
"Sayank..."
Digo masuk ke dalam ruang OSIS dan langsung memeluk tubuh istrinya yang saat ini sudah duduk di kursi menunggu kedatangan Digo. Bukan hanya itu saja, Digo juga mencium lembut kening Aruna.
"Maaf Di, aku merepotkanmu. Dompetku ketinggalan dan di dalam sana ada uang kas kelas, kebetulan nanti siang teman-teman ingin menjenguk Bagas dan aku bingung karena dompet ketinggalan dan juga Vina yang tidak bawa uang cash, tidak mungkin juga aku mengambilnya di ATM sebentar karena pasti mereka mikir yang tidak-tidak."
Ujar Aruna panjang lebar yang saat ini sudah berdiri di samping Digo dengan Digo yang sudah menyerahkan sejumlah uang yang diminta oleh Aruna.
Digo tersenyum, memang ia sejak awal tidak menanyakan untuk apa Aruna meminta uang itu, apalagi itu jumlahnya juga tidak banyak tetapi Digo juga tidak curiga, ia percaya dengan istrinya dan pada akhirnya Aruna sendiri yang menceritakan tentang mau apa digunakan uang itu.
"Tidak masalah sayank, uang aku adalah uang kamu juga, kamu tepat untuk meminta bantuan kepada aku."
Saat ini Digo sudah berada di depan Aruna, laki-laki itu menatap wajah cantik Aruna yang entahlah semakin hari semakin cantik saja.
"Terima kasih Di, nanti kalau sampai rumah aku ganti atau aku transfer saja ya?"
Cup
Astaga... benar benar gila!!
Digo mencium lembut bibir Aruna, ia tidak suka kalau istrinya mengatakan kalimat seperti itu seperti orang lain saja padahal Digo adalah suaminya dan itu berarti uangnya adalah uang Aruna juga.
"Tidak perlu diganti, uang aku adalah uang kamu juga kalau kurang kamu bisa minta lagi sama aku. Lagi pula aku juga tidak ma hanya sekedar ucapan terima kasih saja, aku mau yang lainnya?"
Jelas saja Digo memanfaatkan kesempatan ini padahal tadi pagi ia sudah bersama dengan Aruna tetapi belum ada satu jam laki-laki itu sudah kangen berat dengan istrinya, wajah Aruna kembali terngiang di dalam benaknya, apalagi ketika Digo mengingat tentang semalam yang dirinya benar-benar begitu liar dan ganas di atas ranjang.
"Jangan macam-macam Di, ini di sekolahan!!"
Aruna tahu betul apa yang dipikirkan oleh suaminya ia pun segera menutup mulutnya. Yang pasti saat ini posisinya tidak enak sekali di mana Digo sudah mendorong pelan tubuh Aruna hingga tubuh Aruna menempel ke tembok dan tentu saja keadaan seperti ini nanti menguntungkan Digo, tetapi tidak Aruna.
"Aku tahu sayank, tetapi tentu saja tidak ada yang berani masuk ke sini sudah dipastikan ini adalah kawasan ku dan juga kawasan kamu."
Aruna masih saja menutup mulutnya, ia tidak ingin Digo kembali macam-macam padanya terlebih ini di sekolahan dan bukannya Aruna tidak percaya dengan Digo namun suaminya itu memang gila tidak tahu tempat dan tidak tahu kondisinya sedang di mana dan bagaimana.
Melihat ekspresi Aruna yang seperti itu membuat Digo terkekeh geli, laki-laki itu menggelengkan kepalanya sembari menarik tangan Aruna yang saat ini masih menutup bibirnya.
__ADS_1
Digo menyingkirkan anak rambut Aruna yang menutupi pipi, memang Digo sengaja tidak membiarkan Aruna untuk menguncir rambutnya apalagi menguncir dengan gaya rambut yang agak tinggi yang membuat leher jenjang Aruna kelihatan, itu nanti akan menambah laki-laki lain semakin terpesona dengan Aruna saja.
"Cantik sekali istriku entah kenapa aku semakin hari semakin tergila-gila pada kamu sayank."
Aruna hanya diam, ia tentu saja tetap was-was jika suaminya itu berbuat macam-macam padanya ternyata meminta Digo untuk bertemu di ruang OSIS itu adalah kesalahan besar baginya yang mana ini akan dimanfaatkan oleh Digo untuk bisa leluasa menyentuh dan mencium bibir Aruna.
"Oh ya Di, aku nanti ikut teman teman menjenguk Bagas ya, jadi aku tidak usah pulang bareng kamu."
Aruna baru ingat jika ia diminta untuk ikut menjenguk teman kelasnya tentu saja bukan hanya Aruna saja tetapi teman-teman yang lainnya yang bisa ikut ke rumah sakit ya ikut meskipun nanti akan ramai tetapi tidak masalah mereka tahu diri dan juga tahu betul kapan jam berkunjung ke rumah sakit itu.
"Kalau tidak ikut bagaiman? nanti setelah pulang sekolah juga ada rapat OSIS lagipula aku khawatir sama kamu dan aku juga tidak bisa mengantarkan kamu ataupun ikut menjenguk Bagas."
Padahal itu hanya alasan Digo saja selebihnya diikutidak ingin Aruna pergi dengan teman-temannya terlebih lagi adalah laki-laki di dalam kelas Aruna yang diketahui pastinya salah satu dari teman kelas Aruna itu ada yang menaruh rasa pada istrinya tentunya di kecemburu jika melihat Aruna bersama dengan teman laki-lakinya.
Aruna sebenarnya juga enggan untuk ikut berkunjung ke rumah sakit bukan karena ia takut dengan Digo tetapi ia malas saja badannya masih remuk redam dan ingin istirahat tanpa ada gangguan dari yang lainnya dan arona tahu bagaimana jadwal tikus setelah pulang sekolah dan tentu saja beberapa jam itu dimanfaatkan untuk Aruna istirahat tanpa ada gangguan dari Digo tetapi semuanya hanya angan-angan Aruna saja karena ia diminta langsung oleh ketua kelas untuk ikut bergabung berkunjung ke rumah sakit toh juga semua teman-temannya juga ikut.
"Tapi sayank.. tidak usah ikut ya nanti kamu ikut aku ke kantor setelah rapat OSIS..."
Aruna menggelengkan kepalanya bukannya ia tidak patuh kepada suaminya tetapi ia juga harus mementingkan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadinya kalau masalah ikut ke kantor Digo itu bisa besok-besok namun kebersamaan dengan teman-temannya tidak bisa lagi besok-besok apalagi statusnya saat ini ya sudah menjadi istri, istri dari seorang Digo pula, laki-laki yang posesif dan cemburuan yang pastinya tidak mudah untuk mendapatkan izin keluar rumah.
"Mphhh .."
Aruna tidak dapat meneruskan lagi ucapannya karena mulutnya sudah dibungkam oleh bibir Digo. Ia juga tahu apa yang akan dikatakan oleh Aruna dan Digo tidak suka dengan ucapan Aruna, tidak di rumah tidak di sekolahan tetap saja posisi Aruna saat ini adalah istri dari Digo. Digo tidak mau membeda-bedakan antara di rumah dan di manapun juga meskipun di sekolahan orang-orang tahunya Aruna adalah kekasih Digo mungkin juga lebih dari itu, tetapi hanya sebatas tunangan saja, tidak suami istri namun Digo sendiri merasa keberatan jika di dalam pikiran Aruna masih ada batasan seperti itu.
Digo mencium dan *****@* lembut bibir Aruna, laki-laki itu dengan cepat menggigit bibir bawah Aruna supaya istrinya itu membuka bibirnya dan alhasil Aruna yang terlena dengan apa yang diberikan oleh Diego membuka bibirnya, Aruna juga menikmati sentuhan-sentuhan yang diberikan oleh suaminya itu.
Tanpa terasa tangan Aruna melingkar di leher Digo dan Aruna pun ikut membalas ciuman yang diberikan oleh Digo, hingga akhirnya ciuman yang awalnya lembut menjadi ganas, mereka berdua saling *****@* dan saling menikmati apa yang dirasakannya pagi ini.
Sedangkan Digo,.ia tersenyum penuh kemenangan sepertinya ia tidak tahan lagi untuk membuat Aruna mengeluarkan nyanyian dan des@han yang membuat Digo semakin bersemangat untuk melakukan lebih dari ini.
Iya bisa dikatakan Digo gila bahkan di dalam pikirannya itu ingin kembali memangsa Aruna, Digo tidak peduli jika saat ini mereka masih di dalam sekolahan toh juga di ruang OSIS ini tidak ada yang berani untuk masuk, Digo juga bisa mengunci pintu dan melakukan perbuatan gila itu di sini.
Sepertinya Digo juga terlena dengan ciuman balasan dari Aruna, hingga tangan laki-laki itu sedikit demi sedikit meraih kancing seragam Aruna dan membukanya perlahan-lahan.
Sementara Aruna, ia belum sadar jika suaminya sudah mulai nakal, bukan hanya ciuman saja saat ini yang diberikan oleh Digo tetapi Digo yang sudah berhasil membuka kancing seragam Aruna langsung saja mengarahkan tangannya, memasukkan tangannya itu ke dalam dua gundukan kecil yang sangat kenyal dan juga padat.
__ADS_1
"Ah...."
Aruna mendes@h, mengeluarkan nyanyian yang membuat Digo semakin terlena hingga akhirnya penutup dari dua benda kenyal itu berhasil terbuka dan Digo saat ini menguasai dua buah benda kenyal itu, merem@s dan juga memainkan pucuk-pucuk yang masih berwarna pink itu dengan penuh gairah.
Astaga apa yang dilakukan oleh si ketos gila ini, ini masih sekolahan... bisa-bisanya aku juga terlena..
Aruna yang sadar ia kemudian membuka matanya ia sudah melihat kabut gairah yang ada di dalam diri Digo tetapi ini bukan waktunya dan bukan pula Aruna menolak apa yang akan dilakukan oleh Digo tetapi tidak seharusnya mereka melakukan di sini, di dalam sekolahan meskipun sebenarnya Aruna dan Digo adalah pasangan suami istri yang sah namun tidak baik melakukan itu di dalam sekolahan yang notabenya mereka sama-sama masih pelajar.
"Jangan Di..."
Aruna yang tersadar dengan cepat melepaskan ciuman bibir yang semakin panas itu kemudian mendorong pelan tubuh Digo, ia tahu jika akhirnya nanti Digo akan pusing tujuh keliling, namun daripada menuruti apa yang diinginkan oleh suaminya lebih baik ia menghentikan saat ini sebelum semuanya terlambat tentunya.
"Sayank.."
Digo seketika juga frustrasi di saat ia menginginkan sesuatu tetapi tiba-tiba digagalkan begitu saja namun Digo mengingat kalau saat ini mereka bukan berada di rumah atau di hotel tetapi di ruangan yang setiap saat bisa saja dibuka oleh orang lain walaupun itu sebenarnya tidak mungkin.
"Maaf tetapi ini di sekolahan, kamu jangan gila Di!!"
Ujar Aruna sedikit menjelaskan dengan apa yang akan dilakukan oleh suaminya, perempuan cantik itu juga dengan cepat membetulkan tempat gundukan yang kenyal itu kemudian mengancingkan kembali seragam sekolahnya.
"Maaf sayank, aku yang khilaf entah mengapa setiap kali bersama dengan kamu aku selalu ingin memangsamu..."
"Dasar si ketos gila, untungnya aku sadar, kalau tidak kita bisa digerebek se isi sekolahan di sini!!"
"Digebrak pun juga tidak masalah kita sudah sah menjadi suami istri.."
Aruna melihat jam yang melingkar di tangannya sepertinya sudah hampir lebih dari lima belas menit ia meninggalkan kelas, ia takut saja jika guru pelajaran itu sudah masuk ke dalam kelas.
"Aku keluar ya Di dan terima kasih uangnya dan juga terima kasih atas izinnya, aku tahu jika kamu mengizinkanku."
Padahal suaminya tidak memberikan ucapan apapun juga tetapi Aruna yakin dengan apa yang baru saja diberikannya itu membuat Digo mengijinkan nya.
Sementara Digo hanya menganggukkan kepalanya dan juga dengan tersenyum manis melihat kepergian Aruna.
Digo sendiri tidak langsung keluar dari ruang OSIS, ia berdiam diri sesaat menetralisir sesuatu yang sepertinya sudah kecanduan dan ingin masuk kembali ke sarangnya tetapi Digo sadar jika ini adalah di sekolah dan tidak mungkin melakukan seperti itu.
__ADS_1