
"Astaga jam berapa ini.."
Aruna membuka matanya, ia tiba-tiba kaget ketika melihat suaminya yang sudah tidur di sampingnya dengan tanpa pakaian hanya selimut yang menutupi tubuh Digo dan juga dirinya.
Aruna sendiri bingung mengapa ia bisa tertidur pulas sampai beberapa jam yang mana Aruna teringat bahwa beberapa jam yang lalu Digo sedang memangsanya habis habisan, bahkan bukan hanya satu atau dua ronde saja tetapi Digo melakukannya beronde ronde dengan berbagai macam gaya dan juga tempat yang berbeda, membuat Aruna tidak bisa berbuat apa-apa hanya pasrah saja kemudian tertidur kelelahan.
Aruna sendiri tidak tahu jika ia sudah melewatkan sore hari, bahkan saat ini sudah menunjukkan pukul 08.00 malam dan itu tandanya waktu makan malam sudah terlewatkan.
Perlahan-lahan Aruna menyingkirkan tangan Digo yang masih memeluk erat pinggangnya, kemudian perempuan cantik itu bergegas untuk turun dari ranjang menuju ke kamar mandi, rasanya lengket dan sedikit perih di area bawahnya yang mana memang Digo memangsanya tanpa jeda membuat Aruna kelelahan dan juga merasakan sesuatu yang sakit di bawahnya, tetapi ia juga mengingat kalau suaminya tadi benar-benar puas ketika melakukan sebuah percintaan dengan dirinya.
Tidak mau berlama-lama di dalam kamar mandi, Aruna segera membersihkan dirinya kemudian bergegas untuk keluar dari sana. Aruna yakin jika tadi Mamahnya sudah ke atas membangunkan nya, tetapi lagi dan lagi karena kelelahan dan juga pelukan hangat dari suaminya membuat Aruna tidak mendengar.
Aruna sudah cantik dengan rambut yang sudah kering karena ia juga mengeringkannya sebentar, tidak mau juga menjadi bahan tertawaan oleh Mamahnya di bawah, kemudian perempuan cantik itu melihat sekilas ke arah suaminya di mana saat ini Digo masih tertidur dengan pulasnya.
Mungkin selain kelelahan karena habis memangsa dirinya, Digo juga kelelahan karena pertandingan basket yang dilakukan tadi siang. Aruna juga tidak membangunkan suaminya dan membiarkan Digo tidur saja terus, jika nanti Digo bangun maka suaminya itu akan rusuk kembali dan tidak membiarkan dirinya untuk keluar dari kamar.
__ADS_1
"Enak sekali tidurnya sampai Mama tadi ketuk pintu kamu nggak denger."
Aruna melongo kemudian menggelengkan kepalanya dan benar apa yang ada di dalam pikirannya jika Mamanya sudah sempat ke atas dan membangunkan tetapi dasarnya memang Aruna yang kelelahan, tidak mendengar teriakan dari Mamanya itu dan kini malahan Mamanya membuat Aruna malu seketika karena pasti Mama Dina tahu kalau putri cantik nya sudah melakukan sesuatu yang enak-enak dan tentunya ini bukan lah Aruna yang tidurnya sampai seperti kebo kalau tidak ada sesuatu yang mengganggunya.
"Masa' sih Mah."
Aruna duduk di kursi di mana saat ini ia berada di dapur sembari melihat Mama Dina dan si mbok yang sedang membereskan sisa makan malam kemudian perempuan cantik itu juga mengambil minuman yang segar dari lemari es dan tentunya ia tidak mau mengaku jika dirinya tidak mendengar apapun yang dilakukan oleh Mamah Dina tadi.
"Masa' masa', kalau mama bilang beneran kamu juga tidak percaya, yang jelas Mama sudah ketuk pintu dan membangunkan kamu untuk makan malam tetapi dasar kamu yang lagi enak-enakkan sama Digo membuat kamu tidak bisa dibangunin. Ayo tadi ngapain aja sama Digo di dalam kamar? Dan kata si mbok juga kamu dari pulang sekolah tidak keluar kamar."
Aruna tidak bisa menjawab apapun juga, yang nyatanya memang ia benar-benar tidak mendengar ketukan pintu dari Mama Dina dan pastinya ia sudah melakukan sesuatu yang enak sampai tertidur begitu pulasnya.
"Mau makan malam sekarang atau nunggu suami kamu? oh ya ngomong-ngomong Digo ke mana atau dia masih tidur pulas?"
Mama Dina yang sudah selesai membereskan semuanya langsung saja duduk di samping putrinya, beliau memang sudah lama tidak ngobrol-ngobrol dengan Aruna, padahal pernikahan Aruna dan Digo masih dalam hitungan hari tetapi kebiasaan Mama Dina dan juga Aruna yang suka menghabiskan waktu bersama membuat perempuan yang tidak muda lagi itu merasa kesepian dan kini saatnya ketika Aruna menginap di sini, maka Mama Dina akan menghabiskan waktu dengan Aruna, meskipun malam tidak bisa tidur berdua dengan Aruna lagi.
__ADS_1
"Digo masih tidur Mah , makannya nanti nunggu Digo saja, meskipun aku sudah lapar sih tetapi..."
"Panggil suami kamu yang benar sayank, bagaimana pun Digo adalah suami kamu dan kamu sebagai istri wajib untuk menghormatinya, lagi pula kamu dengan Digo juga terpaut 1 tahun meskipun kalian berdua sama-sama tingkatan sekolahnya tetapi dengan memanggil suami kamu seperti itu, itu sangat tidak sopan. Dan juga lebih baik memang kamu menunggu suami kamu, jangan makan sendiri apalagi ini di rumah Kamu. Kalau makan dulu nanti suami kamu malahan canggung untuk makan jika tidak bersama dengan kamu dan juga tidak sopan. Sabarlah sebentar."
"Baiklah.. lalu aku harus memanggil Digo dengan apa? lagi pula aku sudah terbiasa memanggilnya begitu, rasanya aneh sekali jika memanggil Digo dengan panggilan yang lain."
Mamah Dina tersenyum kemudian mengusap lembut rambut Aruna, memang sebenarnya Mama Dina juga belum bisa sepenuhnya melepaskan Aruna untuk menikah dan menjalin rumah tangga, karena Aruna dan Digo yang masih sangat muda tetapi beliau mau tidak mau harus menerima semuanya jika memang Aruna harus menikah secepat ini dengan Digo, kalau tidak ..maka tidak baik untuk Aruna dan juga keluarga besarnya, keluarga besar Digo juga. Apalagi Mamah Dina melihat Digo yang sangat mencintai dan menyayangi Aruna, bukan hanya sekedar bertanggung jawab saja.
"Panggil sayank, Papa atau Mas, itu lebih sopan.. terserah kamu memilih yang mana..."
"Sayank, Papa, Mas?"
Aruna menggelengkan kepalanya, rasanya ia begitu geli jika memanggil suaminya seperti itu, meskipun jika di rumah di depan kedua mertuanya, Aruna juga berusaha untuk tidak memanggil suaminya dengan sebutan nama saja tetapi dengan embel-embel Mas, namun rasanya ia masih sedikit geli dan lucu jika memanggil Digo dengan sebutan itu secara langsung.
"Iya sayank, lagi pula tidak apa-apa kan? Digo juga suami kamu dan pastinya suami kamu akan senang jika kamu memperlakukannya dengan baik, meskipun Mama tahu jika kamu masih belum sepenuhnya menerima Digo sebagai suami kamu tetapi lihatlah perjuangan Digo dan perhatian Digo dan juga kasih sayank yang diberikan oleh Digo untuk Kamu, pastinya kamu tahu ..kamu yang sudah bersama dengan nya yang merasakannya dan tentu saja Mama tidak ingin kamu menyesal nantinya jika terlambat menyatakan cinta dan perasaanmu kepada Digo, karena mama yakin Digo itu adalah laki-laki yang baik yang sangat mencintai dan menyayangi kamu.
__ADS_1