Lurah Pondokku Calon Suamiku

Lurah Pondokku Calon Suamiku
36. Persiapan Pernikahan


__ADS_3

Pov Nur


Pernikahan tinggal menghitung hari. Setiap hari harus puasa mutih, berat badan sudah turun drastis. Setiap hari Mas Ali selalu menelepon dari Sulawesi. Mengabarkan keadaan dirinya dan juga kesibukan nya di sana. Aku hanya berharap dia baik-baik saja, dan datang ke pernikahan kami.


Jujur saja, ada ketakutan bahwa dia pulang ke rumahnya di luar Jawa, takut dia tak kembali dan meninggalkan diriku sendiri dengan pernikahan ini. Semuanya sudah siap, hanya tinggal menunggu hari besar itu tiba.


Undangan, fotografer, WO, semuanya sudah siap. Kalau sampai pernikahan sampai gagal, keluarga besarku pasti malu. Namun adikku selalu bilang, bahwa aku harus selalu berpikir positif dan percaya kepada calon suamiku.


"Dalam sebuah hubungan, harus ada kepercayaan. Jangan menghabiskan waktu dengan berpikir negatif, Ece harus fokus ke persiapan mental dan hati, menyambut status baru sebagai seorang istri dan juga calon ibu dari anak-anak kalian!" ucap Adekku yang berusaha menghibur ku.


"Ya sudah, istirahatlah, sudah malam!" ucap Mamahku sambil merapihkan dagangan lalu menutup toko sembako.


Mamah bergegas pergi untuk tidur setelah sholat isya. Mamahku adalah orang yang super sibuk, dari shubuh sampai tengah malam, selalu bekerja. Waktu istirahat nya hanya beberapa jam. Mamahku adalah wanita paling hebat yang pernah aku tahu. Dia juga baik hati dan selalu menolong siapapun yang butuh bantuan.


"Selamat istirahat, Mah!" ucapku sambil masuk ke kamarku. Bersiap untuk tidur.


Dreeeeeetttt


dreeeeeetttt


Ada pesan masuk di ponselku. Nomor baru. Aku penasaran, siapa yang mengirim pesan tengah malam begini?


Perlahan aku bangun, dan membuka pesan tersebut.


+62821xxxxxx


"Neng, Aby dengar katanya Neng mau menikah ya, tanggal 14 bulan ini? Ko Neng tega banget sih, mutusin Aby secara sepihak hanya menggunakan pesan di ponsel. Aby padahal sudah cerita sama Abah dan Umi, bersiap akan melamar Neng. Tapi ternyata Aby keduluan orang lain. Aby sedih dengar kalau Neng akan menikah. Aby akan berusaha melupakan Neng, maafkan kesalahan Aby selama kita bersama. Aby cinta sama Neng, tapi kelihatannya kita memang bukan jodoh. Aby berdoa semoga pernikahan Neng bahagia dan langgeng, Amien!" setelah membaca pesan gak masuk akal itu, aku langsung melempar ponselku sembarangan. Aneh saja dengan pesan Aditya.


"Apa maksudnya mengirim pesan seperti ini? Apa dia gila?" kesal rasa hatiku.


"Perasaan aku sudah ganti nomor baru, buat menghindari teror dari dia. Dari mana dia dapat nomorku?" aku jadi kesal sekarang.


Niat hati mau tidur, malah jadi gak bisa tidur. Tiba-tiba terdengar suara ponselku berdering. Aku malas mau angkat. Tapi kenapa ponselnya terus berdering gak mau berhenti juga?


Dengan malas, aku mengambil ponselku, ternyata Mas Ali yang menelpon. Aku kira Andika yang menelpon Ku tadi.

__ADS_1


"Assalamualaikum, Mas! Ada apa, kok malam-malam begini menelpon? Apa ada masalah?" tanyaku mencecarnya tanpa jeda.


"Sayang, satu satu dong nanya nya. Kaya petasan aja, nyerocos mulu!" protesnya.


"Ya udah, aku kan kaya petasan, gak usah nelpon lagi! Bye!" ucaku jengkel tanpa menunggu jawaban dan langsung menutup teleponku.


Berkali-kali calon suamiku menelpon, tapi aku abaikan. Sudah jengkel gara-gara Aditya, Mas Ali juga nambahin kesal. Aku jadi tambah susah buat tidur. Hingga tengah malam masih juga terjaga.


Dreeeeeetttt


Ada pesan masuk lagi. Aku cuek aja. Bodo amat, pesan dari siapapun aku gak perduli. Aku matikan power ponselku lalu ngecarge dan aku sendiri pergi untuk tidur. Rasa kantuk mulai menyerang.


Keesokan harinya, saat aku membuka ponselku, banyak sekali panggilan dan pesan dari Mas Ali.


"Ya Tuhan! Apa dia gila?" decakku heran.


"Kenapa ceu?" tanya adikku sambil duduk di sampingku. Aku memberikan ponselku.


"Ya Allah, ya Robby!" ucap adikku syock juga.


"Sayang, ko main tutup aja? Mas mau bicara!"


"Maafin kalau Mas salah bicara!"


"Kamu marah benar?"


Ah, kalau aku baca semua bikin mumet kepala. Aku memilih pergi mandi dan bersiap sholat shubuh. Aku lupa shahur tadi malam. Gara-gara tidur kemalaman, jadinya lambat bangun.


Tidak tahu ini, masih kuat buat puasa atau tidak. Saat aku kembali dari sholat shubuh, aku lihat adikku masih khusuk membaca pesan dari calon suamiku. Dia sampe geleng-geleng.


"Ceu, Mas Ali bucin ya? Pesannya dan misscall nya ga masuk nalar!" decihnya heran.


"Biarkan saja, kalau dilayani gak ada habisnya.


" Balas aja sih ceu. Kasihan tahu! Nanti kalau dia jadi gak datang ke acara pernikahan kalian gimana coba? Semua persiapan sudah 100% loh." adikku menasehati.

__ADS_1


"Kalau dia tidak datang, jemput Aditya saja suruh nikain ece!" jawabku asal.


"Ih, sembarangan! Pamali ceu! Nanti kalau ada malaikat lewat, lalu disampaikan sama Allah. Terus Mas Ali beneran gak datang ke pernikahan kalian, ece nangis loh nanti!" ucap Adikku.


"Kalau dia gak datang, artinya dia bukan jodohku. Ngapain pusing?" tanyaku cuek.


"Emang ece gak kasihan sama orang tua kita? Mereka sudah keluar uang banyak sekali Ceu! Mamah kemarin pesan daging sapi aja sampe 100kg! Bisa bayangin, berapa duit itu? Belum bayar yang lain-lain!" ucap Adikku.


"Ya udah, kita berdoa saja yang terbaik. Kalau memang dia jodohku, semoga segalanya di mudahkan. Kalau bukan, semoga di gantikan dengan yang lebih baik!" ucapku.


" Ngomong sama ece ga ada ujungnya. Udah, ah! Mending tidur, tambah pusing aja!" Adikku keluar dari kamarku dan pergi ke kamarnya sendiri.


"Lebih baik aku mandi saja, lalu bisa bantuin yang lagi sibuk bikin kue buat nanti acara." aku mengambil handuk dan baju ganti ku.


Orang-orang sudah mulai sibuk menyiapkan segala sesuatunya, pernikahan ku hanya tinggal menghitung hari. Dua hari lagi akan terlaksana. Aku was was. Calon suamiku sampai hari ini masih di Sulawesi, belum ada kabar apakah dia sudah kembali atau tidak.


"Aku sebaiknya membaca pesan dia tadi malam, biar tahu apa yang dia lakukan sekarang." setelah mandi, aku langsung ke kamarku lagi. Mencari ponselku. Lalu membuka pesan masuk.


"Sayang, aku dan keluargaku nanti malam terbang ke Surabaya. Kamu harus menunggu aku. Jangan nakal, ya?!" aku tersenyum membaca pesannya.


"Hati-hati, salam buat keluargamu!" jawabku lalu menaruh ponselku di meja rias yang ada di kamarku. Tidak lama kemudian, aku mendengar ada panggilan masuk ke ponselku.


"Iya, Mas! Ada apa?" tanyaku santai.


"Aku kangen sama kamu. Ga sabar buat ketemu kamu!" ucap Mas Ali terdengar tulus.


"Kamu dimana sekarang?" tanyaku.


"Ko, ga dijawab kangennya?" tanyanya merajut.


"Aku juga kangen sama Mas. Cepat datang, ya! " jawabku gugup.


"Sayang, ponselnya mau Mas matikan, pesawat nya sudah mau terbang. Nanti kalau sudah sampai, Mas kabarin lagi. Love you, sayang!"


"Love you too!" lalu aku menutup panggilan dia.

__ADS_1


Aku harap pernikahan ini adalah yang terbaik bagi semuanya. Amien.


__ADS_2