Lurah Pondokku Calon Suamiku

Lurah Pondokku Calon Suamiku
70. Permohonan Maaf


__ADS_3

Ali dan Nur mendekati Dipta dan Mamanya, yang tengah berpelukan dengan bersimbah air mata. Melihat Nur dan Ali, keduanya lalu mengurai pelukan hangat yang sudah sekian lamanya tidak mereka rasanya.


Ya, selama ini mereka berdua selalu sibuk dengan pekerjaan dan tugas kantor mereka masing-masing. Sehingga mereka jarang bertemu sebagai anak dan ibu. Mamanya Dipta memiliki perusahaan sendiri.


Dipta mengelola perusahaannya sendiri yang dia bangun dengan jerih payahnya. Sehingga kedua orang ibu dan anak itu selalu sibuk, nyaris tidak pernah bercengkrama selayaknya orang tua dan anak pada umumnya.


"Maafkan Ibu, ya! Nur dan Mas Ali, atas keributan yang sudah saya perbuat tadi. Sungguh saya hanya merasa dilangkahi saja, Karena Dipta mewakafkan tanah ini tanpa berembug atau diskusi dengan saya. Saya sebagai orang tua merasa tersinggung dengan hal tersebut. Saya minta maaf sekali lagi. Dan ini, ada uang 500 juta yang tadinya diberikan oleh Dipta kepada saya, dalam rangka membayar tanah ini. Dengan ini, saya mendonasikan uang ini, untuk pembangunan pondok pesantren, atas nama almarhum suami saya!" Dipta benar-benar terharu melihat Mamahnya yang meminta maaf dan mendonasikan uang yang tadi dia berikan untuk membayar tanah tersebut.


"Yah, ini sebagai pembelajaran untuk kita semua, bahwa sebaik apapun niat kita, tetap kita harus berunding dengan semua pihak yang terkait. Agar nantinya tidak terjadi kesalahpahaman ataupun keributan seperti itu!" ucap Ali dengan suara pelan dan sopan.


"Iya maafkan sekali lagi, atas keributan yang sudah Ibu berbuat tadi. Insya Allah nanti Ibu akan menjadi donatur tetap di pondok pesantren ini, dan semoga pondok pesantren ini, bisa menjadi tempat untuk para anak yatim dan para kaum dhuafa, untuk belajar ilmu agama dan menghafal Alquran. Semoga amal jariyahnya akan sampai kepada almarhum suami saya, yang telah meninggal selama lebih dari 10 tahun yang lalu!" tampak rasa haru Mamanya Dipta, ketika menyampaikan niat dan maksud tujuannya untuk datang ke tempat itu.


"Terima kasih atas kebaikan yang sudah dilimpahkan oleh ibu dan Mas Dipta, dalam rangka pembangunan pondok pesantren ini. Saya bersoa, semoga amal jariahnya akan sampai kepada almarhum suaminya ibu, dan istri serta anaknya Mas Dipta!" ucap Ali dengan sopan.

__ADS_1


Setelah itu, setelah melihat perkembangan pembangunan pondok pesantren tersebut, ibu dan anak langsung pergi dari tempat itu, kembali ke kantor masing-masing.


"Alhamdulillah ya, Mas! Akhirnya pondok pesantren yang kita cita-citakan, akan segera terwujud. Semoga kita bisa amanah ya, memegang kepercayaan dari Mamanya Mas Dipta dan juga Mas Dipta!" ucap Nur sambil tersenyum.


"Iya sayang, kita doakan, ya? Mereka selalu sehat dan hidup dalam kebahagiaan!" ucap Ali.


"Amien!" kemudian sepasang suami istri itu pun pergi ke dalam rumah setelah mengecek keperluan para pekerja.


Sementara itu di kediaman Riyanti, tampak Riyanti sedang mengamuk di kamarnya. Membanting semua barang yang ada di dalam kamarnya. Sehingga kedua orang tuanya panik melihat kelakuan anak perempuannya, yang benar-benar keterlaluan.


Mereka penasaran dengan apa yang sedang terjadi kepada putri majikan mereka, yang mengamuk seperti orang gila. Para pelayan tersebut, berbisik-bisik di belakang orang tua Riyanti, sehingga orang tua Riyanti bertambah marah dan mengusir mereka semua dari sana.


"Pergi semua kalian dari sini! Kembali ke pos kalian masing-masing! Apa sih menariknya? Menonton hal seperti in, huh? Kalau kalian ingin dipecat, katakan saja pada Saya! Tidak perlu membuat saya marah seperti ini!" hardik Papanya Rianti dengan mata merah karena marah yang sudah tidak bisa ditahan lagi.

__ADS_1


Para pelayan yang bekerja di rumah itu, pada lari pontang-panting, karena ketakutan. Mereka tidak mau dipecat dari rumah itu. Sementara itu Rianti yang sudah lelah setelah menghancurkan seisi kamarnya, kini menangis sesegukan. Air matanya tidak mau berhenti, matanya sudah sembab karena menangis seharian, sejak dia pulang dari luar tadi.


"Rianti, Nak, apa yang terjadi denganmu? Kenapa kamu mengamuk seperti ini? Coba katakan sama Mama, apa yang mengganggu pikiran kamu, Nak? Siapa yang sudah menyakiti hati kamu?Jangan berbuat seperti ini, Nak! Mama jadi khawatir dengan kamu!" Rianti kemudian menubruk Mamanya menangis dalam pelukan Mamanya.


"Mah, Aku tidak tahan lagi dengan semua ini! Aku nggak bisa hidup lagi! Tolong aku, Mah!" Rianti menangis tersedu-sedu dipelukan mamanya ayahnya yang melihat putri kesayangannya tampak begitu tersiksa juga merasakan kesedihan yang sama.


" Sebenarnya siapa yang sudah lancang menyakiti kamu seperti ini, Rianti? Kamu adalah wanita yang hebat, wanita yang berkelas! Kenapa kok bisa hancur lebur seperti ini? Siapa yang sudah lancang menyakiti kamu, Nak? Coba katakan sama Papa, biar Papa yang mengurus itu!" Papanya Rianti mendekati putrinya, yang kini masih saja menangis tersedu-sedu. Entah apa yang sudah mengganggu pikiran Putri kesayangannya itu, sehingga tampak seperti orang gila yang mengamuk tanpa pikiran.


" Semua ini adalah kesalahan Papa! Kalau Papa tidak memberikan tugas mustahil itu, tidak mungkin sekarang Rianti dalam posisi seperti ini, Pah!" ucap Rianti dengan amarah yang berkobar.


"Apa maksud kamu? Kenapa jadi masalah ini menjadi kesalahan Papa? Papa saja tidak mengerti, kenapa kau mengamuk seperti ini! Kenapa ini jadi tanggung jawab Papa, huh? Jangan ngawur, kamu!" Papanya Rianti tidak terima kalau dirinya dipersalahkan atas masalah yang kini menimpa putrinya.


"Kalau saja Papa tidak memberikan tantangan untuk Rianti memisahkan mereka berdua, tidak mungkin sampai Riyanti terjebak dalam perasaan seperti ini, Pah! Rianti benar-benar mencintai dia, tapi dia tidak mau menerima saya!Hiks hiks!" Riyanti kembali menangis orang tuanya Rianti sungguh bingung dengan maksud yang dikatakan oleh Rianti. Mereka belum ngeh.

__ADS_1


"Bukankah Papa sama Mama, yang meminta Rianti untuk balas dendam atas masalah Kak Nadya? Sekarang Rianti terjebak di dalam perasaan ini, Pah! Rianti tidak tahu bagaimana caranya, untuk keluar dari sana! Rianti benar-benar mencintai dia, Pah! Tapi dia tidak mau, walaupun hanya untuk melihat Rianti, dia tidak sudi! Bagaimana Rianti bisa memiliki dia, Pah? Bagaimana?" Rianti tampak frustasi dan kini melemparkan semua bantal dan selimut yang tersisa di ruangan itu.


__ADS_2