau.
"Cepatlah ke sini, Mas! Teman-teman sudah pada pusing itu!"
"Jawab dulu pertanyaan Mas! Apa kamu mau memaafkan, Mas?"
"Hubungannya apa ya, Mas?" tanyaku kesal.
"Kalau kamu memaafkan Mas, Mas akan berangkat sekarang. Kalau tidak, Mas tidak akan mau berangkat kesana untuk membantu kalian." ucapnya terdengar santai nyaris tanpa dosa.
"Ya Allah, Mas! Kamu kekanak-kanakan sekali!" ucapku kesal.
"Nur, mana tunangan kamu! itu acaranya sudah mau di mulai!" temanku sudah berteriak disana,mengingatkan acara sudah di mulai.
"Mas maunya apa sih? Kalau memang tidak mau hadir, jangan kasih harapan dong. Sekarang malah nyusahin kaya gini!" ucapku geram.
"Mas hanya mau kamu maafin Mas, itu aja. Mas gak bisa hidup tanpa kamu, sayangku!" ucapnya sendu di sebrang sana.
"Ya udah,Mas cepatan datang! Atau aku gak akan pernah maafin Mas,aku juga akan batalin rencana pernikahan kita!" ancamku. Biarin aja dia tahu. Aku juga bisa ngancam dia.
Ternyata dia ngerjain aku.Dasar!
"Ih... dasar Nyebelin!" aku memukul dadanya saat dia menghampiriku dan memberikan telapak tangannya untuk aku cium.
"Kamu gemesin!" ucapnya sambil mengusap pucuk kepalaku dengan lembut.
"Ih... apaan sih! Malu tahu dilihatin orang!" aku lalu meninggalkan Mas Ali yang sudah di sambut ketua rombonganku. Mas Ali di ajak duduk bersama para pejabat desa, duduk dekat Pak Lurah. Aku duduk bersama teman-temanku.
Penampilan anak-anak SD dan ibu-ibu PKK silih berganti. Pengumuman pemenang lomba yang diadakan tadi siang sudah diumumkan oleh Dimas. Semua senang dan puas dengan acara yang sudah kami susun. Sekarang tiba pada acara inti, yaitu tausiah. Mas Ali langsung naik ke panggung, saat namanya di panggil oleh MC.
Dia berceramah kurang lebih sekitar 1 jam, wah.. ini pertama kalinya aku melihat dia ceramah di depan khalayak ramai. Auranya bersinar banget, ketampanan dia meningkat 100x lipat. Ceramah dia lumayan berisi dan berbobot. Dia serius orangnya, makanya gak heran, ceramah dia juga serius, ga ada mimik bercanda.
"Wah, tunangan kamu, keren!" ucap Dimas berbisik padaku, di atas panggung, Mas Ali menatapku dengan tajam. Aku jadi salah tingkah sendiri.
__ADS_1
"Dim, aku ambil minum dulu ya." dustaku pada Dimas, padahal karena aku takut Mas Ali marah, aku tahu dia itu posesif sekali, paling tidak suka kalau lihat aku dekat dengan cowok lain.
"Aku melihat tunangan kamu bakal jadi ustadz yang hebat!" ucap Nadya. Dia wanita yang cantik dan Solehah. Dari tadi matanya tidak lepas menatap Mas Ali. Ada kekaguman disana.
"Kamu suka, sama tunangan aku?" tanyaku asal.
"Gak, lah! Dia kan punya kamu. Aku gak mau merusak hubungan kalian." ucapnya sambil tersenyum.
Bilang gak suka, tapi matanya kegatelan gitu, dari tadi gak mau berpaling matanya."Dasar ganjen!" Rutukku dalam hati.
Acara sudah hampir selesai, tausiah di tutup dengan doa, yang di percayakan kepada Kang Sholeh, teman satu pondok sama Mas Ali, tadi mereka berdua kesini bareng.
Setelah acara selesai, Dimas mengajak Mas Ali dan Kang Sholeh untuk makan bersama dengan semua team dan pejabat desa. Suasana sangat santai dan menyenangkan.
Besok kami semua sudah berpisah, kembali ke fakultas masing-masing. Sibuk dengan kehidupan kami masing-masing. Apalagi kami ini angkatan tua, sudah harus fokus dengan penelitian, skripsi dan memperbaiki nilai-nilai agar nanti nilai IPK jadi bagus, sibuk sekali pokoknya.
"Mas pulang dulu, yah. Kamu harus hati-hati. Jangan dekat sama cowok sembarangan!" ucap Mas Ali sebelum pulang.
"Mas juga hati-hati. Jangan ngebut-ngebutan." aku mencium telapak tangannya. Setelah Mas Ali pergi Nadya menghampiriku.
"Cie.. Cie.. udah kaya suami istri aja. Cium cium tangan segala!" godanya sambil matanya mengerling tajam padaku.
"Ya ampun! Ngagetin aja sih!" ujarku sambil mengelus dadaku.
"Maaf deh! Eh, ngomong-ngomong, tunangan kamu kerjanya apa?" tanya Nadya kepo.
"Aku gak tahu, aku gak pernah tanya sama dia. Kenapa memangnya? Kamu naksir ya, sama tunangan aku? Hayo jujur!" ucapku sambil menggelitik pinggang Nadya.
"Sembarangan! Jangan asal nuduh ya. Aku gak mungkin rebut tunangan orang lain, apalagi punya teman!" ucap Nadya gugup.
"Ya syukurlah! Aku kira kamu naksir sama Dia!"
"Kalau aku naksir, apa kamu marah sama aku?" heran aku dengan pertanyaan Nadya yang terkesan aneh dan tiba-tiba.
__ADS_1
"Kalau Mas Alinya mau sama kamu, ya gak apa-apa. Jodoh sudah ada yang atur. Kita manusia hanya bisa berusaha." ucapku santai.
Hari sudah larut, aku masuk ke kamar aja. Beres-beres. Besok harus pulang ke pondok pagi-pagi. Siangnya aku ada janji temu dengan pembimbing skripsi ku. Mau membicarakan tentang persiapan penelitian. Alhamdulillah sudah mau mulai penelitianku, jadi langkahku menuju kelulusan tinggal menunggu waktu saja.