My Crazy Husband

My Crazy Husband
Aku Buat Tidak Marah


__ADS_3

"Sialan! awas aja lo, gue akan buat kalian putus dan gue yang akan mendapatkan Digo!!"


Rasa hati Miranda semakin panas saja membuat Miranda dengan cepat meninggalkan Digo dan Aruna tetapi setelah ia sampai di samping Aruna perempuan itu membisikkan sesuatu di telinga Aruna dan tentu saja Aruna menanggapinya dengan senyuman manis.


Karena Aruna tahu sebagaimana Miranda mengancamnya dan akan berusaha merebut Digo darinya itu tidak akan pernah berhasil karena Aruna yakin jika Digo sangat mencintainya dan tidak akan mampu untuk berpaling darinya meskipun dengan rayuan yang Miranda berikan.


"Oh ya coba saja kalau Lo berani, gue dengan senang hati akan memberikan Digo untuk Lo jika lo berhasil untuk merebut Digo dari gue dan Digo berpaling dari gue, tentu saja itu tidak akan pernah lo dapatkan karena Digo sangat mencintai gue dan dia nggak akan meninggalin gue."


Ucap Aruna dengan nada yang keras, ia tidak berbisik lagi supaya suami dan yang lainnya itu tahu dengan apa yang ia katakan.


Miranda yang marah segera meninggalkan Sih, ia tidak mau berurusan dengan Aruna yang merupakan ancaman terbesar baginya dan Miranda meninggalkan Digo kemudian menyusun rencana supaya membuat Digo dan Aruna putus.


Setelah Miranda pergi, Digo dengan cepat membawa istrinya itu untuk keluar dari sekolahan ini di mana ia memang sudah ada janji dari Papinya untuk ke kantor dan sudah dipastikan jika mulai hari ini dan seterusnya Digo hanya akan mengantarkan Aruna pulang setelah itu ia akan menuju ke perusahaan atau ke restoran dan mungkin saja pulangnya nanti malam.


Itu sudah menjadi konsekuensinya Digo jika menikah muda karena ia harus menghidupi Aruna dengan cara bekerja, tidak semena-mena duduk diam nongkrong dan juga jalan-jalan tetapi uangnya mengalir terus.


"Ayo sayank, aku harap kamu tidak mengambil hati dengan apa yang diucapkan oleh Miranda dan kamu juga harus percaya sama aku, Aku tidak akan menduakanmu karena aku benar-benar mencintai kamu."


Aruna tidak menjawab, ia segera menuju ke parkiran dan masuk ke dalam mobil Digo. Meskipun sebenarnya Aruna tahu apa yang ada di dalam hati Digo tetapi melihat di kebersamaan Miranda tadi dan Digo hanya diam saja ketika tangannya dipegang oleh Miranda membuat Aruna menjadi marah, jengkel dan juga cemburu, bisa-bisanya suaminya itu tidak memberontak ketika tangannya dipegang oleh Miranda, malahan sepertinya Digo sangat menikmati.


Mereka berdua sudah keluar dari gerbang sekolah dan tentu saja kesibukan Digo kali ini diketahui oleh keempat sahabatnya dan mereka juga tidak bisa protes dengan apa yang dilakukan karena mereka  benar-benar paham betul bagaimana posisi Digo saat ini dan status Digo saat ini ya sudah tidak single lagi.

__ADS_1


Tidak ada ucapan apapun yang keluar dari mulut Aruna sehingga Digo berpikir jika istrinya itu benar-benar ngambek dengan apa yang sudah dilihatnya.


"Sayank, kamu marah sama aku? aku kan sudah bilang jangan mengambil hati apa yang diucapkan oleh Miranda, lagi pula aku tidak mencintainya, yang aku cintai cuma kamu, istriku."


"Kalau kamu tidak mencintainya kenapa kamu diam saja ketika tangan Miranda menyentuh kamu, bahkan sepertinya kamu menikmati sekali tanganmu dipegang-pegang oleh dia? Jangan-jangan kamu juga ingin melakukan sesuatu dengan Miranda atau malahan kamu sudah pernah melakukannya dan ingin mengulang lagi?"


Sepertinya dalam situasi seperti ini Aruna tidak bisa diajak ngobrol baik-baik hingga Digo menepikan mobilnya lalu menghentikan mobilnya sejenak.


Meskipun tidak marah namun Digo gemas sekali dengan istrinya, mengapa pikiran istrinya selalu negatif terus padahal sudah dijelaskan jika Digo sama sekali tidak pernah bermain wanita walaupun keempat sahabatnya itu suka sekali mempermainkan wanita dan suka celup-menyelup ke sembarangan lubang tetapi tidak dengan Digo.


"Kamu cemburu?"


Digo membuka sabuk pengamannya kemudian laki-laki itu menatap ke arah Aruna sembari mendekatkan wajahnya, ia ingin tahu bagaimana ekspresi wajah istrinya saat ini yang mungkin dipikiran Digo, Aruna sudah cemburu.


Jawab Aruna dengan berbohong, Aruna juga memalingkan wajahnya ke samping, ia tidak mau ditatap seperti itu oleh Digo yang nyatanya memang pesona dari Digo tidak bisa diragukan lagi. Aruna benar-benar jengkel dengan laki-laki yang ada di depannya laki-laki yang saat ini sudah menjadi suaminya.


"Kalau kamu nggak cemburu kenapa memalingkan wajah? kenapa nggak lihat wajah suami kamu yang tampan ini....!"


Digo masih saja melihat ke arah Aruna semakin lama ia semakin gemas dengan istrinya dan tanpa sadar sesuatu yang dibawah sana sudah mulai berbeda lagi, sepertinya memang ular pitonnya Digo itu tidak bisa dikondisikan, menatap wajah cantik Aruna dengan ekspresi wajah yang menggemaskan ini langsung saja berubah bentuk dan juga ukurannya.


Cup

__ADS_1


Dengan cepat Digo mencium bibir Aruna, ia sudah candu dengan bibir manis kepunyaan istrinya itu yang mana Digo sebenarnya hanya ingin mencium bibir atas Aruna saja namun sepertinya tidak ada penolakan dari istrinya itu membuat Digo meneruskan apa yang menjadi kesenangannya itu.


Semakin lama ciuman Digo semakin ganas hingga membuat laki-laki itu tidak sadar jika saat ini mereka sudah ada di mobil dengan tangan Digo yang sudah membuka satu per satu kancing Aruna.


Astaga apa yang akan Digo lakukan? ini di dalam mobil di jalan pula, bagaimana kalau nanti ketangkap satpol?


Aruna yang baru tersadar seketika langsung saja mendorong tubuh Digo, ia tidak mau melakukan sesuatu di dalam mobil, terlebih lagi Aruna masih marah dan jengkel dengan suaminya itu yang mana malahan tidak menepis genggaman tangan dari Miranda.


"Aku masih marah sama kamu, jadi jangan meminta yang tidak-tidak!!"


Ujar Aruna yang saat ini sudah mendorong pelan tubuh Digo, perempuan cantik itu juga langsung membenarkan kancing baju yang baru saja dibuka oleh suaminya.


"Akan ku buat kamu tidak marah lagi!"


Dengan cepat Digo mengubah posisinya, laki-laki itu segera memakai sabuk pengamannya dan langsung melanjukan mobilnya.


Digo bahkan tidak perduli ia akan telat sampai ke kantor yang mana memang di perusahaannya itu tidak lagi ada meeting, hanya Digo memang sekarang bertanggung jawab untuk mengurusi semuanya setelah pulang sekolah.


Dan Digo juga tidak masalah jika nanti akan terlambat dan dimarahi oleh Papinya yang penting ia bisa menuntaskan segala sesuatu yang mengganjal di bawah sana, sepertinya kalau tidak begitu...Digo


 tidak akan bisa konsentrasi dalam pekerjaannya.

__ADS_1


"Kita akan ke mana Di? jangan macam-macam....aku masih marah padamu, lagi pula kamu sudah ditunggu oleh Papi di kantor?"


Digo tidak mau menjawab, bukan karena ia kesal dengan Aruna tetapi biarkan saja istrinya ngoceh, lagi pula percuma jika dikasih tahu, Aruna juga tidak akan mau.


__ADS_2