My Crazy Husband

My Crazy Husband
Cemburu Lagi


__ADS_3

"Hai, Dek.. bagaimana kabarmu lama kita tidak bertemu?"


Sepertinya Ivan tidak memperdulikan apa yang diucapkan oleh Diego kalau Aruna saat ini berstatus sebagai tunangan Digo dan juga Ivan tidak memperdulikan arti tatapan Digo kepadanya.


Yang jelas rasa kangen Ivan selamat berhari-hari tidak bertemu dengan Aruna membuat keberanian laki-laki itu untuk menanyakan kabar dengan Aruna, dan juga Aruna sebagai tunangan dari Digo saja belum menikah yang pastinya sebelum janur kuning melengkung semuanya bisa ditikung.


"Aku baik kak,.maaf sekali beberapa hari ini sibuk jadi tidak bisa nongkrong."


"Sayang sekali padahal kemarin acaranya seru sekali ada band kesukaan kamu manggung di sini, lalu di mana Vina berada? biasanya dia selalu sama kamu dek."


Aruna menggelengkan kepalanya pelan di dalam hati ia bingung sendiri bagaimana menanggapi Ivan yang sedari tadi mengajaknya ngobrol, sementara ia melihat ke arah suaminya dengan tatapan yang membunuh, sepertinya digo tidak suka jika dirinya ngobrol dengan laki-laki lain.


Namun Aruna nya juga tidak enak jika mengacuhkan Ivan begitu saja yang mana Ivan menanyakan sesuatu yang pastinya bersifat umum bukan tentang perasaannya ataupun bagaimana.


"Vina nggak masuk kak, katanya lagi keluar kota."


Dengan sedikit canggung Aruna mengatakan itu dan sepertinya Ivan paham betul dengan posisi Aruna saat ini yang mana Aruna bukan seperti Aruna yang biasanya yang biasanya cuek dan ngobrol apa adanya tetapi saat ini sepertinya Aruna sedang memendam sesuatu yang pastinya itu tidak seperti yang Ivan rasakan sepertinya Aruna ketakutan berada bersama dengan Digo atau memang takut karena tunangannya itu bersikap posesif.


Sedangkan Digo yang sedari tadi tidak melepaskan genggaman tangannya terus saja memperhatikan ekspresi wajah Aruna dan Ivan, berulang kali ia menepis perasaan jika dirinya cemburu melihat berbagai macam pertanyaan yang Ivan tanyakan kepada istrinya itu dan laki-laki di melihat bagaimana tatapan mata ikan ke arah istrinya.


Tetapi sayang sekali semakin lama Digo melihat nya, maka ia semakin terbakar cemburu saja, terlebih saat ini Ivan ngobrol-ngobrol dengan begitu akrabnya dengan Aruna dan itu membuat kesabaran digo menipis.


"Makanannya sudah yank? kalau sudah kita pulang ya sepertinya kamu lelah dan butuh istirahat."


Ujar Digo yang tidak mau berada di sini lama-lama karena Ivan sudah memberikan tanda-tanda perhatian kepada istrinya itu dan kalau berada di sini lama maka Digo akan terbakar habis cemburunya dan ia takut jika tidak bisa mengontrol emosinya.


"Loh kenapa pulang? bukankah kalian baru saja sampai di sini? biasanya juga ngobrol-ngobrol sampai nanti, tenang saja santai-santai di sini dulu, tidak masalah."


Sepertinya Ivan tidak rela jika Aruna pergi dari aplikasi ini di mana ia sudah merindukan perempuan cantik itu tetapi ia juga tahu saat ini Aruna sudah menjadi tunangan dari Digo dan entah itu beneran atau tidak namun yang jelas melihat ekspresi Digo yang cemburu dengan nya dan juga sikap Digo yang posesif menunjukkan jika memang Digo benar-benar serius dengan Aruna namun Ivan tidak akan menyerah, hanya tunangan saja belum menikah.


Dan pastinya Ivan tidak akan membiarkan Aruna pergi dari sini secepatnya ia masih kangen dengan Aruna dan masih ingin memandang wajah cantik Aruna.


"Aduh sayang sekali Bang, PR kita masih banyak dan besok harus dikumpulin, lagi pula Aruna capek karena tadi habis olahraga jadinya gue mau nganterin Aruna pulang."


Enak saja ingin Aruna lama-lama di sini emangnya aku nggak tahu kalau kamu itu hanya modus saja dan ingin memandangi wajah cantik istriku, memang saat ini aku belum bisa mengakui kalau Aruna adalah istriku itupun karena permintaan Aruna jadi hanya bisa mengakui Aruna sebagai tunanganku namun tidak masalah asalkan kamu tahu ya Bang Kalau tidak akan ada yang pernah mencoba mengambil Aruna dari hidupku.


Meskipun Digo berkata manis dan baik kepada Ivan tetapi di dalam hatinya ia ingin sekali mengobati kesal laki-laki yang saat ini terus memandang istrinya dan ingin mengatakan sejujurnya kalau Aruna itu bukan hanya sekedar tunangannya saja tetapi sudah menjadi istrinya bahkan Digo sudah memiliki Aruna seutuhnya.


"Ya sudah aku ke toilet dulu ya, Dpengen pipis sebentar."


Aruna mengiyakan permintaan suaminya meskipun sebenarnya ia enggan untuk pulang, bukan karena apa-apa tetapi kalau sampai di rumah pastinya suaminya akan memberikan hukuman padanya dan itu sudah terlihat jelas di wajah itu yang sepertinya membutuhkan pengakuan tentang dirinya dan juga Ivan.


Namun jika kelamaan di sini itu juga tidak baik , Aruna melihat ekspresi Digo yang menakutkan bahkan seperti ingin menelan hidup-hidup dirinya dan juga ingin berangkat kepada Ivan dan Aruna tidak mau itu hingga akhirnya memutuskan untuk menyudahi saja acara siang ini.


"Apa perlu aku antar sayank?"


Mungkin Digo sengaja memberikan perhatian penuh kepada Aruna meskipun sebenarnya ia memang sangat begitu cinta dengan Aruna tetapi sepertinya itu terlalu lebay, ke toilet saja tidak perlu diantar tetapi Digo malah menawarkan bantuannya.


"Tidak usah Di, aku hanya Sebentar saja."


Tentu saja Aruna tidak mau, lagi pula hanya ke toilet saja bukan ke mana-mana masak harus dianterin sama Digo, lagi pula ini masih siang bolong bukan malam hari yang pastinya mencekam dan menakutkan.


"Oke kalau begitu aku bayar dulu."


Beranjak dari tempat duduknya setelah Aruna pergi ke toilet Digo juga menemui kasir untuk membayar semua makanan dan minuman yang dipesannya.


Kini tinggallah Ivan dengan keempat sahabat Digo yang saling pandang, sepertinya Ivan ada sesuatu yang ingin ditanyakan oleh keempat sahabatnya Digo.


"Apa betul Digo pacaran sama Aruna?"


"Memangnya kenapa Bang? dan seperti yang Abang dengar sendiri tadi kan sama Digo jika mereka pacaran bahkan sudah bertunangan mungkin saja sebentar lagi mereka akan menikah."


Mendengar jawaban dari Dino, Ivan menggelengkan kepalanya mana mungkin perempuan yang diincarnya itu akan segera menikah dan juga Aruna masih kecil, masih sekolah begitu juga dengan Digo dan pastinya itu tidak akan mungkin terjadi pernikahan, terlebih lagi Digo mempunyai apa sehingga ia bisa menikahi arona.


Oke Digo memang anak konglomerat pengusaha sukses di kota ini tetapi apa dengan mengandalkan kekayaan orang tuanya saja itu tidak akan menghidupi Aruna nanti sedangkan Ivan sendiri yang statusnya masih mahasiswa sekaligus mempunyai kafe ini tidak dilirik sama sekali oleh Aruna bahkan ia ingin melamar Aruna saja masih belum begitu berani karena semuanya butuh proses, semuanya butuh waktu dan juga uang yang tidak gampang dicari meskipun sebenarnya keluarga Ivan adalah keluarga yang kaya raya tetapi menurut pemikiran Ivan, ia harus sukses dan bisa menghidupi istri dan anaknya nanti.


Ya Ivan melihat Digo adalah sebagai seorang pelajar saja yang uang jajannya masih meminta kepada kedua orang tuanya yang kaya raya, ia tidak tahu saja jika dibalik semuanya itu Digo sudah mempunyai restoran dan perusahaan meskipun ia tidak menjalani nya sendiri namun semua uangnya mengalir di tabungan Digo bahkan setelah ini juga akan memegang kendali terhadap apa yang sudah ia miliki.


"Bang Ivan tidak percaya atau mungkin Bang Ivan cemburu?"


Jelas saja dinyo sedari tadi melihat ekspresi wajah Ivan yang murung seketika manakala ia mengatakan jika Aruna dan Digo akan segera menikah padahal kenyataan nya memang mereka sudah menikah dan dari situ Dino tahu jika Ivan mempunyai perasaan sama Aruna.


"Dua-duanya, Aku tidak percaya jika mereka akan segera menikah dan pastinya itu tidak mungkin terjadi."


"Lalu Bang Ivan cemburu atau jangan jangan Bang Ivan suka sama Aruna?"


"Tidak mungkin jika tidak ada laki-laki yang tidak suka sama Aruna, kalian pasti lihat sendiri bagaimana cantik dan mempesonanya Aruna."


"Aruna memang cantik dan mempesona, bagiku Aruna adalah milik Digo Jadi kami tidak punya niatan ataupun kesempatan untuk suka dengan Aruna meskipun yang dikatakan Bang Ivan itu adalah benar tapi kita tahu diri, kita juga menjaga persahabatan bukan asal suka saja terhadap perempuan yang sudah dipilih oleh sahabat kita. Asalkan Bang Ivan tahu lebih baik Bang Ivan urungkan saja niat dan hapus perasaan Bang Ivan ntuk Aruna karena sampai kapanpun Aruna tidak akan bisa menjadi milik Bang Ivan, Aruna sudah menjadi milik Digo dan pastinya tidak ada orang yang bisa merebut Aruna dari Digo."


Kali ini Dimas membuka suaranya, ia memang tidak suka jika ada seseorang yang akan merebut pasangannya bukan berarti Digo adalah sahabat yang lalu membelanya namun dengan semua orang Dimas seperti itu bahkan ia memperingatkan Ivan untuk tidak mendekati arona bukan karena Dimas tidak suka dengan Ivan tetapi percuma saja yang ada nanti Ivan malah sakit hati.


"Gue tahu tapi selama janur kuning belum melengkung berarti masih bisa ditikung dan kalian tenang saja, selama Aruna mau jalan sama gue terus juga tidak masalah kan.."


Ya begitulah Ivan meskipun kelihatannya di luar baik tetapi di dalam hatinya siapa orang yang tahu. Bukannya Ivan adalah laki-laki yang jahat ataupun gimana tetapi karena ia sudah memendam rasa kepada Aruna hingga membuat ia tidak akan melepaskan Aruna meskipun sekarang tahu bahwa Aruna sudah menjadi tunangan Digo ia hanya sebatas tunangan saja belum menikah jadi masih bebas untuk ditikung.


Ivan meninggalkan keempat sahabat Digo, yang sepertinya ngobrol dan keempat laki laki itu sama saja. Yang pastinya mereka semua membela Digo dengan masalah ini toh juga Ivan tidak berniat untuk ngobrol-ngobrol dengan mereka ia hanya mendekati meja Digo dan keempat sahabatnya itu lantaran karena ada Aruna di sana meskipun ia sudah terbiasa untuk ngobrol-ngobrol dengan kelima lelaki tampan itu namun kali ini fokus utamanya adalah ke Aruna.


Melihat Aruna yang tidak kunjung keluar dari toilet Ivan memberikan diri untuk ke dalam tentu saja ia ingin menemui Aruna dan menanyakan tentang keberadaannya meskipun ia tadi sempat melihat angkutan kepala dari Aruna ketika Digo mengatakan jika Aruna adalah calon istrinya sepertinya Ivan belum percaya sepenuhnya jika Aruna memang benar-benar sudah berhubungan dengan Digo.


Hingga kini Ivan sudah berdiri di depan toilet dan tentu saja menunggu Aruna keluar dari sana.


"Bisa bicara sebentar, dek?"


Aruna kaget ketika ia melihat Ivan yang sudah berdiri di depan pintu dan mengagetkan nya. Aruna juga melihat ke arah kanan dan ke kiri memastikan jika tidak ada Digo yang menyusulnya ataupun yang lainnya yang nantinya akan membuat huru-hara di sini.


"Di sini saja tidak lama kok, Aku hanya ingin menanyakan sesuatu yang penting."


Sepertinya Ivan tahu dengan ekspresi wajah Aruna saat ini yang mana Ivan tau jika Aruna cemas dan khawatir takut kalau Digo menyusulnya atau melihatnya berdua di sini.


"Tapi aku tidak punya banyak waktu kak pastinya Digo sudah menungguku di luar."

__ADS_1


Selain panik Aruna juga khawatir ia takut bagaimana sifat suaminya itu yang jelas kalau sampai Digo tau ia berbicara dengan Ivan disini pastinya Digo akan menghukumnya dan marah-marah padanya.


"Oke tidak masalah Aku hanya ingin bertanya, apa memang benar kamu adalah tunangan dari Digo?"


Aruna kembali menganggukkan kepalanya meskipun sebenarnya ia adalah istri serah dari Digo tetapi ia tidak ingin semua tahu kalau ia sudah menikah dan mengakui kalau dia memang tunangannya.


"Aku tidak percaya, bagaimana bisa kamu yang tidak pernah pacaran tau-tau langsung bertunangan dengan Digo, apa kamu dipaksa oleh Digo?"


"Tidak."


Jawab Aruna singkat yang mana ia memang sebenarnya tidak ingin terlalu membuka rahasianya dengan Digo.


"Dijodohkan?"


Sepertinya Ivan belum puas dengan apa jawaban dari arona hingga memuat lagi lagi  Ivan memberikan pertanyaan lagi.


"Tidak juga, aku dan Digo sama-sama mencintai dan kita memutuskan untuk bertunangan."


"Tidak mungkin!!"


Lagi-lagi Ivan tidak percaya mendengar jawaban dari Aruna padahal apa yang dipikirkan oleh Ivan itu adalah benar, Aruna tidak menjawab sesuai dengan hatinya tetapi ini lebih baik daripada Aruna menjawab jika ia terpaksa menikah dengan Digo atau terpaksa bertunangan dengan Digo dan nanti akan membuat semuanya jadi ruwet dan Aruna tidak mau lebih lagi lebih baik memang jika Ivan melupakannya dan melupakan perasaannya padanya karena tidak mungkin Aruna bersama dengan Ivan, toh juga Aruna sama sekali tidak ada perasaan dengan Ivan.


"Tidak mungkin Aruna, tidak mungkin kamu mencintai laki-laki lain sementara aku mencintai kamu."


Ya mungkin memang sudah terlambat tetapi daripada Ivan terus-menerus memendam perasaannya kepada Aruna lebih baik ia utarakan siapa tahu dengan ia mengutarakan rasa cintanya kepada Aruna Aruna akan memutuskan mempunyai dengan dikit dan para ahli padanya.


"Jangan memberikan harapan palsu kepada tunangan orang yang pastinya Aruna tidak akan membalas apa yang Bang Ivan katakan."


Digo beberapa menit yang lalu setelah membayar, ia kembali lagi ke kursinya di mana ia menunggu Aruna namun setelah ditunggu selama 10 menit Aruna tidak kunjung keluar dan Digo menjadi khawatir sekaligus penasaran apa yang terjadi dengan istrinya itu.


Hingga laki-laki itu memutuskan untuk menyusul Aruna ke toilet tetapi sampai di sana ia melihat Ivan dengan Aruna yang ngobrol-ngobrol dan pastinya juga ingin tahu apa yang dibicarakan mereka berdua.


Digo mendengar semua yang diucapkan oleh Aruna kalau menjalin hubungan itu bukan karena paksaan dan karena suka sama suka dan Digo tersenyum mendengarkan itu meskipun kenyataannya tidak namun ia begitu lega karena di depan laki-laki yang mencintai Aruna, Aruna bisa bersikap seperti itu setidaknya karena sudah membentengi dirinya untuk tidak membiarkan laki-laki lain menghancurkan rumah tangganya.


Sebenarnya Digo sudah ingin menghampiri Aruna sedari tadi tetapi ia urungkan niatnya karena ia ingin mendengar lebih lanjut lagi apa yang dibicarakan oleh Ivan.


Hingga akhirnya Ivan yang menyatakan cinta kepada istrinya dan di saat itulah Digo kembali meradang ia cemburu dan juga emosi mendengar laki-laki lain menyadarkan cinta kepada istrinya.


"Sayank, aku antarkan pulang sepertinya kamu sudah lelah sekali dan sudah selesaikan pipisnya?"


Tidak menanggapi lagi tentang Ivan, ia bahkan setelah mengatakan itu dan tidak mendengar tanggapan dari Ivan dan langsung saja mengajak istrinya, yang penting saat ini ada istrinya bukan Ivan atau laki-laki lain.


Aruna menganggukkan kepalanya kemudian ia meninggalkan Ivan dan mengucapkan pamit terlebih dahulu tidak sopan rasanya jika langsung saja pergi nyelonong begitu saja.


"Kamu ke depan dulu sebentar sepertinya ada barangku yang ketinggalan."


Digo belum puas jika tidak mengatakan sesuatu kepada Ivan yang pastinya laki-laki itu berbalik badan dan menghampiri Ivan yang saat ini masih mematung di tempatnya.


"Jangan pernah berpikir untuk merebut Arunna dariku karena itu tidak mungkin akan aku biarkan meskipun Bang Ivan mempunyai prinsip sebelum jarum kuning melengkung akan di tikunh, tapi Aku tidak akan membiarkannya!!"


"Kita lihat saja nanti siapa yang akan mendapatkan Aruna, aku atau kamu, kamu hanya tunangan saja bukan suaminya.."


Kedua pasang mata itu saling bertatapan sepertinya Digo ingin sekali mengatakan jika Aruna adalah istrinya saat ini namun ia urungkan karena ia mengingat ucapan dari Aruna yang meminta untuk merahasiakan tentang pernikahannya kepada siapapun.


Kini Aruna dan Digo sudah berada di motor dan bersiap-siap duduk untuk melajukan motornya menuju ke rumah di mana perasaan Digo saat ini campur aduk antara cemburu dan juga ada sesuatu yang sesak di dalam dadanya.


Tidak percaya dengan kekuatan cinta yang dimilikinya tetapi belum apa-apa dan baru saja ia menikah kemarin sudah banyak rintangan yang menghadapi.


Apa ini yang dinamakan Cobaan orang setelah menikah?


Yang pastinya sebesar apapun cobaannya juga tidak akan menyerah terlebih lagi ia tidak akan melepaskan Aruna.


Mereka berdua tidak ada obrolan sama sekali, Digo dengan pikirannya sendiri begitupun juga Aruna, Aruna tahu jika suaminya itu pasti marah dengan apa yang terjadi tadi tetapi untuk menjelaskannya sepertinya ini bukan waktu yang tepat terlebih lagi ini di jalan ia takut jika suaminya emosi dan nanti terjadi apa-apa hingga Aruna berniat untuk menjelaskan saja ketika sampai di rumah.


Hingga akhirnya setelah beberapa menit mengemudikan motornya Digo sudah sampai di rumah dan ia segera turun dan membuka helmnya kemudian ia juga membukakan helm untuk Aruna.


Lagi lagi tanpa berkata apapun, namun Digo sudah mempunyai rencana yang licik, ia akan menghukum Aruna karena sudah berani berbicara dengan lawan jenis tadi terlebih lagi karena berbicara dengan Ivan yang jelas-jelas Ivan menyukainya.


Grepp


"Ah.. turunan Di, apa-apaan .. malu nanti dilihat Mami dan yang lainnya."


Tidak menyangka di balik diamnya Digo menyimpan sebuah rencana yang saat ini Digo sudah menggendong Aruna seperti karung beras di mana ia sudah merencanakan nanti setelah sampai di rumah, Digo akan menggendong Aruna dan membawa Aruna ke kamarnya dan langsung mengekskusinya, ia tidak peduli dengan teriakan Aruna bahkan saat ini ketika arona sudah memukul pundaknya yang jelas ia yang kangen dengan Aruna dan ingin segera memangsa Aruna.


"Diam sayank, tidak akan aku turunin sebelum sampai di kamar atau kamu jangan jangan mau main di sini?"


"Digo, kamu jangan gila ini di luar!!"


"Maka dari itu kamu diam sayank, lagi pula yang menggendong kamu ini adalah suami kamu, kita sudah sah bahkan jika aku melakukan di tempat umum pun tidak masalah."


Akhirnya Aruna yang tidak mau berdebat dengan suaminya lalau sudah suaminya mengatakan seperti itu iya hanya diam saja tidak mungkin juga ia terlalu banyak bicara toh juga sama saja hasilnya Digo akan membawanya masuk ke dalam kamar dan mengeksekusinya.


"Loh Di, Aruna kenapa? anak cantik Mami kenapa sampai kamu gendong seperti itu?"


Mami Nina yang baru saja keluar dari dapur dan melihat anak dan menantunya langsung saja panik beliau takut jika terjadi sesuatu dengan Aruna yang tiba-tiba dalam gendongan putranya.


"Tenang saja Mi, Mami tidak perlu khawatir, istri ku tidak apa-apa bahkan Aruna akan aku buat apa-apa dan mengandung cucu-cucu Mami nantinya."


"Astaga kasihan dengan anak Mami jangan macam-macam Di, kasihan Aruna yang ketakutan."


Seketika Mami Nina menutup mulutnya, ia  paham betul dengan ucapan Digo itu yang mana Digo gemas dengan istrinya dan ingin menerkamnya siang-siang begini.


"Aruna bukan ketakutan hanya saja ia malu dilihat Mami dan yang lainnya, sudahlah jangan mengganggu kesenangan Digo dan Aruna, Mami diam saja di situ dan berdoa supaya anak Digo akan segera launching."


Mami Nina tidak bisa berbuat apa-apa toh juga saat ini Aruna sudah menjadi hak penuh Digo karena Digo suaminya dan mau Digo melakukan apa dengan Aruna meminima tidak bisa berkata apa-apa lagi terlebih lagi Digo yang memang sudah ingin mempunyai anak dari Aruna.


"Sayank jika Digo kasar sama kamu gigit saja, Mami ikhlas jika kamu menganiaya anak nakal itu!!"


Teriak Mami Nina yang masih tidak percaya dengan perlakuan Digo, putra nya yang terkenal baik, pendiam dan juga pintar itu serta tidak neko-neko meskipun keempat sahabatnya Digo itu selalu neko-neko dan macam-macam tetapi kenyataannya beda setelah kenal dengan Aruna bahkan setelah menikah dengan Aruna sifat Digo menjadi berubah bukan berubah menjadi laki-laki yang tidak baik tetapi berubah menjadi bucin dan juga posesif terlebih lagi suka memamerkan keromantisan di depan orang lain bahkan tidak tanggung-tanggung Digo juga suka memamerkan kalau dirinya sudah sukses melakukan enak-enak dengan Aruna.


Dengan cepat Digo membawa Aruna untuk ke kamarnya kemudian setelah sampai di dalam kamar Digo memberikan tubuh Aruna pelan-pelan di atas ranjang dan tentu saja Digo segera membuka semua pakaiannya dan terlihat saat ini jika Digo sendiri sudah tidak menggunakan seragamnya hanya boxer saja yang melekat di bagian bawahnya.

__ADS_1


"Aku belum mandi dan gerah banget!!"


Aruna hanya alasan saja meskipun memang ia gerah banget namun tidak mungkin jika ia tidak mandi terlebih dahulu apalagi melihat suaminya yang sudah seperti itu dan pastinya ia tahu apa yang terjadi setelah ini.


"Tidak perlu, aku suka jika kamu seperti ini nanti kita mandi bareng sayank?"


"No Di, lebih enakan jika kita mandi dulu."


"Apa kamu tidak kasihan melihat punya kamu yang sudah berdiri seperti ini dan kamu juga tidak kasihan melihat suami kamu yang sudah menginginkan kamu?"


Tentu saja apapun alasan Aruna, Digo tidak akan pernah mengijinkan, terlebih lagi itu hanya alasan saja dan tidak benar-benar keinginan Aruna untuk mandi.


Hingga Digo yang melihat Aruna hanya pasrah saja dan langsung mendekati Aruna, laki-laki itu dengan cepat berada di atas tubuh Aruna dan lengkung Aruna.


"Aku ingin Digo Junior segera hadir dan pastinya Aku tidak ingin menundanya."


"Tapi Di---"


"Mphhhhhh..."


Ingin Aruna mengatakan jika ia belum siap untuk menyandang status bagi seorang ibu terlebih lagi statusnya saat ini ya seorang pelajar dan pastinya hamil di usia muda itu tidak disarankan tetapi sayang sekali sebelum Aruna mengatakan itu bibirnya sudah dibungkam oleh bibir digoyang membuat Aruna hanya diam saja pasrah dan tidak bisa berkata apa-apa lagi.


Dengan cepat laki-laki itu mencium bibir Aruna kemudian tangannya memberikan sentuhan-sentuhan lembut di tubuh Aruna yang saat ini sudah perlahan-lahan membuka satu kancing seragam Aruna.


Tentu saja Aruna yang awalnya hanya diam saja saat ini langsung membalas apa yang dilakukan oleh Digo tentunya dengan bagaimana cara Digo memperlakukan bibir Aruna itu membuat Aruna terbuat terlena dan terpesona dengan semua yang sudah dilakukan oleh.


Hingga beberapa menit kemudian Aruna sudah tidak menggunakan apa-apa lagi dan itu membuat Digo tersenyum hingga akhirnya ciuman yang sedari tadi berada di bibir turun ke bawah menelusuri semua lakukan indah tubuh Aruna dan menjelajahi titik-titik sensitif yang membuat arona merasakan sesuatu.


"I love you Arun, Aku sangat mencintai kamu dan tidak akan pernah melepaskan kamu."


Tidak ada tanggapan dari Aruna, perempuan cantik itu hanya memejamkan mata dengan tangannya yang kembali mencengkeram punggung Digo, karena saat ini Digo sudah berhasil memasukkan ular pitonnya itu dan membuat Aruna menjadi tidak berdaya karena Lagi dan lagi ia merasakan sesuatu yang sesak berada di bawahnya dan tidak dipungkiri jika rasa itu juga masih sedikit sakit.


Digo perlahan-lahan menggoyangkan bagian bawahnya ia tahu jika kepunyaan Aruna itu masih sempit dan itulah yang membuat Digo semakin ketagihan dan candu ingin mengulang lagi dan lagi.


Beberapa jam kemudian...


"Ah..."


Teriakan dari Aruna maupun Digo menggema di seluruh isi ruangan itu di mana keduanya sama-sama sudah melakukan pelepasan dan entahlah Digo sudah beberapa ronde melakukannya hingga membuat Aruna tidak berdaya.


Jika tidak mengingat sebentar lagi pasti Maminya akan memanggilnya untuk makan malam pastinya Digo ingin melakukan itu berulang-ulang tetapi sayang sekali ia masih mengingat waktu mengingat bagaimana nanti maminya begitu cerewet padanya.


"Terima kasih sayank, I love you .. Aku benar-benar sangat mencintai kamu."


Cup


Cup


Cup


Digo memberikan ciuman di bibir Aruna dan juga di kening anuraga kemudian tak lupa juga memberikan ciuman di perut Aruna yang mana ia berharap sekali jika arona segera hamil dan bisa membuat Aruna terikat dengannya selamanya.


Bahkan Digo juga tidak memikirkan sama sekali bagaimana nanti nasib anak-anaknya ketika ia dan Aruna sekolah dan melanjutkan kependidikan yang lebih tinggi dan pastinya semua itu sudah bisa diatasi dengan adanya uang yang banyak dan tentu saja Digo meminta bantuan kepada Mami dan Mamahnya.


Digo menarik selimut dan menutup tubuhnya dengan Aruna kemudian laki-laki itu membawa tubuh Aruna ke dalam pelukannya dan di saat inilah Digo ingin menanyakan sesuatu kepada istrinya itu yang nyatanya ada sesuatu yang sudah ia pendam sedari tadi dan ingin ditanyakan kepada Aruna.


"Sayank, kamu ada hubungan apa dengan Ivan?"


Aruna mendongakkan wajahnya meskipun ia tidak membalas pelukan dari Digo tetapi ia juga tidak menepis apa yang sudah dilakukan oleh Digo lebih lagi saat ini Digo menggenggam tangannya dengan sangat erat dan sesekali mencium punggung tangannya itu.


"Aku tidak ada hubungan apa-apa dengan kak Ivan, aku mengenal kak Ivan iya ketika aku nongkrong di cafe bersama dengan Vina itu saja di."


"Hanya itu tetapi mengapa Bang Ivan begitu perhatian sama kamu dan Bang Ivan jatuh cinta sama kamu?"


"Lalu kalau dia jatuh cinta sama aku, aku tidak boleh kenal sama dia? mencintai dan dicintai itu adalah hak semua orang dan pastinya aku sadar diri, aku tidak mungkin membalas perasaan cintaku kepada orang lain karena aku sudah terikat pernikahan dengan kamu. Lagi pula jika dia mencintai aku itu adalah haknya dia lalu apa aku tidak boleh mengenalnya?"


"Bukan begitu sayank tetapi sepertinya kamu dan dia sudah akrab banget dan membuat aku cemburu?"


"Kamu aneh, kamu yang katanya sudah memilikiku, kita sudah menikah tetapi dengan laki-laki lain saja kamu masih cemburu."


"Lalu apakah aku harus diam saja ketika melihat istriku dipandang oleh laki-laki lain bahkan aku mendengar sendiri jika Bang Ivan itu menyatakan cinta pada kamu?"


"Bukan begitu Di, tetapi lebih baik kamu singkirkan sifat cemburu kamu itu yang nantinya akan merugikan diri kamu sendiri aku sadar jika aku sudah menikah dengan kamu dan aku pun tidak mau mempermainkan pernikahan ini."


"Aku tahu sayank, tetapi kamu tahu sendiri kan aku tipe laki-laki yang pencemburu dan juga posesif jadi kamu harus menerima aku apa adanya..."


"Yang harus mengucapkan itu adalah aku bukan kamu..."


Aruna dengan cepat menarik selimutnya ia yang dari tadi sudah gerah dan ingin mandi namun tidak bisa karena suaminya begitu rese dan menerkamnya hingga beberapa jam.


Hingga akhirnya Aruna bisa lepas dari Digo dan ia pelan-pelan turun dari raja tetapi sayang sekali pergerakannya diketahui oleh Digo yang mana Digo baru saja jika Aruna saat ini ingin menghindarinya dan masuk ke dalam kamar mandi.


"Mau ke mana Yank, Aku belum selesai bicara?"


"Mandi Di dan mau bicara apa lagi? semua sudah aku jelaskan dan kalau kamu hanya cemburu saja lebih baik tidak usah bicara dan bertanya karena jawabanku masih sama seperti tadi aku tidak ada hubungan apa-apa sama Ivan dan mengenal kak Ivan itu di cafe saja tidak lebih dari itu."


Sepertinya Aruna emosi menghadapi suaminya yang mana sepertinya Digo juga tidak begitu mempercayainya itu yang membuat Aruna jengkel hingga akhirnya ia menuju ke kamar mandi dan menutup pintu kamar mandi dengan sangat keras.


Brakk


"Astaga sayank..."


Digo memegangi dadanya, ia kaget dengan perlakuan Aruna seperti itu namun lagi dan lagi ia merasa bersalah karena sudah membuat Aruna tidak nyaman bersamanya.


"Ini tidak bisa dibiarkan aku harus meminta maaf kepada Aruna supaya Aruna tidak marah padaku aku tahu jika Aruna saat ini marah dan kesal sama aku."


Digo dengan cepat menyusul Aruna ke kamar mandi iya bahkan tidak menggunakan penutup apapun dan segera membuka pintu kamar mandi.


Beruntung sekali Aruna hanya menutup pintu itu dengan sangat keras tetapi tidak menguncinya yang mana membuat Diego lebih leluasa untuk masuk ke dalam.


"Mau apa Di? gantian saja.. aku cuma sebentar, dan kalau kamu mau bertanya-tanya tentang kak Ivan lagi lebih baik kamu urungkan niat kamu daripada itu membuat aku jengkel saja.."

__ADS_1


Digo tidak menjawab tetapi ia segera mengunci pintu kamar mandi dan mendekati Aruna tentu saja ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini di mana ia bisa berduaan dengan Aruna dan di tempat seperti ini.


Tentu saja Lagi Dan Lagi Digo ingin memangsa Aruna meskipun nanti hanya mempunyai kesempatan satu roda saja tetapi tidak masalah terlebih ia juga ingin mencoba gaya baru di dalam kamar mandi.


__ADS_2