
Setengah permainan, semua peserta yang mengikuti pertandingan bola basket itu istirahat sebentar dan pastinya Aruna dan teman-temannya juga menepi untuk mengambil minum yang sudah disediakan oleh panitia.
Baru Aruna ingin mengambil minuman yang ada di kursi tetapi tiba-tiba Ryan datang dari belakang dan memberikan minuman air dalam kemasan yang di pastinya air itu belum dibuka sama sekali.
"Buat lo, pastinya lo haus sekali."
Aruna tersenyum kemudian mengambil botol minuman itu yang nyatanya memang ia kehausan dan ia juga tidak mungkin menolak pemberian dari Ryan meskipun Aruna salah jika menerimanya. Karena saat ini Aruna tidak mungkin untuk memberikan perhatian lebih kepada Ryan apalagi membuat laki laki itu menjadi GR dan berharap padanya.
Aruna sadar dirinya saat ini bukan siapa-siapa bukan seorang gadis lagi bahkan Aruna sendiri juga tidak tahu bagaimana nanti ekspresi Nathan jika ia menceritakan apa yang sebaiknya terjadi apakah Nathan akan mengira kalau dirinya adalah perempuan murahan yang mau bersama dengan laki-laki lain tanpa mendengar dulu penjelasan apa yang terjadi atau malah Nathan mau menerima apa adanya, yang jelas Aruna saat ini bingung namun ia mencoba untuk menipis semua rasa itu terlebih lagi dengan pertandingan basket saat ini yang mana Aruna bisa melampiaskan semuanya dan berusaha untuk tidak mengingat apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya.
"Terima kasih Yan."
"Sama-sama, gue bukain ya."
Ryan mengambil kembali botol minuman yang sudah ada di tangan Aruna kemudian laki-laki itu dengan cepat membuka botol minumannya yang mana ia tidak mau jika nanti Aruna kehausan.
"Diminum ya dan semangat tandingnya semoga kelas lo menang."
Aruna menganggukan kepala, ia bukannya GR diperlakukan seperti itu oleh Ryan atau membuat Ryan berpikir jika dirinya ada rasa pada Ryan namun semata-mata ia tidak ingin memalukan Ryan di tempat umum apalagi semua orang di sini sudah tahu jika Ryan mendekati dirinya dan ada rasa dengan dirinya.
"Oke, semangat lagi lanjutinnya...gue tunggu di sana."
Ryan mengusap lembut kepala Aruna yang mana malahan mendapatkan suit-suitan dari semua yang ada di sana yang saat ini melihat pertunjukan yang begitu mesra antara Aruna dan Ryan dan mereka berpikir jika memang Aruna dan Ryan itu adalah pasangan yang cocok dan serasi meskipun Aruna sendiri tidak ada rasa sama sekali kepada Ryan.
Ryan meninggalkan Aruna karena pertandingan akan segera dimulai, laki-laki itu sedari tadi memang memperhatikan Aruna meskipun tidak sambil bersorak-sorak seperti laki-laki yang lainnya namun dengan perhatiannya yang lembut seperti tadi itu akan membuat Aruna luluh padanya.
__ADS_1
Lagi lagi Digo mengepalkan tangannya melihat calon istrinya itu diperhatikan lebih kepada laki-laki lain. Digo sadar jika Ryan itu menaruh rasa kepada Aruna meskipun Digo juga tahu Aruna tidak mencintai Ryan namun melihat perhatian Ryan kepada Aruna membuat Digo kembali dilanda cemburu.
Ingin sekali Digo menghentikan pertandingan bola basket yang dimainkan oleh calon istrinya itu namun sayang sekali ia sebagai ketua OSIS yang tidak mungkin bertindak semena-mena terlebih lagi ini adalah pertandingan yang memang sudah diagendakan oleh OSIS dan Digo harus bersikap profesional meskipun ia sendiri juga tidak ikut dalam kepanitiaan untuk penjurian pertandingan bola basket itu.
Tugas Digo adalah mengawasi jalannya pertandingan untuk masalah juri yang lainnya sudah ada bagian masing-masing dan Digo kini hanya melihat jalannya saja meskipun ia juga sebentar lagi akan bertanding untuk mewakili kelasnya dalam pertandingan basket yang akan dilakukan sebentar lagi setelah kelas Aruna selesai.
"Sabar ... panas lagi ya, sepertinya Lo butuh es batu yang banyak."
Digo kepanasan, lagi lagi ia cemburu, sedangkan keempat sahabatnya itu mencoba menghibur Digo dan meredamkan suasana Digo yang panas, namun sayang sekali lagi lagi ada-ada saja yang berusaha mendekati Aruna.
"Sudah resiko Lo, Di.. mencintai perempuan yang sangat spesial bahkan pesona Aruna saja tidak bisa digantikan oleh siapapun meskipun Miranda membuka bajunya di lapangan itu, dia masih kalah dengan pesona Aruna."
Digo tidak menggubris apa yang diucapkan oleh teman-temannya, laki-laki itu sedari tadi memperhatikan Aruna... siapa tahu nanti ada laki-laki lain yang mau mencoba memberikan apapun itu kepada calon istrinya.
Hingga akhirnya setelah beberapa menit pertandingan selesai dan tentunya dimenangkan oleh kelas Aruna yang mana membuat Aruna semakin mempesona di mata laki laki yang ada di sana.
Ucap Aruna kepada Vina yang mana memang sedari tadi Aruna kebelet pipis dan juga sekaligus ingin mengganti pakaiannya, setelah ini Aruna akan santai-santai di kantin untuk menikmati makanan yang ada di sana dan tidak ingin melihat pertandingan Digo.
Ya Aruna tahu setelah pertandingan kelasnya berakhir kini giliran kelasnya Digo di mana pastinya Digo dan keempat sahabatnya itu yang akan turun langsung ke lapangan.
"Astagfirullah...."
Aruna kaget ketika melihat Digo yang sudah berada di kamar mandi yang membuat Aruna langsung membalikkan badannya tetapi sayang sekali bukannya ia langsung keluar dari kamar mandi itu namun keempat sahabat Digo sudah berada di depan dan tentu saja mereka menghalangi Aruna supaya tidak keluar.
"Sialan!! kalian semua sama saja."
__ADS_1
Tidak mungkin jika Aruna manerobos keluar, yang nyatanya di luar ada 4 orang laki laki, mendingan Aruna memilih di dalam saja meskipun ia tahu keempat sahabatnya Digo itu tidak mungkin macam-macam dengan dirinya tetapi sama saja yang namanya laki-laki pasti seperti itu.
"Lebih baik lo kembali ke dalam Run!"
Kembali ke dalam? sama saja... sama saja gue masuk ke perangkap singa..
"Kenapa? nggak usah takut, kita sudah pernah menghabiskan satu malam bersama dan tentu saja bersama dengan Aku di sini juga tidak masalah, oh ya selamat ya sayank akhirnya kamu menang."
Cup
Digo dengan cepat mencium bibir Aruna, meskipun itu dilakukan secara singkat tetapi membuat Aruna kagetĀ dan melototkan matanya.
"Loh jangan kurang ajar, Di!!"
"Aku tidak kurang ajar sayank, hanya memberikan ucapan selamat pada calon istriku, bagaimana nanti malam jadi ya aku ke rumah kamu?"
Digo sengaja menggoda Aruna, ia tahu jika Aruna sama sekali belum siap dengan apa yang akan dikatakannya meskipun Digo sendiri sudah tidak bisa menyembunyikan apa yang sebenarnya terjadi dan ingin cepat-cepat menikahi Aruna tetapi Digo menghargai keputusan Aruna, mungkin dalam satu atau dua hari ini Digo tidak akan mengatakan apapun dan menunggu sampai Aruna mengatakan lebih dulu kepada Nathan dan pastinya jika sampai Nathan belum mendengar berita itu lusa, tepat di hari pertunangan Aruna dengan Nathan Digo akan menceritakan semuanya yang terjadi dan tentunya sebelum acara itu berlangsung
"Jangan macam-macam Di, sudah gue bilang kalau gue belum siap, apa lo budeg atau hilang ingatan?"
Cup
"Sinting!!"
Cup
__ADS_1
Digo kembali memberikan ciuman di bibir Aruna bukan karena apa-apa, ia ingin mengajarkan Aruna supaya lebih sopan kepada dirinya meskipun sebenarnya itu tidak penting namun sekalian saja Digo mempunyai kesempatan untuk merasakan kembali manisnya bibir Aruna walaupun dengan sedikit ancaman untuk perempuan cantik itu.