My Crazy Husband

My Crazy Husband
Tidak Ada Alasan


__ADS_3

Digo pagi ini bersemangat sekali untuk berangkat ke sekolah bukan karena tiap hari ia tidak bersemangat tetapi ini lebih dari itu dan hari ini saatnya ia mengumumkan jika dirinya dan juga Aruna sudah mempunyai hubungan meskipun Digo yakin jika Aruna tidak akan mau jika pernikahannya nanti diketahui oleh teman-temannya, tapi mengumumkan kalau Aruna adalah sebagai pacarnya saja Digo sudah senang.


Raut wajah gembira Digo terlihat oleh Nathan yang mana Nathan masih memperhatikan sedari tadi, Digo senyum-senyum sendiri ketika berpamitan dengan dirinya dan juga kedua orang tuanya.


Ya lagi lagi Digo hanya berpamitan saja dan ngobrol sekedarnya tanpa sarapan terlebih dahulu karena Digo ingin segera menjemput Aruna di rumahnya karena pagi ini Aruna sudah bisa bersekolah tentu saja dengan kondisi Aruna yang sudah lebih baik daripada kemarin.


"Kamu yang sabar ya sayank dan Mami minta supaya kamu ikhlas menghadapi semua ini, Mami percaya kalau putra Mami ini bisa bersikap dewasa dan tentu saja Mami yakin kamu pastinya akan mendapatkan perempuan yang baik yang mungkin saja seperti Aruna."


Mami Nana rasanya begitu kasihan terhadap Nathan di mana beliau juga merasakan sedih ketika melihat putra sulangnya itu yang mana sebelum kejadian ini Nathan begitu menggebu gebu ingin segera menikahi Aruna tetapi kenyataannya tidak seperti itu bahwa Digo lah pemilik sebenarnya Aruna meskipun memang Aruna sama sekali tidak mencintai Digo maupun Nathan.


"Aku aku coba Mi, meski itu sulit . Mami tau sendiri kan aku sudah lama menaruh rasa kepada Aruna tetapi sayang sekali mungkin Mami benar, Aruna itu bukan jodoh aku dan doakan saja supaya aku bisa ikhlas melepaskan Aruna meskipun aku sendiri tidak yakin akan ada perempuan yang seperti Aruna nantinya."


"Anak Mami pasti bisa."


Nathan tersenyum, meskipun ia masih belum bisa melupakan Aruna namun tidak semestinya ia terus bersedih dengan keadaannya seperti ini, mungkin memang untuk melupakan Aruna secepat ini Nathan tidak mampu terlebih lagi ia dan Aruna akan bertemu setiap harinya dan pastinya itu membuat Nathan sulit untuk melupakan Aruna, namun ia percaya jika memang ini yang terbaik buat Aruna, Nathan rela mengalah dan tentu saja semua ia lakukan demi kebahagiaan Aruna.


Tidak lama Digo sudah berada di depan pintu gerbang Aruna dan Pak Satpam langsung saja membukakan pintu, karena Digo pagi ini memakai mobil .. ia tidak mungkin membawa motor dan memboceng Aruna, bukan karena Aruna tidak mau tetapi kondisi Aruna yang belum pulih benar membuat Digo mengurungkan niatnya padahal ia ingin sekali memboncengkan Aruna, dan mungkin besok saja jika Aruna sudah benar-benar sehat.


"Assalamualaikum."

__ADS_1


"Waalaikumsalam."


Terdengar jawaban dari calon mertuanya Digo dan seperti biasa pagi ini setiap Digo ke sini pastinya kedua mertuanya itu sedang berada di ruang makan, keluarga Aruna memang sudah terbiasa untuk menyelamatkan sarapan terlebih dahulu sebelum memulai beraktivitas dan saat ini sudah ada Aruna yang sudah berada di meja makan.


Mengapa dia pagi-pagi sekali sudah datang ke sini padahal gue ingin bawa motor dan pergi sekolah sendirian..


Sepertinya rencana Aruna untuk pergi ke sekolah sendirian itu tidak akan tercapai, bukan karena ia tidak mengingat kalau Digo akan menjemputnya tetapi memang Aruna sengaja dengan dirinya pergi pagi-pagi ke sekolah dan pastinya tidak akan bersama dengan Digo, tapi rupanya salah .. Digo juga datang ke rumahnya pagi-pagi sekali sehingga Aruna mau tidak mau nantinya pasti pergi bersama dengan Digo.


"Sarapan dulu Di, ini Aruna juga belum selesai makannya, lagi pula masih terlalu pagi untuk kalian berangkat ke sekolah."


Kali ini Digo menganggukkan kepalanya terlebih lagi melihat Aruna yang di atas piringnya masih penuh dengan nasi dan tentu saja ia tidak ingin membuat calon istrinya itu terburu-buru untuk memakan sarapannya, terus juga memang benar apa yang dikatakan oleh Papah Adi jika memang masih terlalu pagi untuk berangkat ke sekolah.


Dengan berbisik kemudian laki-laki itu duduk di samping Aruna dan tentu saja dengan segera mengambil piring dan juga nasi untuk ikut makan bersama keluarga Aruna.


Sementara Aruna hanya melirik sekilas ke arah Digo ia juga tidak memperdulikan Digo yang mana saat ini mengambil nasi dan lauknya sendiri, padahal ia tahu jika nanti dirinya akan menjadi istrinya Digo dan melayani semua kebutuhan Digo tetapi itu juga masih nanti kalau memang dimungkinkan Aruna juga akan menolak pernikahan ini, bukan karena apa-apa meskipun ia juga sudah ternoda oleh Digo tetapi rasanya untuk menikah di usia muda .. Aruna belum bisa dan ia juga belum tahu apa saja yang akan dilakukannya nanti setelah menjadi istri Digo.


Digo tersenyum ia tidak masalah Aruna tidak mengambilkan makanan untuknya mungkin saja Aruna masih canggung atau memang belum terbiasa melakukan hal ini.


Hingga mereka semua makan dengan pikiran nya masing masing dan setelah beberapa menit sarapan sembari ngobrol-ngobrol sedikit, akhirnya Aruna dan Digo pamit untuk berangkat ke sekolah.

__ADS_1


"Gue mau pakai motor saja."


Entahlah kenapa tiba-tiba sampai di depan rumah, Aruna tiba-tiba tidak ingin diantar oleh Digo dan ia ingin memakai motor matic nya yang mana memang sudah dipersiapkan sejak tadi pagi dan sudah dipanaskan oleh Pak sopir.


"Tidak Runa, kondisi kamu belum sehat betul, besok saja kalau kamu sudah benar-benar sehat Aku akan membonceng kamu naik motor, sekarang nurut lah.. masuk ke dalam mobil bersama dengan aku."


Aruna dengan sedikit kesal membuka mobilnya lalu ia menutup pintu mobil dengan sangat keras sehingga membuat Digo menggelengkan kepalanya, memang sepertinya ia agak susah untuk menjinakkan Aruna, bukannya Digo tidak sanggup tetapi memang dari dulu Digo sudah tahu bagaimana sikap Aruna terhadapnya yang pastinya untuk berubah menjadi kucing manis rasanya Aruna masih benar-benar butuh waktu.


"Lain kali kalau nutup pintu pelan-pelan sayank, bukan karena aku takut pintunya rusak tetapi aku takut jika tangan kamu nanti kejepit."


Tidak ada tanggapan dari Aruna, perempuan cantik itu tidak melihat ke arah Digo, yang sepertinya ia kesal karena pagi ini tidak diizinkan untuk naik motor.


Digo tidak memperdulikan, ia sudah terbiasa dengan kejutekan Aruna dan ia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, tidak ingin buru-buru untuk berangkat ke sekolah karena memang waktunya yang masih lama dan Digo yakin kalau tidak akan terlambat untuk masuk sekolah nanti.


"Gue nanti turun di perempatan saja."


Ucap Aruna tiba-tiba setelah mereka berdua hening beberapa saat.


"Tidak ada alasan kamu turun di perempatan atau di mana, kamu dan aku masuk ke dalam sekolah bersama-sama dan tenang saja tidak akan ada yang berani mengganggu kamu, karena status aku dulunya sudah jomblo dan sekarang aku menjalin hubungan dengan kamu."

__ADS_1


__ADS_2