My Crazy Husband

My Crazy Husband
Perhatian Digo


__ADS_3

Tidak memperdulikan Aruna yang masih tanpa ekspresi, Digo langsung saja duduk di samping Aruna. Laki-laki itu dengan telaten menyuapi Aruna meskipun Aruna masih membuka mulutnya, sepertinya memang Aruna tidak mau sarapan pagi ini atau memang Aruna yang tidak mau melihat wajah tampan dari Digo.


"Akkk... dulu.. sarapan dulu sayank, kamu mau sembuh kan?"


"Aku masih kenyang Di dan sebaiknya kamu ke sekolah saja."


Aruna membuka mulutnya, tidak mungkin jika ia berdiam diri saja maka Digo mengira kalau ia mau sarapan pagi ini, tetapi memang mulutnya yang pahit dan juga kondisi badannya yang belum setabil membuat Aruna tidak enak makan dan malas ngapa-ngapain.


"Sekolah masih lama, masih ada waktu untuk aku menyuapi kamu, ayolah sayank..aku tidak ingin melihat kamu seperti ini."


Digo mencoba membujuk Aruna sekali lagi yang entahlah itu akan berhasil atau tidak yang jelas ia akan berusaha untuk membuat calon istrinya itu makan meskipun sedikit supaya Aruna bisa minum obat nanti.


Aruna menggelengkan kepalanya, ia juga menutup mulutnya tanda tidak mau makan sama sekali bukan hanya karena tidak mau disuapi oleh Digo tetapi nyatanya memang mulutnya masih pahit dan tidak ingin makan apapun juga.


"Sedikit saja dan memang harus dipaksakan, aku tahu mulutmu pasti pahit sekali, aku janji nanti setelah pulang sekolah aku akan membawakan makanan kesukaan kamu supaya kamu semangat makannya."


Memangnya aku anak kecil yang bisa di rayu begitu saja, supaya mau makan?


"Aku nggak mau Di, makanannya enak tetapi rasanya sepertinya nanti pahit."

__ADS_1


"Ayolah sayank, makan atau perlu aku masukkan makanan ini ke dalam mulutku, lalu aku transfer ke dalam mulut kamu hingga kita bisa berciuman lagi?"


Ancam Digo untuk Aruna yang membuat perempuan cantik itu bergidik ngeri dengan apa yang baru saja diucapkan oleh Digo


Mendengar apa yang diucapkan oleh Digo, Aruna langsung saja membuka mulutnya, perempuan cantik itu mau tidak mau sarapan pagi ini, meskipun ia disuapi oleh Digo dan juga dengan ekspresi yang entahlah, tetapi daripada ia harus mendapatkan ciuman kembali dari Digo.


"Pintar, ini baru istrinya Digo."


Digo dengan telaten menyuapi Aruna, hingga makanan yang ada di piring itu habis tak tersisa dan Digo segera mengambil tisu kemudian mengelap mulut Aruna yang belepotan.


"Terima kasih sayank, kamu mau menghabiskan sarapan pagi ini, sekarang saatnya minum obatnya."


Apakah aku harus jatuh cinta dengan laki-laki ini? jika tidak.. berarti aku telah menyakiti hatinya dan aku tidak mau itu terjadi. Cukup satu kali aku menyakiti Nathan dan membuat Nathan mungkin tidak akan memaafkanku dengan semua yang sudah aku lakukan, meskipun aku tidak sengaja melakukannya, tetapi aku tau jika Nathan pasti akan kecewa padaku, dan tentunya aku tidak mau menyakiti laki-laki lain dan jika memang Digo adalah jodoh yang terbaik untuk aku, berikanlah kekuatan hatiku untuk membuka hati untuk Digo.


Ya simpel sekali doa Aruna, ia tidak ingin neko-neko atau apa-apa. Jika memang Digo benar-benar jodoh yang terbaik buatnya dan ini adalah yang terbaik untuk dirinya dan juga untuk semuanya, Aruna ikhlas.. Aruna bersedia untuk berdamai dengan hatinya, untuk berdamai dengan Digo yang nyatanya sedari dulu Digo adalah musuh bebuyutannya, tetapi tidak masalah.. mungkin perlahan-lahan semuanya akan berubah dan hati Aruna akan luluh seiring berjalannya waktu.


"Hai, tidak usah berpikir yang tidak-tidak, aku tahu apa yang kamu pikirkan... Kita jalani hidup ini dengan apa adanya. Aku tahu kamu masih belum menerima pertunangan dengan aku dan pernikahan yang akan kita lakukan minggu depan, tetapi percayalah Aruna.. belajarlah untuk menerima aku dan mencintai aku, aku juga tidak menuntut banyak darimu, kamu masih bebas berteman dengan yang lainnya meskipun status kamu adalah istriku, yang jelas aku hanya ingin kamu mengakuiku sebagai suamimu nantinya, dan tidak akan pernah berpaling dariku, apapun keadaannya nanti dan aku akan berusaha untuk membahagiakan kamu saat ini dan selamanya."


Cup

__ADS_1


Digo mencium kening Aruna dengan sangat mesra, laki-laki itu memang serius dengan Aruna, apapun ia akan lakukan untuk membahagiakan Aruna termasuk ia akan berusaha keras untuk memimpin perusahaan dan mengelola beberapa restoran milik orang tuanya yang memang sudah diberikan untuknya, dan Digo juga akan mengurangi kumpul-kumpul dengan teman-temannya, semua itu dilakukan supaya bisa memberikan kehidupan yang layak untuk Aruna nanti karena ia tahu pastinya usia muda seperti ia dan Aruna masih ingin membeli sesuatu yang entahlah itu penting atau tidak dan Digo paham dengan kehidupan ABG saat ini.


"Minum obatnya dulu, setelah itu kamu istirahat."


Entah Digo memakai sihir apa, Aruna mengangguk.. kemudian membuka mulutnya meskipun ia sendiri tidak suka dengan obat tetapi ia takut jika Digo kembali mengancamnya dan akan mencium bibirnya jika ia tidak mau meminum obat.


"Sekarang istirahat dulu ya, biar besok pagi bisa sekolah. Aku berangkat sekolah dulu, oh ya sayank nanti siang mau dibawakan apa? Aku nanti ke sini lagi..."


Aruna menggelengkan kepalanya, "Terima kasih, gue tidak ingin apa-apa dan tidak usah ke sini, gue sudah baikan."


Digo tentu saja tidak mau, ia akan membuat Aruna sembuh karena ini semua gara-gara dirinya, Aruna menjadi seperti ini.


"Tidak masalah aku akan ke sini nanti dan jika kamu menginginkan sesuatu tinggal ngomong aja sama aku, nanti aku bawakan."


Cup


Kembali lagi Digo mencium kening Aruna, mungkin ini akan menjadi candu baginya setiap harinya dan entahlah setiap hari rasa cinta Digo untuk Aruna semakin bertambah.


Tidak ingin sesuatu berubah di bawah sana, Digo dengan cepat pamit undur diri untuk meninggalkan Aruna dan berjanji nanti siang akan kembali ke sini, laki-laki itu bukannya tidak ingin berlama-lama di samping Aruna tetapi ia takut saja jika nanti ada setan-setan yang merasukinya yang memaksa dirinya untuk melakukan segala sesuatu lebih dari sekedar mencium kening saja.

__ADS_1


Setelah kepergian Digo, Aruna membuka selimutnya, perempuan cantik itu sebenarnya masih lemas tetapi ia sendiri juga tidak betah untuk berada di atas ranjang. Aruna kemudian menuju ke balkon untuk menghirup udara segar yang pagi ini memang terasa sejuk, kemudian ia tanpa sengaja melihat ke bawah di mana Digo yang sudah menstater motornya dan juga menggunakan helmnya yang mungkin saja itu membuat semua perempuan-perempuan di sana berteriak dan ingin berada di belakang Digo untuk dibonceng oleh Digo, tetapi sayang sekali sampai saat ini belum ada yang berhasil menduduki tempat di belakang Digo, kecuali sahabatnya sendiri padahal dengan Miranda pun yang notabenya adalah mantan pacar, Digo sama sekali tidak pernah membonceng Miranda.


__ADS_2