Lurah Pondokku Calon Suamiku

Lurah Pondokku Calon Suamiku
Season 2. Pernikahan Tanpa Cinta 39. Kehidupan setelah menikah


__ADS_3

Pada season ini, kita masuk ke dunia halunya author ya, biar lebih bebas dalam bercerita. Tentunya biar lebih seru novelnya.


Apapun yang terjadi dalam novel ini hanya imajinasi author, harus di ingat ya! Jangan baper atau marah-marah gak jelas. Novel ini gak ada hubungannya dengan kehidupan pribadi author dan suami, semua 100% dunia hallu.


Happy reading


Biasakan sebelum baca like and komentar ya. Jadikan Novel ini sebagai favorit kalian, terima kasih banyak atas atensinya.


Setelah menikah, Nur dan Ali kemudian kembali ke Purwokerto, menyelesaikan kuliah dan mondok yang tertunda karena pernikahan. Mereka sementara tinggal di pondok. Karena belum menemukan kontrakan yang cocok.


Nur tinggal di asrama Putri dan Mas Ali tinggal di asrama putra. Kasihan nasib kami setelah menikah, harus berpisah sampai wisudaku.


Faktanya hanya sampai di situ ya.


Ayo sekarang kita masuk ke dunia halunya author, biar tambah seru novel kita.


"Mas, kita cari kontrakan aja yuk, masa iya, kita suami istri tapi hidup berpisah kayak gini?" rajut Nur dengan manja.


"Iya, sayang! Besok Mas akan usahakan mencari kontrakan ya. Ayo kita makan dulu, lalu kembali ke pondok!" ucap Mas Ali sambil memperhatikan istrinya yang kini sedang menikmati makannya.


Keesokan harinya, Ali berkeliling di sekitar kampus istrinya, mau mencari kontrakan, niatnya biar sang istri gak kelelahan karena dekat dengan kampus tinggalnya.


Saat bingung, tiba-tiba seseorang menghampiri Ali, gadis itu tampak bahagia melihat nya.


"Mas Ali, apa kabarnya?" tanyanya heboh.


"Baik, kamu siapa ya? Ko kenal saya?" ucap Ali.


"Saya Nadya, Mas! Masa lupa?" ucap perempuan itu masih sok akrab gitu sama Ali.

__ADS_1


"Nadya? Sebentar, saya ingat-ingat dulu!"


"Oh.. iya, Nadya yang pernah menginap sehari di pondok ya?" tanya Ali antusias.


"Akhirnya, ingat juga! Seneng deh!" Nadya lalu duduk di samping Ali.


"Mas Ali sedang apa? Ko dari tadi aku perhatikan tampak bingung gitu sih?" tanya Nadya.


"Aku lagi cari kontrakan. Tapi sudah seharian belum ketemu juga. Sampai lelah rasanya."


"Kontrakan? Wah kebetulan Mas! Di kontrakan aku, ada kamar kosong, kalau mau, boleh lihat-lihat, siapa tahu cocok!" Nadya menawarkan kontrakannya kepada Ali.


"Ya boleh, deh! Aku sudah lelah juga, dari tadi keliling belum nemu yang cocok. Dimana kontrakan kamu?" tanyanya.


"Ayo ikutin aku di belakang mobilku!" ucap Nadya.


Ali lalu naik ke motornya, dan mengikuti mobil Nadya. Masuk ke area kontrakan yang terbilang cukup mewah. Mereka langsung masuk ke sana.


"Jangan khawatir, Mas!! Buat Mas, nanti aku masih diskon! Gak bayar juga gak apa-apa kok!" ucap Nadya sumringah. Bahagia hatinya, karena bertemu kembali dengan pria idamannya.


'Kali ini, aku pasti bisa dapatkan kamu, Mas!" bathin Nadya dengan senyum smirk nya.


"Baiklah, nanti sore Mas dan Istri Mas akan pindah ke sini, ya?" ucap Ali mantap, memutuskan ambil kontrakan tanpa diskusi dulu kepada istrinya. Ali berpikir, dia yang penting dapat kontrakan dulu, biar bisa lebih nyaman menata kehidupan pernikahan bersama istri tercinta.


"Istri? Mas mau ajak Nur juga ngontrak di sini?" tanya Nadya kaget dan tampak keberatan.


"Iya, kamu keberatan?" tanya Ali heran.


"Begini aja, Mas! Karena Mas disini sama Istrinya, biar aku kasih kerjaan saja sekalian ya? Nanti Mas bisa nempatin rumah penjaga kost, di sana lengkap, ada toiletnya, dapur dan juga ruang tamu. Ayo, saya kasih tunjuk! Nanti kalian tidak usah membayar kontrakan, tapi nanti aku gaji. Tugasnya hanya menjaga kontrakan saja. Karena sekarang saya itu sudah mulai sibuk dengan tugas skripsi dan penelitian. Kadang ga punya waktu buat ngawasin penghuni kost. Bagaimana?" tanya Nadya berhati-hati.

__ADS_1


'Ini hanya awal ya, Mas! Siap-siap kamu akan jatuh ke dalam pelukan aku!' bathin Nadya dengan senyum liciknya. Masih belum insyaf ternyata di nasehatin oleh Aisyah tempo hari.


"Baiklah, kalau begitu, Mas harus diskusikan dulu dengan istriku. Berdoa saja semoga dia menerima tawaran kerjaan ini!" ucap Ali lalu berpamitan kepada Nadya yang sudah bahagia hatinya.


"Nad, kenapa kamu? Ko senyum-senyum kaya gitu? Ga ke sambet kan loe?" tanya Aisyah keluar dari kamarnya lalu duduk di samping Nadya.


"Ih, apaan sih? Gue cuma seneng, akhirnya pujaan hati gue sebentar lagi bakal jatuh ke pelukan gue!" Nadya senyum-senyum sendiri.


"Astagfirullah, kamu bertekad buat jadi pelakor? Istighfar bestie! Kasihan tuh, masih pengantin baru, masa mau kamu ganggu? Jahat banget tahu gak, sih?" tegur Aisyah yang agamis tersebut.


"Berisik banget sih, jadi orang! Suka-suka gue, mau ngapain! Bukan urusan kamu! Udah, gue pergi dulu. Pusing kalau bicara sama loe!" Nadya yang yang keras kepala tidak menggubris nasehat temannya. Nadya malah merasa marah dan kesal.


"Semoga Allah tunjukkan jalan bagi kamu, Nadya. Please jangan jadi pelakor, gue ga mau punya teman pelakor!" Aisyah berteriak mengiringi kepergian Nadya yang sudah berlalu dari rumah.


Sementara itu, Nur dan Ali tengah bertemu di warung makan, mereka berdua tengah diskusi mengenai tawaran Nadya.


"Nadya itu naksir sama kamu, Mas! Aku malah takut, nanti dia masih belum mau nyerah soal kamu, Mas!" Nur mengungkapkan isi hatinya.


"Kamu gak usah khawatir, Mas itu cuma cinta sama kamu. Mas gak akan tertarik sama wanita lain. Kamu percaya sama Mas, ya? Mas juga butuh kerjaan. Lumayan kan? Dari pada nganggur terus. Mas malu karena masih merepotkan kedua orang tua kita, untuk biayain hidup kita berdua." ucap Ali sendu. Nur mengelus punggung tangan suaminya. Merasa kasihan dengan beban yang harus di pikul suaminya.


"Tapi Mas janji, ya? Jaga hati dan pandangan! Gak boleh macam-macam sama Nadya!" Nur berusaha tegasin perasaannya kepada suaminya.


"Iya, sayang! Mas Janji! Kamu percaya sama Mas, ya? Mas akan berjuang buat masa depan keluarga kita. Mas gak akan biarkan kita hidup dalam kekurangan!" Nur menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Sejujurnya, dalam hatinya sudah takut.


'Aku harus percaya dengan suamiku! Aku yakin, cinta kami akan menjadi benteng bagi semua godaan yang datang menghampiri!' bathin Nur.


"Ya udah, sayang! Ayo habiskan makannya, nanti kita harus beres-beres barang kita dan pindahan. Berdoa semoga ini adalah jalan terbaik bagi kita. Kita gak berpisah lagi. Mas kan ingin juga, tidur sambil peluk kamu, sayang! Pengen kalau bangun tidur lihat wajah kamu!" ujar Ali.


"Iya, Mas! Kita berdoa semoga di sana gak ada hal buruk yang akan terjadi sama rumah tangga kita. Walaupun feeling aku gak yakin!" Nur menggeleng lemah, merasa gak yakin dengan keputusan mereka berdua menerima tawaran Nadya.

__ADS_1


Bersambung


Jangan lupa dukung author ya , kasih like, komentar yang positif, vote dan hadiahnya, terimakasih


__ADS_2