
Begitu sampai di rumahnya Anjani, Dipta berencana akan langsung pulang. Tetapi Anjani memintanya untuk mampir dulu ke rumah mereka untuk bertemu dengan kedua orang tuanya.
"Mampirlah sebentar, Mas! Untuk bertemu dengan kedua orang tuaku. Mungkin mereka ingin mengucapkan terima kasih kepadamu. Karena sudah Mengantarkan saya kembali ke rumah ini, dengan selamat tanpa kekurangan apapun!" ucapan Anjani dengan suara yang masih lemah.
"Tapi saya sudah ditunggu oleh para pekerja saya, untuk kembali melanjutkan perjalanan kami ke Surabaya!" ucap Dipta.
"Sebentar saja, Mas! Saya janji itu hanya sebentar tidak akan memakan waktumu dengan lama!" janji Anjani kepada Dipta.
Akhirnya Dipta pun mengalah daripada nanti dia dikira sombong oleh Anjani maupun keluarganya.
Dipta dan tampak terpesona melihat kecantikan rumah milik kedua orang tuanya Anjani. Rumah bergaya modern bertingkat tiga dengan taman yang luas dan air mancur di halamannya sungguh sangat cantik.
"Sebentar ya Mas, saya masuk dulu. Saya panggil kedua orang tua saya. Kemungkinan mereka pasti sedang ada di taman belakang. Biasalah namanya juga orang tua!" Lita hanya mengganggu kecil anjanipun kemudian masuk ke dalam rumah dan pergi ke taman belakang mencari kedua orang tuanya.
Sementara Dipta yang ditinggal sendirian di ruang tamu, akhirnya memilih untuk menelepon supirnya yang tadi lupa tidak diajak ke situ juga, karena saking buru-buru dan paniknya.
"Halo kalian sekarang ada di mana? Carilah sebuah hotel yang agak dekat di situ. Biarlah kita malam ini menginap saja dulu di situ. Saya di sini masih ada urusan dengan kedua orang tuanya Anjani oke oke oke!" Dipta pun kemudian menutup panggilan teleponnya, ketika melihat Anjani datang bersama kedua orang tuanya.
"Selamat sore Perkenalkan nama saya Broto dan ini istri saya Sumarni!" ucapan ayahnya Anjani dengan logat Jawa yang sangat kental.
"Nama saya Dipta, Pak!" ucap Dipta dengan lembut dan sopan.
__ADS_1
"Terima kasih loh, Nak Dipta. Karena sudah mau mengantarkan putri kami ke rumah. Sejak tadi siang dia itu kami cari-cari. Tapi tidak ketemu. Tadi katanya keluar untuk mencari makan siang, tetapi tiba-tiba saja dia pusing dan tiba-tiba saja jatuh pingsan. Untung saja ada Nak Dipta yang mau membantu dan mengantarkannya kembali ke rumah ini!" ucap ibunya Anjani dengan penuh rasa syukur.
"Tidak papa, Bu! Saya hanya membantu saja sebagai sesama manusia. Saya bersyukur kalau tidak terjadi apa-apa dengan Anjani. Ya sudah kalau begitu, saya harus segera kembali. Karena para pekerja saya sedang menunggu di restoran saat ini. Kebetulan saya dalam perjalanan untuk pindahan ke Surabaya!" ucap Dipta dengan sopan.
"Oh, nak Dipta dalam perjalanan ke Surabaya toh? Kenapa berencana untuk pindah ke sana nak? Apakah tidak betah tinggal di Jakarta?" tanya ibunya Anjani tampak kepo dengan Dipta seorang laki-laki tampan yang baik hatinya dan juga sopan terhadap orang tua.
"Tidak apa-apa Bu, saya hanya ingin mencari lingkungan dan suasana baru. Karena saya juga sudah terlalu lama tinggal di Jakarta!" ucap Dipta sambil tersenyum.
Sementara itu, Anjani kini sudah keluar dari arah dapur dan membawa empat cangkir teh dan beberapa camilan yang diletakkan di hadapan Dipta.
Dipta jadi bingung sekarang, mau cepat-cepat kembali malah diberikan suguhan semacam itu. Akhirnya pun mereka mengobrol panjang lebar dan lupa untuk segera kembali ke tempat dirinya meninggalkan para pekerjanya.
"Nak Dipta sudah punya istri atau belum ya?" tanya ibunya Anjani sambil melirik orang Anjani yang tampak tersipu.
Sehingga membuat kedua orang tua Anjani merasa terkejut dan merasa bersalah. Karena sudah menyinggung sesuatu hal yang sangat sensitif. Sehingga membuat Dipta kini menjadi mendung wajahnya.
"Maafkan kami Nak Dipta, karena sudah membuat Nak Dipta jadi mengingat masa lalu yang menyakitkan!" ucap ayahnya Anjani merasa bersalah atas pertanyaan istrinya tadi.
"Tidak apa-apa, Pak! Itu adalah kejadian yang sangat lama. Hanya saja, saya memang yang sampai saat ini belum bisa melupakan kejadian itu. Sehingga selalu membuat hati saya merasa sedih. Sampai saat ini setiap 2 atau 3 bulan sekali. Saya pasti mengunjungi mereka di Purwokerto.
"Kenapa mereka dimakamkan di sana, Nak Dipta? Bukannya di Jakarta sehingga memudahkan Nak Dipta untuk berziarah ke makam mereka!" tanya ibunya Anjani.
__ADS_1
"Karena waktu kecelakaan itu terjadi di sana Bu! Kami mengalami kesulitan untuk membawa tubuh mereka. Karena dibutuhkan juga oleh Team penyelidik. Jadi akhirnya diambil kebijaksanaan untuk dimakamkan di sana saja!" ucap Dipta sedih.
"Kenapa sudah lama sekali istrimu meninggal. Kenapa nak Dipta belum juga menikah lagi!?" tanya ibunya Anjani.
"Bu nggak usah menanyakan hal-hal yang bersifat pribadi. Nanti Nak Dipta jadinya tidak nyaman!" tegur suaminya terhadap istrinya tetapi kita tampak tersenyum merasa tidak keberatan dengan pertanyaan tersebut.
"Tidak apa-apa, Pak! Namanya saja sebuah pertanyaan. Mau dijawab silakan tidak dijawab pun tidak dipaksakan bukan?" ucap Dipta dengan bijaksana. Sehingga menambah rasa kekaguman di hati Anjani terhadap pria yang tidak ada di hadapan itu.
"Ya sudah Bu, Pak! Saya pamit dulu. Kasihan para pekerja Saya sudah menunggu saya terlalu lama!" Dipta pun langsung bangkit dari duduknya dan berpamitan kepada kedua orang tuanya Anjani. Anjani tampak sedih akan berpisah dengan Dipta.
"Mas, Dipta. Apakah boleh kalau Anjani meminta nomor telepon Mas Dipta?" tanya Anjani dengan tersipu malu kita pun akhirnya memberikan kartu namanya kepada Anjani.
Anjani merasa senang sekali mendapatkan kartu nama tersebut dan dengan senyum bahagia dia pun mengantarkan dusta menuju halaman rumahnya.
Setelah pamitan Dipta pun langsung kembali ke tempat tadi. Ketika dia meninggalkan para pekerjanya di sana.
Dipta menghubungi Merry untuk bertanya posisi mereka saat ini di mana, "Kalian ada di mana?" tanya Dipta.
"Oh kalian sudah ada di hotel? Ya sudah saya segera ke sana. Kamarnya nomor berapa?" tanya Dipta. Setelah itu dia pun langsung menuju hotel yang dimaksud oleh sopirnya tadi. Mereka memesan tiga buah kamar dengan kelas yang berbeda. Untuk dua kamar milik para pekerjanya dipesankan kamar kelas standar sementara untuk Dipta dipesankan kamar kelas presiden Suite.
Setelah Dipta mendapatkan kunci kamarnya, dia pun langsung beristirahat di atas kasur hotel yang sangat empuk dan nyaman. Karena tubuhnya sudah sangat lelah sekali.
__ADS_1
Seharian ini dirinya berada di jalanan bersama dengan para pekerjanya. Belum juga membaringkan badannya di kasur sama sekali. Oleh karena itu, Dipta langsung nyenyak begitu tubuhnya menyentuh kasur.