My Crazy Husband

My Crazy Husband
Aruna Gelisah


__ADS_3

Setelah menghabiskan malam Minggu yang sangat panas, pasangan muda-mudi yang sedang di mabuk cinta itu segera merapikan barang-barangnya untuk keluar dari kamar hotel ini.


Ya hari Minggu sore waktunya mereka pulang ke rumah karena sejak tadi pagi Mami Nina sudah meneleponnya, meminta keduanya untuk segera pulang karena ada yang ingin dibicarakan dengan mereka berdua, tentu saja pembicaraan itu tidak jauh-jauh mengenai perseteruan antara Digo dengan Nathan yang pastinya antara Mami Nina dan Papi Rendra sudah tahu betul bagaimana kedua putranya itu yang malahan membuat perjanjian dengan melakukan kegiatan konyol yang sudah mereka larang sebelumnya.


"Sudah semuanya sayank, jangan ada yang ketinggalan ya?"


Aruna mengganggukan kepalanya, lagian apa yang ketinggalan? sementara ia kemarin ke sini juga tidak membawa apa-apa, hanya membawa dirinya dan juga tas saja, bahkan tidak ada satu pakaian pun yang dibawa ke sini, pakaian semuanya baru yang sudah disiapkan oleh Digo tentunya.


Dengan cepat Digo meraih tangan Aruna, kemudian membawa istrinya itu untuk keluar dari kamar yang pastinya Digo tersenyum dengan perubahan Aruna saat ini, yang benar-benar tulus mencintainya dan Digo yakin untuk kedepannya, mereka tidak akan terpengaruh dengan apa yang diucapkan oleh laki-laki lain.


"Di, kira-kira apa yang akan dikatakan oleh Mami? aku penasaran banget dan aku takut kalau Mami marah karena kita tidak pulang semalam?"


Keduanya kini sudah berada di motor dengan tangan Aruna yang memeluk erat tubuh Digo dari belakang dan tanpa lam lama Digo juga mengusap lembut tangan Aruna itu.


"Aku juga tidak tahu, tidak usah dipikirkan lagi. Lagian mana mungkin Mami marah kalau kita tidak pulang? Kita kan hanya menginap sementara saja di hotel bukan seterusnya, dan juga kamu sama aku. Lagipula aku pergi tidak sendirian, dan juga kamu juga pergi sendirian."


Digo mencoba membuat Aruna tidak panik ataupun kepikiran, padahal ia sendiri sudah tahu apa yang akan dikatakan oleh kedua orangnya itu pasti tentang masalah dirinya dengan Nathan, namun Digo sendiri tidak takut bahkan ia juga tidak berpikir yang tidak tidak, sebagai seorang laki-laki ia memang harus mempertanggungkan jawabkan semuanya, tidak bisa lari seperti ini dan pastinya Digo juga paham jika Papi Rendra itu masih mengawasinya dan tentunya orang suruhan Papi Rendra yang sudah mengatakan semuanya ini tentang kejadian semalam.

__ADS_1


"Tapi aku takut Di, aku takut jika Mami dan Papi marah atau bagaimana? eh lagian kenapa kamu lewat sini? bukannya pulang dulu ke apartemen untuk menaruh motor kamu di sana?"


Digo malah membelokkan motornya untuk menuju ke rumah kedua orang tua nya, dan itu membuat Aruna bingung, pasalnya Digo menggunakan motor besarnya yang digunakan untuk balapan. Dan juga Aruna pasti tahu jika Digo sementara ini menyembunyikan motor nya itu di apartemen tetapi mengapa malam ini malah membawa motornya itu pulang ke rumah.


"Tidak papa sayank, lagi pula Papi juga sudah tahu kalau aku kemarin malam pergi menggunakan motor besar ini, lagi pula tidak perlu disembunyikan lagi motorku .. aku sudah kangen dengan motor besarku ini."


Kembali lagi Digo hanya menjawab dengan enteng dan juga tenang, ia bahkan tidak berpikir jika nanti Papi Rendra marah dengan perbuatannya, yang jelas saat ini Digo begitu senang karena cintanya terbalaskan oleh Aruna.


"Tapi Di,aku.."


"Tidak perlu khawatir sayank, dan kalau memang Papi marah, Aku yang akan menghadapinya, pasti Papi tidak mungkin memarin aku, apalagi ada kamu."


Kenapa juga Bang Nathan masih ada di sini? perjanjiannya siapa yang kalah akan pergi dari Indonesia, apa jangan-jangan dia mau mengingkarinya? benar-benar tidak gentle!!


Sedikit melirik mobil Nathan yang masih terparkir di garasi yang pastinya Dih masih ingat betul bagaimana Nathan mengucapkan itu kemarin, bahkan siapa yang kalah maka dia harus meninggalkan Indonesia tetapi mengapa Nathan masih berada di sini, tidak segera  pergi dari Indonesia.


"Ayo sayank kita masuk..."

__ADS_1


Kedatangan Digo dan Aruna memang sudah ditunggu-tunggu oleh Papi Rendra dan juga Mami Nina.


Masuk ke dalam rumah, tetapi sepi .. mungkin saja  semua orang yang ada di sini sedang beristirahat dan Digo juga segera menarik tangan Aruna untuk menuju ke atas, menuju ke kamarnya.


Hingga malam hari, waktunya makan malam ... Digo segera membawa istrinya turun ke bawah, tentu saja perasaan Aruna saat ini tidak baik-baik saja, ia takut jika terjadi sesuatu kepada Digo dan juga semuanya, mengingat semalam Digo dan Aruna tidak pulang ke rumah ini dan pastinya ia yakin sekali kedua mertuanya akan marah, terlebih lagi tentang balapan semalam.


Terlebih lagi Aruna juga paham jika Papi Rendra tidak pernah setuju kalau kedua anaknya melakukan balapan meskipun bukan balapan liar, tetapi sama saja itu akan mempertaruhkan nyawa dan Papi Rendra tidak mau kedua anaknya terluka.


"Senyum sayank, jangan berpikir yang bukan-bukan, jika nanti aku dimarahin Papi itu sudah biasa karena memang itu salah aku jadi kamu tidak perlu khawatir."


Lagi dan lagi Digo mencoba untuk membuat istrinya senyum dan tidak khawatir padahal Digo sama sekali tidak merasa takut ataupun khawatir dengan apa yang akan terjadi walaupun Digo sebenarnya tahu tentang apa yang akan dilakukan oleh Papi nya mengingat tadi pagi sudah meminta Digo untuk pulang ke rumah.


Acara makan malam berlangsung dengan khidmat, tidak ada suara apapun di sana, yang ada hanya dentuman sendok dan garpu, bahkan Papi Rendra tidak berkata apapun juga terhadap Digo maupun Nathan.


"Setelah ini, Papi mau bicara sama kalian berdua, Papi tunggu di ruang kerja Papi."


Papi Rendra sama sekali tidak tersenyum tetapi beliau menatap kedua putrinya itu hingga akhirnya setelah mengatakan itu, Papi Rendra langsung saja berdiri dari kursinya dan menuju ke ruang kerja seperti apa yang dikatakannya, beliau akan menunggu Digo dan Nathan setelah mereka menyelesaikan makan nya di sana.

__ADS_1


Sementara Aruna bergerak gelisah, ia pastinya menerka nerk tentang apa yang terjadi terhadap suaminya, tetapi Digo dengan cepat langsung saja menggenggam tangan Aruna dan berusaha untuk membuat Aruna tidak khawatir, Digo tau apa yang dikhawatirkan oleh istrinya itu.


Begitu juga dengan Nathan yang tanpa berekspresi, tetapi ia  tersenyum melihat ke arah Aruna, meskipun sejak peristiwa kemarin, Nathan belum berbicara 4 mata dengan Aruna dan Nathan juga belum bertanya tentang perasaan Aruna kepadanya yang selama 10 hari bersama, tentunya karena Nathan tidak ingin pergi dari Indonesia dengan perasaan yang tidak menentu meskipun Nathan harus merelakan dirinya untuk tidak melihat Aruna, tetapi ia harus mengetahui bagaimana perasaan Aruna itu supaya Nathan bisa tenang berada di sana nantinya.


__ADS_2