Lurah Pondokku Calon Suamiku

Lurah Pondokku Calon Suamiku
19. Lamaran Resmi 2


__ADS_3

Aku hari ini ada jadwal untuk konsultasi KKN dan juga proposal penelitianku, jadi aku berangkat agak pagi hari ini. Setelah membeli sarapan bubur ayam di Bu Nyai, aku langsung berangkat ke kampus. Aku tadi sepintas lihat Mas Ali lagi menjemur pakaian. Karena aku buru-buru jadi aku hanya melirik saja.


Aini masih mengaji dengan Pak Kiai,levelnya Aini memang sudah tinggi, jadi dia kalau mengaji langsung dengan pak Kiai. Kalau aku hanya ikut-ikutan saja, asal berangkat dan asal datang. Benar-benar cuma numpang tidur doang. Otakku gak nyampe kalau sudah baca kitab-kitab gundul itu. Pusing bawaannya. Tidak tahu jasa apa yang sudah aku lakukan di masa lalu, sehingga Allah mengirim seorang ustadz sebagai calon suamiku.


Kadang aku rasa minder kalau sudah memikirkan status dia yang stadz itu. Walaupun dia masih mondok, tapi dia juga selalu mengajar santri junior seperti Kitab Safinah, Jurmiah dll.


Kalau sore dia juga mengajarkan Iqra pada anak-anak warga sekitar pondok. Kadang aku berpikir kalau dia itu lebih pantas kalau bersanding dengan Aini, lebih mumpuni ilmunya ketimbang bersama denganku, timpang aja rasanya. Paham gak sih? Kurang cocok gitu.


Aku segera menyelesaikan semua urusanku di kampus, agar segera pulang ke pondok lagi. Bisa tidur atau ngobrol sama Aini.


" Nur" dari kejauhan Nida dan Isna memanggil namaku, aku menunggu mereka sampai ke tempat ku berada sekarang.


" Ada apa?" tanyaku saat mereka sudah berada di hadapanku.


" Kemarin siapa sih? sombong banget sumpah deh , Tibang minta kenalan doang, itu orang malah ngamuk" Isna langsung protes padaku mengenai masalah kemarin.


" Maaf yah, dia memang kaya gitu orangnya. Tapi dia baik kok " jawabku tidak enak.


" Iya, baik cuma sama kamu" Rajuk Isna lagi.


" Maaf ya sekali lagi. Oh ya ... gimana KKN kalian? sudah ngajuin gak?" tanyaku lagi.


" Udah sih, aku ngajuinnya KKN kesehatan, enak loh, kita dapat uang saku dari pemerintah " Nida menjawab dengan senyum sumringah.


" Aku juga, kayanya ambil yang kesehatan juga, biar dekat lokasinya , malas aku kalau jauh-jauh " kami lalu memutuskan untuk bicara di kantin saja, gak enak juga kalau ngobrol lama-lama di jalan gini sambil berdiri pula.

__ADS_1


" Nur, katanya kamu mau lamaran yah? Kapan?" tiba-tiba Nida bertanya masalah pribadi.


" Besok sih, rencananya, kenapa memangnya? " tanyaku sambil menyeruput teh manis ku.


Di beberapa bangku lain, aku lihat Mas Adrian bersama pacarnya sedang bercanda gurau. Mesra sekali. Aku hanya melihat saja, gak maksud apa-apa. " Kamu masih naksir Mas Adrian tah?" tanya Isna tanpa tedeng aling-aling.


" Siapa bilang aku naksir dia, jangan aneh deh,aku itu sudah mau menikah, besok aja sudah mau acara lamaran " sanggahku dengan tebakan Isna tadi yang mengira kalau aku naksir sama Adrian ketua AEC ku.


" Tatapan kamu Nur, yang gak bisa bohong " Serang Isna lagi. Aku hanya tertawa mendengar kata-kata Isna yang terdengar absurd bagiku.


" Pernah sih, dulu.. dulu... banget, pas kita masih ospek, aku emang pernah sedikit, sedikit doang ya.. suka sama dia. Tapi setelah tahu dia punya pacar, aku mundur teratur. Aku gak mau ya, harus mewek-mewek cuma gara-gara cowok yang cinta sama aku" terangku sejelas-jelasnya.


Takut aku kalau nanti jadi ada fitnah. Kalau sampai terdengar sama Mas Ali, bisa terjadi perang dunia. Bisa repot nanti urusan.


" Sudah siang nih, ayo kita ke rektorat, siapa tahu info tentang KKN terbaru sudah keluar " Ajak Nida mengalihkan pembicaraan kami.


Setelah membayar pesanan kami masing-masing, kami langsung ke rektorat, mencari info tentang KKN. Rasanya hari ini memang sangat melelahkan sekali. Aku ingin segera sampai pondok dan tidur sampe sore nanti.


Kalau lagi cape kaya gini, membayangkan kasur saja sudah sangat menyenangkan. Setelah semua urusanku hari ini selesai, aku langsung pamitan sama Isna dan Nida. Setelah mengantar mereka ke kost mereka, aku langsung kembali ke pondok. Sebelumnya aku membeli dua ayam penyet, satu untukku dan satu lagi untuk Mas Ali, calon suamiku tercinta.


Saat aku sampai ke pondok, waktu sudah agak sore. Aku terlambat buat sholat dhuhur. Aku parkir motorku lalu aku ke asrama putra sebentar, memberikan ayam penyet yang tadi aku beli ke pada Mas Ali. Sontak saja, seperti biasanya kedatanganku selalu di sambut meriah oleh teman-teman lainnya, ada yang menggoda ada yang tertawa, pokoknya bikin malas untuk mengunjungi asrama putra.


Setelah aku menyerahkan ayam penyet itu. aku langsung ambil air wudhu dan langsung masuk kamarku, setelah sholat aku makan dan tidur. Hari ini sangat melelahkan.


Aini belum pulang dari kursusnya, biasanya dia sudah pulang jam segini. Aku tidur sangat pulas, sampai tidak tahu kepulangan Aini .

__ADS_1


Saat aku terbangun, ada SMS masuk ke ponselku.


" Terima kasih makan siangnya, jangan lupa besok aku akan datang secara resmi untuk melamar kamu" aku tersenyum membaca SMS itu.


Sementara itu, di asrama putra


Ali tampak gusar, sudah hampir satu jam sejak dia mengirimkan SMS pada Nur, tapi belum juga ada balasan. Duduk salah, berbaring salah semua rasanya serba salah.


" Kenapa dia belum balas SMS aku ya?" monolog Ali dalam hati. Kesal dan sebal karena pesannya di abaikan, tidak di balas.


" Kamu kenapa sih? pesan aku kok gak di balas sih" dia kirim lagi SMS berikutnya.


Nur yang masih ngantuk itu cuma matikan ponselnya tanpa membaca SMS yang masuk. Lalu kembali tidur. Mumpung gak ada Aini di kamar, jadi dia mau tidur sepuasnya, kalau ada Aini dia selalu cerewet dan pasti banyak obrolan sama dia yang tak pernah ada habisnya.


" Besok jangan lupa, nanti kita berangkat sama-sama saja ke rumah Lilik dari sini " Ali kirim SMS lagi. Masih belum di balas juga. Dia sudah frustasi pokoknya. SMS dia sudah mau dua jam belum juga dapat balasan. Saat di coba di telepon. nomornya malah tidak aktif.


" Apa kehabisan baterai yah?" tanyanya lagi.


" Ah bodo ah.. " dia menghembuskan nafasnya kasar, kesal sekali dengan ulah Nur yang gak batas-batas SMS dia.


Akhirnya dia memilih pergi ke aula pondok dengan membawa kitabnya, niatnya mau ngapalin kitab sambil melihat-lihat apa gerangan yang sedang Nur lakukan, kenapa sudah lebih dari tiga jam pesannya masih belum dapat balasan juga.


Sampe jam lima dia di aula, kamar Nur masih sepi. Kebetulan ini hari Jumat jadi anak-anak TPQ libur, ngaji kitab juga libur. Jadi dia bebas menggunakan aula tanpa ada yang ganggu. Dia lihat juga ada beberapa santri junior yang sedang menghafal kitab imriti juga kitab Safinah.


Karena sudah Sore, sudah lelah juga, akhirnya dia memutuskan untuk pergi mandi saja. Nanti malam dia akan ke rumah Lilik untuk memastikan kalau acara besok sudah siap. Dengan mantap dia meninggalkan aula. Saat dia keluar aula, bertepatan dengan Nur juga keluar, mau mandi kelihatannya karena membawa pakaiannya dan juga handuk.

__ADS_1


Karena dia masih kesal, jadi dia gak berniat untuk mendatangi Nur, yang tampaknya baru bangun tidur, terlihat dari wajahnya yang kusut dan masih ngantuk-ngantuk.


__ADS_2