
Bima kemudian memutuskan untuk salat magrib dulu sambil menunggu kedua orang tuanya pulang ke rumah keluarga mereka.
Setelah selesai salat. Bima melihat bahwa mobil kedua orang tuanya sudah mulai memasuki area parkir milik keluarganya.
"Akhirnya mereka pulang juga setelah seharian aku tungguin mereka!" ucap Bima kemudian dia pun membukakan pintu utama untuk keluarganya yang baru pulang.
Begitu membukakan pintu utama untuk kedua orang tuanya, Bima sangat terkejut ketika mendapatkan Farel dan cansu juga berada diantara kedua orang tuanya.
"Pak Bima? Ya Allah! Jadi Bima yang dimaksud oleh Sheila itu adalah anda?" ucap Farel sambil terkejut ketika menatap Bima yang selama ini adalah rekan bisnisnya.
Bima hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Karena dia sangat ketakutan dan gugup kalau sampai Farel menceritakan tentang perusahaan rahasianya terhadap kedua orang tuanya.
"Silakan masuk Pak Farel kita bicara di dalam saja!" tapi mas sambil menyalami orang tuanya Sheila dan menyuruh mereka untuk masuk ke ruang tamu.
Begitu melihat Shella masuk ke dalam rumah. Bima langsung menarik tangan Sheila untuk mengikutinya ke dalam kamar pribadinya.
"Bima apa yang kau lakukan? Kenapa kau menarik Sheila ke dalam kamarmu?" tanya ayahnya Bima. Seperti yang tidak suka Bima melakukan hal seperti itu. Apalagi di hadapan kedua orang tuanya Sheilla.
"Biarkan saja Pah! Mungkin Bima ada urusan untuk berbicara dengan Sheilla! Percaya saja pada anak kita. Tidak mungkin Bima juga, kalau Bima melakukan hal yang buruk terhadap Sheilla!" ucap ibunya Bima membela putranya.
"Ya, nggak apa-apa! Biarkan saja? Saya juga percaya pada Bima. Bahwa dia tidak akan melakukan hal buruk kepada putri saya!" ucap Farel menenangkan kedua orang tuanya Bima.
"Bagaimana dengan Rumah Sakit milik keluarga kalian? Apakah sekarang semakin berkembang?" tanya cansu sambil menatap ibunya Bima yang saat ini sedang menatapnya juga.
__ADS_1
"Rumah Sakit Kami hanyalah Rumah Sakit berukuran sedang. Tidak terlalu mewah dan omsetnya pun tidak sebesar seperti rumah sakit kalian!" ucap ayahnya Bima merendah.
"Jangan berkata seperti itu Pak! Nilai sebuah rumah sakit itu adalah bagaimana rumah sakit itu bisa memberikan manfaat kepada pasiennya. Bukan hanya dinilai dari besarnya omset maupun mewahnya sebuah ruangan. Tetapi bagaimana rumah sakit itu bisa menyembuhkan pasiennya!" ucap cansu.
Memang, selama 10 tahun terakhir ini, keluarga Bramantyo telah mengembangkan sayap bisnis mereka ke area pembangunan rumah sakit. Sehingga perusahaan mereka sekarang semakin besar.
Sementara itu, Bima yang tadi menarik Shella ke dalam kamarnya kini terlibat pembicaraan serius dengan calon istrinya.
"Katakan padaku! Kenapa kau mengirimkan berkas-berkas perusahaan rahasiaku ke ruanganku?" tanya Bima to the point.
"Oh.... jadi itu adalah perusahaan rahasiamu? Emangnya kenapa? Lenapa itu menjadi perusahaan rahasia bagimu?" tanya Sheilla dengan senyumnya yang seperti sedang mengejek Bima.
Bima nampak kesulitan menelan salivanya sendiri. Ketika dia melihat Shella yang seakan meremehkan dirinya.
"Ternyata kamu menjalankan perusahaan itu secara diam-diam dari kedua orang tuamu? Wow kau sungguh luar biasa! Ternyata di balik penampilanmu. Kau mempunyai sebuah rahasia yang begitu besar!" ucap Sheila sambil menggeleng-gelengkan kepalanya di hadapan Bima.
"Kau tidak usah mengejekku! Aku hanya menginginkan untuk mewujudkan impianku. Tapi aku juga tetap menjalankan tugasku sebagai anak dari mereka dengan aku tetap menjalankan pekerjaanku sebagai seorang dokter dan juga membantu dalam management Rumah Sakit keluarga kami!" ucap Bima membela dirinya sendiri.
"Tapi tetap saja! Apa yang kau lakukan itu bisa dikatakan sebagai penghianatan terhadap keluargamu! Apakah itu benar?" ucal Sheila sambil tersenyum kepada Bima yang saat ini menatapnya dengan keheranan.
"Apa maksudmu dengan pengkhianatan? Aku melakukan penghianatan apa?" tanya Bima dengan bingung.
"Coba kau pikirkan perasaan seperti apa yang akan dimiliki oleh kedua orang tuamu, ketika mereka tahu, bahwa di belakang mereka, kau memiliki perusahaan lain yang tidak mereka sukai!" ucap Sheila sambil melirik sekilas kepada Bima yang saat ini mulai berkeringat dingin karena gugup.
__ADS_1
"Ayolah Bima! Kenapa kau harus berkeringat seperti itu? Apanya memang kau takutkan?" ucap Shella kemudian dia duduk di sofa yang ada di dalam kamarnya Bima.
"Katakan padaku! Apa sebenarnya maumu dariku?" ucap Bima pada akhirnya.
"Aku hanya memintamu untuk menerima Perjodohan kita berdua dan melakukan pernikahan kita secara ikhlas dan tulus!" ucap Sheila sambil mengelus dagu Bima yang saat ini sedang frustasi.
"Tuhanku! Jadi, kau sekarang sedang berusaha untuk memerasku?" tanya Bima seakan tidak percaya dengan apa yang dia lihat saat ini terhadap diri seorang Sheilla.
"Ya ampun Bima! Kau itu seorang bisnisman. Ini bukan ancaman tetapi penawaran! Apakah kau tidak bisa membedakan dua kata itu?" ucap dengan senyum liciknya.
Jangan panggil aku Sheila Bramantyo! Kalau tidak bisa menaklukkan laki-laki seperti kamu Bima! Aku akan buktikan kepada kedua orang tuaku! Bahwa aku pasti bisa menjadikanmu sebagai suamiku!
"Jelas-jelas kau sedang mengancamku! Jadi apa yang akan kau lakukan? Kalau aku tidak menerima Perjodohan ini?" tanya Bima sambil menatap kepada Sheila yang saat ini sudah duduk di sampingnya.
Kenapa sih ini perempuan harus duduk begini dekatnya denganku? Apa dia tidak tahu kalau aku begitu gugup? Aku takut jatuh dalam pesonanya. Tampaknya perempuan ini berbahaya untukku. Aku tidak bisa untuk jatuh cinta padanya. Dia memiliki Aura yang begitu kuat dan Aura untuk menguasai seseorang! aku harus membentengi diriku sendiri agar Jangan sampai jatuh dalam pesona dia.
"Kenapa kau melamun? Katakanlah!! Apakah kau akan menerima perjodohan kita atau tidak?" tanya Sheilla dan sekarang dia malah semakin duduk dekat dengan Bima. Sehingga membuat jantung Bima sekarang berdebar sangat kencang.
Ya Tuhanku! Apa yang harus kulakukan sekarang? Kenapa perempuan ini, terus saja menyiksaku dengan hal-hal seperti ini? Aku harus bagaimana? Bagaimana kalau aku benar-benar jatuh cinta padanya?
"Bima! Kenapa kau dari tadi melamun terus? Sebenarnya, apa yang sedang kau pikirkan?" ucap Sheila sambil menggoyang-goyangkan tubuhnya Bima yang sejak tadi dipanggil tidak juga mau nyahut. Karena Bima terlalu asyik melamun tentang pesona seorang shella.
"Cepat katakan! Kau mau menerima perjodohan itu atau tidak?" tanya Sheila lagi dengan menatap tajam kepada Bima yang masih linglung menatap kecantikan seorang Shela di hadapannya.
__ADS_1
"Ya ampun! Kenapa kau tampan-tampan tapi bego? Dari tadi diajak bicara tapi kayak nggak nyambung-nyambung!" Sheila terus saja menggerutu. Karena Bima yang dari tadi terus saja melamun nggak jelas. Diajak bicara oleh dirinya juga nggak nyambung sama sekali.