My Crazy Husband

My Crazy Husband
Apa Masih Sakit?


__ADS_3

Pagi ini, Digo memutuskan untuk berangkat ke sekolah pagi pagi sekali, ia juga menghubungi keempat sahabatnya untuk mereka juga ke sekolah pagi pagi, alasannya hanya satu, supaya ia bisa ngobrol banyak dengan Aruna, karena semalam Aruna sama sekali tidak mau mengangkat telpon nya meskipun ia sudah mengancam perempuan cantik itu.


"Cie....yang sudah nggak perjaka lagi...auranya beda banget, tambah gimana gitu..."


Ledek Dino yang melihat ke arah Digo dari atas ke bawah, ia juga tau kalau sahabatnya itu semalam sukses membuat anak gadis orang tidak berdaya.


"Eh iya, tampaknya sukses bro? Berapa ronde??"


Digo hanya senyum senyum sendiri, ia bahkan malahan mengingat malam panas semalam yang benar-benar panas dan tidak akan Digo lupakan, apalagi itu adalah pertama kali untuk nya dan Aruna.


Bahkan Digo sendiri tidak tau, berapa ronde yang sudah di mainkan nya bersama Aruna semalam.


"Ye malahan senyum doank....pasti Lo ketagihan dengan tubuh seksii Aruna..."


"Sialan!! Diem deh lo...dan awas!! Jangan bayangin bini gue!!"


Keempat laki laki yang ada di sana langsung tertawa, kemudian mengikuti langkah kaki Digo yang sudah menuju ke gerbang sekolah, karena mereka tau kalau Digo sedang menunggu Aruna.


Sama dengan Aruna, pagi ini Aruna sengaja untuk berangkat ke sekolah pagi-pagi sekali bukan karena apa-apa atau ada ulangan atau bagaimana. Karena sekolah Aruna juga sudah selesai mengadakan ujian semester yang artinya dalam satu minggu ini hanya ada kegiatan pentas seni dan juga olahraga pertandingan antar kelas.


Tetapi bukan karena Aruna yang saat ini menjabat sebagai sekretaris OSIS yang harus rajin berangkat pagi namun Aruna sengaja untuk menghindari Nathan, ia tahu jika setiap pagi Nathan akan mengantarnya ke sekolah begitu juga dengan pagi ini meskipun Nathan tidak mengirimkan pesan atau meneleponnya yang mengatakan kalau dia akan mengantarkan Aruna ke sekolah, namun keyakinan Aruna seperti itu bahwa Nathan akan mengantarnya ke sekolah pagi ini.


Sedangkan Aruna, rasanya ia belum siap bertemu dengan Nathan bukan karena Aruna ingin menyembunyikan semuanya, justru karena Aruna mau mengatakan sesuatu kepada Nathan namun ia harus mencari waktu yang pas dan tepat dan juga dengan suasana yang nyaman, tidak seperti ini yang mungkin saja Nathan sendiri diburu oleh waktu untuk mengantarkan nya ke sekolah dan juga ia harus ke perusahaan.


Jadi Aruna memutuskan pagi ini ia berangkat dari rumah pagi-pagi sekali supaya tidak bertemu dengan Nathan dan entahlah nanti bisa dipikirkan apa alasannya jika Nathan menelpon.

__ADS_1


Dengan tubuh yang masih lemas, apalagi di bagian bawahnya yang masih terasa ngilu, namun Aruna harus membiasakan diri untuk berjalan seperti biasa ia juga tidak mau jika nantinya teman-teman sekolahnya curiga dengan apa yang sudah terjadi padanya.


Dengan cepat, Aruna mengambil motornya yang ada di garasi kemudian melajukan motornya dengan kecepatan tinggi supaya ia bisa sampai di sekolahan dan tidak bertemu dengan Nathan.


Ya hanya waktu lima belas menit Aruna sudah sampai di sekolahan, tetapi sayang sekali bukan karena ia melihat Nathan yang sudah berada di sekolahnya namun ia sudah melihat Digo dengan keempat sahabatnya yang saat ini berada di gerbang entahlah apa yang mereka lakukan sehingga pagi-pagi seperti ini mereka sudah berada di sini.


"Sialan!! tidak bertemu dengan kakaknya malah bertemu dengan adiknya dan untuk apa mereka pagi-pagi sekali sudah berada di sini, bukannya seminggu ini adalah hari bebas dan tidak ada masalah jika sedikit datang terlambat."


Aruna menggerutu kesal, kalau tidak ingat hari ini adalah pertandingan kelasnya melawan dengan kelas sebelah pastinya Aruna akan membelokkan sepeda motornya dan mengurungkan niatnya untuk ke sekolah dan tentunya ia tidak mau bertemu dengan Digo apalagi berbicara dengan laki-laki brengsek itu.


Hingga akhirnya mau tidak mau Aruna masuk ke dalam pintu gerbang yang mana ia masih mengendarai motornya dan tidak perduli jika ada larangan setelah melewati gerbang motor harus di tuntun dan tidak boleh dinaiki.


Berbeda dengan Digo, sedari tadi laki-laki itu memperhatikan Aruna, dari Aruna yang menghentikan motornya beberapa meter dari gerbang hingga saat ini Aruna masuk ke dalam gerbang sekolah tanpa melihatnya sama sekali.


Digo tau jika Aruna masih membencinya bahkan perempuan itu marah padanya dengan apa yang ia lakukan, namun sebagai laki-laki sejati Digo juga tidak ingin berdiam diri, terserah jika Aruna membencinya namun ia akan bertekad untuk bertanggung jawab dengan semuanya.


Digo menganggukkan kepalanya memang sedari tadi ia sengaja berangkat pagi-pagi sekali untuk bertemu dengan Aruna karena Digo tau jika Aruna pasti ingin menghindar dari abangnya dan juga dirinya, makanya Aruna berangkat lebih bagi dan tepat sekali apa yang dipikirkan oleh Digo.


"Sayank tunggu."


Digo merarik tangan Aruna kemudian segera memeluk perempuan cantik itu yang mana saat ini keempat mata mereka saling bertatapan namun mengisyaratkan makna yang lain.


Aruna yang sadar langsung memalingkan wajahnya, ia tidak mau bertatap muka dengan laki-laki yang sudah merenggut keperawanannya, apalagi berbicara dengan laki-laki brengsek itu.


"Lepas, brengseekk!!"

__ADS_1


Ucap Aruna kasar, yang mungkin jika itu tidak Digo maka akan sakit hati mendengar apa yang sudah dikatakan oleh Aruna namun itu berbeda ini Digo, yang sadar diri jika ia memang laki-laki yang brengseekk.


"Aku tidak akan melepaskan kamu sebelum kamu mau maafkan aku sayank."


"Untuk apa kamu minta maaf, bukankah ini yang kamu inginkan? Dan kamu sudah merenggut semuanya."


Ucap Aruna ketus, lagi lagi Aruna mengatakan itu tetapi tidak memandang ke arah Digo dan masih memalingkan wajahnya.


"Maaf, aku memang sengaja melakukannya bahkan aku memang sengaja merencanakannya, namun itu semua aku laku karena aku tidak mau kehilangan kamu. Dan nanti pulang sekolah aku akan ke rumah kamu untuk mengatakan semuanya kepada orang tua kamu dan mempertanggungjawabkan semua yang sudah aku lakukan."


"Jangan coba-coba untuk datang ke rumahku atau kamu akan menyesal nantinya!".


Ujar Aruna dengan menatap ke arah Digo kemudian perempuan itu menghempaskan tangan Digo dan pergi meninggalkan Digo, rasanya Aruna ingin sekali mencekik leher Digo dan membuat laki-laki itu mati supaya ia tidak bisa melihat dan juga mengingat apa yang sudah dilakukan oleh Digo.


Digo hanya menggelengkan kepalanya, ia memang salah dan ia harus bersabar dengan apa yang dilakukannya dan juga harus bersabar untuk meluluhkan hati Aruna yang memang pada dasarnya Aruna itu keras kepala tetapi itu tidak membuat Digo untuk gagal mempertahankan apa yang sudah dimilikinya dan Digo akan berjuang sekuat tenaga untuk bisa menikahi Aruna meskipun Aruna sendiri tidak mau menikah dengannya.


Grepp


Digo yang belum puas, laki-laki itu mengejar Aruna di mana Aruna saat ini berada di depan kelasnya dan beruntung sekali di sana tidak ada orang satupun yang mana memang keadaan masih sangat sepi dan pagi.


Digo kembali menarik tubuh Aruna kemudian memeluk perempuan cantik itu yang sudah membuat dirinya jatuh cinta dan tidak akan melepaskannya.


"Aku mencintai kamu Aruna, sangat-sangat mencintaimu dan please tolong terima aku menjadi suami kamu. Aku akan bertanggungjawab dengan apa yang sudah aku lakukan, aku mencintai kamu..."


Aruna hanya memejamkan matanya ia juga tidak membalas pelukan Digo yang mana Aruna sendiri masih marah kepada laki-laki itu namun Aruna juga tidak bisa berbuat apa-apa di satu sisi memang Digo harus bertanggung jawab dengan apa yang sudah dilakukannya namun di sisi lain ia membenci laki-laki yang sudah merusak kehormatannya dan juga Aruna sendiri masih ada urusan dengan laki-laki lain yang mana harus Aruna selesaikan dulu satu persatu.

__ADS_1


Kembali lagi Aruna melepaskan pelukan Digo, kali ini Digo masih kekeh untuk tidak melepaskannya bahkan Digo membisikkan sesuatu di telinga Aruna.


"Apa bagian bawahmu masih sakit? kalau iya ... ayo aku antarkan kamu ke rumah sakit, Aku tidak mau kamu kenapa-napa, sayank."


__ADS_2