
Digo hanya tersenyum dan memang benar apa yang dikatakan oleh Aruna kalau sesuatu di bawah sana sudah mulai bergerak-gerak hanya dengan melihat wajah dan cantik Aruna yang menggemaskan jika seperti ini.
Andai saja ini tidak di sekolahan pastinya Digo sudah menarik Aruna dan membuat istrinya itu memanggil nama nya berulang-ulang mendengar nyanyian merdu dari bibir istrinya, tetapi sayang sekali ini masih di sekolah dan Digo mau tidak mau harus menahan sesuatu yang mungkin ia sendiri bingung bagaimana caranya meredakannya.
"Hahaha makanya jadi laki-laki itu jangan otaknya mesum melulu, baru saja merasakan sesuatu yang enak mau nambah lagi.."
Sindir Dino Yang tahu betul bagaimana ekspresi wajah Digo saat ini di mana memang dari kelima laki-laki tampan itu hanya Digo yang masih perjaka sebelum menikah dengan Aruna dan tentu saja Digo satu-satunya laki-laki yang baik yang tidak neko-neko tidak seperti dirinya dan ketiga sahabatnya yang lainnya.
Dan pastinya selain Dino, ketiga teman-temannya Digo itu tahu betul jika Digo baru saja merasakan sesuatu yang begitu mengenakkan yang membuat Digo kecanduan dan ingin lagi dan lagi.
"Sialan lo!!"
Aruna yang ditatap Dino dan ketiga laki laki tampan lainnya itu jadi malu sendiri pasalnya suaminya itu memang benar-benar mesum, tidak menyangka Digo yang seorang ketos, pintar, tampan dan juga digilai oleh semua perempuan bisa-bisanya berpikir yang tidak-tidak dan ingin menerkamnya saat ini.
Bukan membuat Aruna nyaman tetapi perempuan cantik itu malahan merasa tidak suka dengan tatapan Digo yang seperti ini terlebih lagi setelah Digo menjadi suaminya rasanya Digo semakin lebay dan juga bersikap posesif terhadapnya yang entahlah mungkin memang Digo benar-benar mencintainya dan tidak mau kehilangannya tetapi tidak sampai segitunya apalagi memperlakukan Ryan yang jelas jelas tidak ada hubungan apapun dengan Aruna.
"Nanti siang nongkrong, bagaimana? kita sudah lama tidak kumpul-kumpul bareng terlebih Lo, Di."
Ujar Dimas yang sudah merasakan teman-temannya itu tidak kompak lagi untuk nongkrong bukan karena mereka ada perpecahan atau perselisihan tetapi hanya saja Digo yang saat ini sudah beristri dan tidak mungkin dengan sembarangan untuk keluar malam-malam terlebih lagi nongkrong bersama dengan dirinya apalagi Digo yang mungkin sebentar lagi akan mengurusi bisnisnya demi untuk menghidupi Aruna dan anak-anaknya nantinya.
"Bagaimana sayank, kita pulang sekolah nongkrong ya sekalian makan siang? Kamu juga belum pernah ke tempat di mana Aku dan yang lainnya nongkrong, biar otak kamu itu tidak berpikir yang macam-macam tentang aku."
Sembari meminta izin Digo juga menyindir istrinya itu di mana ia paham betul dengan pikiran Aruna yang masih berpikir negatif tentangnya, di mana jika ia dan juga sahabat-sahabatnya itu nongkrong pastinya ke sebuah klub yang tentunya disana tidak hanya sekedar minum-minuman ringan tetapi juga mabuk-mabukan mungkin memang pikiran Aruna itu ada sedikit benarnya juga kalau digo dan yang lainnya sering keluar masuk klub malam tetapi untuk Digo sendiri, jangankan menyentuh perempuan menyentuh minuman beralkohol saja ia tidak pernah karena Digo hanya minum-minuman dingin yang non alkohol.
"Aku ngantuk Di, mau pulang saja nanti habis pulang sekolah, kamu kalau mau nongkrong, nongkrong saja tidak masalah buat aku."
Ya Aruna juga tidak mungkin mengekang suaminya, sebelum menikah dengan dirinya, Digo sudah lebih dulu mengenal keempat sahabatnya itu dan pastinya ia juga tidak mau membatasi pergaulan Digo dengan yang lainnya termasuk dengan dirinya nantinya, ia ingin pergi bersama teman-temannya pastinya Aruna ingin juga Digo tidak akan membatasinya dan memberi kebebasan buatnya meskipun ia tahu kebebasan yang dimiliki saat ini itu harus bertanggung jawab dan tidak melanggar ketentuan yang berlaku sebagai seorang istri.
"Mana bisa begitu, ayolah sayank sekalian makan siang nanti setelah makan siang kamu boleh tidur sepuasnya."
Tidur sepuasnya bagaimana? Nanti setelah sampai di rumah kamu juga akan memangsaku, bagaimana mungkin aku akan tidur, tapi lebih baik jika aku ikut saja daripada malahan Digo tidak jadi nongkrong dan ikut aku pulang yang pastinya dia akan lebih macam-macam sama aku....
Padahal tadi Aruna menolak tetapi sejenak berpikir jika ia tidak ikut nongkrong pastinya Digo juga akan pulang ke rumahnya dan itu akan membuat bahaya bagi Arun,a bukannya Aruna istirahat dengan cepat malahan ia akan semakin dibuat kelelahan dengan ulah Digo.
"Ya udah kalau kamu nggak mau ikut, jadi aku juga tidak mau ikut, aku akan temenin kamu di rumah dan kita sama-sama di dalam kamar saja."
"Iya iya aku ikut.."
Dengan cepat Aruna mengatakan kalau dirinya ikut untuk nongkrong nanti siang meskipun sebenarnya matanya sudah pedih dan bagian bawahnya masih terasa sakit tetapi daripada ia pulang ke rumah dan Diego mengikutinya di rumah dan berdiam diri di kamar mendingan Aruna ikut saja untuk nongkrong.
"Lo yank katanya nggak ikut, padahal aku sudah berencana loh hanya berduaan sama kamu di dalam kamar kenapa malahan ikut nongkrong jadinya?"
Sementara Digo menggeleng pelan, ia sendiri yang mendadak malah tersenyum karena Aruna tidak ingin nongkrong dan ingin di dalam kamar saja tiba-tiba mempunyai pikiran akan memangsa Aruna lagi malah ternyata istrinya itu mau diajakin nongkrong dan membuat otaknya yang sudah traveling ke mana-mana menjadi buyer seketika.
"Nggak ah enakan nongkrong sama yang lainnya lagi pula aku juga ingin melihat suasana di luar sana, ingin melihat tempat di mana kamu san yang lainnya nongkrong."
"Nah Bagus itu Run, sekali-sekali nanti Lo ikut saja ke klub malam biasanya Digo dan kita-kita nongki di sana tentu saja Lo tidak perlu khawatir di sana aman dan pastinya Digo tidak pernah minum minuman beralkohol hanya saja mungkin pemandangannya sedikit membuat Mata lo sakit karena melihat perempuan-perempuan yang seksi dan juga yang sedang memadu kasih di sana."
"Jangan sayank nanti mata kamu tercemar, untuk apa juga ikut ke sana dan kenapa lo malah meminta istri gue untuk ikut pergi ke kelab, mau lo lihatin bagaimana cara bercinta lo yang panas dengan perempuan-perempuan di sana?"
Sepertinya untuk masalah pergi ke klub, Digo tidak akan mengizinkan Aruna untuk ikut ke sana, ia pun juga akan membatasi diri dan tidak pergi ke sana, kalau memang tidak butuh butuh banget atau tidak ada sesuatu yang mendesak untuk dirinya ke sana dan sepertinya ke klub itu bukan tujuan utama untuk dirinya dan Aruna karena membuat mata Aruna nanti ternodai dengan adegan-adegan yang panas di dalam perut itu meskipun ia dan Aruna sendiri sudah merasakannya lebih dari itu.
"Dasar posesif, begitu saja sudah cemburu bagaimana nanti kalau melihat Aruna jalan dengan laki-laki lain? Atau melihat Aruna kencan dengan laki-laki lain bisa bunuh diri lo nanti Di!!"
"Jelas!! jika itu terjadi buat apa lagi gue hidup yang pastinya kalau sampai cinta gue nggak terbalas oleh Aruna, gue juga akan ngelakuin apa yang lo ucapkan!!"
"Lo ya benar-benar gila, sudah gila karena cinta... Dan Run, lo dengar sendiri bagaimana cinta Digo sama lo itu yang mana lo seharusnya bersyukur memiliki Digo yang begitu sangat mencintai lo dan gue sebagai sahabat Digo cuma berharap jika lo secepatnya akan membalas cinta Digo, kasihan sahabat gue jika terus-menerus mengemis cinta sama lo..."
Ucapan dari Dimas membuat Aruna sedikit tersentuh hatinya mana mungkin ia akan membiarkan anak orang bunuh diri gara-garanya tetapi untuk jatuh cinta kepada Digo dalam waktu cepat ini rasanya itu tidak mungkin.
Digo memang perfect, sebagai seorang laki-laki yang sempurna yang digilai banyak perempuan dan menjadi idaman dari setiap perempuan, tetapi tidak di mata Aruna mungkin karena kesan pertama bertemu dengan Digo yang Aruna sendiri tidak menyukai sifat dan juga sikapnya, terlebih lagi Digo yang sejak awal sudah menghukum Aruna, yang membuat Aruna berpikir yang berbeda dari keempat sahabatnya itu.
Terlebih lagi dengan perlakuan Digo yang sebelum menikah, yang menculik Aruna dan memperkosanya yang membuat Aruna berpikir jika Digo adalah laki-laki yang brengsek yang tidak bisa menjaganya, bahkan merusaknya meskipun Digo sendiri cinta mati sama dirinya.
Apakah Aruna harus jatuh cinta secepat itu kepada Digo dan tentu saja untuk melakukan itu, sepertinya Aruna harus berpikir berulang kali, mungkin memang saat ini dirinya sudah dinikahi oleh Digo dan sudah sah menjadi istri Digo, bahkan Aruna juga sudah merelakan tubuhnya untuk dimangsa Digo berulang ulang kali,nkarena memang itu adalah hak Digo sebagai suaminya namun jika ditanyakan bagaimana perasaan Aruna sama Digo saat ini, Aruna hanya bisa menjawab dengan entah, bagaimana dan entah apa yang dirasakan oleh Aruna yang jelas untuk jatuh cinta dengan Digo saat ini Aruna belum bisa hanya perlakuan baik dan juga sadar diri kalau dirinya sudah menikah dengan Digo.
"Jangan didengerin sayank dan aku percaya jika kamu nanti akan jatuh cinta sama aku."
Tidak ingin membuat istri nya berpikir yang tidak tidak tentang dirinya dengan apa yang baru saja diucapkan oleh Dimas, Digo mengambil tangan Aruna dan menggenggamnya dengan sangat erat, ia tahu jika memang benar saat ini Aruna belum mencintainya tetapi ia juga yakin cepat atau lambat Aruna pasti akan mencintainya dengan apa yang sudah ia lakukan dengan perhatian dan kasih sayang yang ia curahkan kepada Aruna dan tentu saja dengan kesetiaan yang ditunjukkan oleh Digo kalau ia memang benar-benar mencintai dan menyayangi Aruna bukan hanya sekedar nafsu untuk memiliki Aruna saja.
Aruna mengaggukan kepalanya meskipun ia berpikir lebih dalam lagi bagaimana kalau jika dirinya memang tidak bisa mencintai Digo, apa pernikahan ini akan dilanjutkan sampai nanti atau akan berhenti di tengah jalan ? Aruna sendiri memikirkan matang matang tentang itu, ia juga tidak ingin membuat anak orang kehilangan nyawanya hanya karena dirinya tetapi memaksa untuk jatuh cinta dengan Digo rasanya juga tidak mungkin.
Aku tidak tahu bagaimana menyikapi tentang ini semua, tetapi yang jelas semua aku serahkan kepada Tuhan di mana Aku hanya seorang manusia yang akan berusaha sekeras mungkin untuk bisa mempertahankan pernikahan ini aku juga tidak mau menikah berkali-kali dan membuat tubuhku dinikmati oleh laki-laki lain selain suamiku..
__ADS_1
Bel istirahat berbunyi itu tandanya semua murid-murid harus kembali ke kelas masing-masing, begitu juga dengan Digo dan Aruna mereka keluar dari kantin setelah Digo membayar semuanya.
Lagi dan lagi, tatapan teman-teman Digo yang ada di sana mengarah pada dirinya dan juga Aruna di mana setelah keluar dari kantin, Digo masih terus menggenggam tangan Aruna dengan sangat mesra dan tersenyum manis kepada istrinya itu, hingga mereka semua pada iri dengan apa yang dilakukan oleh Digo dan perlakuna perlakuan manis Digo kepada Aruna.
"Nanti tungguin aku di kelas aja, tidak usah ke mana-mana sayank."
Digo nengantarkan Aruna sampai ke kelasnya, ia juga mengusap lembut rambut Aruna kemudian mencium kening Aruna dengan sangat mesranya.
"Love you.."
Setelah mengatakan kalimat cinta yang begitu manis terdengar di telinga Aruna, laki-laki itu langsung keluar dari kelas Aruna, ia tidak peduli dengan apa yang dilihat oleh teman-teman Aruna bahkan kalau mereka membicarakan tentang dirinya dengan Aruna, Digo pun cuek saja.
Aruna kembali bisa bernafas dengan lega setelah digo keluar, yang mana hubungannya dengan Digo yang mendadak seperti ini membuat jantungnya tidak aman bukan karena ia sudah jatuh cinta dengan Digo tetapi mendapati tatapan-tatapan dari perempuan-perempuan yang begitu ngefans dengan suaminya itu membuat nyali Aruna ciut, pasalnya mereka semua modis modis dan juga cantik-cantik dengan penampilan yang seksi dan juga menarik tetapi mengapa Digo malah memilih dirinya bahkan Digo sama sekali tidak pernah menanggapi perempuan perempuan yang berulang kali mengatakan cinta bahkan memberikan hadiah-hadiah untuk Digo.
****
Kebetulan sekali jam terakhir kelas Digo adalah jam kosong dan Digo dengan teman-teman yang lainnya hanya mengerjakan soal-soal yang diberikan oleh gurunya dan setelah itu bisa pulang ke rumah masing-masing tetapi kali ini Digo tidak pulang ke rumah karena harus menunggu Aruna yang pintu kelasnya masih tertutup rapat.
Sementara keempat sahabatnya Digo sudah lebih dulu menuju ke cafe karena ia ingin merokok dan juga minum kopi terlebih dahulu baru nanti makan setelah menunggu Digo dan Aruna datang.
Setelah menunggu hampir lima belas menit akhirnya guru yang mengajar di kelas Aruna keluar juga dengan guru itu tersenyum manis kepada Digo yang saat ini sudah berdiri di depan kelas Aruna.
Bukan karena guru perempuan itu jatuh cinta dengan Digo tetapi beliau tahu jika Digo saat ini sedang menunggu kekasihnya yang mana memang sudah terdengar sampai ke ruangan guru jika Digo dan Aruna sudah menjalin hubungan sebagai seorang kekasih meskipun ada beberapa guru yang sudah tahu jika sebenarnya Digo dan Aruna sudah menikah tetapi mereka merahasiakannya.
"Gercep sekali kamu Di , menunggu Aruna di sini.. takut ya jika di Aruna di gondol oleh Ryan?"
Bu Ana,.guru bahasa Inggris itupun meledak ke arah Digo, bukan hanya sekedar kepo tetapi Bu Ana memang tahu semua tentang apa yang dialami oleh murid-muridnya terlebih lagi soal percintaan,.siapa yang disukai dan siapa yang tidak disukai bahkan pasangan-pasangan di sekolah ini Bu Ana sudah hafal semuanya.
"Iyalah Bu, pastinya saya takut jika Aruna digondol oleh Ryan atau laki-laki yang lainnya, Bu Ana tahu sendiri jika Aruna itu cantik banget dan tidak mungkin saya akan menyerahkan Aruna begitu saja dengan laki-laki lainnya."
"Anak muda zaman sekarang, tetapi tidak masalah asalkan kamu bisa menjaga diri dan menjaga Aruna, jangan berbuat yang di luar batas, oh ya satu lagi kalau bisa ajarin Aruna pelajaran supaya dia juga pintar sama kamu bukan maksud ibu untuk meremehkan kemampuan Aruna tetapi memang siapa tahu jika Aruna berhubungan dengan kamu maka dia juga ikut ketularan pintarnya."
"Kalau itu siap, saya akan membuat Aruna pintar dan tentunya mengubah semua hal buruk yang sudah Aruna lakukan selama ini."
"Baguslah kalau begitu dan saran ibu jangan kalian pacaran lama-lama, kalau bisa segera ikat Aruna dan nanti setelah lulus sekolah kamu bisa langsung menikah dengan Aruna."
Digo hanya tersenyum, ia memang tahu jika Bu Ana belum tahu tentang hubungannya yang sudah menjadi suami Aruna dan Digo tidak mempersalahkan itu, karena memang sudah menjadi keinginan Digo dan Aruna untuk merahasiakan pernikahannya, hanya ada beberapa guru dan kepala sekolah yang tahu kalau dirinya sudah menikah dengan Aruna.
"Kalau itu sudah saya pikirkan Bu bahkan keluarga saya dan keluarga Aruna juga saling mengenal."
Pacaran memang tidak dibenarkan tetapi Bu Ana juga tidak melarang asalkan mereka tahu batas-batasnya dan masih menjaga norma kesusilaan dan juga norma agama yang berlaku di negara ini.
Setelah Bu Ana pergi, Digo langsung saja masuk ke dalam kelas Aruna ia bahkan tidak peduli jika teman-teman Aruna belum keluar dari kelas bahkan Aruna sendiri masih mencatat beberapa soal yang ada di papan tulis.
"Masih lama?"
Dengan santainya Digo duduk di sebelah Aruna di mana tadi tempat duduknya itu ditempati oleh Bunga tetapi setelah Bunga melihat Digo masuk akhirnya gadis cantik itu kembali lagi ke tempat asalnya di mana memang di sebelah Aruna adalah tempat duduk Vina yang Vina hari ini tidak berangkat ke sekolah.
"Sebentar lagi Di, tapi kalau kamu mau pergi ke cafe, duluan saja nanti aku bisa pergi ke sana naik taksi."
Aruna memang tidak tahu jika keempat sahabatku sudah pergi ke cafe sedari tadi yang arona tahu saat ini adalah jika Digo sudah ditunggu oleh keempat sahabat nya di parkiran dan Aruna mendadak tidak enak karena ia sendiri masih menyalin beberapa soal yang ada di papan tulis.
"Tidak sayank, aku tungguin.
lagi pula Dino dan yang lainnya sudah berada di cafe sedari tadi."
Aruna menganggukan kepalanya, ia tidak akan banyak tanya lagi dan segera menulis soal-soal itu ia juga tidak mau ditatap oleh Digo seperti ini yang mana membuat Aruna salah tingkah dengan apa yang dilakukan oleh Digo.
"Kenapa istriku cantik sekali, aku baru tahu jika kamu memang semenarik ini sayank?"
Bukan hanya sekedar menggombal tepat tetapi itu adalah kenyataannya di mana ia melihat Aruna yang semakin hari terlihat semakin cantik saja apalagi dengan rambutnya yang tergerai seperti itu dengan menggunakan jepitan rambut yang membuat aura kecantikan Aruna semakin terpampang nyata saja.
Pantesan Ryam tidak berhenti untuk mendekati Aruna padahal Ryan tahu sendiri jika Aruna sudah berhubungan dengan dirinya tetapi laki-laki itu tidak akan menyerah.
"Tapi beruntung sekali aku sayang karena sudah mendapatkan dan menikahimu.. bahkan aku akan membuat kamu hamil supaya pernikahan kita sempurna dan tentu saja akan menjadi pelengkap kebahagiaan kita."
Bisik Digo di telinga Aruna yang membuat Aruna seketika menoleh ke arah Digo.
Cup
Tanpa sengaja bibir Digo mencium pipi Aruna yang mana membuat Aruna malu seketika karena perlakuan yang dilakukan oleh Digo itu, meskipun sebenarnya tadi Digo tidak sengaja mencium Aruna karena Aruna yang menoleh tiba-tiba tetapi itu semua dilihat oleh teman-teman Aruna yang membuat teman-teman Aruna menggelengkan kepalanya melihat kenyataan yang ada jika digo, ketua OSIS itu memang tergila-gila dengan Aruna
"Ih sudah aku bilang jangan nempel-nempel seperti ini, malu dilihatin yang lainnya, apa kamu tidak malu Di? kamu yang seorang ketua OSIS malah sukanya nyosor nyosor seperti ini?"
__ADS_1
"Siapa bilang aku yang nyosor, bukannya kamu yang deket deket sama aku hingga bibirku menyentuh pipimu, lagian kenapa malu yank..kita sudah sah melakukan itu dan pastinya biarkanlah mereka iri dengan hubungan kita yang pasti aku benar-benar mencintai kamu."
Kalau suaminya sudah berkata seperti itu, Aruna tidak bisa berkata apa-apa lagi, ia lebih baik diam daripada menanggapi ucapan Digo yang mana semakin ditanggapi maka Digo akan semakin berulah saja.
Sembari menunggu Aruna menyelesaikan pekerjaannya, Digo membantu Aruna untuk membereskan buku-bukunya dan masukkan ke dalam tas.
Laki-laki itu tersenyum seraya mendapati tas Aruna yang isinya hanya buku-buku saja tidak ada peralatan make up di dalamnya, berbeda dengan sang mantannya dulu yang menaruh beberapa peralatan make up di dalam tasbihkan Yang ada hanyalah make up saja tidak ada buku pelajaran sama sekali dan itu laki-laki membuat di gober untuk mendapatkan Aruna karena selain cantik, Aruna juga tidak neko-neko.
"Kenapa nggak ada bedak yank dan yang lainnya di dalam tas kamu sayank?"
Aneh, padahal tadi sempat memuji Aruna tetapi malah sekarang menanyakan keberadaan benda-benda itu.
"Untuk apa aku memilikinya? lagi pula aku sudah laku."
Jawaban Aruna membuat lagi lagi Digo mengembangkan senyumannya, laki-laki itu baru saja senang dengan ucapan Aruna yang sepertinya Aruna sudah menerima pernikahan ini.
"Oh ya ya untuk apa kamu memiliki semuanya itu, lagi pula mau kamu dandan atau tidak aku tetap mencintai kamu sayank dan awas saja jika kamu memilikinya, maka aku akan buang semua peralatan yang ada di dalam tas kamu itu!!"
Aruna mencebikkan bibirnya kesal buat apa suaminya itu mempertanyakan tentang keberadaan peralatan make up di tasnya kalaupun ada nantinya juga Digo akan membuangnya dan itu sangat wow sekali dipikiran Aruna, aneh tapi nyata suaminya memang benar-benar gila.
Aruna sudah selesai menulis soalnya, ia pun segera memasukkan buku terakhir itu ke dalam tas di mana keberadaan Digo masih berada di sampingnya.
Setelah semuanya masuk ke dalam tas, Digo dengan cepat membawa Aruna pergi dari kelasnya di mana memang masih banyak teman-teman arunyam yang berada di kelas bahkan di lobi pun masih banyak yang belum pulang dan itu membuat keberadaan Digo dan Aruna semakin terlihat di mata mereka.
"Atau kita naik taksi saja sayank, aku tidak tega melihat kamu kesusahan seperti itu, masih sakit kan bagian bawahnya?"
Digo melihat Aruna yang meringis ketika membonceng dirinya dan Digo baru saja jika seharusnya ia tidak membawa motor dan membawa mobil demi untuk kenyamanan Aruna tetapi Digo juga tidak tahu jika Aruna pagi ini akan masuk ke sekolah.
"Tidak perlu, tidak apa-apa lagian cafenya tidak jauh juga kan dari sekolahan ini?"
Memang rasanya sakit tetapi Aruna harus bisa menahannya, perempuan cantik itu tidak mau manja terlebih lagi hanya seperti ini saja Digo akan meninggalkan motornya dan memesan taksi untuk membuat dirinya tidak kesakitan.
"Kalau begitu pegangan sayank, aku takut nanti kamu jatuh."
"Pegangan?"
"Iya sayank, pegangan tidak apa-apa.. lagipula kita sebagai suami istri dan mereka tahunya kita juga pacaran."
Tidak mau berdebat lagi, Aruna dengan cepat memegang baju Digo, tentu saja ia tidak mau melingkarkan tangannya di perut di mana ini masih berada di sekolahan dan pastinya banyak pasang mata yang melihatnya.
"Pegangan nya seperti ini sayank, bukan seperti itu!"
Dengan cepat digo meraih tangan Aruna dan membuat Aruna langsung memeluk tubuh Digo. Laki-laki itu begitu nekat sementara masih di sekolah di mana banyak pasang mata yang melihatnya.
"Di sekolah Di, jangan macam-macam?"
"Aku tidak macam-macam hanya saja nanti kalau kamu jatuh jika berpegangan tidak benar seperti itu."
Lagi-lagi Digo tidak ingin dibantah ketika tangan Aruna mulai mengendur dan Digo dengan cepat menarik tangan Aruna untuk memeluk tubuhnya dan kesempatan ini digunakan Digo untuk memperlambat laju motornya karena ia juga tidak mau jika cepat-cepat sampai ke dalam cafe.
"Kenapa jalanan lambat sekali, Aku sudah lapar Di."
Sepertinya sendiri tadi tidak sampai-sampai padahal cafe yang ditunjuk itu letaknya tidak jauh dari sekolahan mungkin hanya 10 menit saja sudah sampai tetapi ini sudah lima belas menit bahkan Digo masih tetap melajukan motornya, entah apa yang dilakukan oleh suaminya itu yang membuat Aruna menjadi jengkel dan ingin segera turun dari motor.
"Sebentar sayank, pelan-pelan asalkan selamat. Kamu sepertinya tidak sabaran banget, ingim ketemu siapa sih di cafe?"
Mendadak Digo curiga dengan apa yang diucapkan oleh istrinya itu di mana Aruna buru-buru ingin segera sampai di cafe dan bertemu dengan seseorang, tidak tahu saja jika Aruna sudah lelah untuk duduk dengan model seperti ini yang membuat bagian bawahnya semakin sakit.
"Bisa nggak sih pikiran kamu itu jangan negatif melulu? kamu tidak merasakan apa yang aku rasakan tapi malah berpikir yang tidak tidak."
"Bukannya begitu tapi dari tadi kamu rewel sekali ingin segera sampai di cafe."
"Terserah, yang jelas aku lapar bukan ingin bertemu dengan seseorang."
Digo tidak menanggapi ucapan dari istrinya, ia malah memegang lembut tangan Aruna yang masih menempel di perut nya itu dengan sesekali mengambil tangan Aruna dan menciumnya.
Hingga akhirnya Digo sudah sampai di cafe di mana Aruna menggelengkan kepalanya pelan karena ia tidak menyangka jika kafe yang sering dibuat nongkrong dengan teman-temannya itu adalah cafe yang juga sering ia kunjungi bersama Vina dan tentu saja ia kenal betul siapa pemilik kafe itu.
Tetapi kenapa Aruna baru menyadarinya padahal sedari tadi pas Digo mengajaknya, Digo sudah menyebut nama kafe itu namun karena pikiran Aruna yang entah kemana membuat ia tidak sadar dengan cafe yang sudah ada di depan matanya ini dan kenapa juga setiap Aruna nongkrong di cafe itu bersama dengan Vina, Aruna juga tidak bertemu dengan Digo dan keempat sahabatnya....
Mampus !! semoga tidak bertemu dengan kak Ivan di dalam!!
Aruna berdoa jika ia tidak bertemu dengan laki-laki yang merupakan pemilik kafe itu di mana laki-laki itu suka ikut gabung bersama dengan dirinya dan juga Vina ketika nongkrong di sini dan juga menurut pengamatan dari Vina, Ivan itu menaruh rasa padanya.
__ADS_1
"Ayo sayang semua sudah ada di dalam."