My Crazy Husband

My Crazy Husband
Cemburu


__ADS_3

Aruna tidak memperdulikan teriakan Dimas, ia langsung saja menuju ke kelasnya dengan sedikit berlari karena Aruna takut  jika guru sudah masuk ke dalam kelasnya dan ia tidak boleh mengikuti pelajaran matematika.


Ya pelajaran pertama adalah matematika bahkan akan diadakan ulangan harian, yang jelas itu membuat Aruna memutuskan untuk berangkat ke sekolah meskipun keadaannya tidak baik-baik saja bahkan Aruna harus menahan sesuatu yang perih dan juga sakit di bagian intinya dan juga Aruna harus berjalan seperti biasanya supaya teman-temannya tidak curiga jika ia semalam habis diapa-apain oleh suaminya.


Aruna sedikit lega ternyata guru yang bersangkutan belum datang ke kelasnya hingga ia merebahkan tubuhnya di kursi sembari melihat ke kanan dan ke kiri di mana teman-temannya banyak yang sudah datang meskipun Vina sendiri belum datang pagi ini.


Berbeda dengan Aruna yang sedikit merasa lega, Digo di luar sana mengepalkan tangannya, ia tahu jika Aruna pagi ini berangkat ke sekolah bersama dengan Nathan, tetapi sayang sekali Digo belum bisa menghampiri Aruna karena pas Aruna masuk ke dalam gerbang sekolah, Digo diajak bicara oleh guru yang ada di sana hingga membuat Digo hanya melihat ke arah Aruna dan Nathan saja tanpa mengejarnya.


Dan saat ini setelah guru yang mengajak Digo ngobrol itu berlalu, Digo segera ke kelas Aruna.. ia ingin mengatakan sesuatu kepada istrinya itu di mana memang ada sesuatu yang lupa dan entah mengapa Aruna malahan berangkat ke sekolah padahal Digo sudah mengizinkannya untuk tidak masuk hari ini.


"Lo jangan emosi... Jangan membuat kekacauan apalagi membuat Aruna ketakutan sama lo. Pernikahan lo baru kemarin dan tidak mungkin kan jika Aruna meminta cerai sama Lo karena lo yang terlalu cemburu?"


Dino berusaha menghentikan langkah kaki Digo yang ia tahu jika sahabatnya itu ingin menghampiri Aruna ke dalam kelasnya. Dino juga khawatir jika Digo marah-marah kepada Aruna tentang kejadian barusan di mana Nathan mengantarkan Aruna ke sekolah, ia tidak mau jika Digo salah melangkah yang mengakibatkan pernikahannya nanti berantakan.


"Gue tahu, santai saja.. gue juga nggak mau kehilangan Aruna."


Meskipun sebenarnya ada rasa cemburu melanda hati Digo, tetapi ia berusaha untuk menahan semuanya. Ia tidak mau gegabah apalagi membuat Aruna ketakutan hingga akhirnya Aruna tidak mau bersamanya lagi.


Digo berjalan menuju ke kelas Aruna, di mana memang ia sudah tahu jika jam perjalanan pertama kelas Aruna adalah jam kosong karena gurunya tidak hadir dan itu kesempatan buat Digo untuk masuk dan ngobrol-ngobrol sebentar kepada istrinya.


"Sayank, kenapa masuk? bukannya aku sudah ijinkan kamu untuk istirahat saja di rumah."


Dengan seenaknya Digo masuk ke kelas Aruna, kemudian duduk di kursi di depan meja Aruna yang mana tempat duduk itu adalah milik temannya Aruna namun orangnya entah ke mana.


"Hari ini aku ulangan Di dan tidak mungkin aku bolos.."

__ADS_1


"Tapi kan, bagaimana kondisi Kamu apakah masih sakit?"


Aruna menggelengkan kepalanya, meskipun yang dirasakan masih ada perih dan juga sakit di bagian bawahnya, namun ia tidak mungkin menjelaskan itu kepada Digo ... terlebih lagi ia tahu jika posisi nya saat ini tidak mungkin menjelaskan semuanya.


"Berarti nanti pulang sekolah siap-siap anu anu lagi ya, Aku kangen sama kamu.."


Niatnya Aruna tidak ingin membuat Digo khawatir tetapi malahan Digo berpikir yang tidak tidak karena kondisi Aruna yang baik-baik saja membuat Digo menginginkan sesuatu dari Aruna.


Kalau seperti ini lebih baik aku tadi bilang masih sakit aja supaya dia tidak macam-macam sama aku...


"Oh ya aku lupa sayank..."


Digo mengambil dompetnya, kemudian mengeluarkan dua kartu sakti yang memang sudah disiapkan untuk Aruna sebagai nafkah untuk istrinya itu di mana memang sudah kewajiban dari Digo untuk memenuhi semua kebutuhan Aruna, yang saat ini adalah istrinya.


"Ini untuk kamu yank,  pergunakan saja sesuai dengan keinginan kamu .. bebas sayank.. aku tidak akan mengekang apapun yang ingin kamu beli, semuanya itu buat kamu."


Mau tidak mau Aruna mengambilnya karena memang ia tidak punya uang lagi selain hasil pemberian dari Digo dan tentu saja Papanya sudah menyetop uang jajan dan juga uang belanja untuk Aruna.


"Terima kasih Di, tapi aku butuhnya uang cash.."


Tentu saja untuk saat ini Aruna memang butuh uang cash, tidak kartu tanpa batas itu di mana di kantin tidak menyediakan pembayaran lewat kartu tetapi langsung cash, sementara Aruna sendiri hanya mempunyai satu lembar uang berwarna biru dan pastinya itu hanya cukup untuk sehari saja, lalu bagaimana dengan besok dan besoknya lagi


"Maaf sayank, aku lupa ..sebentar ya tapi aku belum narik banyak..."


Digo kembali membuka dompetnya, ia mengeluarkan 3 lembar uang merah yang memang hanya ada segitu di dompetnya, karena Digo sendiri lupa untuk tidak mengambil uang. Digo berpikir kalau mengandalkan kartu-kartu sakti yang ia punya, tetapi tidak tahu saja jika saat ini ia  sudah bertanggung jawab dengan Aruna dan pastinya uang cash itu untuk jajan Aruna di sekolah dan juga dirinya.

__ADS_1


"Segini dulu ya yank, nanti pulang sekolah ikut aku ambil.. Maaf aku lupa.."


Digo menyerahkan 3 lembar uang merah itu kepada Aruna kemudian dengan cepat Aruna menggelengkan kepalanya lalu menarik kembali dompet Digo yang saat ini berada di tangan kiri Digo, kemudian membuka dompet itu dan melihat isinya yang ternyata suaminya malahan tidak memegang uang cash sama sekali.


"Segini aja cukup, yang lainnya buat pegangan kamu."


Ujar Aruna dengan tangannya memasukkan 2 lembar uang merah ke dalam dompet Digo yang membuat Digo terus senyum senang.


Entah mengapa dengan perhatian kecil yang diberikan oleh Aruna padanya membuat Digo bahagia hari ini, meskipun semalam ia sudah bisa membahagiakan Aruna dan dirinya sendiri tetapi hari ini lebih bahagia melihat Aruna yang seperti ini, terlalu menggemaskan dan rasanya ingin sekali Digo menarik Aruna ke luar kelas dan tidak akan membiarkan istrinya itu bersekolah.


"Terima kasih sayank, Aku senang banget punya istri kamu."


Ucap Digo dengan memelankan suaranya, ia memang diminta Aruna untuk merahasikan pernikahan ini dan hubungannya dengan Aruna hanya pacaran saja, tidak lebih dari itu.


Keduanya terdiam sejenak, Digo yang tangannya asik untuk membenahi rambut Aruna, dan juga pikiran nya yang sedang bingung. Bingung..apakah ia akan menanyakan tentang Nathan yang mengantarkan Aruna sekolah, atau hanya diam saja sembari menunggu Aruna.


"Dan tadi pagi kamu diantar oleh Bang Nathan ke sekolah?"


Selain memberikan uang jajan kepada Aruna tujuan utama Digo untuk menemui Aruna adalah ingin menanyakan kenapa abangnya bisa mengantarkan Aruna ke sekolah tadi pagi, bukannya Aruna lebih baik diantarkan oleh sopir rumah atau naik taksi saja.


"Iya maaf, tadi tidak sengaja aku ketemu sama kak Nathan di depan, katanya kak Nathan mau bertemu sama Papi."


"Kenapa tidak pakai taksi saja atau diantar sama sopir?"


Aura kecemburuan sudah merasuk di dalam hati Digo, terlebih lagi kenapa abangnya itu tiba-tiba pagi-pagi begini sudah ingin menemui Papinya pasti hanya akal-akalan Nathan saja yang ingin melihat istrinya.

__ADS_1


"Bukannya aku tidak mau diantar oleh sopir atau naik taksi, sopir di rumah pagi ini harus mengantarkan Papi dan juga mami terus juga aku sudah memesan taksi tetapi sama sekali tidak ada yang nyantol, bahkan aku tadi pagi sudah mencari taksi namun tidak ada yang melintas, kalaupun ada semuanya penuh, kamu tahu sendiri kan jika jam-jam segini taksi pada penuh semua?"


__ADS_2