
Plakk
Satu tamparan mendarat di pipi Digo, kali ini dilayangkan oleh Mami Nana yang ternyata ia kecewa dengan putra bungsunya itu.
"Kenapa kamu lakukan itu Di, apa kamu tidak lihat bagaimana Aruna menderita karena ulah kamu?"
Sepertinya Mami Nana belum paham betul kenapa Digo melakukan seperti itu meskipun Digo tadi sudah menjelaskan panjang dan lebar tetapi nyatanya Mami Nana masih kecewa terhadap putranya.
"Aku mencintai Aruna dan aku akan bertanggung jawab untuk semuanya, Mi. Aku akan menikahi Aruna, dan aku meminta restu, ijinkan aku untuk menikahi Aruna karena aku benar-benar mencintai dan menyayangi Aruna."
Ucap Digo lagi dengan mengusap darah yang keluar dari bibirnya, laki-laki itu tidak masalah jika mendapatkan pukulan yang bertubi-tubi asalkan Aruna tidak jadi bertunangan dengan Nathan dan ia lah yang akan menikahi Aruna.
"Tidak akan, aku tidak akan melepaskan Aruna meskipun semua yang sudah kamu lakukan terhadap Aruna, Aku akan menerima Aruna apa adanya karena aku juga mencintai Aruna. Dan sekali lagi aku tekankan Aku tidak akan membatalkan pertunangan ini."
Seru Nathan dengan suara lantangnya, ia tidak berpikir lagi dan langsung mengambil keputusan kalau dirinya siap untuk melanjutkan pertunangan ini dan akan menerima Aruna apa adanya meskipun sesuatu telah terjadi pada Aruna tetapi memang itu kenyataannya dan Nathan juga sudah mengatakan kepada Aruna kalau ia menerima baik buruknya karena termasuk Aruna yang sudah tidak perawan lagi.
"Tidak akan!! Aku tidak akan membiarkan Bang Nathan menikahi Aruna, karena Aruna hanya milikku."
Begitu juga dengan Digo, ia juga tidak mau kalah dengan Nathan, apalagi yang berkaitan dengan Aruna karena Digo memang sudah memiliki Aruna dan mengapa alasan Digo untuk memperkosa Aruna karena ia sudah jatuh cinta dengan Aruna dan ingin menikahi Aruna.
Kedua laki-laki itu saling bertatapan mata, sepertinya aura permusuhan sudah dikumandangkan dan mereka siap-siap berperang untuk mendapatkan Aruna.
"Kamu tidak akan memiliki Aruna, karena Aruna hanya milikku, malam ini aku akan melamar Aruna dan sekaligus menikahi Aruna."
"Bang Nathan jangan egois, Abang tahu sendiri jika Aruna sudah tidur dengan aku, semua benih-benihku sudah aku taburkan dirahim Aruna dan otomatis sebentar lagi Aruna akan hamil anakku, jadi lebih baik Abang mengalah .. biarkan Aruna bersamaku, aku akan tanggungjawab dan akan segera menikahi Aruna."
"Brengseekk!!"
__ADS_1
Nathan mengepalkan tangannya, ia ingin sekali memberikan bogeman lagi di wajah Digo, namun ia masih meredam emosinya dan tidak ingin membuat huru-hara di rumah Aruna.
Sementara Aruna, perempuan cantik itu masih saja sesunggukan, Aruna tidak bisa berkata-kata apa-apa lagi, ia masih saja menangis meratapi nasibnya saat ini yang sudah diperebutkan oleh kedua laki-laki kakak beradik itu . Entahlah Aruna tidak bisa memilih, meskipun ia harus memilih salah satu diantaranya, yang jelas saja itu tidak mungkin.
Hingga akhirnya kepala Aruna tiba-tiba pusing, matanya begitu berat dan pandangan mengabur. Aruna tidak sanggup lagi untuk berdiri di sini.
Brukk..
"Aruna!!"
Semua yang ada di sana berteriak memanggil nama Aruna, karena tiba-tiba tidak sadarkan diri.
Begitupun dengan Nathan dan Digo, kedua laki-laki yang tadinya saling berseteru dan bertatapan muka, saat ini menghampiri Aruna dan berebut ingin membawa Aruna.
"Biar aku aja yang membawa Bang"
Dengan cepat tangan Digo menepis tangan Nathan, kemudian laki-laki itu membawa tubuh Aruna dan menggendong Aruna untuk menuju ke kamar Aruna, yang tentu saja di depan Digo sudah ada Mama Dina dan juga Papah Adi yang membukakan pintu untuk Digo.
Digo terlihat panik, laki-laki itu tidak menyangka jika apa yang barusan ia katakan membuat calon istrinya pingsan saat ini dan entahlah Digo khawatir, takut terjadi sesuatu kepada Aruna.
Dengan cepat Diego mengambil ponselnya, ia kemudian menelpon Dokter keluarga Narendra yang mana kebetulan sekali rumah dari Om Dokter itu tidak jauh dari rumah Aruna.
"Sayank maafkan aku, bangun ya.. Aku tidak ingin terjadi apa-apa sama kamu."
Digo membisikkan sesuatu di telinga Aruna, laki-laki itu kemudian juga mencium kening Aruna dan berharap juga Aruna sadar dari pingsannya.
"Biar Mami dan Mama saja."
__ADS_1
Ucap Mami Nana yang mengambil alih Aruna saat ini di mana kedua perempuan cantik itu langsung saja membuka sedikit kancing baju Aruna dan juga mengoleskan minyak kayu putih di hidung Aruna, supaya Aruna cepat sadar.
Sama dengan Digo, mereka berdua juga khawatir dengan kondisi Aruna saat ini yang mana Aruna terlihat pucat dan tidak tahu mengapa alasannya hingga Aruna bisa pingsan.
"Aruna..."
Begitu juga dengan Nathan, laki-laki yang masih sok mendengar kenyataan yang telah terjadi langsung saja masuk kamar Aruna ia melihat calon istrinya yang masih tidak sadarkan diri dengan wajah yang pucat.
Ingin sekali Nathan menghampiri Aruna dan berada di samping Aruna tetapi Papi Rendra menahan tangan Aruna karena beliau tahu jika Nathan juga berada di samping Aruna maka akan terjadi keributan antara kedua putranya itu hingga Nathan hanya bisa melihat Aruna dari jarak jauh bersama dengan Papi Rendra dan juga Papa Adi.
Tak beberapa lama dokter yang ditelepon oleh Digo sudah sampai di kediaman Aruna, dokter itu langsung saja masuk ke dalam kamar Aruna dan memeriksa keadaan Aruna saat ini.
"Om, tolong calon istriku."
Ucap Digo kepada dokter keluarganya di mana dokter itu sudah sangat akrab dengan Digo dan yang lainnya.
"Oke kamu tenang saja dan sebaiknya jangan di sini supaya Om bisa memeriksa keadaan gadis cantik ini."
Ingin rasanya Om dokter itu tertawa mendengar apa yang diucapkan oleh Digo, bagaimana mungkin dokter itu percaya jika gadis cantik yang pingsan saat ini adalah calon istri dari Digo, yang nyatanya Digo itu masih sekolah dan tidak mungkin juga akan menikah, namun sekarang bukan waktunya untuk menanyakan kebenarannya atau pun menertawakan dengan apa yang baru saja diucapkan oleh Digo.
Om dokter itu memeriksa satu persatu keadaan Aruna kemudian ia pun tersenyum karena merasa lega dan tidak terjadi sesuatu yang mengkhawatirkan.
"Bagaimana keadaan calon istriku dan anak aku, Om.. mereka tidak apa apa kan?"
Ucap Diego sontak membuat semua orang yang berada di dalam kamar Aruna merototkan matanya mana mungkin Digo yang baru beberapa hari yang lalu melakukan itu bisa berpikiran jika Aruna saat ini hamil.
Dokter itu pun tersenyum kemudian menepuk pundak Digo.
__ADS_1
"Aruna tidak hamil, dia hanya kecapean dan banyak pikiran saja."
Kemudian Om dokter itu memberikan resep obat yang harus diminum oleh Aruna yang nyatanya memang Aruna hanya kelelahan dan banyak pikiran tidak terjadi sesuatu yang mengkhawatirkan apalagi hamil.