
Pagi yang cerah yang dilalui oleh pengantin baru itu, dilalui dengan bahagia. Sampai tiba-tiba saja datang seorang gadis, yang tiba-tiba saja masuk ke rumahnya keluarga Bagas dan langsung memeluk Bagas begitu mereka bertemu. Rianti yang melihat hal itu, hanya mengerutkan keningnya. Tanda tidak suka. Bagas hanya bisa mengedikkan bahunya, tanda tidak mengerti.
"Mas Bagas! Akhirnya kamu kembali juga! Aku sangat merindukanmu kamu, sayangku!" tanpa aba-aba, gadis itu langsung mencium pipi Bagas. Bagas auto melotot menerima kejutan itu. Rianti sekarang paham, apa yang dirasakan oleh istrinya Ustadz Ali, ketika ada wanita lain yang menggodanya suaminya. Sakit ternyata!
"Sayang, sudah waktunya makan siang, ayo kita masuk!" tanpa tedeng aling-aling, Rianti langsung mencium bibir Bagas dan menarik suaminya dari pelukan gadis tak jelas itu, lalu dengan congkaknya, Rianti berkata, " Maaf ya Mba, suamiku mau makan dulu, dia sudah kelaparan! " lalu Rianti membawa masuk suaminya lalu mengunci pintu rumahnya tanpa berkata apa-apa.
Bagas hanya tertawa melihat kelakuan sang istri yang lucu "Hahahaha, ternyata istriku kalau sedang cemburu sangat manis, ya?" goda Bagas sambil mencubit hidung istrinya.
"Enak ya, masih jam segini udah dapat ciuman dan pelukan dari gadis cantik!" cicit Rianti kesal bukan main.
Bagas mendekati sang istri, lalu mengecup bibir merah merona itu dengan lembut, Untung kedua orangtuanya sedang pergi ke luar, bersilaturahmi ke keluarga, mumpung sedang ada di kampungnya.
"Bibir istriku yang cantik, jauh lebih menarik hatiku!" ucap Bagas, sambil mencium bibir Rianti yang tadi manyun terus. Kini Bagas menikmati kecemburuan sang istri dan menunjukkan cintanya hanya untuk dirinya.
"Sayang, bagiku, dari dulu sampai sekarang, di hatiku hanya ada kamu. Percayalah!" ucap Bagas, setelah selesai berolahraga bersama sang istri. Rianti hanya tersenyum mendengar ucapan cinta sang suami.
"Siapa gadis tadi? Gak sopan sekali, datang-datang langsung peluk cium suami orang saja!" cicit Rianti kesal.
"Kalau gak salah, dia itu anaknya Pak de Iman! Mas lupa lupa ingat! Sudah lama, Mas gak pulang, soalnya!" ucap Bagas sambil memainkan rambut sang istri yang ada di pelukannya. Rianti sekarang punya hobby baru, mencium bau sang suami. Entah kenapa demikian.
__ADS_1
"Sayang, aku sekarang paham, gimana perasaan istrinya Ustadz Ali, sakit ternyata ya? Melihat suami kita di dekati oleh perempuan lain! Nanti kalau kita sudah sampai ke Jakarta, antarkan saya, ya? Saya akan minta maaf sama mereka. Kebodohan dan kecerobohan saya,sudah menghancurkan kebahagiaan mereka." Bagas senang sekali, mendengar ucapan istrinya.
"Kalau ada perempuan seperti tadi lagi, Mas mau kamu melakukan hal seperti tadi lagi! Mas rasanya bangga sekali! Bisa membuat istri Mas ini kalang kabut juga!" Bagas malah menertawakan sang istri yang kini memerah pipinya karena malu.
"Ketawa ajq, terus! Istrinya udah marah banget, lihat suaminya main di peluk cium cewek lain, eh, suaminya malah keenakan, ketawa-ketawa lagi! Dasar nyebelin!" Rianti mau beranjak dari ranjang mereka, tapi langsung di cegah oleh suaminya.
"Mas belum ijinin kamu pergi. Temani Mas dulu! Mas masih ingin peluk kamu, sayang!" Bagas mau memeluk istrinya, Rianti malah menepiskan tangan Bagas.
"Bodo amat! Peluk saja tuh, cewe yang bikin kamu tertawa-tawa terus!" ucap Rianti misuh misuh. Bagas menaruh kedua tangannya di kuping, lalu minta maaf kepada istrinya. "Maafkan sayang! Mas janji gak ulangi lagi!" ucapnya, sambil menarik pinggang sang istri yang masih ngambek karena cemburu.
"Kenapa tadi ketawa?" tanya Rianti kesal.
"Nyebelin!" Rianti mau pergi, tapi Bagas langsung menarik tubuh Rianti ke kasur dan kemudian melanjutkan aktivitas tadi yang tertunda karena Rianti yang ngambek.
"Ih, sukanya mesum sama istri!" cicit Rianti setelah bebas dari sang suami, yang kini sudah terlelap setelah puas menikmati tubuh istrinya.
Rianti pergi ke luar kamar, ternyata gadis tadi belum pergi juga. Kini dia malah sedang tertawa-tawa dengan mertuanya Rianti.
"Eh, Ayo kini! Perkenalan! Ini sepupunya Bagas, namanya Sunia! Itu istrinya Bagas, namanya Rianti!" ucap ibunya Bagas dengan ramah. Rianti masih cemberut karena mengingat gadis tadi sudah memeluk dan mencium suaminya.
__ADS_1
Rianti sengaja membuka kancing baju atasnya, supaya gadis yang diperkenalkan sebagai sepupunya Bagas itu melihat lukisan hasil keberingasan sang suami.
Sunia tampak kesusahan menelan Salivanya. Ketika melihat leher Rianti penuh dengan kiss Mark. Bisa di bayangkan, bagaimana beringas seorang Bagas, ketika mereka berolahraga yang bernilai ibadah itu.
"Umi, Abah belum pulang?" tanya Rianti lalu duduk di samping ibu mertuanya. Menunjukkan daerah teritorial kepada Sunia. Kelakuan Rianti ini kalau di lihat oleh Bagas, pasti dia akan tertawa terbahak-bahak. Lucu dan konyol soalnya. Seorang Rianti, ternyata bisa berbahaya kalau sudah cemburu begitu.
"Abah sedang menengok sawahnya! Kan selama ini di serahkan untuk di kelola oleh ayahnya Sunia!" jawab ibunya Bagas. Rianti tampak manggut-manggut.
"Ya udah, Umy! Rianti mau masak dulu, ya? Nanti kalau suamiku bangun, dia pasti lapar, setelah main kuda-kudaan sama dua ronde tadi!" ucap Rianti tanpa di saring, sengaja mau Manas-manasin Sunia.
Wajah Sunia sampai memerah karena menahan amarah. Rianti pasang wajah permusuhan kepada Sunia. Rianti masih menyimpan dendam, karena tadi Sunia sudah lancang mencium dan memeluk sang suami tanpa ijin darinya. Umynya Bagas, hanya diam, tidak mengerti apa yang sedang terjadi di antara keduanya.
Setelah Riyanti meninggalkan mereka berdua. Sunia pun tampak misu-misuh dan mengadu kepada ibunya Bagas. Bahwa Rianti bersikap sangat kekanak-kanakan dan tidak menyambutnya berada di rumah itu. Uminya Bagas hanya tersenyum menanggapi pengaduan tersebut.
"Bu de! Istrinya Mas Bagas itu sangat buruk perangainya!" Sunia mulai menancapkan kuku bernanah ke hati ibu mertuanya Rianti. Bagaimanapun juga, ibunya Bagas itu masih belum terlalu mengenal siapa Rianti dan dia juga tahu bahwa Sunia sejak dulu memang selalu menyukai anaknya. Bahhkan secara terang-terangan, Sunia dulu pernah meminta kepada mereka untuk menikahkan Sunia dengan Bagas. Tetapi Bagas yang tidak pernah mau menerima Sunia, sebagai calon istrinya.
Sehingga Bagas selalu menolak perjodohan antara mereka berdua. Bagas hanya menganggap Sunia sebagai adiknya tetapi Sunia selalu merasa bahwa Bagas adalah calon suaminya. Oleh sebab itu ketika melihat Bagas pulang kembali ke kampung halamannya, dia begitu senang dan langsung saja memeluk dan mencium Bagas.
Sunia merasa bahwa Bagas adalah calon suaminya waktu itu. Sunia belum tahu bahwa Bagas sudah memiliki seorang istri. Karena ketika tadi Ibunya Bagas datang ke rumahnya, dia langsung lari saja ke rumahnya Bagas.
__ADS_1
Sunia tidak mendengarkan cerita kedua orang tuanya Bagas bahwa Bagas sudah mempunyai seorang istri. Begitulah kisah antara Bagas dan Sunia di kampung halaman tersebut. Untung saja Ibu mertuanya Rianti seorang wanita bijaksana, tidak mudah terprovokasi oleh Sunia, yang sejak tadi selalu menjelek-jelekkan Rianti.