Lurah Pondokku Calon Suamiku

Lurah Pondokku Calon Suamiku
130 Ya!


__ADS_3

Sheila paling takut kalau sudah melihat ayahnya marah maka dia hanya bisa menentukan kepalanya saat ini.


"Jawab Sheila kalau kau tidak akan pernah mendekati yang namanya pacaran!" tanya Farel sambil menatap tajam kepada putrinya.


"Ya!" jawab Sheilla sambil menundukkan kepalanya tidak berani berkata yang lain lagi.


Cansu mengelus telapak tangan salah kemudian dia tersenyum kepada putrinya.


"Kami dulu juga tidak berpacaran sayang, kami bertemu sebentar langsung menikah!" ucap Cansu sambil tersenyum.


"Kami dulu jatuh cinta pada pandangan pertama. Pertama kali melihat ibumu, Papa sudah sangat jatuh cinta pada ibumu!" ucap Farel mengecup bibir istrinya sekilas.


"Ya Allah kalian sudah menodai mata suciku ini! Tolonglah jangan berbuat seperti itu di hadapanku. Aku malu melihatnya!" ucap Sheilla sambil memalingkan wajahnya dari kedua orang tuanya yang malah tertawa melihat dia misuh-misuh.


"Cepatlah kau menikah dengan Bima, Maka kau juga bisa melakukan seperti ini setiap hari!" ucap Cansu sambil melirik kepada Sheila yang saat ini sedang cemberut.


Sheilla menarik nafasnya dalam-dalam, kemudian tampak dia melepaskannya dengan kasar. Tampak kesal di wajahnya.


"Kenapa sayang?" tanya Cansu.


Tidak biasanya Sheilla terlihat seperti itu. Sheilla adalah gadis yang ceria dan selalu berpikir positif dan selalu menebarkan kebahagiaan kepada orang di sekitarnya.


"Tidak apa-apa Mah! Hanya saja Bima itu memang menyebalkan!" ssketika pipi Sheilla memerah, karena dia mengingat kembali tentang ciuman mereka berdua sewaktu di kamarnya Bima.


'Dia sudah mencuri ciuman pertamaku! Dasar ga sopan!' bathin Sheilla kesal sekali.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sementara itu Bima yang saat ini sedang menuju ke rumahnya Dipta, hatinya sedang galau kacau nggak karu-karuan.


"Ga nyangka, kalau aku akan seperti ini gara-gara Sheilla! Kacau sudah hidupku!" Bima terus merutuki dirinya sendiri, yang tidak bisa mempertahankan dirinya untuk tidak tertarik kepada Sheilla yang ternyata penuh dengan pesona.

__ADS_1


"Setelah bertemu dengan dia, ternyata dia sanggup meluluhkan hatiku!" terbersit senyum di bibir Bima yang begitu tampan.


Begitu sampai ya apartemen Dipta Bima langsung memencet kode sandinya.


Bima langsung masuk ke dalam apartemen tersebut tanpa mencari Dipta. Bima tahu, kalau Dipta pasti sudah tidur saat ini.


"Dipta sudah makan malam belum ya? Kenapa tadi aku lupa tidak membawakan dia makan malam?" Bima bertanya ke pada dirinya sendiri.


Dengan langkah ringan Bima langsung masuk ke dalam kamar Dipta dan ternyata benar duganya bahwa Dipta sedang tidur pulas di atas ranjangnya.


Bima mendekati Dipta yang sedang terlelap.


"Dip, lu udah makan malam belum?" tanya Bima sambil menggoncangkan tubuh Dipta. Tetapi Bima terkejut ketika melihat Dipta yang menggigil tubuhnya.


Bima kemudian menaruh tangannya di atas kening Dipta, mengecek suhu tubuh Dipta saat ini. "Lu lagi demam, Dip?" tanya Bima khawatir dengan keadaan Dipta.


Kemudian Bima langsung keluar dari kamarnya Dipta. Bima memeriksa kotak obat yang ada di apartemen Dipta.


Mungkin kalau dibandingkan, Bima lebih banyak menghabiskan waktunya di apartemen Dipta daripada di rumah kedua orang tuanya.


"Semoga Lu cuma demam biasa aja Dipta! Gue akan bikin dulu makan malam buat Dipta. Siapa tahu dia belum makan saat ini!" Bima langsung pergi ke dapur dan memasak apa yang ada di dalam kulkas Dipta.


"Semoga saja makanan ini cukup untuk mengganjal perut Dipta yang lapar!" kemudian kita mengatur makanan dan minuman di atas nampan dan dia langsung masuk ke dalam kamar Dipta dengan cemas.


Kalau ada orang yang melihat apa yang saat ini Bima lakukan, pasti mereka akan salah paham. Berpikir bahwa Bima memiliki perasaan cinta untuk Dipta, karena Bima terlalu memperhatikan kita melebihi apapun.



Visualisasi kedekatan Dipta dan Bima.


Dipta dan Bima memang sejak dulu selalu bersama dan tidak ada yang bisa memisahkan mereka berdua. Bahkan Bima rela Kehilangan cintanya demi kebahagiaan Dipta dan demi untuk tidak merusak hubungan persahabatan mereka berdua.

__ADS_1


Bahkan kedua orang tua mereka sangat bangga, ketika melihat kedekatan mereka yang selalu terlihat harmonis sebagai seorang sahabat.


Bima membangunkan Dipta yang masih menggigil di atas kasurnya.


"Dip, lubangun dulu ya? Lu harus makan malam dulu. Kemudian lu minum obatnya, biar besok kamu bisa sembuh dan bisa kembali bekerja!" dengan telaten Bima merawat Dipta yang saat ini sedang sangat lemah tubuhnya.


Setelah selesai makan, Dipta kemudian meminum obat yang tadi dibawakan oleh Bima yang dia ambil dari kotak obat Dipta.


"Terimakasih ya Bima, kamu sudah merawat aku malam ini!" ucap Dipta dengan suara yang sangat lemah.


"Sudahlah, lu istirahat! Gak perlu ada kata terima kasih diantara kita berdua!" ucap Bima, kemudian Bima membetulkan selimut sahabatnya yang agak berantakan.


"Lu istirahat ya. Lu gak usah pikirin apapun juga! Gue akan di sini dan selalu jagain lu." ucap Bima sambil mengelus rambut Dipta dengan penuh rasa kasih sayang.


"Stop deh lakuin itu kalau orang lain melihat nanti dikira gue anak lu!" Dipta protes dengan apa yang dilakukan oleh Bima saat ini.


Bima cuma tertawa renyah dengan apa yang dikatakan oleh Dipta.


"Itu artinya gue tuh sayang banget sama lo, Dipta! Rasa sayang gue ke elu, melebihi sayangnya gue sama anak gue!" ucap Bima.


"Dari mana lu tahu? Lu punya anak aja kagak!" ucap Dipta sudah mulai bisa berdebat dengan Bima. Keadaan Dipta sudah mulai lebih baik.


"Ya gue tahu lah! Kan gue tuh sayang banget sama lu, pasti gue akan selalu sayang lu sampai kapanpun!" ucap Bima sambil berbaring di samping Dipta lalu memeluk sahabat kesayangannya itu.


"Ah minggir Lu! Jijai banget tahu gak sih? Cowok-cowok peluk-peluk gue. Nanti kalau ada yang tiba-tiba masuk kesini, dikira kita lagi ngapa-ngapain lagi. Ah nama gue udah hancur gara-gara lu!" Dipta terus mendorong Bima agar menjauh dari dirinya.


Tetapi Bima yang memang usil bukannya pergi dia malah semakin mengeratkan pelukannya terhadap Dipta. Sehingga Dipta kehabisan tenaga untuk menghindari Bima.


Tiba-tiba saja pintu kamar Dipta terbuka dan di sana ibunya Dipta matanya melotot, ketika melihat interaksi keduanya yang seperti sedang melakukan sesuatu yang tidak senonoh di atas ranjang.


Apalagi melihat Dipta yang kini hanya menggunakan celana kolornya saja. Ah lengkap sudah penderitaan mereka berdua, pernah ibunya Dipta berpikir macam-macam tentang mereka berdua.

__ADS_1


"Dipta, Bima! Apa yang kalian lakukan di sana? Cepat kalian ke ruang tamu. Mama ingin bicara dengan kalian berdua!" ucap ibunya Dipta dengan suara lantang sehingga membuat Bima dan Dipta hanya bisa saling melirik satu sama lain.


__ADS_2