
Setelah menyelesaikan perkara lamaran Dipta dan Nadia. Akhirnya Bima dan Sheilla bisa fokus untuk mempersiapkan acara pernikahan mereka yang hanya tinggal sekitar 5 hari lagi.
"Alhamdulillah ya sayang! Lamaran Dipta dan Nadia tidak ada halangan. Sehingga kita sekarang bisa fokus untuk mempersiapkan acara pernikahan kita!" ucap salah sambil tersenyum kepada Bima yang saat ini sedang memperhatikan dirinya.
Kalau kamu malam itu tidak menangis dan nelponku. Mungkin aku juga tidak akan tersentuh untuk meminta kepada kedua orang tuaku untuk membujuk ibunya Dipta agar merestui pernikahan mereka.
"Karena kan aku sudah kadung berjanji sayang! Aku tidak enak dong, kalau ternyata tidak terlaksana. Bukankah itu sama saja dengan aku sedang membohongi Dipta dan memberikan harapan palsu kepadanya?" ucap Sheila sambil melirik kepada Bima yang masih fokus mengendarai mobilnya.
Saat ini mereka berdua sedang menuju ke butik untuk fitting gaun pernikahan mereka dan kemudian akan dilanjutkan dengan acara prewedding di Pantai Anyer.
Tampak kebahagiaan di wajah kedua calon pengantin itu. Bahwa pernikahan mereka hanya tinggal menghitung hari saja. Terutama Bima yang tampak begitu excited menyambut pernikahan mereka.
"Gaun pernikahan itu siapa yang memilihnya sayang?" tanya Bima sambil meremas tangan Sheia yang saat ini ada dalam genggamannya dengan lembut.
Bima berusaha mengirimkan sinyal cinta untuk calon istrinya yang sudah berhasil menaklukkannya dalam waktu singkat.
"Aku dan mamamu kemarin datang ke butik itu. Untuk memilih beberapa pakaian yang sudah siap pakai dan muat untukku. Karena kan waktu kita juga sempit. Nggak ada waktu bagi butik untuk mendadak menjahit sesuai rancangan yang kita inginkan!" ucap Sheilla menjelaskan semuanya kepada Bima agar nanti Bima tidak salah paham maupun keberatan dengan pilihan dirinya dan juga calon ibu mertuanya.
"Saya tidak keberatan kau menggunakan apapun sayang! Tapi yang jelas, di malam pernikahan kita. Akan lebih bagus kalau kau tidak menggunakan apapun! Hahaha!" ucap Bima sambil terkikik sehingga membuat salah menjadi jengkel dibuatnya.
"Dasar otak mesum deh! Belum apa-apa, kau sudah memikirkan tentang seperti itu!" ucap Sheila sambil memukul dada Bima sehingga membuat Bima tertawa terbahak-bahak.
__ADS_1
"Ih jangan ketawa terus bikin sebel deh!" rajut Sheilla sambil terus berusaha menghentikan Bima dari tawanya.
Sampai tiba-tiba Bima mengerem mendadak karena di depan mereka ada sebuah motor yang tiba-tiba saja melintas di hadapan mobil mereka. Sehingga membuat Bima menjadi terkejut di buatnya.
"Ya Allah hati-hati ya sebentar lagi pernikahan kita kan nggak lucu kalau kita tiba-tiba mati!" ucap Sheilla mencoba mengingatkan Bima.
Bima melirik sekilas kepada Sheilla kemudian dia tersenyum dengan manis.
"Makanya Sayang, kalau Mas lagi menyetir tuh, jangan digodain terus! Dari tadi kamu ganggu fokus Mas menyetir, hampir saja kita mati dibuatnya!" ucap Bima mengingatkan kepada Sheilla yang sejak tadi terus saja mencoba untuk membuatnya berhenti tertawa dengan memukuli dadanya. Sehingga membuat Bima kehilangan fokus dan konsentrasi.
"Ya maaf yang! Kan kamu sih, dari tadi ketawain aku terus. Aku kan jadi nggak suka Makanya nggak usah rese deh!" ucap Sheila manja dengan memanyunkan bibirnya yang membuat Bima jadi gemes dibuatnya.
Tampak di sana, Ibu Bima dan juga ibunya Sheilla sudah menunggu mereka berdua.
"Loh mama berdua sudah sampai duluan? Kok cepet banget! Padahal kita berdua tadi yang duluan berangkatnya!" ucap Sheilla.
"Kalau kami kan datang ke sini buru-buru. Karena penasaran ingin melihat kalian mencoba gaun pengantin itu. Lah kalau kalian berdua, di mobil malah bermesraan. Gimana mau cepet nyampe ke sini?" ucap ibunya Bima Sambil tertawa kepada keduanya sehingga membuat Sheilla merona pipinya karena merasa malu dengan candaan sang calon ibu mertuanya.
"Nggak kayak gitu Mah! Tadi kami hampir saja menabrak pengendara motor yang tiba-tiba saja nyalip di depan kami. Untung saja Bima segera fokus nyetir. Kalau tidak, mungkin kalian tidak akan pernah melihat pernikahan kami berdua!" ucap Bima menerangkan Kejadian yang sesungguhnya yang membuat mereka telat datang ke butik tersebut.
Tidak lama kemudian, datang pemilik butik tersebut dan juga beberapa pelayan yang membawa pesanan mereka.
__ADS_1
"Wah pakaiannya cantik sekali! Kau pasti akan terlihat sangat menawan bagaikan seorang Ratu ketika hari pernikahanmu nanti Sheilla!" ucap Cansu dengan penuh rasa kebahagiaan di wajahnya.
Cansu merasa sangat senang sekali dengan pernikahan antara Sheila dan Bima. Karena mengingat persahabatan antara ayahnya Bima dengan suaminya yang sangat kental dan dekat sekali. Persis seperti persahabatan Bima dan Dipta saat ini.
"Ayo calon pengantinnya silakan digunakan pakaiannya. Agar kita bisa tahu apa-apa yang bisa diperbaiki. Karena mengingat waktu begitu sempit untuk kita!" ucap Arberto memperingatkan kepada Bima dan juga Sheilla untuk segera mencoba pakaian pengantin mereka berdua.
"Udah Bim! Cepet ganti pakaianmu karena kami sangat penasaran sekali ingin melihat kalian berdua dalam balutan gaun pengantin!" ucap ibunya Bima sambil mendorong tubuh putranya untuk masuk ke dalam ruang fitting.
"Ih Mamah! Kenapa nggak sabaran banget sih? Bentar dulu dong! Ini Bima masih berkeringat, gara-gara tadi masalah mau nabrak motor. Hal itu membuat Bima jadi gugup sampai sekarang!" ucap Bima memasang wajah protes kepada ibunya yang sejak tadi selalu memintanya untuk buru-buru melakukan sesuatu.
"Ya udah kalian duduk dulu! Kau istirahat kalau begitu. Alberto, tolong berikan mereka camilan dan juga air minum agar segera Fit kondisinya!" ucap Cansu memberikan perintah kepada Alberto untuk menyiapkan kebutuhan bagi calon menantunya tersayang.
Cansu dan Alberto adalah dua sahabat yang dulu pernah begitu dekat.
Alberto adalah Rukmana yang dulu bekerja sebagai sopir dan juga asisten Cansu. Tetapi karena dia menyadari tentang bakatnya dengan merancang gaun pengantin. Akhirnya dia pun alih profesi dan mengganti namanya menjadi Alberto. Setelah dia memiliki merek gaun pengantinnya sendiri.
"Iya Cansu! Tunggu sebentar ya, saya akan segera persiapkan semua kebutuhan kalian!" Alberto kemudian memanggil karyawannya untuk menyiapkan apa yang dipinta oleh Cansu untuk calon menantunya.
Setelah apa yang diminta sudah siap. Bima kemudian menyantap yang diberikan oleh Alberto. Kini Bima dan Sheilla sudah siap untuk melakukan fitting pakaian pengantin mereka. Gaun pengantin untuk Sheilla dan Tuxedo untuk Bima yang sudah disiapkan oleh kedua orang tua Sheilla sebagai keluarga dari calon mempelai wanita.
Bima begitu terpesona ketika melihat Sheilla yang keluar dari ruangan fitting dengan menggunakan gaun pengantin yang akan digunakan oleh mereka pada hari pernikahan.
__ADS_1