
"Breng...."
Ups!!
Aruna langsung menutup mulutnya sendiri iya tahu apa yang masih menjadi alasan Digo untuk mencium bibirnya karena tidak lain dan tidak bukan karena mengumpat ke arah laki-laki itu di mana pastinya diiku tidak suka jika dirinya berkata-kata kasar.
"Kamu sudah aku anggap sebagai istriku jadi sudah sewajarnya aku mengingatkan kamu, tidak baik berlaku tidak sopan kepada suami kamu, Run."
Aruna melengos begitu saja manakala Digo saat ini berada di depannya dan sedang memandang wajah cantik Aruna, tanpa Digo merasa malu kepada teman-temannya yang masih berada di depan toilet.
"Pulang sekolah jalan bareng aku ya, kita belum pernah jalan berdua"
"Gue nggak mau!"
Tolak Aruna tegas yang mana ia memang tidak mau pergi dengan Digo, selain karena keadaan dirinya yang masih lemas dan juga perih di bagian bawah, ia juga tidak mungkin jalan berdua dengan laki-laki itu yang mana saat ini Aruna benci dengan Digo dan bagaimana nanti jika Nathan tiba-tiba melihat dirinya jalan berdua dengan adik kandungnya sendiri pasti ada beberapa pertanyaan yang akan ditanyakan oleh Nathan dan juga mengingat Aruna juga belum menjelaskan apapun kepada Nathan, padahal lusa adalah hari dimana acara pertunangan dirinya dengan Nathan.
"Kalau kamu nggak mau berarti nanti malam aku akan datang ke rumah kamu dan menjelaskan semua, aku tahu kamu belum menjelaskan itu kepada Nathan dan sekalian saja aku akan meminta Bang Nathan untuk datang ke rumah kamu dan juga jangan salahkan aku jika aku ke sana sekaligus membawa penghulu dan langsung nikahin kamu, tidak peduli kalau kita hanya ijab qobul saja dan resepsinya nanti aku tidak masalah yang penting kamu sudah sah sebagai istriku. Dan kamu hanya milikku Aruna."
Rasanya tidak mungkin jika ia menolak ajakan Digo nanti siang tetapi Aruna juga ragu bagaimana nanti jika Nathan tiba-tiba menjemputnya terlebih lagi beberapa saat yang lalu Aruna membuka ponselnya dan mendapati banyak panggilan tak terjawab dan juga pesan dari Nathan dan tentunya Nathan menanyakan kenapa Aruna bagi-bagi sekali sudah berangkat ke sekolah dan seperti biasa Nathan juga mengatakan kalau nanti siang ingin menjemputnya meskipun Aruna sendiri sudah menolaknya tetapi ia yakin jika Nathan tetap saja menjemputnya apalagi dua hari kemarin Nathan tidak bertemu dengan dirinya pastinya laki-laki itu akan semakin nekat untuk menemuinya.
"Gue tidak mau dan sebaiknya lo menjauh dariku Di."
"Menjauh darimu? apa mungkin? Setelah apa yang sudah kita lakukan kemarin, kamu minta aku untuk menjauh darimu... itu tidak bisa karena kamu adalah milikku dan tubuhmu sudah menjadi candu bagiku. Aku mungkin saja berbuat nekat di sini dengan memiliki kamu lagi."
Digo sengaja membuat Aruna takut, laki-laki itu memandangi tubuh Aruna dari atas ke bawah dengan matanya ia mengisyaratkan jika dirinya menginginkan sesuatu.
__ADS_1
Memang, meskipun hanya sebuah gertakan saja dan tidak mungkin Digo melakukannya di sini tetapi ada rasa tersendiri di dalam hati Digo terutama di bagian bawahnya yang tentunya sudah bereaksi ketika melihat wajah cantik Aruna dalam jarak yang sangat dekat.
"Lo memang gila dan sangat-sangat gila!!"
"Aku tidak peduli jika aku memang harus gila karena kamu, tetapi ini aku sungguh-sungguh dan jika kamu tidak mau jalan sama aku setelah pulang sekolah berarti nanti malam siap-siap saja aku akan datang ke rumah kamu dan nikahin kamu."
Aruna tentu saja tidak bisa menjawab apa-apa, ia bingung dengan apa yang akan terjadi nantinya hingga pada akhirnya perempuan cantik itu dengan cepat melepaskan tangan Digo yang mana dari tadi Digo menggenggam tangannya dengan sangat erat.
Bahkan Aruna tidak jadi mengganti pakaiannya meskipun sudah ia persiapkan.
Dengan cepat Aruna keluar dari toilet itu karena ia berhasil melepaskan tangannya dari tangan Digo tetapi laki-laki laki-laki itu menarik tangan Aruna kembali, namun kali ini Digo tidak memberikan apapun juga kepada Aruna termasuk mencium dan memeluk Aruna setiap kali ia lakukan.
"Tunggu sebentar."
Digo, melepaskan tangan Aruna lalu mengeluarkan kartu sakti yang ada di dompet itu.
"Jangan coba-coba kabur dari sini kalau tidak, aku akan berbuat nekat dan mengulang kembali malam itu!!"
Ancam Digo kepada Aruna ketika melihat Aruna yang berbalik badan dan ingin meninggalkan dirinya.
Seketika saja Aruna tidak jadi membalikkan badannya dan juga tidak jadi pergi dari ruangan itu, tidak mungkin juga di sini ia akan menyerahkan tubuhnya kembali apalagi dengan Digo meskipun Digo adalah laki-laki pertama yang menyentuhnya namun bagaimana mungkin jika Digo akan melakukan hal nekat di sini tetapi jika dipikir-pikir Digo memang orangnya nekat, bisa saja laki-laki itu mengulang kembali apa yang sudah terjadi kemarin terlebih lagi di depan ada keempat sahabat yang Digo yang pastinya senantiasa untuk membantu laki-laki itu.
Tidak bisa berbuat banyak Aruna kembali lagi dan saat ini hanya berdiam diri dengan matanya melihat ke arah Digo yang sedang mengeluarkan sesuatu dari dompetnya.
"Untuk kamu, ambillah."
__ADS_1
Dikeluarkan satu buah kartu sakti yang tentunya kartu itu tidak terbatas bisa digunakan untuk apapun juga dengan limit yang tidak ada batasnya dan pastinya kartu itu menjadi idaman para wanita-wanita di luar sana.
"Gue nggak mau, gue bukan perempuan murahan yang dibeli dengan uang."
Ya Aruna berpikir negatif jika Digo sengaja membeli sesuatu yang berharga darinya dengan sebuah kartu dan pastinya ia tidak mau menerima itu, di samping Aruna juga tidak suka dengan apa yang dilakukan oleh Digo dan membenci laki-laki itu Aruna sendiri juga tidak kekurangan uang, orang tuanya masih bisa memberikan nya uang jajan dan juga shopping.
"Jangan berpikir negatif tentang aku, uang ini bukan membeli sesuatu yang sudah aku ambil tetapi ini adalah kewajiban aku kepada kamu karena kamu adalah perempuan satu satunya dan perempuan pertama yang sudah aku tiduri dan karena itu aku menganggap kamu sebagai istriku dan semua tanggung jawab sekarang ada padaku jadi terimalah kartu ini, bisa kamu gunakan semau kamu, mau jajan, shopping atau membeli apapun juga, aku tidak masalah."
Aruna menggelengkan kepalanya pelan ucapan dari Digo membuatnya sedikit terjebak, mana mungkin ada seorang laki laki yang baru saja menidurinya langsung menganggapnya sebagai seorang istri dan diberikan satu buah kartu tanpa batas yang pastinya itu mustahil dan tidak mungkin sekali.
"Simpan saja, gue nggak mau menerima pemberian dari Lo, lagi pula gue masih punya uang jajan dan untuk memberi keperluan lain dan juga gue bukan istri Lo."
Aruna mendorong kembali kartu itu, ia sama sekali tidak mau menerima apapun dari Digo, bisa-bisa nanti salah mengartikan jika ia mau menerima sesuatu darinya, lagi pula antara dirinya dengan Digo tidak mempunyai status hubungan apa-apa, jadi Aruna tidak berhak untuk menerimanya.
"Ambillah Run, aku sudah mengambil apa yang paling berharga untuk kamu dan saat itu juga aku bertekad jika semua kebutuhan kamu, aku yang akan penuhi."
Sama seperti Aruna, Digo juga bersikseras untuk memberikan kartu itu kepada Aruna, ia adalah laki-laki yang gentle yang mau bertanggung jawab dengan sesuatu yang sudah dimilikinya, apalagi ia sudah mengambil sesuatu yang paling berharga dari seorang perempuan.
"Gue nggak mau!!"
Dirasa tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, Aruna mendorong tubuh Digo, ia tidak mau terjebak lagi di dalam ruangan ini di mana hanya ada dirinya dan juga Digo saja sehingga Aruna memutuskan untuk cepat keluar dari ruangan ini meskipun ia tahu di depan masih ada keempat sahabatnya.
"Eits mau ke mana?"
Cegat keempat sahabat Digo yang tidak ingin Aruna keluar dari tempat itu.
__ADS_1