
Setelah membeli minuman di kantin, Aruna bergegas untuk menuju ke lapangan dan hasil disana Digo tinggal satu putaran lagi tetapi sudah banyak dari perempuan-perempuan yang mengidolakan suaminya itu menyiapkan minuman bahkan mereka juga sudah menyiapkan handuk untuk mengelap keringat Digo.
Yang pastinya Aruna cemburu melihat suaminya itu seperti itu padahal sebelumnya Aruna tidak merasakan seperti ini tetapi entahlah pagi ini benar-benar senjata makan tuan di mana Aruna benar-benar merasakan ciri perempuan-perempuan di sini itu mengidolakan suaminya.
Hingga akhirnya Digo pun sudah menyelesaikan 5 tahun berlarinya langsung saja menghampiri istrinya ia tahu jika istrinya sekarang sudah menyiapkan minuman serta handuk untuk mengelap keringatnya.
"Terima kasih sayank."
Digo membuka minuman dingin itu kemudian minumannya dan juga memperlihatkan ekspresi wajah Aruna yang tidak senang padahal ia tahu jika semua ini adalah rencana Aruna yang seharusnya Aruna itu bahagia dan bertepuk tangan dengan ulahnya tetapi mengapa malam istrinya itu cemburu dan berekspresi yang tidak menyenangkan seperti ini.
Sedangkan yang lainnya, perempuan-perempuan yang mengidolakan Digo yang sudah membawa minuman dingin itu langsung saja berbalik arah ia tahu jika tidak mungkin dirinya disandingkan dengan Aruna perempuan yang populer dan juga kecantikan Aruna tidak bisa dilakukan lagi terlebih lagi mereka semua tahu jika Aruna adalah pacar Digo jadi tidak mungkin jika Digo menerima minuman-minuman dari nya tetapi siapa tahu keberuntungan ada di pihak mereka makanya mereka dengan senang hati membawa minuman itu siapa tahu juga Digo mau menerimanya.
"Lo nggak tahu taruna sedari tadi cemburu?"
Ucap Dino yang malahan membuat Aruna menatap ke arahnya dia tahu sebenarnya ini adalah rencana Aruna tetapi sayang sekali Aruna malahan terkena batunya sendiri.
"Iya sayang kamu cemburu bukannya Kamu harusnya senang aku dihukum Dan Kamu sengaja dan tidak membangunkan aku tadi pagi?"
Aruna yang masih cemburu dengan cepat melakukan kemalangannya ia langsung saja mendekati diriku dan mengolah keringat yang masih membasahi wajah tangan suaminya itu memang tidak ada gunanya jika Aruna berbohong kepada suaminya tuh juga tanpa diberitahu oleh Dino Dan yang lainnya Digo sendiri paham apa yang dilakukan oleh istrinya hari ini.
"Tidak masalah, aku senang dan itu tandanya jika kamu cemburu kamu sangat mencintai aku dan pastinya Terima kasih karena semalam kamu membuat aku terlelap hingga bangun kesiangan."
Astaga bisa-bisanya di depan semua orang dikombisikan sesuatu yang mana bisikan itu tidak berbunyi pelan tetapi bisa didengar oleh Dino Dan yang lainnya bahkan Dino Dan yang lainnya melongo dengan apa yang diucapkan oleh Digo.
"Emang berapa ronde sih di semalam hingga kamu tidak bisa bangun?"
Begitu penasarannya Dino dari tadi ia bertanya dengan Aruna tetapi arona tidak menjawabnya siapa tahu dengan sahabatnya ini Digo mau menjawab tanpa ditutup-tutupi memang tidak menjadi rahasia lagi kelima laki-laki kita empat itu juga sudah membahas pribadi masing-masing pastinya tidak ada yang ditutup-tutupi termasuk Digo yang menceritakan bagaimana dahsyatnya pertempuran dengan taruna meskipun tidak secara gamblang tetapi setiap hari ia selalu menceritakan semalam bisa bermain berapa ronde dengan istrinya itu.
"Yang jelas banyak-banyak ronde tetapi yang jadi masalah bukan itu karena semalam Aruna yang memimpin pertandingan hingga aku kelelahan dan tidak bisa bangun tentu saja aku sangat puas dengan apa yang dilakukan istriku. Iya kan sayang?"
Aruna yang mendengar ucapan dari juga langsung saja melaporkan matanya ia yang memang tidak begitu dekat dengan tempat sahabat Digo meskipun mereka selalu jalan bersama tetapi masih ada rasa malu-malu dari diri diri Aruna terutama Digo mengatakan hal yang pribadi seperti itu bisa biasanya diiku tidak menutupinya bahkan Diego malah mengatakan jika dirinya yang memimpin pertandingan semalam.
"Apa-apaan sih Di."
Jelas saja setelah Aruna mengelap keringat Digo, perempuan cantik itu langsung mau pulang, tentu saja ia malu dengan keempat sahabat Digo dan juga Vina.
"Hahaha yang membuat masalah malahan malu sendiri kan, pantes aja lo yang biasanya tidak telat bangun tiba-tiba hari ini terlambat bangun itu toh yang membuat lo tidak berdaya hingga kelupaan untuk bangun pagi."
"Ya begitulah No, tahu kan jika gue dan Aruna masih seperti pengantin baru masih hangat-hangatnya maka dari itu gue selalu gas pol setiap ada kesempatan."
Digo dan yang lain nya sudah hafal begitu juga dengan Aruna yang juga menertawakan tentang ulahnya tetapi di dalam hati Aruna berjanji tidak akan menaungi kesalahan ini lagi di mana Iya tidak senang malam Iya cemburu dan juga jengkel ketika nama di gu benar-benar diteriaki oleh fans fans Digo yang membuat Aruna mati gaya di sana.
Ke tujuh anak manusia itu kini berada di kantin dan sepertinya memang harus ini keberuntungan untuk digoyang mana kelas Digo dan juga Aruna masih kosong tidak ada gurunya meskipun di dalam kelas teman-teman aroma mungkin juga sedang mengerjakan tugas tetapi mereka malah memilih ke kantin sudah terlanjur diku juga sudah dihukum yang pastinya di sisa-sisa jabatannya sebagai ketua OSIS juga akan melakukan hidup secara normal.
"Makan sayang kenapa kamu malahan manyun bukannya kamu senang aku dihukum?"
"Tau ah!!"
Tentunya Digo masih kesel bayangan perempuan yang berteriak memanggil nama suaminya itu padahal ini di depan matanya, bagaimana kalau di belakang Aruna pasti mereka akan nemplok seperti cicak dan Aruna tidak mau jika itu terjadi.
"Dan nanti malam awas aja hukuman menanti di depan kamu sayang."
Yang pastinya Aruna hanya menghilangkan kepalanya kelanda meskipun ia menolak tetapi tetap saja suaminya akan berbuat yang lebih dengannya apalagi besok hari Minggu dan pastinya Aruna tidak tahu apa yang sudah direncanakan oleh suaminya nanti malam.
"Sudah jangan ngambek makanya kalau mau berbuat itu pikir-pikir dahulu sudah tahu Digo di sini banyak fansnya tetapi mengapa elu malah berbuat nekat kalau engkau ingin menghukum suami lebih yang sama gue gue kasih tahu caranya."
Masih saja Dino yang menjadi kompor di antara mereka hingga membuat Aruna menoleh ke arah Dino ingin tahu apa yang ada di dalam otak dinas saat ini dan apa yang membuat go bisa dihukum Aurora dengan cara yang manis tidak dengan cara seperti itu yang mana malahan membuat dirinya cemburu.
"Emang apa, No?"
"Gampang sebenarnya lo juga tidak membuang-buang waktu dan energi tinggal nanti malam disuruh tidur di luar saja itu sudah membuat digomati kutu dan tidak bisa berbuat apa-apa yang jelas saja semalam saja tidur bersama dengan Digo tentunya suami lo itu nanti akan kelabakan dan dia pasti tidak tahan jika tidur tidak memeluk Lo."
******
Satu bulan kemudian...
"Aduh kenapa kepalaku rasanya pusing sekali..."
Aruna yang memang sudah terbiasa bangun pagi dan merasakan tubuhnya fit meskipun semalaman sudah digembur oleh suaminya tetapi kenapa hari ini rasanya berbeda sekali bukan karena apa yang dilakukan oleh Digo semalam tetapi entahlah kepalanya mendadak pusing dan dirinya hilang keseimbangan.
Aruna yang sudah bangun dan mematikan alarm ponselnya kemudian ia melihat ke samping dilihatnya wajah digoyang masih tidur terlelap dan Aruna tidak membangunkan suaminya dulu itu yang sudah menjadi kebiasaan Aruna ketika ia sudah sampai di dalam kamar mandi dan mandi serta membesarkan diri baru ia akan mengembangkan Digo ia tidak mau jika pagi ini ada drama Diego melakukan adegan yang iya iya yang pastinya jika Digo dibawakan bersamaan dengan Aruna laki-laki itu ingin meminta mandi bareng dan Aruna tidak mau.
Tetapi mengapa pagi ini berbeda sekali kepala Aruna rasanya pusing juga perut Aruna yang seperti diaduk-aduk rasanya ia lemas dan tidak bertenaga untuk segar dan menurunkan kakinya Ke dari atas ranjang tetapi ia juga harus menuju ke kamar mandi untuk mandi dan bergegas berangkat sekolah.
Namun rasa pusing itu masih melanda di dalam diri Aruna, bahkan untuk sekedar menuju ke kamar mandi Aruna tidak mampu alhasil perempuan cantik itu menyeret langkah kakinya dan juga memegangi kepalanya untuk sampai ke kamar mandi.
"Aku kenapa?"
Aruna masih bingung dengan kondisi tubuhnya saat ini pasalnya jika hanya masuk angin itu tidak mungkin bahkan setiap malamnya setelah menikah dengan Ibu Aruna juga tidak berpakaian sama seperti yang ia alami pagi ini dan juga Aruna tidak mual-mual ataupun pusing tetapi kenapa pagi ini begitu berbeda.
Sungguh Aruna tidak tahu penyakit apa yang dideritanya saat ini apakah mungkin dirinya masuk angin karena semalam Digo juga bermain sangat ganas sekali dan juga mendinginkan ac-nya atau mungkin ada penyakit yang lainnya?
Ya Aruna hanya menerka-nerka saja karena ia tidak mampu dengan penyakit-penyakit yang diderita orang bahkan pelajaran biologi pun yang berkenaan dengan sebuah penyakit dan tanda-tandanya Aruna tidak paham sama sekali.
Hoek..Hoek..Hoek...
"Ini benar-benar gue masuk angin..."
Ya Aruna meyakinkan dirinya kalau ia masuk angin aurat juga tidak berpikir jika dirinya hamil saat ini yang mana Aruna selalu meminum pil penjaga kehamilan bahkan Aruna juga lupa hari terakhir ia menstruasi karena padat punya jadwal sekolah dan juga les setiap harinya yang membuat Aruna hingga kelupaan waktunya menstruasi.
Tetapi jika dipikir-pikir meskipun Aruna mengingatnya dan ia sudah telat namun Aruna tidak meyakini karo dirinya hamil karena Aruna juga sudah terbiasa jika menstruasi selalu telat bahkan ia juga tidak akan berpikir ke arah sana karena bel yang ia konsumsi selalu ia minum tidak pernah telat sekalipun.
"Astaga aku tidak kuat lagi atau aku tidak usah ke sekolah saja ya?"
Bukan karena Aruna malas atau bagiannya meski kuduruhnya Aruna adalah tipe gadis yang barbariah suka bolos bakat malas untuk ke sekolah tetapi setelah mereka dengan Digo, Aruna tobat terlebih lagi saat ini yang arona sudah menginjak kelas 12 dan sebentar lagi akan lulus Aruna tidak mau bolos meskipun dirinya selalu kecapean setiap harinya namun kepalanya yang pusing dan juga perutnya yang diaduk-aduk membuat aroma tidak berdaya ia sudah berpikir untuk izin saja dan tidak ke sekolah.
Aruna yang sudah berada di kamar mandi sederhana membersihkan diri perempuan cantik itu bergegas memakai pakaiannya bukan seragam sekolah tetapi pakaian rumahan kemudian membangunkan suaminya tentunya dengan kondisi wajah Aruna yang sudah Jakarta menahan pusing dan juga mual di perutnya.
"Di, bangun sayang..."
Ya Aruna tidak malu lagi untuk mengungkapkan rasa sayang dan cintanya kepada Diego makan arunya juga tidak segan-segan untuk memanggil diikut dengan ucapan sayang karena memang yang ia cintai di dalam hatinya hanya diriku seorang.
Tetapi tetap saja untuk memanggil diikut dengan sebutan Mas, Aruna masih ragu-ragu entahlah mungkin arona berpikir umur dirinya dengan digoyang tidak terbau jauh hingga membuat Aruna masih memanggil suaminya dengan sebutan nama meskipun kadang-kadang di embel-embeli dengan kata sayang di belakangnya.
Grepp
Bukannya bangun tetapi Digo malahan menarik tangan Aruna karena ia tahu jika yang membangunkan dirinya itu adalah Aruna bukan Mami Nina.
__ADS_1
"Di, ini beneran kenapa malahan kamu memeluk aku bangun di sudah siang Kamu kan juga harus berangkat ke sekolah."
Karena masih ragu antara mengatakan kepada diku jika dirinya tidak berangkat sekolah atau tetap saja berangkat dengan kondisi tubuhnya yang kurang sehat tetapi yang harus Aruna lakukan saat ini adalah membangunkan suaminya dulu dan melihat ekspresi suaminya ketika melihatnya nanti.
"Sebentar lagi sayang lagi pulang nanti aku akan mengganggu dan pastinya tidak akan terlambat untuk ke sekolah."
Tentu saja Digo masih memeluk tugu Aruna dengan matanya yang terpejam dan tentunya itu ia tidak melihat jika wajah Aruna saat ini sudah pucat.
Hoek....
Aruna yang mual seketika menutup mulutnya yang membuat Digo langsung membuka matanya dan melihat kondisi Aruna saat ini Untung saja hanya mual saja dan tidak sampai memuntahkan sesuatu yang ada di dalam perut Aruna.
"Hai sayang kamu kenapa, kamu masuk angin?"
Mendengar istrinya yang mau seperti itu Digo langsung membuka matanya ia segera melepas pelukannya lalu melihat ekspresi wajah Aruna saat ini tentunya di kaget ketika melihat Aruna yang sudah pucat.
"Astaga sayang kenapa muka kamu pucat sekali tetapi tidak panas?"
Diku juga kaget bukan karena arona pucat atau bagaimana tetapi memang wajahnya pucat namun gandeng arona tidak panas sama sekali bahkan di Aruna juga tidak menggigil itu yang membuat Digo heran Ada apa yang terjadi dengan istrinya.
"Aku pusing Di, mual aku hari ini tidak ke sekolah ya kamu nanti izin aku biarkan aku istirahat di rumah saja."
Tentu saja Digo langsung menganggukkan kepalanya jangankan hanya Aruna yang tidak sekolah diku juga berkeinginan untuk tidak sekolah dan menamai istrinya di rumah karena ia sangat khawatir dengan kondisi Aruna saat ini.
"Ya sudah kamu boboan dulu di sini aku mau mandi nanti aku ambilkan sarapan di bawah setelah itu kita periksa ke dokter, aku juga tidak akan berangkat ke sekolah hari ini akan menemani kamu di sini."
Digo sendiri belum menebak juga istrinya hamil ia tahunya jika Aruna pastinya kelelahan dan juga masuk angin karena beberapa hari ini digugikan sekali untuk menggempur Aruna bahkan cuaca di luar sana yang sangat panas sehingga di mendinginkan ac-nya yang mungkin itu yang menjadi alasan Aruna pusing dan juga mual-mual.
******
Mendengar Digo menyebutkan kata Dokter, ingin rasanya Aruna berteriak dan bilang tidak, Iya dari kecil memang tidak suka yang ada kaitannya dengan dokter jika sakit sedikit saja Aruna lebih memilih minum obat kemudian dipakai untuk istirahat atau meminta video untuk memijat seluruh badannya dan itu berhasil membuat Aruna sembuh karena ia memang tidak mau jika dibawa ke rumah sakit apalagi jika nanti disuntik.
Tetapi sayang sekali tenaganya yang tidak benar-benar fit membuat mulutnya tidak bisa berkata apa-apa lagi meskipun telinganya mendengar tetapi rasanya lidahnya keluh untuk berbicara hingga Aruna hanya diam saja sembari melihat pergerakan Digo yang sudah masuk ke dalam kamar mandi.
Aruna sendiri juga yakin jika dirinya nanti minum yang anget-anget dan juga sarapan kondisi tubuhnya akan fit ia juga ingat jika semalam melewatkan makan malamnya dan itu mungkin yang membuat kondisi tubuhnya tidak seimbang saat ini bahkan mungkin saja maag-nya umat meskipun sudah lama maag yang diderita aroma itu tidak kambuh lagi semenjak ia menikah dengan Digo karena Digo selalu mengingatkan Aruna untuk makan tepat waktu.
Lagi Dan Lagi Aruna memejamkan matanya karena kepalanya terasa pusing dan juga perutnya yang seperti diaduk-aduk hingga ia tidak melihat jika suaminya sudah keluar dari kamar mandi Aruna juga tidak protes dan tidak menahan Digo supaya suaminya itu tidak masuk ke sekolah hari ini mungkin bisa jadi ku ingin menemaninya di sini.
Melihat istrinya yang sudah memejamkan matanya Digo segera menuju ke bawah yang pastinya ia juga tidak mau jika Mami Nina dan juga Papi Rendra nanti khawatir kenapa dirinya dan juga arona belum turun ke bawah karena Digo juga belum memberitahukan tentang keadaan Aruna pagi ini.
Alhasil setelah sampai di bawah Mami Nina mengerikan alisnya pasalnya Digo tidak memakai seragam sekolah malah memakai pakaian biasa dan tidak ada Aruna yang ada di samping Digo.
"Lho kamu tidak sekolah lalu di mana Aruna?"
Pertanyaan yang sama yang setiap kali Mami minta lontarkan ketika pagi pagi di mana tidak melihat Digo bersama dengan Aruna ataupun sebaliknya di mana hanya Arora saja yang turun tanpa adanya Digo.
"Jangan coba-coba bolos sekolah diingat kamu sebentar lagi lulus ujian dan kamu adalah kepala rumah tangga dan seorang pemimpin perusahaan jati jangan harap jika kamu sudah memimpin perusahaan itu kamu sudah bebas dan tidak memperdulikan datang sekolah kamu tapi tidak suka itu."
Ya sedikit ancaman tetapi itu bisa membuat di kesuksesan sampai saat ini di mana memang Papi Rendra tidak mengajarkan kepada putra-putranya untuk bolos bahkan meskipun tanpa bekerja atau sekolah pun Digo dan Nathan bisa bergelimangan harta dengan mengelola bisnis dari kekayaan milik Narendra tetapi bukan itu cara membuat ketupat putranya sukses bahkan Papi renda tidak segan-segan untuk meminta Digo sekolah meskipun Digo maupun Nathan hanya flu atau batuk ringan kalau tidak sampai benar-benar parah mereka berdua tidak akan diizinkan untuk tidak masuk sekolah.
Alhasil didikan dari Papi Rendra yang super ketat itu bisa mengantarkan kedua putranya itu menjadi laki-laki yang pintar laki-laki yang tanggung jawab dan laki-laki yang bisa memimpin perusahaan meskipun usianya masih muda.
"Digo tidak membolos Pi, tetapi Digo memang hari ini tidak izin sekolah Aruna sakit."
"Aruna sakit, sakit apa?"
Digo duduk di kursi makan di mana ia memandangi orang tuanya satu persatu yang mana aura wajahnya begitu khawatir dengan kondisi istrinya saat ini dan ternyata bukan hanya dirinya saja yang khawatir tetapi kedua orang tuanya juga sangat khawatir padahal hatiku sendiri belum tahu apa yang dirasakan oleh Aruna . Apa yang menjadi penyebab Aruna seperti itu.
"Digo tidak tahu Pi yang jelas Aruna tadi pusing dan katanya mual perutnya seperti diaduk-aduk hingga Aruna juga tidak sekolah hari ini begitu juga dengan aku Aku akan menemani Aruna, Aku tidak tega membiarkan Aruna seperti itu."
"Pusing mual-mual?"
Tentu saja ucapan dari mami Nina itu mengandung makna bahkan perempuannya tidak mudah lagi itu tiba-tiba tersenyum mengingat kejadian beberapa belas tahun yang lalu di mana ia mengandung Nathan dan Digo memang awal kehamilan itu mah minimal merasakan pusing yang begitu dahsyat dan juga perutnya seperti diaduk-aduk dan ciri-ciri seperti ini persis seperti orang hamil tetapi Mami Nina tidak mau mengatakan dulu Kepada adikku beliau juga tidak mau menebak-nebak karena beliau tahu arona setiap malam masih mengkonsumsi pil penunda kehamilan.
"Iya Mi, aku tidak tega melihatnya..."
"Lalu apa yang kamu lakukan di sini kenapa kamu malah meninggalkan Aruna?"
Tanya Papi Rendra dengan muka yang begitu jutek beliau memang sangat khawatir dengan Aruna bahkan tidak tahu Apa penyakit dari Aruna itu tetapi kenapa malah Digo berada di sini dan santai-santai tidak berada di samping Aruna.
"Aku ke sini mau mengambilkan makanan dan juga susu untuk Aruna Pi... Nanti dijaga setelah makan Aruna masih pusing dan mual aku akan membawa Aruna ke rumah sakit."
Setelah mengatakan seperti itu Digo langsung saja mengambilkan sarapan untuk Aruna laki-laki itu mengambil satu piring saja dengan porsi yang sangat banyak tentunya dan ia juga membuatkan susu hangat yang seperti biasanya Aruna minum dengan dirinya juga membuat secangkir kopi seperti kebiasaannya di pagi hari.
Sedangkan Mami Nina, ia masih memikirkan sesuatu apakah memang benar menantunya hamil kalau ia maminin rasanya senang sekali meskipun ia ada rasa khawatir dengan usia Aruna yang masih sangat muda tetapi itu juga tidak masalah toh juga sebentar lagi Aruna lulus sekolah dan jika dihitung Aruna hamil ini pasti tidak akan ada yang tahu perutnya masih terlihat kecil.
Ya Mami Nina mama malah membayangkan sesuatu yang belum pasti beliau terlihat senyum-senyum sendiri sembari menghitung jika memang arona hamil saat ini kehamilan Aruna pastinya sudah menginjak 6 minggu atau ke berapa yang pastinya meminum juga menghitung apakah nanti Aruna akan homeschooling atau tetap melanjutkan sekolahnya yang dalam hitungan bulan Aruna akan lulus.
Ya setelah Digo mengambil sarapan dan susu hangat untuk Aruna laki-laki itu segera pamit untuk menuju ke kamarnya ia tidak mau membuat Aruna menunggu dan pastinya ia akan memaksa Aruna untuk sarapan pagi ini nanti dilihat dulu setelah Aruna makan dan minum susu apakah ada perubahan dari diri Aruna kalau tidak Digo akan bergegas menuju ke rumah sakit digu juga tidak mau memanggil dokter pribadi keluarga Karena ia yang sangat khawatir dan mungkin saja Aruna perlu penanganan khusus.
*****
"Mami kenapa malah senyum-senyum sendiri Mami tidak melihat kondisi Aruna saat ini atau mami tidak khawatir dengan menantu cantik mami?"
Ya sepertinya sadari tadi Papi Rendra memperhatikan ekspresi wajah mami Nina yang awalnya memang terlihat khawatir tetapi mengapa setelah itu memilihlah terlihat senyum-senyum sendiri seperti senang dengan Apa yang dirasakan oleh Aruna saat ini.
Sungguh aneh menatunya sakit tetapi malah mertuanya seakan akan senang dengan penderitaan menantunya yang mana terlihat dari wajah mamirina yang sangat gembira dan itu membuat tanda tanya yang besar dari Papi Rendra mengapa bisa-bisanya Mami Nina yang sangat sayang dengan Aruna tetapi mendengar Aruna sakit seperti ini meminta malah berbahagia.
"Papi ngawur saja Mami sangat khawatir dengan Aruna tetapi setelah Mami pikir-pikir dan juga dari cerita Digo sepertinya kita mau mempunyai cucu."
"Apa? Aruna jadi hamil?"
Sontak Papi Rendra terkejut sama kagetnya dengan Mami Nina ketika diberitahu kalau Aruna mengalami mual dan juga pusing tapi rendah juga sudah diberitahu oleh mamirina jika Aruna akan menunda kehamilannya dulu selama masih sekolah tetapi tidak dengan digoyang menggembung-gebu ingin memiliki anak dari Aruna secepatnya.
Maka dari itu ketika Mami Nina mengatakan jika Aruna sepertinya hamil , Papi Rendra seakan-akan tidak percaya mana bisa Aruna hamil ketika masih menggunakan pengaman atau jangan-jangan memang selama ini Aruna sudah tidak mengkonsumsi pil penunda kehamilan lagi kalau begitu Papi Anda sangat senang karena apa yang diwujudkan tercapai ia akan menimbang itu-itu di usianya yang masih muda jadi tidak terlalu tua untuk mengajak cucu-cucunya nanti jalan-jalan.
"Apa Mami yakin?"
Tanya Papi Rendra lagi pasangnya setahunya Aruna memang menunda kehamilannya dulu tetapi melihat dari ekspresi wajah dari meme dress seakan-akan percaya jika menantunya itu hamil.
"Antara yakin dan yakin Mami tahu apa yang kau dirasakan Mami juga tadinya kaget dengan cerita Digo juga Aruna pusing dan mual-mual. Sebelum Mami bercerita lebih lanjut Mami ingin bertanya kepada papi papi masih ingat kan dulu ketika Mami mengandung Nathan dan Digo dan ciri-cirinya persis seperti apa yang dikatakan oleh Diego barusan pusing dan mual bahkan untuk berjalan saja rasanya tidak sanggup."
Papi Rendra mengagukan kepalanya yang mana memang ia masih mengingat betul bagai mana kondisi Mami Nina dulu pas mengandung Nathan dan bahkan tidak bisa ke mana-mana hanya berjalan saja itu tidak sanggup dan meminima pusing dan juga mual-mual waktu kehamilannya masih sangat muda.
"Nah bukannya Mami hanya menebak-nebak saja tetapi itu adalah ciri-cirinya jika hamil muda dan siapa tahu memang benar-benar kita sedang hamil tetapi Mami tidak mau mengatakan itu dulu kepada Digo takut nanti jika prediksi mami salah dan akan membuat diriku kecewa."
Ya maka dari itu saudari tadi Mami Nina hanya diam saja tidak mengatakan apa-apa Iya nanti menunggu hasilnya saja yang kata adik kok ia akan membawa Aruna untuk periksa setelah sarapan nantinya dan pastinya ia menunggu kabar baiknya itu.
__ADS_1
"Yang Papi juga akan diam saja tapi menunggu kabar baiknya tetapi jika dipikir-pikir tapi mengingatkan dulu saat Mami hamil memang seperti itu."
"Maka dari itu sedari tadi Mami mau berpikir sesuatu lalu tersenyum membayangkan jika menantu kita memang benar-benar hamil."
Ya kedua orang yang tidak mudah lagi itu sama-sama tersenyum membayangkan jika memang benar arona hamil yang pastinya rumah ini akan semakin ramai dengan tangis dari seorang anak tentu saja mereka berdua tidak akan menyia-nyiakan anugerah yang terindah ini meskipun mereka semua tahu resiko juga hanya di usia muda tetapi baik maupun berbeda-beda percaya jika dengan keluarga semua akan baik-baik saja dan juga memina nantinya yang akan membantu Aruna untuk mengurus cucunya bukan meminta Baby sister atau apapun.
Sertakan Digo, laki-laki itu yang sudah membawa makanan dan juga susu hangat ke atas langsung saja meletakkan nampan itu ke atas meja yang pastinya di saat ini melangkahkan kakinya untuk menuju ke atas ranjang membangunkan istrinya yang memejamkan mata.
"Sayang makan dulu aku sudah bawain susu banget dan juga makanan."
Aruna menggelengkan kepalanya rasanya ia masih mual dan tidak nafsu makan padahal setiap hari arona tidak melewatkan sarapan sedikitpun dan juga tidak melewatkan minum susu yang menjadi kesukaannya.
"Hei jangan begitu nanti kamu sakit beneran setelah ini jika kondisi kamu masih belum membaik kita ke rumah sakit ya Aku tidak ingin terjadi sesuatu sama kamu."
Ya bukan hanya sekedar ancaman tetapi memang dikubur rencana seperti itu tetapi itu malah membuat Aruna membuka matanya dan bergegas untuk duduk.
"Aku mau makan dan aku tidak mau diperiksakan ke rumah sakit."
Digo lalu tersenyum kemudian mengambilkan susu dan juga makanan untuk Aruna yang pastinya ia tahu jika istrinya itu takut jika masuk ke rumah sakit dan takut bertemu dengan dokter yang membawa suntikan.
"Minum susunya dulu setelah itu makan yang banyak lalu istirahat Aku akan menemui kamu di sini dan jangan berpikir yang macam-macam mungkin kamu kelelahan karena beberapa hari ini kita mainnya selalu over."
Mungkin saja, bahkan baik Aruna maupun Digo tidak menyangka jika ada sesuatu di dalam perut Aruna saat ini mereka berdua berpikir jika belakangan ini hanya terlalu over hingga membuat Aruna kelelahan dan juga tugas-tugas yang beberapa hari ini juga selalu memadati di otak dan pikiran Aruna.
Arunaman minum susu tetapi baru saja ia ingin memasukkan susu itu dan menghirup aromanya tiba-tiba rasa mual sudah merasuk di dalam indra penciuman yaitu hingga Aruna dengan cepat mendorong tubuh di pukulan selalu berlari untuk menuju ke kamar mandi.
Hoek...Hoek..
Hanya mencium aroma dari Digo saja membuat perut aroma seperti diaduk-aduk dan kembali lagi aroma memuntahkan sesuatu di dalam mulutnya tetapi sayang sekali tidak ada yang keluar bahkan hanya ada cairan yang keluar dari mulutnya itu.
"Astaga sayang..."
Merasa khawatir dengan kondisi Aruna, Digo meletakkan susu dan juga sarapan Aruna ke atas media tentu saja laki-laki itu segera berlari untuk menuju kamar mandi melihat kondisi istrinya saat ini terdengar muntah-muntah.
"Mulut aku baik sekali dan rasanya perut aku seperti diaduk-aduk perut aku juga semakin pusing."
Aruna mengeluhkan apa yang terjadi di dalam tubuhnya saat ini meskipun sebenarnya arona bukan tipe perempuan yang suka mengeluh jika kondisinya tidak baik-baik saja tetapi keadaan yang seperti ini sangat membuat Aruna tidak nyaman.
"Keluarkan saja sayank mungkin dengan kamu keluarkan perut kamu akan semakin lega."
Digo memijat tengkuk Aruna supaya Aruna bisa lega dan memuntahkan semuanya tetapi Lagi Dan Lagi memang Aruna memuntahkan segala isi perutnya namun tidak ada yang keluar hanya cairan bening yang keluar dari bibir Aruna itu.
****
"Astagfirullah Aruna..."
Digo yang melihat Aruna lemas dan tak sadarkan diri langsung saja menggendong tubuh Aruna untuk keluar dari kamar mandi laki-laki itu segera merebahkan tubuh Aruna di atas ranjang kemudian ia keluar dari kamar berkarya untuk meminta tolong supaya Pak supir pribadi keluarga Narendra itu bersiap-siap untuk mengantarkan dirinya dan arona menuju ke rumah sakit.
Saking paniknya Digo hanya berteriak dari atas saja iya bingung sekaligus khawatir tidak mungkin meninggalkan Aruna yang tidak sadarkan diri di dalam kamar mandi untuk menuju ke bawah hingga membuat kedua orang tuanya itu kaget dengan teriakan Digo.
Ya Papi Rendra maupun Mami Nina masih sarapan di meja makan beliau berdua merasa adanya sesuatu yang tidak beres hingga membuat Digo teriak teriak seperti itu.
"Astagfirullah apa yang terjadi dengan Aruna mengapa kamu berteriak kenapa tidak turun saja?"
"Juga tidak mungkin meninggalkan Aruna Dan Digo minta tolong supaya Pak Adi mempersiapkan mobil juga akan membawa Aruna ke rumah sakit saja sepertinya memang tidak perlu ditunda-tunda lagi."
Dengan cepat Digo mengatakan seperti itu yang mana ia sangat khawatir sekali dengan istrinya yang mungkin terjadi sesuatu yang lebih parah jika diikuti tidak segera membawanya ke rumah sakit.
Papi Rendra dan juga Mami Nina bergegas untuk berdiri dari kursi beliau juga tidak menghabiskan sarapannya dan membagi tugas tapi rendah langsung saja menuju ke luar untuk memastikan Pak Hadi supaya mempersiapkan mobilnya sementara Mami Nina bergegas untuk menuju ke atas melihat keadaan menantunya yang kata Digo tadi pingsan.
"Cepat kamu siap-siap Di, tidak usah membawa apapun juga kita tidak tahu nanti bagaimana prediksi dokter di sana."
Mami Nina saat ini sudah berada di dalam kamar tidur dan beliau sedikit kaget melihat digoyangnya mondar-mandir saja membuka almari dan memasukkan beberapa pakaian Aruna itu ke dalam tas tentu saja ini bukan sebuah tindakan yang dilakukan oleh Digo karena meminima yakin menantunya ini hamil dan pastikan akan menginap di sana meskipun tidak akan lama berada di rumah sakit tetapi untuk pertama kalinya akan dilakukan oleh dikubukan mempersiapkan barang-barang Aruna namun mempersiapkan dirinya dan juga segera menggendong tubuh Aruna ke bawah karena pirendra sudah mengabarkan jika mobil yang akan membawa Digo dan Aruna ke rumah sakit itu sudah siap.
"Astaga kenapa aku jadi seperti itu Mami benar ayo membantu aku untuk membukakan pintu nanti untuk pakaian Aruna bisa nanti nanti saja yang penting istriku ditangani dulu oleh dokter."
Saking paniknya hatiku sampai lupa untuk segera menggendong tubuh Aruna hingga kini memilih membantu untuk membukakan pintu kamar diikut dan digusur dalam menggendong tubuh Aruna untuk turun ke bawah.
"Hati-hati Di, jangan grusa grusu seperti itu jangan cemas istri kamu tidak apa-apa."
Ya bukannya Mami Nina tidak khawatir tetapi Mami dan yakin sekali jika arona saat ini tengah hamil dan memang orang hamil muda seperti itu terlebih lagi Aruna yang masih sangat muda dan juga beberapa hari ini terlalu banyak kegiatan yang membuat kondisinya lemah.
Digo hanya mengagukan kepalanya ia lalu berhati-hati untuk turun dari tangga kemudian setelah sampai ke bawah bergegas untuk masuk ke dalam mobil yang di depan ternyata tidak ada Papi Rendra siap untuk membukakan pintu.
Tidak ingin kehilangan informasi tentang menantu cantiknya itu papi Rendra juga Mami Nina masuk ke dalam mobil kemudian kedua orang tua yang juga sama-sama khawatirnya itu mengikuti mobil yang mengantarkan Digo untuk menuju ke rumah sakit.
Yang pastinya apapun kegiatan Papi dan juga memilin nah pagi ini semuanya di cancel beliau tidak mau terjadi sesuatu dengan menantunya dan beliau ingin mendengar kabar berita itu langsung dari dokter.
"Sayang bertahanlah kamu tidak apa-apa."
Aruna yang belum sadarkan diri Dan juga wajahnya namaku dan membuatku khawatir tetapi Digo tidak boleh panik kalau dia panik maka tidak akan ada yang bisa menguatkannya meskipun sebenarnya Digo masih khawatir dengan kondisi istrinya saat ini di mana Aruna yang belum sadarkan diri sampai saat ini.
Hingga akhirnya mobil yang membawa Digo dan juga Aruna sudah sampai di rumah sakit tentu saja sebelum ke rumah sakit tapi rendah sudah menghubungi perak rumah sakit untuk menyiapkan segala sesuatunya hingga semuanya sudah berkumpul di depan UGD untuk menyambut kedatangan Digo dan juga arona dan semuanya telah siapa di sana.
"Digo, kamu tunggu saja di sini .. kamu tenang saja biar om yang menangani Aruna jangan khawatir."
Ya kebetulan sekali dokter yang menangani Aruna pagi ini adalah teman baik Papi Rendra dan beliau mengatakan jika Digo tidak perlu masuk ke dalam karena melihat dari ekspresi Digo laki-laki itu ingin menemani Aruna diperiksa ke dalam.
"Tapi Om, aku sangat khawatir dengan Aruna boleh ya aku masuk ke dalam hanya aku saja Aku ingin terus berada di samping Aruna."
"Bukan boleh atau tidak tetapi jika kamu masuk ke dalam maka akan menghambat pemeriksaan istri kamu kamu sebaiknya tunggu di sini saja biar om yang memeriksa kondisi Aruna dan jangan khawatir Aruna baik-baik saja."
Mau tidak mau Digo menunggu di luar pintu UGD dengan ditemani oleh Mami Nina dan juga Papi Rendra meskipun berulang kali Digo memaksa untuk masuk tetapi tetap saja tidak boleh.
Digo yang mondar mandi di depan pintu Oke karena pintu itu belum dibuka dan dokter yang menangani Aruna juga belum keluar membuat dirinya semakin panik saja khawatir jika terjadi sesuatu yang mengerikan dengan istrinya atau malahan terjadi yang tidak-tidak.
Sudah seperti setrikaan mondar-mandir Digo malah membuat Papi Rendra dan juga Mami pusing meskipun kedua orang tua adikku itu sama-sama khawatir tetapi beliau berusaha untuk tenang dan tidak mondar-mandir seperti apa yang Digo lakukan.
"Kamu duduk di sini saja Di, pasrahkan semuanya kepada Tuhan dan yakinlah jika istri kamu baik-baik saja."
Mami Nina berdiri kemudian menepuk pundak Digo serta menarik tangan Digo untuk duduk bersama dengan beliau memang ia bisa melihat dari ratu aja digoyang sangat khawatir dengan kondisi istrinya tetapi tidak begitu caranya yang membuat semua orang yang melihat tingkah Digo menjadi pusing.
Beberapa menit kemudian Digo yang sudah lebih tenang dan melihat ke arah pintu dan ternyata pintu itu sudah dibuka dengan keluarganya Om Rendy dari dalam.
Dengan cepat di bangun dari kursinya kemudian mendekat ke arah Om Rendy dan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi dengan istrinya itu.
"Om bagaimana kondisi istri aku Om? Aruna tidak apa-apa kan Om kenapa lama sekali memeriksa Aruna?"
__ADS_1