
Tiga puluh menit berlalu, semua makanan yang ada di depan meja itu habis tak tersisa, dan Aruna meminta Nathan untuk langsung saja pulang ke rumah, karena ia di samping lelah juga ingin mengerjakan pekerjaan rumah yang pastinya Aruna nanti jadi kebingungan karena tidak ada Digo di sampingnya yang biasa membantu dirinya mengerjakan semua pr-pr-nya.
Nathan pun tidak masalah, laki-laki itu juga sejatinya masih lelah, ia yang baru saja tiba ke Jakarta dan langsung saja ke sekolah Aruna untuk menjemput perempuan cantik itu yang nyatanya memang sejak kemarin Nathan tidak istirahat sama sekali.
"Mau mampir-mampir dulu nggak Dek, ke mana gitu Ada sesuatu yang kamu beli?"
"Tidak usah Kak, aku capek ingin istirahat saja."
Nathan langsung saja memakai sabuk pengamannya begitu juga dengan Aruna, setelah Nathan melihat ke samping jika Aruna sudah siap laki-laki itu segera melajukan mobilnya tentu saja pulang ke rumah Mami Nina.
Hingga tanpa terasa mobil yang dikemudikan oleh Nathan sudah sampai di depan gerbang kediaman Narendra , dan dengan cepat Nathan mematikan mesin mobilnya, tetapi laki-laki itu tidak bergegas untuk membuka sabuk pengamannya.
"Lo kenapa mobilnya nggak dimasukin ke dalam saja kak? bukannya pintu gerbang sudah dibuka."
Ya Nathan memang sebelumnya sudah turun dan meminta pak Satpam untuk membuka pintu gerbang nya, tetapi ia juga sudah kembali lagi ke dalam mobil, tetapi hanya untuk memastikan Aruna turun saja namun Nathan tidak serta merta untuk memasukkan mobilnya karena ia ingin segera mengembalikan mobil temannya itu.
"Aku ingin mengembalikan mobil ini dulu dek, kebetulan pemiliknya berada di sekitar sini, kamu turunlah di rumah sudah ada mami."
Tidak banyak pertanyaan yang dilontarkan oleh Aruna, perempuan cantik itu segera turun dari mobil tanpa basa-basi kemudian meninggalkan Nathan begitu saja, juga tidak ada tatapan ataupun lambain tangan, karena merasa jika Nathan adalah kakak iparnya bukan sebagai seorang laki-laki yang berusaha PDKT lagi dengan dirinya.
Aku tidak bisa seperti ini, kalau biarkan seperti ini maka kasihan dengan Kak Nathan, aku akan bicara sama mami supaya aku pulang saja ke rumah Mama sampai Digo kembali.
Aruna kepikiran tentang adanya Nathan yang sudah kembali dari Singapura atau sejatinya ia tidak ingin membuat Nathan terus menerus gagal move on karena dirinya dan Aruna berpikir jika ia akan tinggal di rumah mamanya saja selama Digo berada di Jepang dan tentunya ia akan meminta izin kepada Mami Nina dan memberikan penjelasan mengapa Aruna ingin pergi dari rumah ini untuk sementara waktu.
"Mami baru pulang?"
Setelah mengucapkan salam, Aruna mencari mami Nina yang ternyata mami Nina berada di dapur untuk menyiapkan makan malam meskipun hanya Aruna dan juga Mami Nina serta Nathan yang pulangnya mendadak tetapi menyempatkan diri untuk menyiapkan segala sesuatunya,nbeliau tidak membebankan pekerjaan rumah semata-mata dengan asisten di rumah saja.
"Sudah sayank, maaf ya tadi Pak Rudi tiba tidak bisa menjemput kamu karena Mami meminta Untuk mengantarkan Mami ke rumah teman Mami dan kebetulan sekali mobil Mami mogok jadinya Mami tidak bisa berbuat banyak, untung saja Nathan tadi tiba-tiba datang dan memberitahukan kalau dia yang menjemput kamu."
Oh jadi begitu ceritanya Mami Nina juga sudah tahu jika Kak Nathan baru pulang rupanya...
"Tidak apa-apa Mi."
Aruna mengambil air minum yang ada di lemari pendingin kemudian ia duduk di kursi sembari melihat Mami Nina yang sedang membersihkan sayitan, juga asisten rumah tangga di sana yang menyiapkan segala sesuatunya untuk dimasak untuk makan malam nantinya.
"Nathan Ke mana sayank, bukannya dia tadi menjemput kamu kok tidak ada?"
"Kak Nathan ketemu sama teman nya Mi, katanya mau ngembalikin mobil yang dipinjam."
Hening, setelah mengucapkan itu Aruna kembali terdiam, perempuan cantik itu bingung bagaimana caranya mengatakan kepada Mami Nina, takut saja jika Mami Nina keberatan.
"Mi, Bagaimana kalau aku sebentar waktu tinggal di rumah mama saja sampai Mas Digo pulang dari Jepang, aku..."
Mami Nina yang mendengar ucapan dari Aruna langsung saja meletakkan sayiran yang sudah di cuci itu ke baskom, kemudian beliau duduk di depan menantu cantiknya, beliau tahu betul bagaimana Aruna saat ini yang tiba-tiba Nathan malah sudah kembali ke Jakarta tetapi Mami Nina tidak mau membiarkan Aruna berada di rumahnya sendirian karena beberapa menit yang lalu Mami Nina sempat dititipkan oleh Mama Dina dan mengabarkan jika Mama Dina dan juga Papah Adi sedang pergi ke Australia, rupanya ada kunjungan mendadak di sana san tidak mungkin juga jika Aruna berada di rumah kedua orang tuanya sementara di sana tidak ada kedua orang tuanya.
"Mami tahu apa yang kamu rasakan begitu juga dengan Mami yang kaget kenapa tiba-tiba Nathan pulang secepat ini tetapi sayank, kedua orang tua kamu saat ini sedang dalam perjalanan menuju ke Australia beliau tadi sempat menghubungi kamu tetapi kamu tidak mengangkatnya hingga beliau menitipkan pesan kepada Mami dan tentu saja kamu tidak perlu khawatir nak, Nathan sudah tidak macam-macam lagi sama kamu, dia sudah sadar diri jika kamu adalah istri dari Digo."
Aruna segera mengambil ponselnya memang ponselnya tidak mati tetapi ia silent hingga membuat beberapa panggilan tak terjawab dari mama Dina dan juga suaminya.
Tentu saja ucapan yang keluar dari mami Nina ini barusan membuat Aruna bingung apakah ia harus tinggal di sini bersama dengan Nathan atau kembali ke rumahnya sendiri yang mana memang ada pesan masuk dari Mama Dina yang mengabarkan jika Mama Dina dan juga Papah Adi ada perjalanan bisnis Australia dan mungkin saja pulangnya bulan depan karena ini menyangkut perusahaan yang sangat penting begitu juga dengan bibik yang ada di rumahnya, Mama Dina memang sengaja memberikan cuti kepada asisten rumah tangga mereka supaya berlibur ke kampung halaman sembari menanti kedatangan kedua orang tua Aruna.
Dan sudah dipastikan kalau seperti itu tidak ada orang lain di rumah hanya Pak satpam saja yang berjaga di depan, mana mungkin Aruna bisa berada di dalam rumah sendirian, Aruna bukan tipe perempuan yang berani ia bahkan takut jika menghadapi kegelapan.
"Kalau kamu canggung dengan Nathan tidak usah menerima ajakan dia untuk mengantar dan menjemput kamu, kamu pergi sama Pak Rudi saja. Dan Mami pikir kamu di sini lebih aman daripada di rumah kamu, di sana sendiri pastinya simbok yang berada di sana juga minta pulang ke kampung halaman karena tidak ada yang mereka urus."
Akhirnya mau tidak mau Aruna menganggukkam kepalanya, iya yakin jika Nathan tidak akan berbuat apa-apa hanya sekedar menawarkan bantuan saja untuk menjaganya selagi Digo berada di Jepang.
Melihat menantunya yang mengangguk, Mami Nina tersenyum, Mami Nina kemudian mengecup kening Aruna, ia merasa lega karena Aruna memang benar-benar perempuan yang polis, apa adanya dan tidak berkata yang tidak tidak, memang sebelumnya Mami Nina tau jika Aruna itu adalah gadis yang barbarnamun Aruna bisa menempatkan diri bagaimana bersikap dan juga sifatnya tidak sembarangan, bisa menghormati orang yang lebih tua dan menjaga sifatnya di depan semua orang.
Setelah membantu untuk menyiapkan makan malamnya, Aruna bergegas masuk ke dalam kamarnya bukan untuk menghindari Nathan yang mungkin saja akan pulang ke rumah ini tetapi karena panggilan telepon dari suaminya yang mana memang setiap malam, Digo selalu menelepon istrinya itu.
"Sayank kangen.."
Digo yang saat ini sedang mengalihkan panggilan teleponnya ke video call tentu saja laki-laki itu menampakkan wajahnya yang terlihat kusut dan tidak bersemangat, pastinya karena kangen yang melanda. Sudah dua hari berjauhan dengan sang istri meskipun Digo tidak pernah telat untuk menghubungi istrinya bisa lebih dari sehari tiga kali seperti minum obat saja, tetapi tetap saja kangen.
"Sabar Di, masih ada beberapa hari .. kamu harus fokus ke pekerjaan kamu supaya cepat pulang."
Tentunya sama dengan Digo, Aruna juga kangen tetapi ia tidak mau menambah kangen suaminya dengan mengatakan seperti itu, yang seperti biasa dilakukan Aruna perempuan cantik itu memberikan semangat kepada suaminya dan fokus bekerja supaya cepat selesai dan kembali ke Jakarta.
"Bang Nathan sudah pulang?"
Deg
Sudah Aruna duga pasti suami nya tahu kalau dirinya tadi dijemput oleh Nathan pastinya bukan Dino namun mata-mata Digo yang memang selalu siap sedia untuk mengawasi di mana keberadaannya.
"Iya Di udah, tadi jemput aku katanya istri Om Thomas melahirkan jadinya pekerjaan Kak Nathan dengan om Thomas ditunda dulu dan Maaf sekali karena Pak Rudi tadi mengantarkan Mami Nina hingga aku pulang dengan Kak Nathan, kamu tidak apa-apa kan di?"
Tentu saja Aruna jujur kepada suaminya meskipun ia tahu jika suaminya di sana pasti cemburu mendengar kabar ini tetapi se mbisa mungkin Aruna akan membuat Digo tidak cemburu dan tidak akan pulang mendadak karena ulah Nathan yang tiba-tiba pulang tanpa memberi kabar.
"Ingin rasanya aku pulang ke Jakarta dan bertemu dengan kamu sayank, setelah aku mendengar berita jika Bang Nathan tiba-tiba kembali."
Dan benar saja apa yang dipikirkan Aruna ia tahu jika suaminya itu begitu posesif, jangankan untuk pulang ke sini bahkan Digo rela untuk kehilangan proyek supaya ia bisa bersama dengan dirinya.
"Jangan macam-macam Di, kamu tidak perlu berpikir yang negatif, pikirkan yang positif saja lagi pula kamu tahu sendiri, kak Nathan itu sudah menganggap aku adik kandung nya sendiri dan tidak lebih dari itu."
Ujar Aruna yang mencoba untuk meredakan emosi dan cemburu Digo.
Tetapi sayang sekali, Digo masih belum percaya sepenuhnya, terlebih lagi Nathan yang dulunya sangat mencintai Aruna, ia tidak ingin jika selama berdekatan dengan Aruna, benih-benih cinta Nathan untuk Aruna kembali lagi, ia juga belum tahu apakah Aruna benar-benar sudah mencintainya atau bahkan mungkin perasaan Digo yang mengatakan jika Aruna malah hampir balik dengan abangnya sendiri, dimana sering ketemu dan juga bersama.
"Maaf bukan aku membela kak Nathan tetapi kamu di sana jangan berpikiran yang tidak-tidak, kamu percaya sama aku?"
Aruna berusaha untuk membuat Digo tidak kepikiran karena mendengar ucapannya Digo kembali terdiam dengan wajah sendunya meskipun Digo sesekali tersenyum tetapi Aruna tahu apa yang dipikirkan oleh suaminya itu
"Iya sayank, aku percaya sama kamu kalau kamu juga sudah mencintai aku tetapi rasanya aku masih tidak rela kenapa istrinya Om Thomas tu tiba-tiba melahirkan dan Bang Nathan jadi pulang secepat ini."
"Ngarang kamu Di, melahirkan itu juga tidak bisa diprediksi, meskipun bisa diperkirakan kapan tetapi tidak bisa pas begitu saja."
"Hahaha aku tahu sayang hanya saja rasa cinta dan juga sayangku mengangkat semuanya ingin rasanya aku tertangkap Jakarta ke sini. Apa tidak sebaiknya kamu menginap di rumah Mama saja?"
Belum tahu kabar terbaru mengenai kedua orang tuanya yang saat ini dalam perjalanan ke Australia hingga tiba menyarankan seperti itu bukan karena tidak percaya dengan istrinya Digo hanya menjaga perasaan Nathan saja supaya tidak lebih dekat dengan aroma.
"Aku tadi juga berpikiran seperti itu bahkan aku sudah meminta izin kepada Mama Nina tetapi sayang sekali mama dan papa malahan dalam perjalanan ke Australia mereka berdua tadi juga sempat menelponku tetapi aku tidak mendengarnya."
Astaga kebetulan macam apa ini mau tidak mau juga meminta Aruna untuk tetap tinggal di rumahnya karena tidak mungkin jika Aruna tinggal di rumahnya sendiri karena tentu saja jika di rumahnya sudah tidak ada lagi asisten rumah tangga, hanya pak satpam yang berjaga di luar rumah.
Aruna mencoba mengalihkan pembicaraannya ia tidak mau membahas tentang Nathan yang mana membuatmu suaminya nanti menjadi tidak baik dan Digo malahan lama menyelesaikan pekerjaannya.
Aruna bercerita tentang kesibukan nya di sekolah, ia juga bertanya tentang pekerjaan Digo dan memberikan semangat kepada suaminya supaya cepat sembuh dan kembali ke Jakarta pastinya Aruna juga sembari berganti pakaiannya yang memang sengaja ia lakukan supaya Digo tidak cemburu dan mempunyai semangat untuk menyelesaikan pekerjaan tanpa mengingat tentang bayang-bayang Nathan yang saat ini sedang kembali ke Jakarta.
Hingga akhirnya Aruna yang sudah selesai berganti pakaian merrbahkan tubuh nya di kasur tentu saja video call dengan Digo terus berlanjut dan Digo menceritakan semuanya itu. Lagi lagi ia memandang wajah cantik istrinyaistrinya dan akan menghilangkan perasaan kesal dan cemburunya kepada Nathan supaya otaknya lebih fres dan bisa menyelesaikan pekerjaan secepatnya.
Dan satu jam kemudian setelah melihat Aruna pulas tertidur, Digo mematikan sambungan nya, ia memang sengaja untuk melihat wajah cantik Aruna yang terlihat lelah meskipun ia sendiri sudah mengantuk , hingga akhirnya Digo yang tidak bisa tidur meskipun sebenarnya ngantuk, masih saja setia dengan sambungan video nya, Digo bahkan tetap ingin melihat istrinya itu tertidur, tidak masalah jika Aruna sudah lebih dulu terlelap, laki-laki itu dengan setia memandangi wajah cantik Aruna.
Tok...tok...
Aruna yang tadi kelelahan hingga menerima telepon dari Digo dan ketiduran, kini ia dikagetkan dengan bunyi ketukan pintu kamarnya.
Tentu saja dengan tangannya yang masih menggenggam erat ponselnya, tetapi sambungan video call dari suaminya itu sudah mati.
"Iya ..."
Sahut Aruna dari dalam kamar, sepertinya ia sendiri baru bangun tidur dan nyawanya belum terkumpul dan tenang saja Aruna sudah mengunci pintu kamarnya, sesuai dengan arahan dari tigo yang mana Nathan saat ini sudah berada di rumahnya lagi.
"Dek bangun, makan malam dulu sudah ditunggu Mami di bawah."
"Iya..."
Aruna kembali menjawab ia dan untung saja pintu kamarnya dikunci kalau tidak pastinya Nathan sudah membuka pintu kamarnya itu meskipun Aruna mencoba berpikir positif tetapi takut saja jika hal itu benar-benar terjadi karena mungkin nata sudah mengetuk pintu kamarnya dari tadi.
Aruna memang menjawab iya tetapi ia masih berada di atas ranjang maklumlah bangun tidur nyawanya belum terkumpul hingga akhirnya melihat jam yang berada di dinding kamarnya tentu saja Aruna menggelengkan kepalanya, bisa-bisanya ia tidur pulas selama beberapa jam hingga akhirnya malam pun tiba dan saatnya makan malam.
"Makannya yang banyak Dek, sepertinya kamu capek banget."
Saat ini Aruna sudah berada di ruang makan yang pastinya di sana ada Mami Nina dan juga Nathan dan tentu saja Nathan berada di depan Aruna mengambilkan piring dan juga nasi untuk Aruna, yang membuat Aruna merasa jika Nathan terlalu berlebihan, memang tetapi apalah daya Nathan yang ingin memberikan perhatian lebih untuk Aruna dan sekali lagi ini adalah kesempatan emas untuk Nathan bisa berduaan dengan Aruna, bisa menatap wajah cantik Aruna tanpa ada yang mengintimidasinya.
Aruna juga tidak enak ia melihat ke arah Mami Nina kemudian Mami Nina tersenyum dan menganggukan kepalanya, yang meskipun sebenarnya ini beliau ingin memperingatkan Nathan tentang perhatiannya yang berlebihan tetapi tidak sekarang yang pastinya nanti akan Mami Nina bicarakan lagi.
Aruna saat ini sedang menyantap makanannya tentu saja tidak banyak bicara, toh juga tidak ada yang dibicarakan nya.
Berbeda dengan Aruna, Nathan malahan memandang wajah cantik Aruna setelah ia menyelesaikan makanannya memang sengaja dan menyelesaikan makanan terlebih dahulu supaya ia bisa memandang wajah cantik Aruna ,perempuan yang sudah diidam idamkan sejak dulu tetapi takdir berkata lain yang mana Aruna tidak bisa dimiliki untuk menjadi istrinya tetapi malah menjadi adik iparnya.
Beberapa menit kemudian, Aruna juga sudah selesai makan malam, ia membantu membereskan semua yang ada di atas meja meskipun Mami Nina tidak meminta Aruna untuk ikut membereskannya tetapi Aruna sudah terbiasa saja dulu melakukan itu Jadi ia anggap ini adalah kebiasaan dan tidak memberatkannya.
Sedangkan Nathan, laki-laki itu seperti nya puas dengan memandang wajah cantik Aruna dan seketika langsung saja pergi dari ruang makan entah apa yang dilakukan Nathan tetapi ia tidak nampak lagi batang hidungnya, tetapi Nathan sendiri juga tidak keluar dari rumah dan memang mungkin saja Nathan akan menghabiskan waktunya berada di dalam rumah sementara Aruna berada di sini.
Setelah membersihkan piring-piring kotor Aruna dan Mami Nina saat ini berada di ruang tengah tentu saja mereka ngobrol-ngobrol sembari meminum dan makan cemilan, yang pasti Aruna tidak akan pernah melupakan makanan jika sedang ngobrol. Mami Nina mengerjakan pekerjaannya menyusun beberapa nota penting yang belakangan ini tidak beliau pegang.
"Sayank, kalau mau tidur tidur aja dulu, tidak perlu temenin Mami, Mami masih banyak pekerjaan."
Aruna memang tidak banyak bicara sesekali saja bertanya kepada Mami Nina dan mami Nina menjelaskan tentang pekerjaan nya saat ini mungkin saja besok butik milik Mami Nina akan diwariskan kepada Aruna tetapi Mami Nina juga tidak akan menuntut Aruna banyak belajar saat ini , Aruna masih sekolah masih banyak cita-cita yang ingin dicapai Aruna dan juga Mami Nina tidak akan buru-buru meminta Aruna untuk terjun ke dalam butiknya itu tidak seperti Digo yang memang dituntut untuk segera menyesuaikan diri di perusahaan.
"Aruna belum ngantuk Mi, Aruna temenin Mami saja tapi sebentar Aruna ambil buku dulu sepertinya ada PR tadi."
Ya ya keasikan berbincang-bincang dengan Mami Nina membuat Aruna merupakan sesuatu, ia sampai lupa jika ada PR hingga akhirnya Aruna mengingatnya dan buru-buru untuk mengambil bukunya di kamar.
Karena Aruna memang berniat untuk mengerjakan pr-nya itu di ruang tengah bersama dengan Mami Nina yang mana daripada ia sendirian di dalam kamar juga tidak bisa mengerjakan pekerjaan sekolahnya mendingan Aruna berada di sini, itung itung ada temannya, tidak sendirian di dalam kamar.
Aruna bergegas untuk ke atas, tentu saja Aruna tau kalau Nathan berada di kamarnya, dan tidak ada Digo disini, Aruna harus jaga-jaga,nperempuan cantik itu tidak boleh gegabah dan terus waspada.
Sekali lagi bukan karena otak Aruna yang sudah negatif terhadap Nathan tetapi ia memang harus melakukan ini terlebih lagi ia tahu pandangan mata Nathan ke arahnya itu tadi sudah menunjukkan gerakannya aneh bukan karena Nathan mau macam-macam dengannya tetapi pandangan mata Nathan itu mengisyaratkan jika Nathan masih sangat mencintainya dan belum mau move on darinya.
Setelah mengambil bukunya, Aruna bergegas untuk turun dan menjumpai Mami Nina yang masih berada di ruang tengah.
Aruna juga tak segan segan untuk meminta bantuan kepada Mami Nina jika ia memang benar-benar tidak bisa menyelesaikan soal dan Mami Nina dengan senang hati membantu menantu cantiknya ini mereka berdua seperti ibu dan anak kandungnya sendiri tanpa jarak dan juga ngobrol-ngobrol layaknya darah dagingnya sendiri.
"Perlu bantuan?"
Aruna menoleh ke samping yang mana tiba-tiba Nathan sudah berada di samping dengan mengatakan seperti itu mungkin Aruna memang tidak menganggukan kepalanya tetapi Nathan tau jika perempuan cantik yang berada di depannya saat ini benar-benar membutuhkan bantuannya.
"Aku bantuin ya, sepertinya Mami sibuk."
Itu hanya akal-akalan Nathan saja yang mana sedari tadi memang Nathan melihat interaksi antara mami Nina dengan aruna dan Nathan juga tahu kalau sedari tadi Mami Nina menyempatkan diri untuk membantu Aruna dan juga Mami Nina tidak sibuk-sibuk banget hanya ingin meluangkan waktunya saja mengecek beberapa nota daripada bosan dan tidak ada pekerjaan yang akan dilakukannya.
Lagi dan Lagi Mami Nina hanya menoleh ke arah Nathan kemudian menggelengkan kepalanya sepertinya memang tidak masalah jika Nathan membantu Aruna dan juga tempatnya di sini jadi Mami Nina bisa mengawasi pergerakan Nathan jika ingin macam-macam terhadap Aruna.
"Ini seperti ini Dek dan rumusnya begini."
Iya Nathan sedari tadi sudah duduk di samping Aruna dengan membantu pekerjaan Aruna yang pastinya Nathan juga seperti Digo menjelaskan apa saja yang Aruna tidak tahu hingga keduanya terlihat akrab dan Aruna juga tidak segan-segan meminta bantuan untuk mengerjakan PR yang lainnya kepada Nathan.
"Nah sekarang kamu coba kerjakan yang ini ini caranya seperti tadi."
Aruna mengangguk saja, toh ia juga Harus banyak latihan soal-soal supaya otaknya lebih besar berkembang.
Dan dengan cepat Aruna mengerjakan soal-soal itu dan ternyata berhasil, Aruna senang hingga akhirnya Nathan menjadi gemas dengan ekspresi wajah Aruna dan tanpa sadar tangan laki-laki itu mengusap lembut rambut Aruna.
"Mami, Kak Nathan, aku ke kamar ya sudah selesai dan aku ngantuk."
Ya ini hanya alasan Aruna saja ia melirik jam dan hampir menunjukkan pukul 08.00 malam dan sebentar lagi waktunya Digo menghubungi Aruna, Aruna juga lupa jika tidak membawa ponselnya dan saat ini ponselnya masih berada di kamar takut saja jika tiba-tiba menelpon tetapi dia tidak mengangkat.
"Bareng aja Dek, aku juga mau ke kamar istirahat."ujar Nathan yang saat ini sudah berdiri di samping Aruna laki-laki itu entah ingin istirahat beneran atau tidak, sepertinya pikiran Aruna terbaca oleh Nathan karena Aruna masih ingin melihat bintang di langit dan menghirup udara segar di balkon.
Aruna hanya melongo tidak mungkinkan jika ia menolak apa yang diucapkan oleh Nathan, ini adalah rumah Nathan juga yang pasti ini Aruna juga tidak mengangguk ataupun menggeleng , perempuan cantik itu setelah mencium pipi Mami Nina langsung saja melesat ke atas menuju kamarnya dan pastinya ia akan mengunci kamarnya lagi nanti setelah ia sampai di dalam kamar.
Sesampainya di dalam kamar Aruna juga tidak lantas untuk menuju ke atas ranjang perempuan cantik itu menaruh bukunya di dalam tas dan menyusun jadwal pelajaran untuk besok pagi.
Aruna juga mengecek ponselnya tetapi tidak ada pesan atau panggilan masuk dari suaminya.
Kangen itu yang dirasakan Aruna tetapi ia ingin menghubungi alasannya tidak mungkin ia takut kalau mengganggu pekerjaan Digo yang mana memang Aruna meminta Digo untuk fokus ke pekerjaannya supaya lebih cepat selesai dan cepat pulang ke Jakarta dan pastinya biarlah Digo yang dulu dan pastinya saat ini Digo benar-benar sibuk sehingga tidak ada kabar beritanya sama sekali.
Tidak ingin kepikiran Digo di luar sana Aruna menuju ke balkon setelah ia mencuci mukanya terlebih dahulu perempuan cantik itu memang benar-benar belum mengantuk karena barusan ia sudah tidur dan pastinya ini masih jam segini karena juga takut jika nanti Digo telepon tetapi ia tidak mendengarnya.
Aruna sudah sampai di balkon kemudian ia melihat ke atas memandang bintang-bintang yang saat ini banyak sekali menampakkan cahayanya ia malam ini suasana cukup cerah hingga Aruna bisa melihat pemandangan langit yang begitu indah tetapi tidak seindah hatinya.
Jujur saja ada rasa gundah gulana dan juga gelisah bukan karena kepikiran tentang Digo atau tidak percaya dengan Digo yang berada jauh dari matanya tetapi sejak kedatangan Nathan yang tiba-tiba membuat Aruna menjadi was-was.
Aruna sudah beberapa kali mencoba untuk menetralkan semuanya ini berharap tidak terjadi apa-apa tetapi rasanya semakin ia berusaha untuk tidak mendekat ke mata namun laki-laki itu sama saja terus memperhatikannya membuat Aruna bingung apa yang harus ia lakukan.
__ADS_1
"Katanya mau tidur, ngantuk kenapa masih ada di sini?"
Aruna menoleh seketika, ia baru saja kepikiran tentang laki-laki itu tetap saat ini malah sudah berada di balkon yang sama meski pun berbeda jaraknya tetapi keduanya saat ini sama-sama berada di luar tentu saja Nathan tahu juga Aruna tidak benar-benar tidur tetapi menunggu telepon dari Digo yang pastinya Nathan juga malam ini akan menemani Aruna tidak akan membiarkan Aruna sendirian berada di luar.
"Niatnya sih begitu kak, tidur lebih awal supaya besok bisa bangun pagi tetapi nyatanya mata ini tidak bisa terpejam."
"Nungguin telepon dari Digo?"
Tebak Nathan karena kemarin ia tengah malam sempat mendengar obrolan Aruna dengan Digo dibalik sambungan telepon dan pastinya Nathan juga yakin jika adiknya itu terus-menerus menghubungi istrinya yang pastinya Digo tidak akan pernah lupa memberikan kabar untuk Aruna.
Aruna mengaggukan kepalanya, memang nyatanya seperti itu, selain ia tidak bisa tidur Aruna juga menunggu telepon dari Digo yang nyatanya sampai jam segini juga belum mengabarinya.
"Jangan berpikir yang tidak-tidak, mungkin saja Digo di sana sibuk sehingga dia belum menghubungi kamu, aku temeninnya di sini sepertinya memandang bintang jika bersama itu lebih indah daripada sendirian."
Tidak ada jawaban dari Aruna, Aruna yang sedari tadi melihat ke samping kini mengedarkan pandangan yang kedepan tentu saja meskipun ia tahu Nathan tidak akan berada di balkon depan kamarnya tetapi sama saja malam ini ia bersama dengan Nathan untuk memandangi bintang di langit.
"Jujur saja dari dulu Aku ingin memandang keindahan langit dengan seseorang yang aku cintai dan belum sampai waktunya itu ternyata perempuannya aku cintai sudah lebih dulu dimiliki oleh orang lain."
Entah kenapa ucapan dari Nathan membuat hati Aruna tersentuh ketika meskipun Nathan tidak mengucapkan siapa nama perempuan itu tapi yang sudah jelas jika itu adalah dirinya.
Ingin rasanya Aruna menanggapi tetapi percuma sepertinya Nathan memang tidak butuh ditanggapi laki-laki itu terus saja mengoceh yang membuat Aruna bingung apa yang akan dilakukannya.
"Dan malam ini mungkin untuk pertama kalinya niatku terkabul, aku memandangi bintang di langit dengan perempuan yang aku cintai meskipun aku sadar diri perempuan itu tidak bisa aku miliki lagi tetapi dengan begini aku sudah merasa senang aku merasa bahagia."
Nathan tersenyum kemudian melihat ke arah Aruna ia ingin melihat bagaimana ekspresi Aruna yang pastinya Nathan juga paham arona pasti mengerti maksudnya.
"Jujur saja mungkin aku egois, Aku ingin kita bisa begini terus seperti ini."
Aruna menghela nafasnya panjang mulutnya ingin sekali berucap terlebih lagi Nathan pasti berpikir yang macam-macam dan masih berharap padanya meskipun dengan ucapannya sepertinya Nathan sudah mengikhlaskan tetapi Aruna paham bagaimana di dalam hati Nathan saat ini.
"Kak...."
"Jangan bicara apapun juga Dek, aku malam ini tidak ingin ditanggapi. Aku hanya ingin bercerita saja tanpa kamu menjawab atau bagaimana cukup dengarkan saja apa yang ada di dalam hatiku mungkin aku jahat dan egois tetapi rasa di dalam hatiku ini tidak bisa dibohongi jika aku masih sangat mencintai kamu meskipun aku juga tidak berharap banyak tentang apa yang ada di dalam hatiku karena aku yakin sampai kapanpun Digo tidak akan melepaskan kamu."
Dan sekali lagi Aruna hanya bisa diam padahal ia ingin sekali menyadarkan Nathan tentang perasaannya yang salah dan ingin meminta Nathan untuk mengubur semuanya rasanya itu tidak mungkin jika Nathan terus-menerus mengingatnya padahal sudah dari dulu arona katakan jika dirinya tidak mempunyai rasa sama sekali kepada Nathan.
"Dan entahlah sampai kapan perasaan untuk kamu di dalam hatiku ini masih ada aku sendiri juga bingung. Jujur waktu itu aku terpuruk aku berusaha untuk lari dari kenyataan pergi meninggalkan rumah ini supaya kamu dan juga di yang ada di tempat ini dan kalau begitu aku masih tetap melihat kamu ketika aku datang ke sini tetapi rasanya aku menjadi pengecut semakin lama aku mencoba melupakan kamu mencoba lari dari kenyataan ini dan mencoba untuk menghilangkan perasaannya untukmu namun rasanya aku malah semakin mencintai kamu. Hingga akhirnya aku putuskan untuk kembali tinggal di sini mungkin saja jika aku tidak melupakan kamu dan kita bisa bertemu setiap harinya perasaan itu akan hilang sendirinya terlebih lagi jika melihat kamu bersama dengan Digo kalian berdua yang sangat mesra dan sudah romantis pastinya hati ini lama-kelamaan akan luluh dan nama kamu akan hilang dari dalam hatiku tetapi nyatanya..."
"Mungkin Kak Nathan perlu seseorang yang bisa meluluhkan hati kakak lagi cobalah banyak teman-teman kakak yang ingin mendekati kakak yang mungkin juga dari mereka ada salah satu kandidat yang bisa membuat hati kakak Lulu."
"Tidak segampang itu meskipun aku pernah mencoba namun rasanya sia-sia saja."
Tidak ada yang diucapkan oleh Aruna lagi percuma jika menghadapi laki-laki yang masih bucin seperti Nathan apa-apa yang diucapkan Aruna selalu saja ditepisnya.
Pagi hari nya...
Demi menghindari Nathan yang akan mengantarkannya ke sekolah Aruna pagi-pagi sekali sudah bangun, Aruna sampai tidak sarapan di rumah dan hanya membawa bekal saja karena tidak enak dengan Mami Nina yang saat ini sudah berkorban di dapur.
Memang makanan untuk sarapan pagi sudah siap tinggal menyajikan saja di meja makan tetapi demi menghindari Nathan, Aruna tidak mungkin untuk Aruna sarapan pagi ini lebih baik ia membawa bekal saja untuk menghindari interaksi dengan Nathan.
Ya semalam sebelum Aruna masuk ke dalam kamarnya Nathan lagi lagi mengatakan jika pagi ini ia yang akan mengantarkan ke sela dan juga nanti siang akan menjemput Aruna dan tentu saja Aruna sudah menolaknya dengan alasan pagi ini akan diantarkan Pak Rudi karena ada kegiatan pagi-pagi sekali namun kenyataannya Nathan tetap saja Keke ingin mengantarkannya ke sekolah.
Terlebih lagi Digo yang semalam menghubunginya dan juga meminta Aruna untuk berangkat bersama Pak Rudi tidak mengiyakan ajakan Nathan, tentu saja laki-laki itu merasa cemburu sudah jauh dari istrinya tetapi malahan di Jakarta istrinya di gebet oleh laki-laki lain ya meskipun akan Digo juga paham jika Nathan hanya ingin mengantar jemput Aruna tetapi rasa cemburu Digo yang berlebih dan membuat laki-laki itu menjadi sedikit emosi walaupun tidak sampai membentak arona tetapi ada gurah tersendiri di dalam wajahnya.
"Mami, aku berangkat dulu ya maaf tidak ikut sarapan pagi ini."
Mami Nina menganggukkan kepalanya beliau tidak perlu menanyakan alasan lagi yang pastinya Aruna pagi ini ada kegiatan yang harus menganjurkan perempuan cantik itu berangkat pagi-pagi Mami Nina juga sedikit demi sedikit paham selain ada kegiatan Aruna juga sedang menghindari Nathan.
"Hati-hati sayank, tetapi kebetulan sekali pagi ini Pak Rudi tidak bisa mengantar karena mendadak Pak Rudi harus mengantarkan istrinya untuk berobat kamu bagaimana?"
Aruna pun tidak panik, segera menghubungi Dino sesuai perintah dari suaminya jika memang Pak Rudi tidak bisa mengantarkan maka Dino yang akan menjemputnya.
"Barusan aku menghubungi Dino, Mi dan kebetulan sekali dia sudah siap dan segera meluncur ke sini."
"Oh ya sudah kalau begitu Mami lega sekarang."
Ya Mami tahu sedikit banyak tentang keempat sahabatku dan Mami rasa pilihan Aruna itu benar dan tepat jika Aruna meminta tolong kepada Dino saja daripada meminta tolong kepada Nathan karena meminima juga berpikir akhir-akhir ini selama di ku berada di Jepang dan Nathan tinggal di rumah ini rasanya sikap Nathan ada yang aneh laki-laki itu terus menempel ke arah atau nama Nina jadi takut jika nantinya malahan Nathan merebut Aruna dari Digo dan itu yang tidak akan meminum biarkan.
"Aku tunggu Dino di luar saja ya Mi dan Terima kasih bekalnya pasti nanti aku makan."
"Iya sayang hati-hati."
Aruna buru-buru untuk keluar dari rumah ia tidak ingin tiba-tiba Nathan berada di belakang dan langsung mengantarkannya ke sekolah karena ia membetul laki-laki itu pastinya juga akan bangun pagi mengingat Natan semalam yang berniat untuk mengantarkan dirinya pastinya juga Nathan sudah bersiap-siap.
Aruna tidak perlu menunggu lama yang nyatanya setelah ia keluar dari rumah mobil Dino sudah berada di depan gerbang dan perempuan cantik itu buru-buru untuk keluar dari rumah sebelum Nathan memergokilnya pergi bersama dengan Dino.
Ada rasa lega ketika ia sudah keluar dari pintu gerbang yang mana memang benar jika Dino yang berada di dalam mobil itu.
Aruna tersenyum kemudian dengan segera masuk ke dalam mobil Dino tetapi sayang sekali panggilan dari seseorang dari belakang membuat Aruna tiba-tiba menghentikan langkahnya dan gagal untuk masuk ke mobil Dino.
"Aruna, pagi ini biar aku yang antar."
Dino yang mendengar ucapan itu seketika langsung saja keluar dari mobilnya bukan karena ia tidak suka dengan kakak kandung dari sahabat nya itu tetapi memang Dino sudah diwanti-wanti untuk tidak mempercayakan Aruna kepada Nathan apalagi Aruna sendiri tadi pagi yang meminta untuk dijemput karena sopir mendadak berhalangan hadir.
"Tidak bisa Bang, Aruna biar sama aku saja kebetulan kita kan satu sekolah jadinya bisa langsung sekalian."
Nathan tersenyum rupanya ini adalah rencana Aruna dan pastinya Nathan tahu jika Aruna menghindar darinya dan sengaja meminta Dino untuk menjemputnya ke sekolah.
"Tidak masalah kebetulan juga aku ada urusan di sekitar misalnya lebih baik kamu ke sekolah dulu biar Aruna, Aku yang antar."
Aruna sendiri menggelengkan kepalanya mengapa Nathan kekeh untuk mengantarnya ke sekolah padahal kalau dipikir-pikir Nathan bisa saja enak-enak kan tidur pagi-pagi seperti ini terlebih lagi Nathan juga ke kantor masih nanti siang tetapi kenyataannya laki-laki itu malahan ingin sekali mengantarkan dirinya.
Dino yang sudah ngeyel tetapi tetap saja kalah dari Nathan hingga akhirnya laki-laki itu memandang ke arah Aruna dan meminta jawaban kepada Aruna.
Aruna yang baru betul langsung saja membuka suara, ia sedari tadi ia ingin melihat bagaimana Nathan memaksa dirinya untuk ikut bersamanya pagi tadi.
"Maaf Kak Nathan, aku pergi bersama Dino saja lagi pula kita memang satu sekolahan Kak Nathan sebaiknya sarapan dan juga bersiap-siap ke kantor."
Ucap Aruna lembut dan berusaha mendekati Natal ia yakin jika laki-laki itu akan lulus jika dengan ucapan-ucapan yang lembut dan tidak berkesan untuk menolak tetapi memang sebenarnya ada penolakan dari diri Aruna.
"Tapi Dek bukannya semalam aku sudah mengatakan jika akan mengantarkan kamu ke sekolah tetapi kamu kenapa malah meminta Dino untuk menjemput kamu?"
"Bukan Aruna yang meminta aku untuk menjemput Aruna, tetapi memang kebetulan sekali pagi-pagi ini kita ada kegiatan yang sama yang pastinya aku sendiri yang bernasehati untuk menjemput Aruna bukan menjemput Bang tetapi kita bareng berangkat sekolahnya."
Nathan menghela nafasnya panjang ia sudah tidak bisa berbuat banyak lagi jika seperti ini mengayal pun rasanya sulit apabila Aruna masih tetap kekeh pergi bersama dengan Digo.
"Oke tapi nanti siang aku yang jemput."
Aruna tidak mengangguk ataupun menggeleng perempuan cantik itu tersenyum kemudian masuk ke dalam mobil Dino rasanya ia juga tidak mungkin berlama-lama berinteraksi dengan Nathan bisa-bisa nanti dirinya terlambat sekolah atau mungkin malah Nathan berubah pikiran.
Untuk masalah nanti sore bisa dipikirkan lagi terlebih lagi Aruna ada kegiatan sampai sore yang pastinya tidak mungkin Nathan akan menjemputnya dan akan bersama dengan dirinya setiap saat.
Ya hari ini Aruna pulang sekolah memang sampai sore bukan karena Aruna bermain dengan teman-temannya tetapi memang rapat OSIS diadakan dan Aruna sebagai sekretaris OSIS tentu saja harus mengikuti rapat itu meskipun sebenarnya ia ingin segera pulang rasa lelah dan juga capek melanda hati dan pikirannya.
Belum lagi sedari tadi ia sudah gelisah sejak pukul 12.00 siang Nathan sudah mengirimkan pesan kalau dirinya nanti akan menjemput Aruna bahkan laki-laki itu sudah menunggu di depan gerbang selama 1 jam yang lalu yang pastinya Aruna juga bingung ingin menolak tentang tapi tidak bisa karena Nathan sudah berada di sekolah ini.
Hingga pukul 4 sore Aruna dan anggota OSIS yang lainnya keluar dari ruang OSIS tentu saja Aruna keluar belakangan karena ia benar-benar bingung ingin pulang tetapi rasanya males yang ada nanti malam ya jadi uring-uringan sendiri terlebih lagi sudah ada Nathan yang berada di sekolahan ini.
Tentu saja bukannya Aruna tidak menghargai Nathan tetapi ia hanya ingin menghindar sedikit saja dari Nathan tidak ingin Nathan terlalu berharap banyak padanya meskipun Aruna yakin akan menampilkan belum move on darinya dan akan terus mengejarnya tetapi itu tidak mungkin di samping arumnya nanti tidak mencintai Nathan, Aruna juga tidak akan mungkin berpisah dari Digo, seburuk apapun suaminya namun di dalam hati Aruna sudah belajar mencintai Digo dan memang benar satu bulan bersama Digo sudah menumbuhkan benih-benih cinta di dalam hati Aruna.
"Jadi dijemput Bang Nathan? awas lho ketahuan Digo nanti dianya ngamuk?"
Dino sedari tadi melihat ekspresi wajah tidak biasa dari Aruna ia juga tahu jika istri dari sahabatnya itu sedang memikirkan tentang Nathan karena tadi pagi Dino mendengar ucapan natalnya akan menjemput aroma.
"Pengen nya sih bareng sama kamu atau minta jemput Pak Rudi tetapi kak Nathan sudah berada di sekolah ini gue bingung."
Padahal Aruna tadi sudah hampir berdiri karena sudah menyiap membereskan semua berkas-berkas yang ada di atas meja tetapi Lagi dan lagi ia malahan kembali duduk di kursi sembari menopang dagunya tentu saja itu membuat Dino dan ketiga sahabat Digo yang lainnya ikut berdiri menjaga istri kesayangan dari sahabatnya itu.
Ya sekali itu persahabatan mereka yang nyatanya saat ini aroma dikelilingi 4 laki-laki tampan dan memang selama juga berada di Jepang, Aruna sama sekali tidak boleh berjalan dari keempat laki-laki itu mereka semua seperti pengawal yang sudah siap mengawal Aruna.
Yang pastinya kalau di sekolah Aruna aman tetapi tidak di luar atau lebih lagi jika berhadapan dengan Nathan bukannya mereka tidak berani atau nyali malaikat jib tetapi mereka menghargai Nathan karena lautan api tua dari mereka dan juga Nathan adalah kakak kandung dari sahabat nya itu meskipun di dalam hati mereka juga tidak rela dan was was jika Aruna pergi bersama dengan Nathan.
"Bang Nathan memang gila bisa-bisanya dia Mengambil kesempatan di atas kesempitan."
Dimas yang sedari tadi diam, ikut saja menanggapi ucapan aruna. Dimas juga garam dengan sikap dari Nathan yang seenaknya mengantar dan menjemput Aruna pada hal keselamatan dapat itu sudah dipasarkan oleh Pak Rudi dan juga dirinya dan ketiga sahabat yang lain nya.
Kelima anak manusia yang berada di ruang OSIS, mereka semua mencari cara supaya akan pergi dari sekolah ini tetapi sayang sekali sepertinya keberuntungan berada di pihak Nathan.
Nathan memang sudah menunggu selama 1 jam bahkan lebih dari itu laki-laki itu memang sengaja datang ke sekolah Aruna lebih awal meskipun akan tahu jika Aruna agar rapat OSIS dan memposting membutuhkan waktu kurang lebih 1 jam dari jadwalnya pulang tetapi tidak masalah untuk makan karena memang waktu-waktu itu nah tidak ada urusan penting bahkan jika memang ada Nathan akan mengajar semuanya dan akan dikerjakan nantinya.
Tetapi setelah hampir menunggu selama satu setengah jam yang ditunggu belum keluar juga nah tapi tidak mendapati Aruna dan keempat sahabat juga keluar dari ruang OSIS padahal semua anggota OSIS yang ikut rapat sudah keluar dari sana.
Tidak ingin menunggu lama atau nanti malahan Aruna tidak mau diantar pulang olehnya dan paranya lagi Aruna sudah pulang lewat pintu belakang diri untuk menuju ke rumah OSIS yang tampaknya memang ruangan OSIS itu tidak jauh dari lobby hingga laki-laki itu kini sudah sampai di depan ruang OSIS dengan pintu yang masih terbuka.
"Dek Kita pulang yuk, Mami nyariin kamu katanya Mami ingin ngajak kamu ke butik."
Semua mata tertuju pada seorang laki-laki yang saat ini berdiri di depan pintu tentu saja itu membuat Aruna menghilangkan kepalanya pelan baru saja ia mempunyai ide untuk keluar dari pintu belakang tetapi tiba tiba Nathan sudah berdiri di depan pintu alhasil aroma sendiri tidak bisa berbuat apa-apa ia mau tidak mau menganggukkan kepalanya lagi dan segera berdiri dari tempat duduknya.
Melihat pergerakan Aruna yang akan menghampirinya Nathan kemudian tersenyum, laki-laki itu memang sengaja menggunakan nama Mami nya supaya Aruna cepat keluar dari ruang OSIS nah tanpa jika Aruna tidak mungkin mengelak apa yang diucapkan oleh manusia padahal sejatinya Mami Nina tidak menunggu Aruna bahkan Mami Nina belum pulang dari butik mungkin meminima akan sedikit lembur di sana meskipun tidak sampai malam.
"Gue pulang dulu ya."
Ucap Aruna sembari melambangkan tangannya kepada keempat laki-laki tampan yang saat ini melongo menatap ke arah Nathan tentu saja mereka tidak bisa berbuat apa-apa mereka juga tahu bagaimana posisi Aruna saat ini bingung juga jadi mereka di satu sisi Mereka ingin melindungi Aruna tetapi di sisi lain Nathan sudah lebih dulu untuk menjemput Aruna.
"Hati-hati Bang Nathan, awas saja jangan sampai Aruna lecet nanti pemiliknya bisa marah-marah."
"Juga harus jaga jarak, ingat Bang .. Aruna itu istri dari Digo jadi bang Nathan nggak boleh macam-macam sama dia."
Ocehan ocehan dari Dimas dan juga Dino membuat Nathan hanya tersenyum ia juga tidak mengangguk atau memanggilkan kepalanya yang ada laki-laki itu malahan menatap wajah cantik Aruna dan langsung saja keluar dari ruangan itu.
Sedangkan Aruna ia lebih dulu berjalan di depan Nathan yang pastinya ia tidak mau berdebat lagi rasa lelah sudah menghantui seluruh tubuhnya dan ingin segera beristirahat meskipun ia tadi tidak salah mendengar jika mami ini akan mengajaknya tetapi sebagai menantu yang baik meskipun arona lelah tetapi arona akan mengiyakan permintaan dari Mami Nina.
Dengan cepat Nathan mendahului saat ini sudah berada di samping mobilnya kemudian laki-laki itu membuka pintu mobil supaya Aruna cepat masuk ke dalam.
Selama perjalanan tidak ada yang dibicarakan oleh dua orang itu, Aruna sibuk dengan ponselnya dan seperti biasa perempuan cantik itu memandanh ponsel nya mana ada pesan yang terselip dari suaminya dan dapat dibalasnya.
Sementara Nathan yang baru saja menerima panggilan telepon dari asistennya ada di kantor tentu saja laki-laki itu diminta untuk segera menandatangani berkas karena memang berkat itu sangat penting.
Nathan sendiri ingin mengajak Aruna ke sebuah tempat dimana sore ini cuaca yang tidak begitu panas dan sedikit mendung pasti membuat suasana menjadi lebih adem namun sayang sekali Nathan harus bergegas ke kantor karena sudah ditunggu oleh asistennya.
"Loh Kak bukannya ke butik Mami?"
Dan Aruna masih ingat ucapan dari Nathan tadi di mana Nathan mengatakan jika dirinya sudah ditunggu oleh Mami Nina dan akan mengajaknya ke butik ia sedari tadi Aruna memang bermain dengan ponselnya tetapi matanya tertuju kepada jalan yang mana tidak mengarah ke arah rumahnya tetapi menuju ke arah kantor Nathan dan juga searah dengan butik Mami Nina.
Ya Aruna juga sedari tadi bingung katanya ditunggu oleh Mami Nina mau diajak ke butik tetapi malahan jalur yang dipakai Nathan itu berbeda hingga akhirnya arona membuka suaranya karena memang ia benar-benar curiga dengan apa yang dilakukan oleh Nathan.
"Maaf Dek, Mami tidak meminta kamu untuk ke butik aku hanya bohongin kamu saja supaya kamu cepat keluar dari ruangan itu. Aku tahu juga kamu tidak mau aku jemput maka dari itu aku membuat alasan seperti itu dan Maaf ya."
Dengan wajah sedikit sendu Nathan menatap ke arah Aruna Aruna tidak bisa berbuat banyak perempuan cantik itu hanya menganggukkan kepalanya meskipun di dalam hatinya ia sedikit dongkol dengan apa yang diucapkan oleh Nathan.
Padahal andai saja Nathan tidak berbohong seperti itu pastinya Aruna mau tidak mau juga akan ikut dengan Nathan karena Nathan sudah berada di ruang OSIS tadi lagi pula karena juga sedikit curiga kenapa meminima tidak menghubunginya jika diminta untuk menemani beliau ke butik dan mengapa harus mengirim pesan kepada Nathan.
Tetapi Aruna mencoba berpikir positif,.perempuan cantik itu juga tidak mau berdebat dengan Nathan yang mana dirinya sudah lelah dan ingin istirahat.
"Kalau gitu tadi aku pulang saja dan istirahat di rumah lalu kita mau ke mana Kak sepertinya ini bukan jalan pulang deh?"
Meski sedikit jengkel tetapi Aruna mencob bersikap untuk dewasa ia tidak mau marah-marah apalagi keluar dari mobil ini akan sangat bahaya lagi pula sudah tidak punya tenaga lagi matanya juga sudah mengantuk dan ingin tidur.
"Ke kantor aku sebentar, Maaf tadi aku niatnya ingin mengajak kamu ke suatu tempatmu mungkin cuacanya lagi adem tetapi tiba-tiba asistenku mengatakan jika aku harus menandatangani sebuah kontrak kerjasama tidak apa-apa kan hanya sebentar saja?"
Hufhh..
Aruna menghela nafasnya panjang tentu saja ia tidak bisa berbuat banyak yang memang Nathan sudah menuju ke arah kantornya dan tinggal sebentar lagi mobil yang dikemudikan oleh Nathan itu sampai di parkiran perusahaan.
"Maaf ya setelah dari kantor Aku turutin Kamu mau ke mana, mau pulang atau jalan-jalan aku ikut pokoknya."
Hingga akhirnya mobil yang dikemudikan oleh Nathan sudah berada di parkiran khusus pemimpin perusahaan dan Nathan melirik sekilas ke arah Aruna yang saat ini masih memainkan ponselnya entah apa yang menarik di dalam ponsel itu hingga Aruna sendiri senyum-senyum sedari tadi.
"Ayo Dek turun daripada kamu sendirian di sini aku tidak lama kok sekalian kamu bisa jalan-jalan untuk melihat perusahaan aku."
Sebelum membuka sabuk pengamannya Nathan melihat ke arah Aruna masih asik dengan posolnya ia tidak mungkin meninggalkan Aruna sendiri di sini dan juga mengajak Aruna rasanya juga tidak buruk terlebih lagi tidak banyak yang tahu jika Aruna itu adalah adik iparnya mungkin saja orang orang nanti tahunya jika melihat dirinya dengan arona berjalan bersampingan maka mereka akan mengira jika Aruna adalah calon istrinya dan itu membuat Nathan senang.
"Sepertinya aku tunggu di sini saja kak, kak Nathan tidak lama kan aku lelah tidak mungkin aku keliling ke perusahaan kakak yang gede itu."
Iya selain Aruna lelah Aruna juga tidak ingin menjadi pembicaraan karyawan akan terlebih lagi ini waktunya mereka elang kantor dan pastinya banyak pasang mata yang nantinya akan tertuju padanya dan membicarakan tentang dirinya dengan Nathan, Aruna juga yakin jika tidak ada yang tahu tentang hubungannya dengan Nathan yang hanya sebatas adik dan kakak ipar saja.
"Ya sudah kalau begitu aku tinggal ya aku tidak lama."
__ADS_1
Tangan Nathan terulur untuk mengacak rambut Aruna yang membuat perempuan itu hanya diam saja dan langsung saja memalingkan wajahnya ketika Nathan menatapnya dengan sangat tajam.
Setelah melakukan ritual yang sangat manis akan keluar dari mobilnya dan meninggalkan Aruna untuk bergegas menuju ke ruangannya di mana sudah ada asistennya yang sudah menunggunya dari tadi.
Di dalam mobil Aruna menguap rasanya ia memang lelah dan ngantuk tentu saja tidak ada telepon dari Diko dan juga tidak ada pesan dari suaminya membuat Aruna bosan sendiri bermain game sudah ia lakukan tetapi rasanya memang mata tidak bisa kompromi.
Hingga akhirnya perempuan cantik itu tertidur dengan posisi masih memegangi ponselnya.
Lima belas menit kemudian Nathan bergegas untuk keluar dari ruangannya setelah menyelesaikan semua berkas-berkas yang perlu ditandatangani laki-laki itu dengan cepat turun ke bawah karena ia sudah meninggalkan Aruna di dalam mobil takut saja jika perempuan yang dicintainya itu keluar dari mobil dan pergi untuk meninggalkannya.
Sesampainya di dalam mobil Nathan bisa bernafas dengan lega, karena Aruna masih ada di dalam dan tentu saja Nathan menjadi bersalah karena Aruna saat ini tertidur mungkin saking lelahnya dan menggu dirinya hingga perempuan cantik itu malah memejamkan matanya.
"Maaf, seharusnya aku langsung mengantarkan kamu pulang."
Lagi lagi tangan Nathan terulur untuk merapikan rambut Aruna yang menutupi wajah cantik Aruna hingga membuat laki-laki itu menatap intens ke arah wajah Aruna yang memang benar-benar cantik yang nyatanya tidak bisa membuat Nathan move on dari Aruna.
Tidak ingin memperburuk keadaan laki-laki itu segera memakai sabuk pengamannya dan melajukan mobilnya untuk pulang saja.
Ya untuk kali ini niat Nathan membawa Aruna jalan-jalan tidak tercapai karena ia tidak mungkin membangunkan Aruna yang sudah tertidur dalam lagi pula jam sudah menunjukkan pukul 05.00 sore itu berarti sebentar lagi mau menginap akan pulang dan akan sangat bahaya jika memilih tidak mendapati menantu cantiknya sudah berada di rumah terlebih lagi alasannya karena Nathan pulang menjemput arona tidak langsung memulangkan Aruna ke rumah tetapi mengajak Aruna ke perusahaan yang sebentar.
Sembari menyetir sesekali mata Nathan melihat ke arah Aruna yang masih tertidur, laki-laki itu juga tidak bisa menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi malahan cenderung pelan-pelan supaya tidak membangunkan Aruna.
Biarkan Aruna tertidur sebentar mungkin lumayan dengan waktu lima belas menit sampai ke rumah dan pastinya nanti setelah sampai di rumah Nathan baru akan membangunkan Aruna.
Hingga akhirnya lima belas menit kemudian mobil Nathan sudah masuk ke halaman kediaman Narendra dan Nathan masih melihat ke arah Aruna yang masih tertidur pulas.
Ingin Laki-laki itu tidak membangunkan Aruna dan menggendong Aruna untuk sampai di kamarnya tetapi ia ragu dan masih mempunyai akal sehat, takut saja jika nanti Nathan tidak bisa mengendalikan dirinya dan malah berbuat yang tidak tidak dengan Aruna.
Hingga akhirnya setelah Nathan membuka sabuk pengamannya dan juga berdiam diri sebentar laki-laki itu kembali lagi menoleh ke arah Aruna yang masih tertidur beras mau tidak mau Nathan akan membangunkan Aruna pelan-pelan.
Nathan ingin membangunkan Aruna tetapi Nathan malah tertarik dengan bibir ranum milik Aruna mungkin saja setan saat ini sedang berkacamuk di dalam tubuh Nathan untuk meminta Nathan mencicipi sedikit bibir ranum Aruna yang begitu menggoda.
Rasanya Nathan memang benar-benar sudah dibuat mabuk kepayang dengan adik iparnya ini hingga akhirnya wajah Nathan mendekati pastinya Nathan juga berharap jika ia dapat menikmati bibir Aruna meskipun hanya sebentar saja tanpa mengganggu membangunkan perempuan cantik itu.
Ya saat ini wajah Nathan sudah berada di depan wajah cantik Aruna dengan jarak yang sangat dekat dan hanya sedikit saja Nathan bisa mencium bibir ranum Aruna tetapi sayang sekali baru saja Natan ingin menempelkan bibirnya Aruna tiba-tiba membuka matanya yang membuat perempuan cantik itu kaget dan mendorong pelang tubuh Nathan.
"Maaf tadi ada nyamuk yang hinggap jadi aku pelan-pelan supaya tidak melukai bibir kamu."
Aruna bukan perempuan yang bodoh dengan apa yang bisa diucapkan oleh Nathan. Untung saja Aruna tiba-tiba terbangun dan membuka matanya kalau tidak bisa dipastikan atau sudah menciumnya.
Tidak ingin berdebat dengan Nathan, Aruna dengan cepat membuka sabuk ke pengamannya kemudian keluar dari mobil Nathan tanpa mengucapkan terima kasih atau apalah, Aruna juga tidak marah meskipun di dalam hati ia juga jengkel dengan apa yang dilakukan oleh Nathan.
"Dek tunggu kamu jangan marah aku tadi tidak sengaja Maaf ya.."
"Iya tapi lain kali tidak perlu diulangi kakak langsung saja menggoyang-goyangkan tangan aku, nanti nyamuknya juga kabur sendiri."
Nathan tersenyum kemudian ia berjalan di samping arunaya dan masuk ke dalam rumahnya nyatanya memang benar belum sampai di rumah namun itu tidak membuat Aruna menjadi was-was atau bagaimana ia sudah lelah dan tidak ingin berpikir macam-macam lagi.
Bergegas Aruna untuk masuk ke dalam kamarnya ia juga tidak lupa mengunci pintu kamarnya seperti biasanya kemudian masuk ke dalam kamar mandi lalu mandi untuk menyegarkan pikirannya.
Setelah mandi perempuan cantik itu tidak lantas naik ke atas ranjang entahlah rasanya ia sudah tidur meskipun ia sebentar dan saat ini matanya tidak bisa terpejam lagi.
Satu jam kemudian.
Aruna hanya duduk di atas ranjang tanpa tertidur, Aruna tiba-tiba Aruna merasakan mules di perutnya dan dengan cepat perempuan cantik itu kembali lagi ke kamar mandi merasakan sesuatu yang aneh dengan perutnya yang tiba-tiba padahal tadi selama di kamar mandi karena belum merasakan ada sesuatu.
"Alhamdulillah..."
Aruna merasa lega karena akhirnya tamu yang ditunggu datang juga meskipun kondisinya saat ini tidak baik-baik saja karena merasa mulas dan juga tidak enak badan.
Ya kebiasaan Aruna, perempuan cantik itu setiap menstruasi memang seperti itu badannya lemas dan juga tidak bertenaga bahkan kadang sampai mual juga.
Tetapi Aruna senang berarti apa yang Digo inginkan tidak tercapai, jahat memang tetapi bagaimana mungkin Aruna sendiri belum siap untuk mengandung anak dari Digo meskipun Aruna sudah mulai jatuh cinta dengan suaminya tetapi usia masih sangat muda dan juga ia masih sekolah membuat Aruna mempertimbangkan semuanya.
Perempuan cantik itu bergegas untuk keluar dari kamar mandi untuk mencari stop pembalut yang ada di lemarinya.
"Aduh aku sampai lupa, kan memang aku belum membeli barang itu lalu bagaimana caranya tidak mungkin juga aku meminta simbok untuk membelinya ataupun menelepon Dino, aku juga mungkin keluar dari rumah inilah rasanya aku sendiri tidak bertenaga untuk keluar dari rumah perutku sakit dan kepalaku pusing.."
Sembari memegangi perutnya Aruna mencoba untuk mencari stoplk pembalut kalau-kalau memang iya masih punya sisa pilihan dari rumah mamanya yang satu bulan yang lalu dipakai tetapi sayang sekali Aruna sudah membuka semua lemarinya yang nyatanya tidak menemukan satupun benda itu.
Mau tidak mau Aruna mengambil kunci mobil ia akan pergi ke supermarket sendirian dan akan membeli benda keramat itu dan pastinya dengan memegangi perutnya dan wajah yang nampak pucat.
Aruna tetap mencoba keluar dari kamarnya kebetulan sekali bersamaan dengan Nathan yang ingin keluar dari kamar entah apa yang akan dilakukan oleh laki-laki itu yang saat ini sudah berpakaian rapi.
"Dek kamu kenapa? kenapa wajah kamu pucat sekali dan kamu juga mau ke mana perut kamu sakit?"
Tentu saja Nathan kaget melihat penampilan Aruna yang seperti ini Aruna sudah memakai jaket dan juga rapi serta wangi wajahnya juga masih cantik tetapi sedikit pucat dan juga Nathan melihat Aruna yang memegangi perutnya dari tadi sepertinya Aruna lemas dan ada sesuatu di dalam perutnya.
Tentu saja sebagai seorang laki-laki yang begitu mencintai Aruna, Nathan tidak mungkin membiarkan Aruna kesakitan ia jauh lebih perhatian jika ada seseorang yang dicintainya seperti ini bahkan Nathan sendiri lupa kalau akan bertemu dengan teman-temannya dan malahan kini sedang menceritakan pertanyaan kepada Aruna yang masih merintih kesakitan.
"Aku mau ke supermarket Kak sepertinya benda bersayap aku tidak ada, aku lupa membelinya."
Jawab Nathan jujur meskipun ia sedikit malu mengatakan benda keramat itu tetapi tidak mungkin juga menyembunyikannya dari Nathan atau juga hanya sekedar menjawab pertanyaan tidak ada salahnya bukan.
"Benda bersayap maksud kamu apa aku tidak ngerti lagi pula kondisi kamu seperti ini tidak mungkin untuk keluar?"
Seumur hidup ia juga belum melihat secara langsung benda itu hanya sesekali melihat iklan di TV tetapi tidak tahu bagaimana cara memakainya bahkan dulu kan dari Aruna mengenai benda bersayap tu rupanya juga sangat memusingkan bagi Nathan.
"Benda bersayap, benda keramat alias roti Jepang atau kalau kakak bingung pemb@lut."
Sembari merintih Aruna menjelaskan secara detail kepada Nathan hingga membuat laki-laki itu tersenyum seraya menganggukkan kepalanya.
"Biarkan aku yang membelinya Dek, aku tidak tega jika kamu yang keluar."
Sebuah ucapan itu keluar dari Nathan meskipun ia juga tidak tahu bagaimana bentuk dari berdai bersab itu tetapi ia juga tidak akan mengizinkan Aruna keluar untuk membelinya, Nathan juga tidak mungkin menawarkan diri supaya Arun ikut dengannya karena ia melihat Aruna yang merintih dan sepertinya memang rasa sakit karena tak mau pulangnya itu membuat Aruna menjadi pucat dan menahan sesuatu yang sakit di perutnya.
"Tidak perlu kak, kakak pasti tidak tahu biar aku saja."
Padahal Aruna sudah tidak punya tenaga untuk sekedar ke rumah sakit bahkan untuk turun dari atas tangga pun Aruna lemas tetapi ia tidak mungkin menerima tawaran dari Nathan apalagi Natan bukan suaminya.
"Tidak masalah aku nanti bisa tanya kepada kasir ayo aku ke bantu kamu mendingan duduk saja di bawah aku akan belikan apapun yang kamu inginkan."
Tidak perlu jawaban, Nathan dengan cepat menggandeng tangan Aruna dan mengajak Aruna untuk duduk di sofa di bawah saja setelah sampai di bawah laki-laki itu segera menuju ke dapur meminta simbok untuk membuatkan ramuan supaya Aruna tidak kesakitan dan setelah itu laki-laki itu dengan cepat melesat keluar dari rumah pastinya nata dengan cepat untuk menuju ke supermarket membelikan permintaan Aruna.
Ya sepertinya dipikirkan Aruna sesampainya di supermarket Nathan juga bingung ia harus membeli yang merk apa dan bagaimana pastinya ini adalah pertama kali dilakukan oleh Nathan namun Nathan tidak kurang akal ia meminta pelayan supermarket untuk memilihkan apa saja yang terbaik untuk arona bahkan bukan hanya benda bersayap itu saja tetapi Nathan membeli ikan cemilan dan juga minuman yang bisa membuat Aruna meredakan sakit perutnya dan membuat moodnya kembali ceria.
Setelah sekitar 10 menit Nathan keluar dari supermarket ia sudah menenteng dua kantong kresek besar di kedua tangannya pastinya semua makanan dan cemilan yang bisa membuat mood Aruna baik, Nathan membeli apapun yang dikatakan oleh pelayan supermarket itu akan membelinya tidak peduli dengan banyaknya makanan yang ada di tangannya itu dan juga Nathan tidak mau tahu bagaimana caranya Aruna nanti menghabiskan yang ada di dalam pikirannya membuat Aruna senang karena sedikit demi sedikit setelah tadi mengantri untuk membayar Aruna membuka sesuatu tentang perempuan yang sedang datang bulan dan pastinya ia mempelajari dan tahu betul bagaimana anakmu seorang perempuan jika sudah dalam masa periode.
Sedangkan Aruna di dalam rumah sudah meminum kunir asem yang dibuatkan oleh bibit sembari menunggu Nathan, Aruna juga harap-harap cemas takut saja jika nanti akan kembali dengan tangan kosong karena Aruna yakin pastinya ini juga pertama kali untuk Nathan memberikan sesuatu untuknya.
Hingga akhirnya yang ditunggu datang, mata Aruna melotot ketika melihat Nathan yang membawa dua kantong kresek yang berukuran besar tidak mungkin jika Nathan memborong semua benda bersayap itu tetapi kenyataannya memang seperti itu
"Kak Nathan tadi beli atau borong kenapa banyak sekali aku kan hanya memerlukan satu saja bukan banyak seperti ini?"
"Tidak apa habisnya aku bingung apa yang biasanya cocok untuk kamu."
Tidak ingin berdebat lagi Aruna juga belum membuka semua barang-barang yang dibeli oleh Nathan perempuan cantik itu langsung saja melesat dan naik ke kamarnya sembari menahan perutnya tetapi ia juga harus segera memasang benda keramat itu supaya tidak bocor kemana-mana.
Setelah semuanya beres Aruna turun ke bawah iya sebenarnya bukan mencari makan atau mencari barang-barang yang diberi Natal tetapi ia melupakan kunir asem yang dibuat simbok rasanya memang benar-benar enak dan segar yang membuat perutnya menjadi lebih enak dan tidak sakit daripada tadi.
Tetapi setelah sampai di ruang tengah Aruna masih mendapati Nathan yang duduk di sana sembari tersenyum laki-laki itu bahkan tidak sama sekali mengeluarkan barang-barang yang dibelinya mungkin saja Nathan ingin menunggu Aruna membukanya.
"Kenapa kak Nathan berada di sini bukannya Kak Nathan tadi mau pergi?"
Ya meskipun Nathan tidak mengatakan jaga dirinya akan pergi dengan teman-temannya tetapi melihat pakaian matanya sudah rapi pastinya laki-laki itu ingin keluar dari rumah tetapi mengapa masih berada di sini.
"Bagaimana mungkin aku pergi sementara kamu kesakitan dan di sini tidak ada orang Mami juga belum pulang."
"Tapi aku bukan anak kecil lagi Kak aku bisa sendiri dan terima kasih tadi."
"Kamu memang bukan anak kecil Dek tetapi aku khawatir sama kamu."
Jika Nathan sudah berkata seperti itu Aruna diam saja percuma juga dia menjawab apa yang diucapkan oleh Nathan yang pada akhirnya Nathan masih saja mengungguli ucapannya sama seperti.
"Ini makanan dan minumannya dimakan Dek aku tadi sengaja membelikannya kata pelayan supermarket itu ini baik untuk mood seorang perempuan jika lagi datang bulan."
Kembali lagi Aruna bahasa ia membuka dua kantong kresek yang berkurang besar itu dan langsung menggilingkan kepalanya mana mungkin ia akan menghabiskan makanan-makanan yang sudah dibeli Nathan dan semuanya makanan itu memang benar bisa membuat moodnya kembali ceria.
"Tetapi sebanyak ini bagaimana aku bisa menghabiskan Kak ini terlalu banyak karena terlalu berlebihan membelinya.
"Tidak masalah kalau tidak habis hari ini bisa untuk besok lagi pula periodemu kan bukan hanya satu atau dua hari saja bisa sampai 1 minggu."
Aruna yang memang suka ngemil dan yang ada di depannya itu adalah makanan kesukaannya langsung saja mengambil dan membukanya perempuan cantik itu juga tidak malu-malunya makan makanan sembari matanya melihat ke arah televisi yang pastinya Aruna akan menikmati semuanya ini meskipun sebenarnya ia masih merasa sakit di bagian perutnya tetapi lama-kelamaan juga akan hilang sendiri.
"Masih sakit perutnya atau perlu aku kompres? menurut yang aku baca kompres dengan air hangat bisa meredakan rasa nyeri di perut."
Oh tidak tidak mungkin jika aku meminta Kak Nathan untuk mengompres perut aku yang memang benar aku sendiri sebenarnya kebiasaan jika seperti ini selalu dikompres perutnya oleh Mamah tetapi ini tidak mungkin tidak ada mama tidak ada namamu dan juga ada tidak Digo tidak mungkin juga aku meminta kepada Nathan.
"Tidak perlu kak lagi pula perutku sudah enak."
Kenapa? takut jika Aruna berbohong hingga laki-laki itu beranjak dari tempat duduknya dan menuju ke dapur ia sama sekali tidak percaya dengan ucapan Aruna yang ada malah dirinya semakin khawatir jika Aruna terus-menerus menyembunyikan rasa sakit di dalam perutnya ini.
Hingga beberapa menit kemudian Natal sudah keluar dengan membawa sebotol air hangatnya pastinya itu diperuntukkan oleh Aruna.
"Kak jangan, tidak perlu aku sudah nggak papa."
Tentu saja selain memang perut Aruna sudah baik-baik saja ia juga tidak mau terlalu dekat berinteraksi dengan Nathan terlebih lagi tidak ada mami Nina di rumah ini meskipun rumah ini tidak kosong masih ada asisten rumah tangga yang suka keluar masuk dapur dan ruang tengah tetapi nyatanya saat ini Aruna hanya berdua dengan Nathan.
Terlebih lagi Nathan saat ini yang sudah membawa sebotol air hangat dan pastinya itu nanti akan ditempelkan ke perut Aruna.
"Untuk kali ini kamu diam saja Dek apa kamu mau perut kamu sakit terus biarkan aku yang melakukannya anggap saja aku ini adalah kakak kandungmu sendiri jangan berpikir yang macam-macam."
Sontak saja ucapan dari Nathan itu membuat Aruna menoleh menatap ke arah laki-laki yang saat ini berada di sampingnya ia melihat dari sorot mata Nathan ketulusan yang dipancarkan di sana meskipun sebenarnya Aruna ragu-ragu untuk mengiyakan ucapan hari natal tetapi rasanya memang ia masih membutuhkan air hangat itu terlebih lagi memang ini hari pertama dirinya datang bulan dan pastinya akan sangat mengganggu sekali.
Aruna sudah biasa mengompres perutnya dengan air hangat yang pastinya itu akan membuat perutnya menjadi enak dan moodnya kembali membaik jika tidak maka sudah dipastikan besok pagi Aruna tidak bisa berangkat ke sekolah dengan kondisi perut yang masih seperti ini.
Mau tidak mau tanpa persetujuan lagi dari Aruna Nathan segera menyingkap sedikit kaos yang dipakai arona meskipun sebenarnya ia juga ragu untuk melakukannya takut khilaf tetapi ini semua demi Aruna demi perempuan yang dicintainya.
Nathan tidak mau jika sampai arona meringis menahan sakit seperti yang ia lihat tadi meskipun Nathan juga tidak bisa merasakannya tetapi ia bisa melihat jika perut Aruna memang benar-benar sakit dan perempuan cantik itu berusaha untuk menahannya.
"Kak...."
Merasa risih dan entahlah tetapi Aruna tidak bisa berbuat apa-apa laki-laki itu sudah sedikit membuka kaos senar dan memasukkan botol air hangat itu tentunya kedua pasang mata mereka bertemu mengisyaratkan sesuatu yang berbeda antara keduanya hingga arona yang sadar dengan status dan posisinya saat ini langsung saja memalingkan wajahnya ia takut jika lama-kelamaan memandang wajah Natan maka laki-laki itu akan kembali mencintainya meskipun Aruna yakin jika saat ini Nathan juga belum bisa melupakannya.
Iya bukan nya Aruna takut untuk jatuh cinta dengan Nathan karena sepertinya hatinya sudah tertutup untuk laki-laki lain sudah ada nama Digo di dalam hatinya tetapi yaitu tadi Aruna takut jika membuat Nathan malah berpikir yang tidak tidak berpikir jika dirinya memberikan kesempatan untuk mencintainya dan berharap banyak jika nanti dirinya akan meninggalkan Digo.
"Kamu berbaring saja dan sekali lagi jangan berpikir macam-macam anggap aku adalah kakak kamu sendiri yang mengobati adiknya."
Entah sihir apa yang diucapkan oleh Nathan hingga Aruna langsung saja berbaring sembari memainkan ponselnya ia memang sadari tadi Aruna tidak lepas dari ponselnya itu berharap jika saat-saat seperti ini juga menghubunginya tetapi sayang sekali orang yang diharapkan tidak kunjung juga memberikan kabar atau sekedar mengirimkan pesan.
Aruna juga sadar diri mungkin suaminya saat ini sedang sibuk dan tidak menyempatkan waktu untuk mengirim pesan kepadanya karena Aruna juga berpikir mungkin Digo sengaja untuk melakukannya supaya bisa menyelesaikan pekerjaan ini dengan cepat dan lebih cepat pulang ke Jakarta.
Hingga akhirnya perempuan cantik itu merasakan nyaman di perutnya bukan karena sentuhan atau perlakuan manis Nathan kepadanya tetapi memang efek dari air hangat itu bisa menyembuhkan kondisi perutnya saat ini dan tanpa menunggu lama Aruna malah memejamkan matanya sepertinya ayah terlena dengan perhatian manis dari Nathan tetapi tidak berpikir jika ia akan membalas cinta dari kakak iparnya itu.
Meskipun ia berusaha menahan gejolak yang ada di dalam dadanya tetapi ia berusaha untuk membuat Aruna nyaman ia tidak mungkin berbuat yang macam-macam dengan Aruna walaupun sebenarnya hatinya ingin sekali melakukan sesuatu yang pastinya akan membuat ia tidak akan pernah melupakannya tetapi Nathan adalah laki-laki yang baik ia tidak mungkin melakukan hal yang tidak tidak terhadap Aruna perempuan yang dicintainya.
Hingga akhirnya Nathan sudah melihat Aruna terlelap langsung saja mengeluarkan botol itu kembali ia duduk di samping Aruna membiarkan perempuan cantik itu mengistirahatkan mata dan juga tubuhnya tanpa mengganggu sedikitpun.
Satu jam telah berlalu namun nyatanya Aruna belum bangun juga tetapi Nathan juga tidak bisa terus-menerus menjaga arona di sini karena teman-teman yang sedari tadi sudah berkumpul ke cafe menghubungi dirinya dan meminta Nathan untuk segera datang ke sana karena ada hal penting yang akan dibicarakan.
Tidak mau mengusik Aruna atau membangunkan Aruna Nathan lebih memilih untuk membawa Aruna menuju ke kamarnya ia juga tidak mungkin meninggalkan perempuan cantik itu tertidur di sofa meskipun kondisi rumahnya sangat aman.
"Maaf Dek, jika aku menggendong Kamu mungkin nanti juga kamu sudah bangun kamu akan marah-marah padaku tetapi aku tidak bisa berbuat banyak Aku pun tidak bisa menemani kamu hingga kamu bangun dan juga tidak mungkin meninggalkan kamu tidur di sana."
Dengan senang hati dan tanpa ragu-ragu Nathan menggendong tubuh Aruna dengan begitu pelan laki-laki itu tidak mau juga nanti Aruna terbangun dan berteriak apalagi pemberontak yang membuat nanti Aruna bisa celaka sendiri.
Pelan-pelan Nathan menggendong tubuh Aruna hingga saat ini mereka berdua sudah berada di depan kamar yang pastinya Nathan membuka pintu kamar Aruna dan langsung saja menuju ke atas ranjang.
Aruna masih saja terlelap, entah Karena kelelahan atau merasa nyaman dengan apa yang dilakukan sehingga Aruna juga tidak membuka matanya ataupun tidak bergerak sama sekali.
Kini Nathan sudah merebahkan tubuh Aruna dengan sangat pelan tetapi laki-laki itu masih saja berada di atas tubuh Aruna dan entah mengapa setan-setan jahat meminta Natan untuk melakukan yang lebih dari ini terlebih lagi saat ini kondisinya sangat memungkinkan tidak ada Mami Nina maupun yang lainnya hingga membuat Nathan ingin mencoba melakukan apa yang belum pernah ia lakukan.
"Jangan Nathan jika kamu melakukan seperti ini bahkan Aruna akan membenci kamu seumur hidup, kamu baru saja mendapatkan simpati dan juga perhatian manis dari Aruna maka jangan sia-siakan kesempatan ini kalau kamu tidak mau Aruna nanti tidak akan pernah memaafkan kamu."
Ya posisinya saat ini sudah menguntungkan bagi Nathan tetapi ia masih dengan kewarasannya dan tidak melakukan apa yang setan perintah dan untuk dirinya.
Nathan pun menggeleng tetapi rasanya ia ingin sekali mengecup bibir manis Aruna hingga tanpa sadar wajahnya sudah mendekat ke arah wajah Aruna dan tinggal sedikit lagi bibirnya bisa menyatupi dengan bibir Aruna tetapi tiba-tiba...
__ADS_1