
Setelah semua persiapan selesai Riyanti dan Bima akhirnya meninggalkan Rumah Sakit tersebut dan menggunakan mobil Hardtop untuk bisa membelah jalanan yang sulit menuju area bencana gempa.
Akses jalan yang tertutup membuat mereka menjadi kesulitan. Untung saja mobil Hardtop yang digunakan oleh Bima cukup menolong mereka untuk bisa menembus jalan yang sangat sulit itu.
"Wah jalanannya luar biasa. Apakah rakyat di sana menjadi terisolir gara-gara jalanan seperti ini?" tanya Rianti kepada Bima.
"Sebelum ada bencana gempa itu, jalanan ini bagus. Hanya saja, memang gempa dan bencana yang telah merusak semuanya!" bima berusaha menjelaskan kondisi jalanan saat ini kepada Rianti.
"Memang bencana selalu memberikan kerugian kepada umat manusia. Oleh karena itu, kita harus berusaha untuk menjaga agar alam tidak mengamuk dan memuntahkan amarahnya!" ucap Rianti sambil menatap jalanan di depannya yang semakin rusak dan sangat sulit untuk ditembus oleh mobil Hardtop yang mereka gunakan.
"Kamu harus pegangan ya, karena jalannya seperti ini. Aku takut kalau kamu sampai terjatuh!" ucap Bima memberikan peringatan kepada Rianti.
"Iya kamu jangan khawatir. Aku tahu kok apa yang harus kulakukan. Kamu mau fokus aja ingat nyetir agar kita bisa selamat dan keluar dari jalanan rusak ini!" ucap Riyanti menenangkan Bima.
Bima melirik sekilas ke arah Rianti kemudian tersenyum kepadanya merasa senang bahwa Riyanti tidak mengeluh dengan keadaan jalanan yang begitu rusak parah.
Selama 3 jam mereka berjuang untuk melewati jalanan itu, dan akhirnya mereka pun sampai di kampung tempat Bagas beserta rekan-rekan yang lain sedang berjuang menyelamatkan para korban bencana yang terisolir dari masyarakat lainnya di kota.
"Itu mas Bagas! Dia sedang bertugas saat ini. Aku akan mendekatinya!" ucap Rianti dengan sangat bahagia ketika melihat suaminya kembali.
"Mas Bagas!" Panggil Rianti kepada suaminya.
Bagas yang terkejut mendapati istrinya berada di sana dengan segera berlari menuju Rianti dan langsung memeluk sang istri yang selama 1 hari ini telah dia rindukan.
"Apa yang kau lakukan di sini? Kenapa kau bisa ada di sini? Di sini sangat berbahaya!" Bagas merasa khawatir dengan istrinya.
"Kau tahu kalau di sini berbahaya. Lalu kenapa kau mau di sini? Aku ada di sini kan, karena ada kamu. Kalau Mas Bagas meninggalkanku di rumah, aku malah jadi khawatir sama kamu, Mas! Aku ingin selalu dekat denganmu. Supaya aku bisa selalu menguatkanmu dan mendampingimu!" Apriyanti dengan mata yang berkaca-kaca sambil menatap wajah suaminya.
__ADS_1
Bagas merasa sangat terharu dengan ucapan istrinya Dia pun kemudian memeluk Ranti dengan sangat erat dan mencium pipi Rianti.
Pertemuan Rianti dan Bagas yang mengharukan itu, tidak luput dari perhatian Bima. Yang saat ini sedang tercengang memperhatikan mereka berdua. Ada semacam perasaan sakit di hatinya melihat adegan itu.
" Seandainya laki-laki itu adalah aku Aku pasti sangat bahagia sekali Rianti!" ucap Bima sambil melihat mereka berdua.
" Bagaimana kau bisa sampai di sini, sayang? Bukankah jalanan sangat berat?" tanya Bagas seperti tidak percaya dengan penglihatannya sendiri.
"Aku ke sini menggunakan Hardtop bersama dokter Bima dia yang membawaku ke sini!" ucap Rianti menjelaskan kepada suaminya.
"Apakah kau mengenal dokter Bima?" tanya Bagas kepada istrinya.
"Kami dulu pernah menjadi teman satu sekolahan. Tapi lama kami tidak bertemu karena dia harus melanjutkan sekolahnya ke Inggris!" ucap Riyanti Berusaha menjelaskan hubungannya dengan dokter Bima yang sudah berbaik hati membawa dia ke lokasi bencana itu untuk menemui suaminya.
"Jadi dokter Bima itu masih termasuk teman sekolahmu Syukurlah kalau seperti itu Aku tadinya takut kalau kamu bersama dengan orang asing!" ucap Bagas merasa lega.
"Dokter Bagas, bawa istrinya ke tempat peristirahatan. Dia tadi sangat kelelahan sekali di perjalanan dan jangan lupa tawarkan dia makanan juga mungkin sudah lapar!" ucap Bima memperingatkan Bagas.
"Tidak apa-apa, dokter Bagas bisa meninggalkannya. Nanti saya yang akan menggantikan tugas dokter Bagas. Tidak usah khawatir urus dulu saja istrimu Kasihan dia pasti sangat lelah di jalan!" ucap Bima kepada Bagas sehingga akhirnya Bagas tidak bisa menolak lagi perintah tersebut.
Bima memang kepala dari tim dokter yang bertugas untuk membantu para warga korban bencana gempa yang terjadi beberapa saat yang lalu.
Hingga saat ini situasi di sana masih dalam kondisi Waspada mengkhawatirkan gempa susulan yang akan terjadi kapan saja.
Bangunan-bangunan tinggi telah rata dengan tanah dan banyak korban-korban yang masih berkelimpangan. Yang masih belum di evakuasi oleh team medis, maupun oleh team penyelamatan yang dikirimkan oleh Pusat.
"Suasana di sini sangat mengerikan ya Mas kasihan sekali korban-korban itu!" ucap Rianti merasa prihatin dengan mereka semua.
__ADS_1
"Mereka memang sangat kasihan secara fisik, mental dan psikologis. Mereka sangat terluka dengan bencana ini. Mereka benar-benar membutuhkan bantuan kita. Orang-orang yang sehat dan memiliki ilmu yang mampu untuk menolong mereka!" Bagas kepada istrinya. Rianti hanya mengangguk menyetujui ucapan suaminya.
"Aku akan menjadi bagian team relawan juga, Mas! Aku bisa mengajarkan anak-anak itu untuk kembali bersekolah. Mungkin aku bisa sedikit membantu mereka untuk memulihkan luka psikologis mereka!" ucap Rianti sambil tersenyum menatap suaminya.
"Tapi itu akan sangat melelahkan, Sayang. Aku tidak mau nanti kamu jadi terganggu kesehatannya gara-gara melakukan itu!" ucap Bagas merasa khawatir dengan istrinya.
Rianti menggenggam tangan kedua suaminya kemudian dia menciumnya dengan sangat lembut. Hati Bagas merasa hangat karenanya.
"Kalau Mas Bagas bisa, berarti saya juga bisa melakukannya. Mas, kamu tidak usah khawatir denganku. Aku pasti bisa jaga diriku sendiri. Mas fokus aja dengan tugasmu dan aku akan berusaha juga untuk membantu!" ucap Rianti berusaha meyakinkan suaminya.
Bagas kemudian mengangguk menyetujui keinginan sang istri untuk ikut membantu menjadi tim relawan dalam membantu para korban bencana.
"Tapi kamu harus berjanji ya, sama Mas. Kalau kamu tidak boleh memaksakan diri. Kalau kamu lelah, kamu harus beristirahat dan katakan sama Mas, kalau kamu sakit!" ucap Bagas berusaha untuk meminta janji dari istrinya. Rianti hanya mengganggu dan tersenyum kepada sang suami.
"Ya sudah, untuk sementara kamu beristirahat dulu ya, di sini. Mas masih banyak sekali tugasnya. Nanti kalau sudah selesai Mas akan menemui kamu di sini!" ucap Bagas sambil mencium kening sang istri.
"Mas Bagas sudah makan siang atau belum?" tiba-tiba Riyanti bertanya.
Bagas menepuk keningnya sendiri seakan diingatkan oleh sesuatu.
"Mas lupa untuk memberi kamu makan, maafkan mas ya, sayang?" ucap Bagas sambil tersenyum kepada istrinya.
"Bukan itu maksudnya Rianti, Mas! Mas tolong jangan salah paham!" ucap Riyanti tampil tersenyum.
"Rianti khawatir. Kalau Mas Bagas selalu sibuk bekerja sampai tidak mengingat untuk makan!" Rianti sambil menetap wajah suaminya.
Bagas pun tersenyum kemudian mendekati kembali Riyanti.
__ADS_1
"Mas memang belum makan Sejak pagi karena sangat sibuk sekali dan tidak ada waktu untuk itu!" ucap Bagas dengan jujur.
"Ya sudah Mas, ayo kita makan bersama. Biar saya juga tidak makan sendirian, dan Mas Bagas pun bisa mengisi perut Mas Bagas!" Mereka pun akhirnya tertawa. Dan kemudian pergi ke dapur umum untuk mengambil makanan untuk mereka berdua.