
Pov Nur
Tidak ada yang lebih menyakitkan ketika cinta dan hati suami kita bukan milik kita lagi. Ya, aku sudah bersiap untuk hal terburuk. Aku tidak tahu, apakah suamiku menyadari nya atau tidak, bahwa hatinya telah mendua. Felling perempuan itu peka, bisa merasakan hati suaminya tidak bersamanya lagi.
Aku melihat suamiku masih melamun di pojokan, aku yang sudah berkemas dan siap pergi, dengan gontai melangkahkan kakiku. Aku gak akan mengemis cinta kepadanya. Aku akan berjuang untuk masa depanku dan anakku tercinta. Aku tidak mau hidup dalam Pernikahan tanpa cinta.
Cinta suamiku telah di bawa pergi oleh wanita lain. Itulah yang paling menyakitkan bagiku. Aku bisa hidup tanpa uang, tanpa makanan, tanpa cinta mertua, tanpa cinta ipar-iparku, tapi aku tidak bisa hidup tanpa cinta suamiku.
Aku sudah bertekad akan pergi meninggalkan suamiku. Saat aku melihat dia masih asyik melamun, pasti sedang memikirkan keberadaan wanita pujaan hatinya. Hatiku sudah marah.
Aku menghentikan angkot yang melintas di depan tokoku, biarlah aku pergi, dari pada keberadaanku tak ada artinya lagi. Setelah aku di angkot, hatiku mulai resah, kemana aku akan membawa diri ini, bersama bayi yang baru berusia 2 bulan? Melihat anakku yang menangis, hatiku mulai sedih.
'Maafkan Mamah, sayang! Tapi Mamah gak bisa memaafkan Papah kamu yang sudah menduakan hati. Mamah tidak tahu, apakah masih ada nama Mamah dalam hatinya atau tidak.' bathinku.
"Mba, mau kemana?" aku dikejutkan oleh suara Pak supir. Aku juga bingung mau pergi ke mana.
"Apa bapak tahu, sebuah kost yang murah, di dekat sini?" tanyaku saat melihat daerah pemberhentian kami saat ini. Tempatnya agak jauh dari toko suamiku. 'Ya, aku bisa bersembunyi di sekitar sini dulu." ucapku pada diri sendiri.
"Saya ada tempat sederhana, kalau Mba berkenan, akan saya bawa ke sana. Kasihan itu ade bayinya, pasti haus dan lapar!" ucap Pak supir baik hati itu.
__ADS_1
"Ya Pak, saya mau. Saya hanya butuh tempat untuk menghindari suami saya. Tolong saya, Pak!" ucapku dengan mata mulai berkaca-kaca.
"Baiklah, ayo saya antar, mumpung sedang tidak ada penumpang. Udah, Mba! Gak usah menangisi seseorang yang menyakiti hati kita. Lebih baik Mba tersenyum demi anak Mba yang masih bayi!" nasehat bapak itu. Bahkan orang asing masih bisa memberikan kedamaian, di saat hatiku galau begini. 'Ya Allah, berkahi setiap langkahku!" doaku.
"Sabar Mba, tawakal sama Allah! Mendung tak selamanya hujan. Pasti nanti ada hari di mana pelangi kembali mewarnai hidup kita." Bapak supir itu, ternyata bijaksana juga.
"Ayo, Mba! Itu rumah saya. Untuk sementara, Mba bisa tinggal disini. Kebetulan saya hanya tinggal bersama ibu saya. Beliau sedang bekerja di rumah makan. Tapi maaf, ya Mba!Tempatnya sederhana." Aku mengangguk, saat ini dalam pikiranku hanya ingin berbaring saja. Memejamkan mataku yang berat, syukur kalau tidak bangun lagi. Sungguh, tidak ada yang lebih menyakitkan, ketika hati dan suamiku bukan milikku lagi.
Dengan berderai air mata, aku masuk ke rumah sederhana itu. Bapak supir angkot itu masuk ke sebuah kamar. Agak lama, aku duduk di sofa yang ada di ruang tamu. Memperhatikan rumah ini. Bayiku tiba-tiba menangis lagi. Mungkin dia lapar, sejak pagi aku belum makan, siapa sih, yang punya selera makan, melihat suami yang hanya sibuk memikirkan perempuan lain?
"Mba, ayo masuk, kamarnya sudah siap. Itu kamar adik saya. Dia sekarang tinggal di kota. Kerja di sana. Pulangnya kalau lebaran saja. Mba bisa tempati dulu. Dede bayi kayaknya lapar, apa perlu saya carikan susu bayi?" tanyanya dengan perhatian. Ya Tuhan, kenapa harus orang asing yang perduli dengan kami? Tiba-tiba hatiku bersedih. Luka yang tak berdarah adalah luka saat hati suami kita bukan milik kita lagi.
"Saya menangis bukan karena Bapak. Saya sedang meratapi nasib saya yang malang. Hiks hiks!" air mata semakin berderai.
"Mba, bangkitlah demi anaknya, Mba. Dia butuh semangat, Mba! Mba pasti lapar, aku akan keluar dulu, mencari makanan buat kita. Kebetulan aku juga belum makan siang. Mba istirahat saja di kamar, saya permisi dulu!" Aku bangkit dari sofa dan berjalan ke kamar yang tadi di siapkan oleh Pak supir yang entah siapa namanya.
Bapak supir itu begitu baik, bahkan kami berdua belum berkenalan, tapi dia sudah melimpahkan budi yang begitu banyak bagiku dan bayiku. Aku menyusui anakku, tidak tahu ada isinya atau tidak. Seharian ini aku belum makan maupun minum. Tadi aku hanya membawa uang 1 juta rupiah, uang yang diberikan suamiku kemarin. Rencananya akan kami berikan perhiasan untukku, Untung kemarin aku gak jadi beli. Ah, kalau tidak, aku tidak punya pegangan uang sama sekali.
Selama 30 menit, Pak supir kembali setelah membeli dua bungkus makanan. Bayiku sudah tertidur. Aku menyambut pria yang aku tidak tahu namanya, tetapi bagiku seperti malaikat penolong.
__ADS_1
"Ayo kita makan dulu, aku ambil air minum dulu!" pria itu lalu pergi kebelakang, membawa air minum dan juga sendok. Serta air kobokan untuk cuci tangan."Maaf, ya! Hanya makanan sederhana, ayo kita makan!" ajaknya. Aku merasa canggung, makan berdua dengan pria asing.
"Maafkan saya, Mas. Nama saya Nur, nama Mas siapa?" tanyaku sambil meraih makanan yang tadi di sodorkan oleh orang baik ini.
"Saya Badri, Mba." dia tersenyum padaku.
"Istri Mas Badri, di mana? Apa nanti istrinya tidak marah, kalau saya tinggal disini?" tanyaku hati-hati takut menyinggung perasaan dia.
"Saya gak punya istri, Mba! Saya ini orang miskin, jelek lagi! Mana ada wanita yang mau dengan saya." ucapnya bernada sendu.
"Mas Badri baik orangnya. Pasti nanti bertemu wanita baik juga. Saya akan pindah dari sini setelah mendapatkan kost. Saya tidak mau memberikan masalah untuk Mas Badri. Tidak baik seorang wanita tinggal lama bersama seorang lajang. Takut nanti jadinya fitnah." ucapku dan aku telah menghabiskan makanan ku.
"Ya, Mba! Nanti saya bantu cari kost di sekitar sini, biar kalau ada apa-apa, saya dan ibu saya bisa membantu." Dia kemudian membereskan bekas makanan kami. Aku ingin membantu tapi di larang. Pria baik itu, semoga dia menemukan jodohnya. Amien!
"Ya sudah, Mba istirahat saja di kamar, tadi saya sudah menelpon ibu saya. Supaya nanti beliau tidak kaget saat pulang melihat Mba. Saya kerja lagi ya, sambil mencarikan kost buat Mba!" ucap Mas Badri lalu keluar dari rumahnya.
"Ini saya kunci dari luar, Mba! Biar Mba bisa istirahat dengan tenang. Jangan lupa kunci kamarnya, Mba! Saya permisi dulu, mau kerja lagi!" aku hanya mengangguk dan masuk ke kamarku. Aku menangis sejadi-jadinya di kamar sederhana ini. Entah apa yang kini sedang di lakukan oleh suamiku. Aku meninggalkan ponselku di toko, karena buru-buru, aku pergi hanya dengan tas keperluan bayiku dan beberapa lembar pakaianku saja. Semoga aku bisa hidup dengan apa yang aku bawa.
Setelah mendapat kost, aku akan mencari pekerjaan. Agar hidupku bisa mandiri dan tidak menyusahkan orang lain.
__ADS_1