Lurah Pondokku Calon Suamiku

Lurah Pondokku Calon Suamiku
226. Aku akan melamarmu


__ADS_3

Aurel merasa terkejut ketika dia melihat Rehan yang sudah ada di hadapannya dan menatapnya dengan penuh kerinduan.


" Aku akan melamarmu! Apakah kau bersedia untuk menjadi istriku?" tanya Rehan sambil menatap tajam kepada Aurel yang masih tidak percaya, bahwa kekasihnya yang sudah satu minggu ini dia minta untuk putus, sekarang berada di kediamannya.


Rehan mendekati Aurel kemudian dia menggenggam telapak tangannya dan menciumnya dengan lembut.


" Maafkan aku yang selama beberapa bulan terakhir ini sangat sibuk sekali dengan urusan perusahaan. Sehingga aku melupakan kehadiranmu dalam hidupku!" ucap Rehan sambil menatap tajam kepada Aurel yang matanya mulai berkaca-kaca.


" Maafkan aku juga yang dari kemarin terus memberikan waktu yang buruk untukmu dengan selalu meminta kata putus. Maafkan aku yang tidak bisa mengerti dengan semua kesibukanmu!" ucap Aurel sambil sesegukan di dalam pelukan Rehan.


Rehan mengecup kening Aurel. Remaja cantik yang dia cintai. Aurel yang telah berjuang dengan sangat keras untuk bisa merebut hatinya yang selama ini selalu beku dan tidak memperdulikan kehadiran seorang wanita.


" Aku tahu bahwa aku salah karena selalu cuek kepadamu. Maafkan aku yang selama ini tidak menunjukkan perasaan cintaku kepadamu. Tapi aku sadar bahwa aku tidak bisa hidup tanpamu. Selama beberapa minggu ini kita tidak pernah berkomunikasi, membuat aku tahu bahwa kamu telah menguasai hatiku seluruhnya." ucap Rehan mulai mengeluarkan gombalan receh yang dia pelajari dari sahabatnya yang bekerja di rumah sakit.


" Aku yang harusnya mengerti tentang kesibukanmu yang sekarang pasti berlipat-lipat. Setelah kau diberikan tanggung jawab oleh kedua orang tuamu untuk mengurus rumah sakit yang ada di luar kota. Sungguh, aku hanya merindukanmu dan ingin kamu ada di sisiku di saat waktu tersulit ku!" ucap Aurel kembali terisak.


Suara Aurel yang serak adalah bukti betapa banyak dia telah menangis selama beberapa hari ini. Wajahnya yang kini membengkak sungguh membuat hati Rehan semakin terhiris. Karena dia sebagai seorang laki-laki sejati telah memberikan waktu tersulit untuk wanita yang dia cintai.


" Kalau hari ini aku melamarmu? Apakah kau bersedia untuk menjadi istriku?" tanya Rehan mengulangi kembali apa yang tadi dia tanyakan kepada Aurel.


Aurel tampak terdiam dan kemudian dia menatap Rehan. Mencoba mencari ketulusan dan juga keseriusan di wajah kekasihnya yang dia cintai.

__ADS_1


" Lalu bagaimana dengan kuliahku yang belum selesai?" tanya Aurel seperti ragu-ragu untuk memutuskan.


Rehan kemudian mengajak Aurel untuk duduk di kursi yang tidak terlalu jauh dari tempat Mereka berdiri saat ini.


Aurel yang sedang merasa senang dia pun hanya mengikuti kemanapun Rehan membawanya tanpa banyak protes.


" Bukankah Marcella juga menikah sambil kuliah? Apakah kau melihat Marcella mengalami kesulitan? Kalau nanti kau mengalami kesulitan, kau nanti bisa berkonsultasi dengan Marcella yang pasti sudah lebih ahli darimu! Bukankah Marcella sekarang bahkan sudah memiliki satu orang Putra yang menghiasi rumah tangganya dengan kakakmu?" tanya Rehan sambil mencubit hidung Aurel yang selalu membuatnya merasa gemas.


" Yah aku ingat dulu aku yang mengejarmu. Ketika aku pertama kali melihatmu di acara pernikahan mereka berdua. Tidak terasa kini sudah hampir 2 tahun sejak kita pertama kali berkenalan hingga saat ini!" ucap Aurel sambil menyembunyikan wajahnya dipelukan Rehan yang sudah selama satu minggu ini sangat dia rindukan.


Karena rasa rindu yang begitu menggebu di hatinya tetapi tidak bersambut dari sang kekasih itulah yang membuat Aurel kemudian dengan gegabah meminta putus kepada Rehan. Untunglah Rehan adalah seorang pria yang dewasa dan juga matang sehingga tidak termakan emosi. Ditambah keluarganya yang selalu memberikan nasehat baik kepada putranya. Khususnya Rianti yang selalu mau ganti-ganti kepada putranya untuk tidak mempermainkan hati seorang perempuan.


Flash back on


" Tetapi sebagai laki-laki pun pantang untuk mengemis cinta terhadap perempuan itu. Hal itu benar-benar sangat merusak reputasi keluarga kita!" ucap suaminya sambil menatap kepada istrinya yang sejak tadi terus melototnya.


Bagas sebenarnya tidak berniat untuk mengompori Rehan agar mau memutuskan Aurel yang selama satu minggu ini terus mengatakan kata putus terhadap Rehan. Akan tetapi dia pun tidak mau kalau sampai putranya harus menjatuhkan harga dirinya dengan mengemis cinta terhadap Aurel.


" Di dalam sebuah cinta tidak ada kata harga diri maupun hal-hal semacam itu. Di dalam cinta harus ada komitmen dan juga usaha untuk bisa menyatukan cinta dalam sebuah ikatan suci pernikahan yang menghalalkan cinta menuju ibadah yang menyempurnakan agama kita!" ucap Riyanti mencoba untuk menasehati putranya dan juga suaminya yang sedang tadi seperti ngompor-ngompori sang putra tercinta yang terus gundah dan murung sejak kemarin.


" Lamar lah kalau kau memang mencintainya. Karena seorang perempuan lebih memilih seorang laki-laki yang memberikan kepastian kepadanya daripada seorang laki-laki yang hanya memberikan janji palsu tanpa ada bukti sama sekali!" ucap Riyanti sambil mengelus kepala putranya jangan penuh kasih sayang.

__ADS_1


Flash back off


Bima dan Sheilla yang melihat interaksi antara keduanya hanya bisa melihat dan memperhatikan.


Sementara itu kedua orang tua Rehan yang berada di luar, langsung di suruh masuk oleh Bima dan Sheilla.


" Dokter Bagas, silahkan masuk!" ucap Bima dengan ramah tamah terhadap calon besannya yang datang dengan dua mobil dan keluarga besarnya


Tampaknya Rehan serius ketika dia tadi mengatakan bahwa dia akan melamar Aurel untuk menjadi istrinya.


" Wah ramai sekali dokter! Ada apa ini?" tanya Sheilla yang merasa kebingungan dengan kehadiran keluarga besar keluarga Rehan ke kediamannya tanpa pemberitahuan sebelumnya.


Bima tampak tertawa bahagia ketika melihat banyak seserahan yang dikeluarkan dari mobil keluarga Rehan.


" Kami selaku orang tua hanya bisa mengikuti keinginan anak. Selebihnya terserah kepada mereka yang akan menjalaninya!" ucap Riyanti memeluk Sheilla yang menyambut mereka semua untuk datang ke kediamannya.


Dua keluarga kini sudah duduk di dalam satu ruangan. Tampak Rehan dan Aurel yang duduk berdampingan dengan saling menggenggam tangan satu sama lain.


Terlihat mata Aurel yang membengkak karena semalaman terus menangis.


" Baiklah mari kita mulai!" ucap Bima sambil tersenyum kepada putrinya yang masih tampak menangis dipelukan Rehan.

__ADS_1


" Bagaimana Aurel??? Apakah kau ingin kami menerima lamaran ini ataukah kau ingin kami menolaknya? Bagaimanapun kaulah yang akan menjalani pernikahan itu!" ucap Bima bertanya kepada putrinya yang hanya bisa menganggukkan kepala karena serasa malu untuk menjawab pertanyaan ayahnya tentang acara lamaran yang diajukan oleh Rehan untuk dirinya.


__ADS_2