
Aruna menggelengkan kepalanya, bukan karena ia tidak mau sarapan bersama dengan kedua mertuanya itu tetapi waktunya yang tidak pas, ia sedang buru-buru supaya tidak terlambat ke sekolah meskipun nanti ia sudah memprediksi bakalan telat sedikit sampai ke sekolahnya.
"Maaf Mi, Pi..aku tidak bisa ikut sarapan sudah terlambat..."
"Tidak apa-apa sayank setidaknya minum susunya dulu untuk mengganjal perut nanti sampai di sekolahan sarapan di sana saja, Digo sudah memberikan uang saku kan?"
Aruna mengangguk meskipun ia sendiri lupa jika tidak mempunyai uang hanya satu lembar warna biru saja dan itu nanti digunakan untuk membayar taksi ia juga tidak tahu apakah suaminya tadi menaruh uang di dalam kamarnya atau tidak, yang jelas Aruna buru-buru pergi dari kamar. Tetapi ia juga tidak mungkin untuk mengatakan kalau Digo belum memberikannya uang, nanti bisa-bisa kedua mertuanya malah memberikannya uang dan itu akan membuat repot dirinya saja dan tidak baik tentunya.
"Papi jadi ingat tadi Digo yang bangunnya juga telat, bagaimana mungkin dia tidak telat jika istrinya saja secantik ini pastinya Digo semalam juga tidak mau melepaskan kamu, iya kan Run?"
Melenceng dari pembicaraan, Papi Rendra malahan melihat ke arah Aruna yang pagi ini terlihat cantik dan juga berbeda, apalagi rambutnya yang masih terlihat basah mungkin saja Aruna belum sempat untuk mengeringkan rambut dan tentunya juga Papi Rendra mencoba untuk menggoda Aruna.
"Tapi jangan membuat anak cantik Mami malu, sudah tahu anak kamu yang semalam berbuat macam-macam dan membuat istrinya kelelahan seperti ini."
Aruna sendiri hanya menunduk malu dan benar-benar tidak bisa berkata apa-apa. Ia yang sudah meminum susu nya, lalu segera saja mengambil tangan kedua mertuanya untuk berpamitan, tidak mungkin jika dirinya terus-menerus berada di sini yang pastinya obrolannya nanti akan semakin ngawur dan ia semakin terlambat ke sekolah saja.
Setelah berpamitan, Aruna bergegas untuk keluar rumah .. ia memang sudah ditawarin untuk berangkat dengan sopir saja tetapi Aruna tidak mau karena Aruna tahu pasti sopir di rumah ini akan mengantarkan Mami dan Papinya, tidak mungkin juga dirinya ke sekolah diantar oleh sopir yang Aruna juga belum kenal betul siapa sopir itu.
__ADS_1
"Dek, mau ke mana.. tumben siang ke sekolahnya?"
Aruna menghentikan langkah kakinya sejenak ketika ia sudah berada di depan rumah dan melihat sebuah mobil berwarna hitam berhenti di depannya dan tentu saja Aruna tahu siapa pemilik mobil itu. Terlebih lagi, Nathan sudah membuka kaca mobil nya.
Aruna sebenarnya enggan untuk berhenti ataupun ngobrol dengan Nathan yang pastinya Aruna sendiri merasa bersalah dengan adanya kejadian ini, yang jelas dengan terang-terangan ia sudah melakukan sesuatu yang pastinya tidak baik sebagai calon tunangan akan kemarin.
"Iya kak mau ke sekolah, Maaf ya kak aku duluan."
Sedikit tidak enak hingga akhirnya Aruna dengan cepat pergi meninggalkan Nathan yang entahlah Aruna sendiri tidak tahu mengapa Nathan datang ke rumah ini pagi-pagi sekali.
"Tunggu dek, kamu berangkat dengan siapa? Aku tidak melihat Digo di sini .. apa Digo sudah berangkat lebih dulu?"
Kepalang tanggung Nathan sudah berada di depannya dan mengajak ngobrol dirinya, mau tidak mau Aruna menyempatkan waktu barang sejenak saja.
"Bukan, aku ingin bertemu dengan Papi.. ada sesuatu yang harus dibicarakan mengenai masalah kantor dan kamu mau naik taksi pagi-pagi seperti ini apa tidak salah pastinya tidak ada taksi kosong di jam-jam segini ini jam padat, jika kamu mencari taksi.. kamu bisa-bisa tidak berangkat ke sekolah dan tentunya akan terlambat. Bagaimana kalau aku antarkan saja?"
Aruna tidak langsung menjawab, perempuan cantik itu berpikir lebih lanjut lagi apa mungkin ia akan menerima tawaran Nathan atau mencari taksi yang kosong yang sepertinya memang ucapan Nathan itu benar jika jam-jam begini pastinya tidak ada taksi yang kosong semuanya penuh karena ini jam sekolah dan jam masuk kantor namun jika ia menerima batuan dari Nathan pastinya ia takut dengan Digo, bagaimana nanti jika Digo mengetahui ia diantarkan oleh Nathan berangkat ke sekolah meskipun ia tahu jika suaminya itu sudah berada di sekolah tetapi mata-mata Digo yang terlalu banyak membuat Aruna jadi berpikir 1000 kali untuk berangkat bersama dengan Nathan.
__ADS_1
"Tidak usah dipikir pikir lagi, Cepat masuk ke mobil nanti kamu terlambat!"
"Tapi nanti aku merepotkan kak Nathan, dan juga katanya kak Nathan ada yang perlu sama Papi...kakak masuk saja Papi dan Mami masih berada di ruang makan."
"Itu gampang, nanti saja setelah nganterin kamu sekolah.. ayo cepat masuk jangan bicara lagi dek, kalau kamu tidak mau terlambat."
Dengan cepat Nathan meraih tangan Aruna dan membawa perempuan cantik itu untuk masuk ke dalam mobil, Aruna sebenarnya tidak enak, tetapi mau dikata apalagi daripada ia terlambat datang ke sekolah dan untuk masalah Digo nanti bisa Aruna jelaskan, tentu saja ia berharap jika suaminya mau mengerti meskipun itu pastinya sangat sulit sekali.
Baik Nathan maupun Aruna segera memakai sabuk pengamannya dan tentu saja setelah melihat Aruna siap, Nathan segera melajukan mobilnya dengan kecepatan yang tinggi, ia tahu jika istri dari adiknya itu pasti akan terlambat ke sekolah meskipun begitu setidaknya dengan ia mengantarkan ke sekolah Aruna tidak telat banget.
"Bagaimana kabar kamu, apa kamu bahagia menikah dengan Digo?"
Setelah hampir 5 menit tidak ada obrolan, Nathan melirik ke arah Aruna dan menanyakan tentang perihal yang mungkin saja Aruna tidak bisa menjawabnya dan Nathan menelisik lebih jauh tentang Aruna saat ini yang mana rambut Aruna masih terlihat basah dan juga ada beberapa tanda cinta di leher Aruna yang Nathan bisa melihatnya dengan jeli meskipun Aruna sudah menutupnya dengan foundation.
"Aku minta maaf kak atas kejadian kemarin, setelah kejadian itu aku belum sempat bertemu dengan kak Nathan dan belum meminta maaf."
Pertanyaan apa dijawab Aruna dengan apa, memang bukan Aruna tidak mendengar apa yang ditanyakan oleh Nathan tetapi ia sengaja tidak mau menjawabnya, ia tahu laki-laki di sampingnya itu mencoba untuk mengorek informasi tentang dirinya dan juga Digo meskipun sebenarnya Nathan tahu jika Aruna juga terpaksa untuk menerima pernikahan ini dan sekaligus Aruna tidak mau membuat hati Nathan hancur jika ia mengatakan bahagia menikah dengan Digo meskipun sebenarnya Aruna juga sendiri tidak tahu apakah ia bahagia atau tidak.
__ADS_1
"Santai saja aku tidak apa apa, lagi pula kamu tidak salah, ini adalah takdir yang mungkin juga takdirku tidak bisa memilikimu hanya bisa mencintai tanpa harus memiliki.."
Jawab Nathan dengan nada sendunya, laki-laki itu saat ini berubah ekspresinya yang tadinya begitu gembira ketika bertemu dengan Aruna, namun saat mengingat jika dirinya hanya mencintai tanpa bisa memiliki Aruna dan Aruna sudah menjadi istri dari adik kandungnya sendiri, membuat Nathan menjadi sedih. Jujur saja di dalam hatinya ia masih kecewa dan patah hati dengan kejadian kemarin yang mana Aruna sudah digadang-gadang dan diimpikan menjadi istrinya tetapi sayang sekali semuanya hanyalah angan-angan dan impian saja.