Lurah Pondokku Calon Suamiku

Lurah Pondokku Calon Suamiku
72. Papah Rianti Menemui Ali


__ADS_3

Keadaan Rianti masih kritis, karena dia kehilangan banyak darah. Tampaknya kesehatannya akan lama untuk pulih. Kedua orang tua Rianti merasa bingung bagaimana caranya untuk membuat sang putri kembali ceria lagi.


Setelah sadar dari pengaruh obat bius ketika menjalani operasi, Riyanti lebih banyak diam dan murung. Tidak ada sama sekali semangat hidup di wajahnya. Hal itu sungguh menghiris hati kedua orang tuanya.


"Pah, pikirkan acara agar Putri kita kembali seperti dulu! Mama nggak sanggup melihat keadaan Rianti saat ini, Pah!" ucap istrinya dengan derai air matanya.


"Ya sudah! Papa akan mencoba mencari Dipta! Siapa tahu Dipta bisa menolong kita. Bukankah dulu Rianti dan Dipta pernah menjalin suatu hubungan yang dekat? Kita berdoa saja semoga Dipta bisa berbuat sesuatu untuk Rianti!" Papahnya Rianti kemudian keluar dari rumah sakit, dan meminta kepada sopirnya untuk mengantar dirinya ke kantor Dipta yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah sakit tempat Rianti di rawat saat ini.


"Bagaimana keadaan non Rianti, Tuan? Apakah sudah lebih baik?" tanya Sopirnya.


" Yah! Masih seperti itu! Belum ada kemajuan! Tetapi setidaknya, dia sudah sadar. Kita berdoa saja, semoga keadaannya semakin membaik!" ucap Papahnya Rianti.


"Apakah Tuan ingin bertemu, dengan laki-laki yang sudah membuat non Rianti menggila seperti itu?" tiba-tiba supirnya tersebut mengatakan hal yang mengejutkan.


"Apakah Bapak mengetahui tentang laki-laki itu?" tanyanya.


"Non Rianti, pernah beberapa kali meminta saya untuk mengantarkan dia ke tempat laki-laki itu. Laki-laki itu memang sudah punya istri Tuan! Dan dia sangat mencintai istrinya! Bahkan, sekarang pasangan tersebut sedang sibuk membangun pondok pesantren untuk para yatim piatu dan kaum dhuafa pondok pesantrennya sudah hampir 80% sudah siap, tinggal masuk tahap finishing saja!" ucap sopir tersebut dengan antusias.


"Coba kau antarkan saya, ke tempat laki-laki itu! Saya ingin mencoba untuk berbicara dengan dia. Siapa tahu dia bisa membujuk Rianti untuk bisa kembali seperti dulu lagi!" Ayahnya Rianti merasa bahagia karena kini dia bisa melihat harapan untuk kesembuhan Putri tersayangnya.


"Baik Tuan! Saya akan antarkan Tuan ke tempat laki-laki itu. Dia orang yang baik kok, Tuan. Tuan gak usah khawatir! Pasti dia tidak akan keberatan untuk menolong Non Rianti!" ucap supir tersebut.

__ADS_1


"Semoga saja!" ucap Papahnya Rianti lirih. Karena dia sendiri merasa bimbang, apakah mungkin istri laki-laki itu bersedia untuk menjadikan Riyanti sebagai madunya. Karena mengingat Rianti begitu mencintai laki-laki itu sehingga rela mati demi dia.


"Itu rumahnya Tuan! Dia tinggal di rumah milik keluarganya Tuan Dipta, mantan kekasihnya Non Riyanti! Tanah dan rumah itu sudah diwakafkan kepada pasangan tersebut, untuk membangun pondok pesantren bagi anak yatim piatu dan kaum dhuafa!" ucap supir tersebut.


"Tampaknya ,pondok pesantren itu sudah siap! Apakah mungkin, laki-laki itu mau menerima kedatangan saya?" tanyanya Ragu, tetapi demi kebaikan anaknya, dia mengesampingkan semua harga dirinya.


"Ayo temani saya kesana, Pak!" ajak Papahnya Rianti.


"Baik, Pak!" kemudian sopir dan Papanya Rianti keluar dari mobil tersebut dan menuju rumah yang masih ramai oleh para pekerja yang sedang mempersiapkan pondok pesantren tersebut untuk segera bisa dihuni oleh para santri. Tempat yang sangat nyaman dan asri.


"Semoga pondok pesantren ini, bisa menjadi tempat anak-anak untuk belajar ilmu agama, ya, Pak!" ucap Papahnya Rianti, Tampaknya dia cukup excited dengan tempat itu.


"Amin Tuan! Apakah Tuan juga ada keinginan untuk menjadi donatur dari Pondok Pesantren?" tanya supirnya.


"Iya, jadi donatur, Tuan! Tuan Dipta dan Mamanya adalah donatur tetap di pondok pesantren ini. Saya juga sesekali kalau sedang tidak ada pekerjaan, datang untuk membantu para pekerja di sini! Istri saya juga membantu untuk menyiapkan makanan untuk para pekerja disini!" ucap Supir tersebut.


Ayahnya Rianti tanpa manggut-manggut mendengarkan ucapan sopirnya. " Mungkin, nanti akan saya pikirkan untuk menjadi donatur juga! Saat ini saya ingin fokus dulu untuk kesembuhan Rianti!" ucap Papanya Rianti.


Ketika mereka sampai di teras rumah tersebut, istrinya Pak sopir tersebut menyambut suaminya, "Oalah! Bapak kok mau datang ke sini, tidak bilang-bilang sama Ibu! Ibu jadi terkejut!" ucap seorang wanita paruh baya yang berpenampilan sederhana wanita itu langsung menyambut kedatangan suaminya beserta majikannya.


"Iya, Tuan yang meminta saya untuk mengantarkan beliau ke sini ingin bertemu dengan Ustadz Ali dan istrinya!" ucap sopir tersebut. Rumah Pak Sopir keluarga Rianti memang dekat dengan lokasi pondok pesantren, jadi dia juga cukup kenal dengan Ali dan Nur.

__ADS_1


"Ayo Tuan masuk! Biar saya panggilkan dulu, Ustadz Ali dan istrinya! Mereka sedang mengecek kesiapan kamar yang akan di huni oleh para santri baru!" Papahnya Rianti kemudian diajak ke ruang tamu oleh Pak sopir tersebut. Sementara istri Pak sopir tersebut masuk ke dalam untuk mencari pemilik rumah.


"Ustadz itu di depan, ada majikan suami saya, ingin bertemu katanya dengan Ustadz sama istrinya!" ucap wanita sederhana itu. Ali dan Nur saling pandang, karena merasa tidak kenal dengan majikan suaminya Mpok Romlah yang sering membantu menyiapkan makanan untuk para pekerja yang bekerja di pondok pesantren.


"Baiklah! Kami akan langsung ke sana! Tolong,Mpok siapkan makanan untuk makan siang mereka, oke?" ucap Nur sambil tersenyum.


Suami istri tersebut kemudian menemui tamu yang sudah menunggu mereka. Ali maupun Nur, tampak heran, karena tidak kenal dengan orang tersebut.


"Assalamualaikum pak Ustad! Perkenalkan, saya adalah Papanya Riyanti!" ucap Papahnya Rianti agak sungkan.


"Waalaikumsalam! Oh, jadi bapak ini adalah orang tuanya Rianti? Senang sekali dengan kedatangan Anda! Silakan duduk, Pak!" ucap Ali ramah.


"Sayang, tolong siapkan minuman, ya?" Ucap Ali kepada istrinya. Mendengar Ali yang memanggil istrinya dengan begitu mesra, Seketika hati Papahnya Rinati menjadi ciut.


" Oh ya, silakan, Pak! Ada kebutuhan apa? Sehingga membuat anda jauh-jauh mencari saya?" tanya Ali.


"Begini Pak Ustadz! Anak saya tadi malam berusaha untuk bunuh diri, dengan memotong nadinya. Sekarang dia masih kritis, di rumah sakit. Saya ingin minta tolong, agar Pak Ustadz, mau dan sudi untuk menengok anak saya tersebut!" ucap Papanya Rianti hati-hati.


"Apa urusannya keadaan Anak Anda dengan suami saya, Pak?" tiba-tiba Nur sudah ada diantara mereka dengan membawa minuman dan beberapa camilan.


"Anak saya mencoba bunuh diri, karena cintanya yang ditolak oleh Pak Ustadz!" ucap Papahnya Rinati to the point. Sontak Nur dan Ali terkejut dengan keterangan itu.

__ADS_1


"Rupanya anak Bapak, belum menyerah juga untuk merayu suami saya! sampai menggunakan trik murahan semacam itu, dengan mencoba bunuh diri entah apa yang harus saya katakan! Jangan katakan kepadaku, bahwa kedatangan Anda saat ini adalah meminta agar suami saya menikah dengan putri Anda!" sengit Nur sudah emosi.


__ADS_2