
Gelisah, sedari tadi Digo tidak fokus menyelesaikan pekerjaan, yang ada dipikirannya terus mengenai Aruna, bukannya khawatir kalau kalau terjadi sesuatu dengan Aruna, tetapi ia sudah kangen dengan istrinya itu.
Digo memang sudah memastikan jika Aruna berada di rumah dan setelah pulang dari menjenguk Bagas tadi, Aruna tidak keluar lagi dan juga mendapatkan informasi itu dari Pak Satpam dan asisten rumah tangganya, meskipun ia sedari tadi menghubungi ponsel istrinya tetapi tidak mendapatkan jawaban dari sana.
Digo kembali fokus ke dalam pekerjaan nya, ia harus segera menyelesaikan pekerjaan supaya bisa pulang dengan cepat, mungkin saja tidak sampai malam ia akan segera pulang dan tentunya ingin menumpahkan rasa kangennya dengan Aruna yang sudah di ubun-ubun.
Ceklek...
Sedang fokus-fokusnya untuk menyelesaikan pekerjaan tiba-tiba Papi Rendra dan juga Papah Adi masuk ke dalam ruangan Digo, tentu saja Digo melirik sekilas kedatangan kedua orang tua yang tidak mudalahi itu dan sudah bisa dipastikan jika keduanya pasti ingin mengajak Digo makan malam lagi.
"Maaf Papi, kalau mau ngajak aku makan malam ... aku tidak bisa, aku sudah janji dengan Aruna makan malam bersama."
Digo menjelaskan kepada Papi dan juga Papa mertuanya itu, belum apa-apa Digo sendiri sudah mengatakan seperti itu dan menolak untuk makan malam padahal belum tentu juga Papi Rendra dan juga Papah Adi mau mengajak Digo untuk makan malam nanti.
"Ckk... PD sekali, siapa yang ngajakin kamu makan malam .. lagi pula Papi tahu apa yang kamu pikirkan? kamu juga tidak ada janji makan malam dengan Aruna, sepertinya kamu sudah kangen dengan istrimu."
Dengan santai nya Papi Rendra mengatakan seperti itu, beliau kemudian mengajak Papa Adi untuk duduk disova sembari melihat aktivitas Digo yang sepertinya sedang semrawut karena buru buru menyelesaikan pekerjaannya.
"Iya siapa tahu saja tiba-tiba Papi dan juga Papa datang ke sini pasti ingin ngerjain aku lagi, yang membuat aku nanti pulang malam. Kalau malam ini aku tidak bisa bahkan mungkin besok-besok juga tidak bisa kalau niat nya seperti itu, karena Papi dan Papa hanya ingin ngerjain aku."
Ocap Digo lagi dengan matanya masih fokus melihat beberapa temukan kertas tetapi bibirnya bisa mengatakan seperti itu sepertinya Digo memang sudah terlatih untuk fokus dengan beberapa hal, tidak hanya satu hal saja.
__ADS_1
"Hahaha bisa-bisanya kamu yang menuduh kita orang tua ngerjain kamu, lagi pula kamu tadi pagi bertemu dengan Aruna, bersama dengan dia... nanti malam juga bersama, kenapa harus buru-buru pulang? kasihan juga istrimu, biarkan dia bebas.. kalau perlu malah nanti malam izinkan Aruna tidur dengan Mami, pasti istrimu sangat senang sekali, jangan membuat istrimu itu tidak berdaya terus di setiap malam."
Digo meletakkan bolpoinnya tentu saja pekerjaannya sudah selesai tepat waktu seperti apa yang diprediksikan, kemudian ia melirik sekilas kepada dua orang di depannya itu.
"Terserah Papi saja mau ngomong apa, yang penting aku malam ini mau pulang cepat dan juga Papi dan Papa mau berada di sini tidak masalah, aku pulang dulu."
Sepertinya memang Digo tidak mau berlama-lama lagi di sini buktinya ia sudah mengemasi barang-barangnya dan tentunya pekerjaan sudah selesai tepat waktu sesuai dengan apa yang direncanakannya.
Laki-laki itu segera mengambil ponsel dan masukannya ke dalam saku kemudian mengambil kunci motornya lalu beranjak dari kursi kebesarannya itu menuju ke arah Papi Rendra dan juga Papah Adi.
"Aku pulang dulu ya Pah, Pi, sudah kangen dengan Aruna."
"Aku sendiri bisa lihat jika Digo perhatian dan sayang banget dengan Aruna, aku sampai tidak percaya dengan apa yang dilakukan oleh Digo dulu ya, dan sebenarnya aku malu dengan kelakuan Digo terhadap Aruna..." Ujar Papi Rendra dengan wajah sendu nya, menatap ke arah Digo dan Papah Adi secara bergantian.
"Tidak perlu diungkit lagi semuanya sudah terjadi, lagi pula aku melihat Digo benar-benar serius dan bertanggung jawab dengan Aruna, bukan hanya bertanggung jawab saja tetapi aku juga melihat jika Digo sangat mencintai Aruna dan memperhatikan Aruna."
"Betul itu Pah, aku sangat mencintai Aruna dan tidak akan meninggalkan Aruna, bukan hanya sekedar Aku ingin bertanggung jawab saja tetapi memang rasa cinta untuk Aruna sudah tumbuh dalam hatiku dan untuk kejadian kemarin, Papi tidak usah ungkit lagi, aku memang bersalah tetapi aku sadar waktu melakukannya. Aku bahkan berniat untuk melakukan itu supaya Aruna menjadi milikku."
Papi Rendra sebenarnya masih merasa malu dengan sikap dan perbuatan Digo terhadap Aruna tetapi disenyum-senyum sendiri meskipun ia sendiri bersalah tetapi hal apa yang dilakukan itu bukan karena tidak kesengajaan tetapi memang sudah disengaja oleh Digo dan sudah direncanakan.
"Papah cuma minta kamu bersabar menghadapi Aruna, Aruna memang seperti itu sikapnya berubah-ubah dan tidak bisa ditebak, apalagi dia yang masih seenaknya sendiri, mungkin kamu sudah beberapa kali memberikan perhatian padanya tetapi tidak dibalas dengan Aruna."
__ADS_1
Digo menganggukkan kepalanya, tidak masalah jika selama ini ia yang berjuang untuk mendapatkan Aruna, toh juga memang wajar jika Aruna masih setengah hati menerimanya karena apa yang sudah dilakukannya dulu.
"Tidak masalah Pah, Aku akan berusaha supaya Aruna benar-benar mencintaiku, aku juga sadar dengan apa yang sudah aku lakukan, tetapi aku memang benar-benar sangat mencintai Aruna dan tidak akan melepaskan Aruna."
Tidak ingin berlama-lama di dalam ruangan nya, Digo segera meninggalkan kedua orang tua itu di mana memang sudah tidak ada waktu untuk berbasa basi lagi.
Digo juga berpesan kepada asistennya itu untuk menghandle jika ada beberapa pekerjaan yang masuk sore ini tentunya ia tidak ingin berlama-lama berada di kantor, rasa kangennya kepada Aruna sudah di ubun-ubun dan tidak mungkin lagi untuk menunda bertemu dengan istri cantiknya itu.
"Beli apa ya? beli kue, es krim dan juga bunga saja, Aruna pasti suka."
Setelah keluar dari perusahaannya, Digo dengan cepat melajukan motornya, tetapi ia tidak ingin sampai ke rumah lebih dulu namun berpikir untuk memberikan sesuatu kepada Aruna.
Ia tahu semua makanan kesukaan Aruna yang pastinya sore menjelang malam ini Digo ingin memberikan sesuatu untuk istrinya itu, di samping memberikan makanan, Digo juga nanti akan memberikan kalung yang sangat cantik yang sudah dibelinya beberapa hari yang lalu, tapi sayang sekali saking sibuknya hingga Digo sampai lupa untuk memberikan itu kepada Aruna.
Digo menghentikan motornya tepat di depan sebuah tokoh kue, di mana toko kue itu ada langganan Maminya yang pastinya sudah terkenal enak.
Di samping jual kue, toko itu juga menjual es krim, coklat dan juga bunga, tentunya memang khusus.. khusus untuk pelanggannya yang ingin memberikan sesuatu kepada orang yang disayangi.
Tidak melewatkan waktu, Digo masuk ke dalam.. ia langsung saja memilih apa saja kesukaan Aruna yang pastinya sudah di luar kepala laki-laki itu, kemudian Digo juga memberikan buket bunga yang cantik seperti Aruna.
Dan Digo berharap kalau apa yang diberikan ini bisa membuat Aruna menjadi cinta pada nya dan melupakan semuanya meskipun itu Digo harus berjuang lagi dan lagi,nnamun laki-laki itu tidak akan menyerah karena ia benar-benar mencintai Aruna.
__ADS_1