
"Tadi Papa bicara apa sama kamu?"
Saat ini Aruna berada di dalam pelukan Digo, perempuan cantik itu dari tadi penasaran dengan apa yang dilakukan oleh Digo dan juga Papanya hingga mereka berdua berada di ruang kerja sampai berjam-jam yang pastinya ada sesuatu yang mengganjal, rasanya aneh sekali bahkan tidak biasa-biasanya Papah Adi memanggil Digo untuk bertemu secara empat mata saja.
Aruna juga sempat bertanya kepada Mama Nina tetapi perempuan yang sudah tidak muda lagi itu tidak menjawab bahkan hanya menggelengkan kepalanya, tanda jika memang Mama Nina tidak tahu apa-apa perihal Papah Adi memanggil Digo ke ruangan kerja beliau.
Cup
Bukannya menjawab Digo malah memberi satu ciuman di bibir Aruna yang membuat perempuan cantik ini semakin mencebikkan bibirnya kesal, sedari tadi hanya ini yang dilakukan oleh suaminya setelah memangsanya sore sampai malam kini setelah makan malam pun Digo masih memangsanya dan tidak membiarkan Aruna tidur bareng sebentar saja.
"Penasaran sayank?"
"Tentu saja, kalau nggak penasaran aku nggak mungkin tanya sama kamu."
Sudah kesal dengan ulah suaminya kini malah bertambah kesal manakala Digo tidak menjawab pertanyaannya, memang laki-laki itu malahan memainkan rambut Aruna, membuat Aruna jengkel seketika. Ia tahu nanti jika ujung-ujungnya pasti Digo akan memintanya lagi dan lagi dan tidak membiarkan Aruna beristirahat atau pun turun dari atas ranjang.
"Ya sudah kalau nggak mau menjawab, aku tanya sama Papa saja sepertinya Papa memang belum tidur. Dan sekalian saja aku tidur sama Mamah."
Jelas saja selain Kesal, Aruna yang penasaran dan seketika membuang selimut, ia kemudian turun dari atas ranjang sembari menahan rasa perih di bagian intinya, tetapi tidak masalah daripada ia makin penasaran karena suaminya ditanya tidak menjawab lebih baik Aruna bertanya langsung kepada Papanya atau juga ia pun berhak untuk menanyakan perihal mengapa suaminya berada di ruang kerja Papa nya tadi sampai berjam-jam.
__ADS_1
"Jangan dong sayank, jangan ngambek.. sini aku kasih tahu."
Mendengar ancaman dari Aruna dan juga pergerakan tubuh Aruna yang ingin beranjak dari atas ranjang membuat Digo segera menarik tangan Aruna dan merebahkan kembali tubuh Aruna di sampingnya.
Memang Digo hanya menggoda Aruna saja, ia bukannya tidak mau memberitahu apa saja yang sudah dilakukannya bersama dengan Papa mertuanya tadi, hanya saja ia sedikit mengulur waktu .. masih ingin bermain-main dan bermacam-macam dengan Aruna dan menghabiskan malam minggu ini hanya berdua saja.
"Makanya kamu cepat kasih tahu aku, kalau tidak
. .aku akan keluar dari kamar ini sekalian saja aku mau tidur sama Mama."
"Jangan ngambek sini aku peluk dulu nanti aku kasih tau kamu."
"Papa hanya meminta aku untuk ikut menangani perusahaannya."
Aruna melongo mendengar apa yang diucapkan oleh Digo barusan, bisa-bisanya Papah Adi meminta Digo untuk menangani perusahaannya, pada setahu Aruna.. perusahaan Papa Adi dan perusahaan Digo itu berbeda.
"Menangani perusahaan Papah? Maksudnya bagaimana?"
Mendadak pertanyaan Aruna menjadi serius, ia bahkan sama sekali tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Digo, ia juga sebenarnya tidak mau ikut campur tentang perusahaan papanya yang mana memang Aruna tidak mau untuk terjun langsung menggantikan Papahnya nanti.
__ADS_1
"Aku diminta Papa untuk ikut bergabung ke perusahaannya, beliau juga meminta aku untuk memegang salah satu perusahaan Papa yang ada di sini."
Jawab Digo jujur dan apa adanya, sembari melihat ekspresi wajah istrinya, sepertinya memang Aruna belum diberitahu oleh Papa Adi kalau dirinya diminta untuk ikut bergabung menjalankan perusahaan milik Papah Adi, hingga membuat istrinya itu melongo seakan-akan tidak percaya ataupun entah bagaimana yang ada di dalam pikiran Aruna saat ini.
"Serius Di? Bukannya perusahaan kamu dan perusahaan papa itu berbeda proyeknya?"
Tanya Arun yang lagi yang seakan-akan tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Aruna memang tidak tahu seluk-beluk mengenai perusahaan tetapi ia sedikit paham bidang perusahaan Papah Adi dan juga perusahaan milik keluarga Digo, yang pastinya kedua perusahaan itu tidak bisa bekerja sama karena mempunyai proyek yang berbeda-beda.
Digo menganggukkan kepalanya kemudian ia mencubit gemes hidung Aruna yang saat ini wajah Aruna menatap ke wajahnya tentu saja Digo merasa sangat gemas dengan istrinya itu yang mana malahan jika penasaran, Aruna terlihat semakin cantik dan Digo ingin kembali memangsanya.
"Kapan suami kamu ini bohong sama kamu sayank? aku pun juga kaget tadi ketika Papa meminta aku untuk bergabung ke perusahaannya."
Sepertinya memang ada beberapa hal yang dibicarakan antara Papah Adi dengan Digo barusan namun yang terpenting adalah Papah Adi meminta Digo untuk bergabung ke dalam perusahaan nya, maklum saja Papa Adi hanya mempunyai satu orang putri yaitu Aruna dan berharap nanti kelak semua harta kekayaan beliau jatuh ke tangan Aruna dan juga untuk tetap mempertahankan perusahaannya, Papah Adi meminta Digo untuk ikut bergabung ataupun ikut menangani salah satu perusahaan Papa Adi saat ini yang sedang berkembang pesat, tentu saja beliau mempunyai rencana itu,karena bapak Adi yakin jika Aruna pasti tidak mau untuk meneruskan perusahaan itu bukan hanya tidak mau tetapi memang Aruna yang tidak mampu karena otak Aruna tidak secerdas otak Papa Adi dan juga Digo, oleh karena itu Digo yang saat ini statusnya sebagai suami Aruna diminta untuk ikut bergabung ke perusahaan Papah Adi, tentu saja dengan berbagai macam alasan dan pertimbangan juga sedikit ancaman supaya laki-laki itu mau menjalankan perusahaan milik Pak Adi.
"Kamu mau Di?"
Sepertinya Aruna masih penasaran bukan ia merasa iri atau tidak rela jika perusahaan keluarganya jatuh ke tangan Digo, bahkan Aruna tidak masalah karena ia yakin pernikahan yang dijalani dengan Digo itu satu untuk selamanya, Aruna juga tidak berpikir untuk berpisah dari Digo meskipun awal pertama kali mereka menikah tidak ada rasa cinta tetapi Aruna akan belajar sedikit demi sedikit untuk mencintai Digo, untuk mempertahankan pernikahan ini.
Tetapi yang menjadi pertimbangan dan juga kekhawatiran Aruna ya itu tadi apakah Digo mampu untuk menjalankan semuanya padahal Digo sekarang masih sekolah dan juga Digo setiap pulang sekolah selalu ke perusahaannya sendiri juga ikut bergabung dengan perusahaan milik Papah Rendra, bukan hanya itu saja bisnis Digo juga ada di mana-mana . Karena Digo diam-diam juga membuka restoran dan juga cafe yang pastinya sudah sangat sibuk terlebih lagi jika ia ikut bergabung ke perusahaan Papah Adi, bagaimana nanti Digo menjalaninya, apakah bisa berjalan sesuai dengan keinginan atau memang harus ada yang dikorbankan?
__ADS_1
Digo sengaja tidak menjawab dulu, ia masih menatap wajah cantik Aruna saat ini yang ada di depannya, tentu saja Digo yakin jika Aruna begitu penasaran dengan jawaban yang akan ia keluarkan.