
Greep
Digo memeluk Aruna dari belakang, laki-laki itu juga menyandarkan kepalanya di pundak Aruna hingga membuat Aruna kaget seketika siapa yang memeluknya tetapi di saat ia menoleh ternyata yang memeluknya adalah suaminya sendiri.
"Jangan menolak sayank, kita sudah sah menjadi suami istri dan biarkan aku seperti ini sebentar saja."
Aruna hanya diam ia pasrah ketika Digo melakukan itu karena memang benar apa yang dikatakan Digo kalau dirinya saat ini sudah sah menjadi istri Digo dan mau tidak mau apapun yang berhubungan dengan dirinya, apapun yang ada di dalam tubuhnya adalah semuanya menjadi milik Digo dan Aruna tidak boleh protes ataupun menolaknya.
Digo memejamkan matanya sebentar, ia menghirup aroma wangi dari rambut Aruna dan juga tubuh Aruna, yang membuat h@sratnya seketika membuncah tetapi Digo akan meredakannya sendiri dan tidak ingin terbawa n@fsunya karena ini bukanlah saatnya, dan ia harus pikirkan bagaimana caranya mengatakan kepada Aruna supaya malam ini pindah ke rumah kedua orang tuanya.
"Sayank, malam ini kita langsung pindah ke rumah papi saja, aku bantu membereskan barang-barang kamu dan tidak perlu membawa banyak banyak yang penting-penting saja."
Seketika Digo melepaskan pelukannya ia langsung aja membalikkan tubuh Aruna yang saat ini menghadap ke arahnya.
Digo tau jika istrinya pasti kaget mendengar apa yang dikatakannya, karena baru saja menikah tetapi Aruna sudah diboyong ke rumahnya dan pastinya Aruna berpikir jika nanti dirinya tinggal satu atap bersama dengan Nathan.
__ADS_1
"Gue nggak mau Di .. kenapa nggak tinggal di rumah ini saja?"
Ya sepertinya apa yang ada di pikiran Digo itu memang benar jika Aruna tidak mau pindah dari rumah ini mungkin alasan utamanya adalah Nathan.
ShutttÂ
Digo menempelkan jari telunjuk nya dibibir Aruna ketika ia mendengar panggilan Aruna yang masih lo gue padahal mereka saat ini sudah sah sebagai suami istri dan terdengar tidak sopan jika panggilannya masih seperti itu, Digo saja sudah mengawali dengan memanggil aku dan kamu mengapa Aruna belum bisa melakukan hal yang sama.
"Sayank kita sudah menikah jadi panggilan harus diganti, aku tidak mau mendengar kamu memanggil aku dengan lo, coba dengan kamu atau kalau bisa dengan mas dan sayank jug boleh, karena bagaimanapun Aku adalah suami kamu."
Mas ... Mas dari Hongkong, bagaimana bisa aku memanggil Digo dengan sebutan Mas ataupun sayank, sedangkan aku sendiri masih jengkel dengan Digo...
"Kak Nathan tinggal di apartemen? apa tidak apa-apa? Dan aku gak mau gara-gara aku keluarga kalian jadi terpecah seperti itu, lebih baik tinggal di sini saja Di?"
"Hai sayank, bukan seperti itu dan bukan gara-gara kamu tetapi memang itu adalah permintaan Bang Nathan sendiri yang menginginkan untuk tinggal di apartemen, karena sebenarnya Bang Nathan sudah lama ingin hidup mandiri tetapi Mami dan Papi tidak mengizinkannya, mungkin juga dengan cara ini Bang Nathan bisa lebih bebas untuk tinggal di apartemen sendiri, kamu tidak perlu khawatir dan semuanya bukan gara-gara kamu, ini adalah sebuah takdir yang harus keluarga kita lalui sayank dan pastinya tidak ada yang namanya perpecahan di keluarga Narendra."
__ADS_1
Digo mengambil tangan istrinya kemudian mencium punggung tangan itu, ia tahu jika istrinya saat ini merasa bersalah dengan kehadiran dirinya yang membuat Nathan tidak berada di kediaman Narendra.
"Tapi Di??"
Bukannya menolak, karena Aruna paham jika setelah menikah ia harus tinggal bersama dengan suaminya, kemanapun suaminya akan membawanya pergi, di situlah Aruna harus mengikutinya ... tetapi di dalam pernikahannya ini terdapat sebuah cerita yang panjang di mana ia tidak mau hanya gara-gara dirinya terjadi perpecahan diantara keluarga Narendra.
"Tidak ada tapi-tapian sayank, ayo aku bantu berkemas sebelum kemalaman."
Digo memegang tangan istrinya, kemudian menggandeng tangan Aruna untuk menuju ke dalam kamarnya dan di sinilah mereka mulai berkemas-kemas, meskipun Aruna sebenarnya masih ragu untuk tinggal di rumah mertuanya tetapi mau tidak mau ia harus mengikuti ke mana Digo tinggal.
"Bawa buku pelajaran saja sayank, karena semua pakaian kamu sudah aku siapkan di sana."
Aruna menggelengkan kepalanya, mengapa Digo antusias sekali untuk menyiapkan semuanya padahal mungkin saja Aruna tidak ada niatan untuk melanjutkan pernikahan ini sampai nanti, entahlah perasaannya kepada Digo masih abu-abu, ia juga masih belum menerima semua yang sudah dilakukan oleh Diego, terlebih lagi Digo sudah mengambil apa yang ia jaga untuk suaminya nanti yang benar-benar dicintainya, tetapi entah mengapa semakin lama Digo menunjukkan keseriusannya bahkan saat ini Digo sudah menikahinya dan Aruna masih bingung antara ia harus berbuat apa dan bagaimana.
"Sudah sayank, jangan pikiran yang aneh-aneh. Aku tahu jika kamu masih belum menerima pernikahan ini tetapi aku minta untuk kamu, cobalah untuk membuka hati kamu sedikit demi sedikit dan maafkanlah semua perbuatan yang aku lakukan dulu sebelum menikahi kamu, aku tahu kalau aku salah.. dan semua yang aku lakukan adalah salah tetapi itu karena aku sangat mencintai kamu dan tidak ingin kehilangan kamu, percayalah.. aku tidak sedang merayu ataupun bagaimana, cintaku padamu tulus dari dalam hatiku."
__ADS_1
Iya...Digo tahu jika Aruna masih ragu-ragu untuk menerimanya, bahkan Aruna sendiri mungkin saja belum menerima pernikahan ini, tetapi tidak masalah bagi Digo, ia paham dengan apa yang dipikirkan oleh istrinya itu yang mana memang tidak mudah jika menjadi Aruna dan Digo juga tidak akan menyerah, ia sudah berjuang sampai bisa menikahi Aruna dan tidak akan melepaskan Aruna, bahkan Digo akan bertekad untuk menumbuhkan rasa cinta Aruna kepada dirinya yang mana memang semuanya itu harus ditunjukkan dengan kesabarannya.
Aruna menganggukkan kepalanya, memang tidak salah apa yang diucapkan oleh Digo dan seharusnya Aruna bersyukur karena Digo memang sangat mencintainya, bukan karena ingin mendapatkan tubuhnya saja dan mungkin memang benar kalau Aruna harus belajar untuk menerima pernikahan ini, belajar untuk mencintai Digo karena memang Digo bukanlah laki-laki yang buruk, Digo adalah laki-laki yang baik, pintar dan juga tampan, untuk masalah kekayaan ... tidak usah diragukan lagi, pastinya hingga nanti tujuh turunan kekayaan keluarga Narendra itu tidak akan pernah ada habisnya.