
"Bangun Di, kita telat!!"
Aruna yang baru saja membuka matanya dan melihat ke arah jam yang saat ini menempel di dinding kamar nya dan ia menggelengkan kepalanya manakala jam menunjukkan pukul 06.00 pagi dan sudah dipastikan kalau ia dan Digo hari ini terlambat untuk ke sekolah.
Dengan cepat-cepat Aruna membangunkan suaminya yang nyatanya suaminya masih tertidur lelap hingga akhirnya Aruna dengan segera menuju ke kamar mandi.
Lagi lagi Aruna mandi dengan begitu cepatnya ia bahkan tidak peduli suaminya itu sudah bangun atau tidak Dan mungkin saja nanti setelah mandi Aruna akan membangunkan Digo lagi.
Dan benar saja setelah Aruna keluar dari kamar mandi ia masih melihat Digo yang masih tertidur ingin rasanya Aruna meninggalkan Digo di sini tetapi ia merasa kasihan dengan suaminya hingga akhirnya Aruna membangunkan Digo dan ia segera bergegas untuk mengganti bajunya.
"Jam berapa sayank, tidur lagi saja.."
"Tidur lagi gimana ini sudah jam 06.15 menit kalau kamu tidak segera mandi pasti akan terlambat.."
"Shittt!!"
Baru tersadar, Digo bergegas menuju ke kamar mandi ia juga tidak mungkin datang ke sekolah terlambat karena tidak ada sejarahnya seorang Digo terlambat untuk masuk ke sekolah bahkan ia yang paling dulu sampai sekolah tetapi hari ini sepertinya nasib baik tidak mengarah kepada Digo yang mana sudah dipastikan ia dan Aruna akan terlambat ke sekolah dan tentunya mendapatkan hukuman dari guru BP nantinya.
Tetapi daripada tidak berangkat ke sekolah sama sekali mendingan ia tetap masuk meskipun harus dihukum.
"Di, Aku tunggu di bawah kamu cepat selesaikan mandinya pakaian dan juga buku kamu sudah aku siapkan!!"
Sepertinya Aruna sudah mulai menyadari tentang tugas dan kewajibannya seorang Istri ia yang semalam memang sudah menyiapkan buku-buku pelajaran untuk Digo dan pagi ini menyiapkan seragam untuk tidur kemudian perempuan cantik itu bergegas menuju ke bawah dan tentu saja ia tidak mau menunggu suaminya di sini malah nanti semakin bahaya jika melihat Digo yang hanya menggunakan handuk saja lebih baik Aruna turun ke bawah dan menunggu suaminya di bawah sembari sarapan.
Jujur saja Aruna sangat lapar, bagaimana tidak semalam 10 ronde sudah Digo lakukan dan sama sekali ikut tidak memberikan makan tengah malam dan telur saja memangsanya hingga akhirnya pagi-pagi ini ia memutuskan untuk turun ke bawah dan sarapan dulu terserah nanti Digo bisa sarapan atau tidak yang penting dirinya sudah kenyang.
Memang terkesan egois tetapi itu salah Digo sendiri yang begitu kejam padanya semalam.
Lagi lagi semua sudah duduk di meja makan begitu juga dengan Nathan yang pagi ini ikut sarapan bersama.
Aruna juga tak lupa menyapa 3 orang yang berada di sana meskipun Mereka melihat ke arah Aruna dengan menggelengkan kepalanya tetapi Aruna bersikap cuek saja toh pastinya yang dipikiran Papi, Mami dan juga Nathan tidak jauh-jauh dengan adegan panas semalam.
"Sarapan dulu sayank, tidak usah menunggu Digo pasti anak itu nanti turun sendiri.."
Sepertinya Mami Nina paham dengan apa yang terjadi semalam hingga beliau mempersilahkan Aruna untuk sarapan dulu tanpa menunggu Digo yang pastinya Aruna melakukan kepalanya kemudian mengambil piring lalu menyendokkan nasi dan juga lauk pauk.
"Semalam kalian tidur jam berapa hingga bangunnya terlambat."
Papi Rendra sengaja menggoda Aruna meskipun beliau tahu apa yang dilakukan oleh putrinya semalam tetapi tidak asik jika tidak menggoda menantu cantiknya itu.
"Tidak tahu Pi.."
Tidak mungkin juga Aruna mengatakannya sebenarnya kalau ia dimangsa oleh Digo lalu ketiduran dan terbangun tengah malam kemudian dimangsa lagi hingga akhirnya kesiangan seperti ini.
"Anak nakal itu yang membuat kamu tidak bisa tidur!!"
"Siapa lagi kalau bukan anak kamu Mi, Digo pastinya tidak akan membiarkan istri cantiknya itu tidur sementara dirinya tidak bisa tidur.."
"Anak kamu juga Pi, dan itu sifatnya menurun sama kamu."
Aruna jadi malu sendiri pasalnya kedua mertuanya malah berdebat yang tidak-tidak berbeda dengan Nathan yang hanya menetap ke arah Aruna dan tidak mengatakan sepatah apapun sepertinya laki-laki itu sudah cukup dewasa untuk mengerti semuanya meskipun Nathan belum menikah.
"Besok kalau kamu nikah jangan seperti adik kamu yang tidak membiarkan istrinya tidur, kasihan.."
Ujar Papi Rendra kepada Nathan yang saat ini Nathan hanya diam saja sembari menyimak obrolan yang tidak berguna.
"Tetapi memang laki-laki seperti itu kalau tidak memangsa istrinya tidak bisa tidur, iya kan Run?"
Aneh tapi nyata tadi Papi Rendra meminta Nathan untuk tidak memangsa istrinya terus-menerus tetapi ia juga membenarkan apa yang dilakukan oleh Digo yang mana memang seorang laki-laki seperti itu tidak akan tidur kalau belum menuntaskan sesuatunya.
"Kalian para laki-laki sama saja bisa-bisanya membuat lelah dan tidak bisa tertidur."
Mami Nina hanya mencebikkan bibirnya kesal beliau bagaimana sifat dari suaminya itu yang mana kini sudah menurun kepada Digo.
Setelah beberapa menit berada di ruang makan akhirnya Digo turun dengan rambutnya yang masih basah laki-laki itu menghampiri istri dan juga kedua orang tuanya sekaligus Nathan dan benar sekali diikuti tidak sempat sarapan hanya meminum susu saja karena jam sudah menunjukkan pukul 07.00 kurang 15 menit sudah dipastikan meskipun ia ngebut juga tidak akan sampai ke sekolah tepat waktu pasti akan terlambat juga.
Hingga akhirnya Digo dan Aruna pamitan untuk bergegas ke sekolah dan kali ini Digo menggunakan motor untuk lebih cepat ke sekolah meskipun sebenarnya ia masih kasihan dengan istrinya namun mau tidak mau untuk lebih cepat sampai ke sekolah di gua harus menggunakan motor.
"Maaf sayank, terpaksa kita pakai motor.."
"Tidak masalah Di, lebih cepat lebih baik tidak lucu juga jika seorang ketua OSIS datang terlambat.."
"Dan itu semua gara-gara kamu yank!"
"Gara-gara aku, kok bisa? kamu yang berbuat kenapa kamu yang mengalihkan tanggung jawabnya padaku.."
"Ya bisalah gara-gara aku candu sama kamu hingga membuat aku tidak bisa tidur dan ingin memangsamu kalau begitu itu kesalahan siapa aku atau kamu?"
Aruna mencubit perut Digo kenapa suaminya tiba-tiba menyalakan atas keterlambatan ini yang jelas jelas itu semua karena Allah Digo yang tidak mau tidur dan terus memangsanya padahal Aruna sudah memperingatkan untuk menyetop permainannya namun Digo mengatakan nanggung dan nanggung hingga akhirnya mereka berulang kali melakukannya bahkan tertidur jam 05.00 pagi hingga akhir nya kesiangan seperti ini.
"Awas aja nanti kalau dihukum nanti malam kamu tidak boleh tidur di kamar!!"
Tentu saja itu tidak mungkin dilakukan oleh Digo pasalnya tidak memeluk Aruna saja Digo menjadi bingung apalagi tidak mendapatkan jatah.
Hingga akhir nya mereka sudah sampai di sekolah dengan pintu gerbang yang sudah tertutup pastinya guru BP dan petugas yang lainnya sudah berdiri saja untuk melihat siapa saja yang datang terlambat saat ini.
"Kalian ya, satu ketua OSIS atau sekretaris kenapa datanya terlambat, apa kalian memang janjia? Kompakan lagi? Apa kalian tidak memberikan contoh yang baik?"
"Maaf Pak tadi jalanannya macet!!"
Macet apanya yang jelas rambut kamu itu bahas dan pastinya kamu dan Aruna sudah melakukan sesuatu semalam hingga membuat kalian tidak tidur memangnya aku ini anak kecil apa yang bisa dibohongi..
Pak Budi hanya menggerutu di dalam hati karena Pak Budi tahu status Digo dan arona saat ini yang sudah saya menjadi suami istri pastinya melihat gelagat aneh dari Diego dengan rambut yang basah dan juga uraian menyenangkan membuat Pak Budi bisa berpikir kalau semalaman Digo dan Aruna sudah melakukan sesuatu hingga pagi ini terlambat.
"Sekarang bergabung dengan yang lainnya dan siap-siap menerima hukuman meskipun kalian adalah anggota OSIS tetapi hukuman tetap hukuman."
Aruna dan Digo mengagukan kepalanya tidak masalah bagi Aruna karena ia sudah terbiasa dihukum tetapi kini tatapannya mengarah kepada suaminya yang mana gara-gara suaminya membuat ia harus dihukum berulang kali padahal Aruna sudah ingin tobat dan tidak ingin menerima hukuman terlebih lagi badannya yang pegal-pegal bagaimana mungkin ia akan lari setelah Digo melakukan sesuatu semalam.
"Lagipula kalian tuh aneh sudah suami istri tetapi masih saja begadang, apa besok tidak ada hari lagi?"
Dino menyindir ke arah Digo pasalnya sahabatnya itu memang benar-benar keterlaluan bisa-bisanya membuat Aruna kelelahan dan juga terlambat datang sekolah.
"Berisik lo!! mendingan pesankan minum saja karena pastinya gue dan Aruna nanti setelah mendapat hukuman haus!"
"Enak saja, lo yang dihukum kita-kita yang repot, sudah sana jalani hukuman lo, biasanya lo yang sering menghukum kita-kita gini giliran lo yang kita hukum.."
"Sialan!!"
Digo dan Aruna kini sudah bersama dengan teman-teman lainnya yang terlambat lagi dan lagi tatapan mata mereka terjun ke kepada pasangan halal itu di mana mereka tidak menyangka jika seorang ketua OSIS dan juga sekretaris pagi ini datang terlambat dan pastinya mereka menaruh curiga apa jangan-jangan keduanya memang janjian untuk sama-sama datang terlambat hingga bisa dihukum berbarengan.
Meskipun mereka tidak tahu saja jika Digo dan Aruna sudah menikah dan semalam melakukan sesuatu yang membuat terlambat tetapi mereka berpikir jika memang keduanya sengaja datang terlambat untuk bisa menghabiskan waktu berdua.
"Semuanya lari 5 putaran setelah itu bersihkan toilet!!"
Semuanya mengangguk dan patuh dengan apa yang diucapkan oleh Pak Budi memang aturannya seperti itu jika terlambat sekolah maka harus melalui 5 putaran dan juga membersihkan toilet semua itu dilakukan supaya anak didiknya jera.
Aruna di dalam hati mengumpat kesal kepada suaminya Lagi dan lagi ia merasakan sesuatu yang perih di bawahnya bahkan sepertinya milik Digo masih tertinggal di sana belum lagi ia harus melakukan lari 5 putaran sementara Digo seperti orang yang tidak bersalah malahan lari anpa memperdulikan dirinya, dan hanya sekilas tersenyum ke arah Aruna.
Hingga beberapa menit kemudian hukuman yang dilalui Aruna dan Digo sudah selesai kini mereka berdua berada di toilet yang kebetulan sekali toilet di samping ruangan OSIS di mana toilet itu memang sudah bersih dan tidak perlu dibersihkan lagi hanya sekedar formalitas saja keduanya pura-pura membersihkannya.
"Nih minuman buat kalian, siapa suruh semalam begadang!!"
"Terima kasih, lagi pula begadang kita juga enak dan juga halal tidak seperti kalian."
Digo pasti tidak akan diam saja jika diledek seperti itu ia juga mempunyai senjata terhadap keempat sahabatnya yang mana dengan posisinya yang sudah halal dengan Aruna membuat Digo menang.
"Terserah meskipun kita-kita melakukan dengan bukan pasangan yang halal tetapi kita tahu waktu, bukan seperti lo yang sehari semalam lo jajar terus Aruna, apa tidak kasihan?"
"Biar cepat jadi Digo junior."
"Astaga bocil punya bocil bagaimana nanti nasib anak kalian?"
"Gampang, semua sudah aku pelajari.."
Digo menyerahkan minuman kepada Aruna yang pastinya istrinya itu haus meskipun sedari tadi hanya diam saja dan Digo tahu pasti Aruna marah padanya dan berakibat mendiamkannya.
Mereka berada di depan toilet hingga keempat sahabat Digo memutuskan untuk masuk ke dalam kelas saja,.membiarkan Digo dan Aruna yang masih menjalani hukuman.
"Bagaimana kalau kita bolos saja yank?"
Tiba-tiba Digo mempunyai pikiran seperti itu, ia yang sudah lelah lari dan membersihkan toilet mengajak Aruna untuk bolos sekolah, lagi pula sepertinya istrinya itu masih kelelahan dan tidak semangat untuk menerima pelajaran hari ini.
"Hah bolos? apa aku tidak salah dengar,? seorang ketua OSIS ngajakin Aku bolos?"
"Tidak sayank, kamu tidak salah dengar daripada kamu tidak konsen dalam pelajaran lebih baik kita belum saja aku juga sudah males pagi ini dan ingin bersama dengan kamu."
__ADS_1
Ia berpikir memang tidak ada salahnya Kalau hari ini ia bolos tetapi bersama dengan digo pastinya, bukan untuk bersenang-senang dan menghabiskan waktu sendirian tetapi yang ada malahan dirinya nanti bisa dimangsahi Digo lagi.
"Aku tidak mau, kalau nanti kamu mangsa lagi lebih baik aku di sini saja tiduran meskipun tidak fokus menerima pelajaran."
Nyatanya memang pikiran strinya itu sudah negatif terus padanya dan tidak bisa dipungkiri kalau Digo berdekatan dengan Aruna yang ada otaknya juga sudah travelling ke mana-mana bahkan Sesuatu akan terjadi tanpa di rencanakan sebelumnya.
"Tidak dipungkiri jika aku dekat sama kamu Aku ingin melakukan itu tetapi aku tahu hari ini kamu sangat lelah sekali bagaimana kalau kita nonton saja setelah itu kita pulang ke apartemenku sebentar Aku janji tidak akan melakukan itu kepada kamu pagi ini namun tidak dengan nanti malam."
"Astaga sama saja.."
Mencoba berpikir sepertinya tawaran Digo itu benar-benar menarik terlebih lagi ia jarang sekali pergi ke bioskop apalagi setelah menikah dengan Digo yang pastinya ini adalah kesempatan langka dan lagi ia melihat film yang diputar hari ini begitu cukup menarik hingga akhirnya Aruna memutuskan untuk mengingatkan saja permintaan suaminya yang akan bolos sekolah pagi ini.
"Oke, lalu bagaimana kita keluarnya bukankah motor kamu ada di parkiran sepertinya susah untuk keluar?"
Kalau hanya orangnya saja yang keluar itu dia tidak masalah lalu bagaimana dengan motor Digo yang tadi dalamnya pastinya satpam itu tidak akan membiarkan orang-orang di sini keluar masuk dengan sembarangan.
"Gampang, biasanya kamu dari mana dan aku akan ikuti cara kamu untuk masalah motor tinggal saja di sini kita ke bioskop naik taksi saja nanti biar motornya diurus sama Dino."
Segampang itu Digo meninggalkan motor kesayangannya dan juga segampang itu Digo mengikuti apa yang arona lakukan.
Hingga akhirnya setelah Digo mengirimkan pesan kepada ke Mas sahabatnya itu ia segera menarik tangan Aruna dan meminta Aruna untuk menunjukkan bagaimana caranya supaya bisa keluar dari sini dengan cara aman.
Dia sepertinya Digo menjadi ketua OSIS memang belum lama ia juga tahu siapa-siapa yang bolos sekolah dan kabur saat pelajaran sekolah dimulai tetapi ia tidak tahu bagaimana caranya teman-temannya itu bisa kabur dari sini dan dengan cara inilah ia tahu bagaimana dulu Aruna dengan nakalnya meninggalkan pelajaran.
"Di sini ? kamu memanjat tembok ini seperti ini, tinggi sekali sayang?"
Digo melihat pagar tembok yang tinggi tetapi ia juga melihat banyak cara yang dilakukan untuk bisa menerobos batas tembok itu namun kali ini ia sedih melirik ke arah Aruna apakah dengan kondisi Aruna yang seperti itu istrinya bisa melewati pagar tambak ini.
"Tidak masalah aku sudah biasa melakukannya jangan khawatir."
Aruna pun sepertinya ragu terlebih lagi bagian bawahnya masih sakit bagaimana ia bisa melangkah dan melompat seperti ini mungkin kalau dulu Aruna masih perawan ia dengan lincahnya naik dan turun tanpa ada gangguan namun kali ini berbeda.
"Hati-hati yank, kamu duluan saja tunggu aku di bawah."
Tentu saja ini adalah pertama kali Digo melakukan seperti ini ia tidak menyangka jika teman-temannya itu begitu mudah mengecohnya dan melakukan bolos yang nyatanya memang sangatlah mudah.
Aruna dengan cepat naik tembok itu yang mana memang ada beberapa alat yang dipersiapkan untuk bisa menaiki tembok itu meskipun ia sedikit meringis karena kesakitan tetapi mau tidak mau ia harus berjuang untuk kabur dari sekolah ini karena Aruna sendiri sudah memutuskan untuk hari ini tidak ia tidak akan mengikuti pelajaran selain capek ia juga males.
Melihat Aruna yang sudah naik, Digo was was ia takut terjadi apa-apa dengan istrinya meskipun ia tahu kemampuan Aruna dalam melompat itu sudah ahli dibandingkan dengan dirinya tetapi keadaan arona yang berbeda membuat Digo khawatir takut-takut jika Aruna merasa kesakitan dan nantinya jatuh.
Sudah bernafas dengan lega manakala melihat Aruna yang sudah turun dengan selamat sekarang giliran dirinya.
Tidak sulit memang untuk Diego bisa melompati ini meskipun ia tidak pernah melakukannya tetapi keahliannya tidak bisa diragukan lagi jika memang serba bisa selain pintar dan juga menguasai semuanya, termasuk keahlian di ranjang dan juga naik tembok seperti ini.
"Tidak ada yang sakit sayank?"
Tanya Digo setelah ia turun ke bawah menyusul arunya dan melihat Aruna yang sedikit meringis sudah dipastikan jika Aruna merasakan sakit di bawah tetapi Aruna pasti juga tidak mau mengatakan kalau sakit.
"Sedikit tapi tidak masalah, ayo Di nanti kita ketinggalan filmnya."
Aruna antusias sekali iya malah menarik tangan Digo supaya keluar dari lorong sekolah di mana saat ini mereka berdua sudah berada di jalan dan menghentikan taksi.
Untung saja ada taksi yang melintas hingga keduanya cepat-cepat masuk ke dalam taksi dan memerintahkan Pak sopir untuk segera ke mall.
"Ke butik dulu Pak?"
Digo jadi berpikir tidak mungkin kalau dirinya dan juga Aruna dengan memakai seragam seperti ini ke mall mau tidak mau iya harus mengganti pakaiannya dan tentu saja butik yang terdekat dari sekolahan ini adalah butik milik Mami Nina.
"Ke butik? Ngapain? Butik milik Mami lagi, apa kamu tidak takut nanti dimarahin sama Mami kalau kita bolos?"
"Mendingan dimarahin sama Mami daripada kita tidak boleh masuk ke mall, kamu sadar atau tidak yang pakaian kita masih seragam sekolah dan tentu saja tidak boleh masuk ke dalam mall."
Aruna tersenyum, ia jadi berpikir sejenak dan memang benar apa yang dikatakan oleh Digo sia-sia kalau dirinya sudah boleh tetapi tidak bisa masuk ke dalam mall hanya gara-gara seragam.
"Kalau Mami marah bagaimana?"
"Ya kita dengarkan saja lagi pula kita memang salah sudah terlambat, bolos lagi."
Dengan entengnya Digo mengatakan seperti itu meskipun ia tahu Maminya nanti marah-marah tetapi kemarahannya tidak lama lagi pula ada Aruna yang bisa dijadikan senjata dengan alasan Aruna yang kurang enak badan dan juga tidak mood untuk sekolah.
"Tunggu sebentar ya Pak, kami tidak lama."
Taksi itu sudah berada di parkiran butik maminina di mana Digo memerintahkan Pak sopir untuk menunggunya ia juga tidak mau memakai mobil maminyak untuk ke mall biarkan pakai taksi saja lebih aman dan juga nyaman.
Keduanya saat ini masuk ke dalam mobil dan benar saja Mami Nina yang merapikan pakaian-pakaian di butik seketika langsung melototkan matanya melihat anak dan menantunya yang berada di sini pada hal baru 1 jam yang lalu mereka pamit untuk sekolah tetapi kenapa tiba-tiba sudah berada di sini.
"Iya Mi, capek sekali kita habis dihukum dan juga tidak berniat untuk masuk sekolah."
"Astaga Digo, apa yang kamu lakukan bukannya kamu memberi contoh teman-temanmu malahan bolos dan untuk terlambat dan kamu tadi pagi itu karena salah kamu sendiri yang bergadang sampai lupa waktu Mami jadi kasihan sama Aruna.."
"Mami tenang saja Aruna tidak apa-apa justru jika Aruna ke sekolah nanti malah ada apa-apanya aku rencana sama Aruna mau pergi nonton sekalian kita nanti akan istirahat sejenak di apartemen Mami jangan protes dan marahin Aruna marahin saja aku.."
Bagaimana Mami Nina mau marah-marah, ia melihat menantunya yang sepertinya kelelahan dan juga tidak tega juga marah-marah dengan menantu cantiknya padahal Mami Nina sendiri belum ngobrol-ngobrol banyak dengan Aruna tetapi Digo sudah mendominasi dan membuat istri cantiknya itu kelelahan hingga tidak ada waktu sama sekali dengan dirinya.
"Lalu kalian ke sini untuk berganti pakaian?"
"100% buat mamiku yang cantik.."
"Kalau ada maunya saja merayu, Kalau Mami tidak mengingat ada Aruna di sini, sudah habis nanti kamu Mami pukul.. ayo sayang kita cari baju yang cocok untuk kamu kamu bebas memilih di sini."
"Dan kamu Digo kamu pilih sendiri Mami tidak akan temenin kamu."
"Siap mamiku sayang!!"
Digo tersenyum melihat istrinya dan juga Maminya akrab seperti itu memang tidak salah pilih perempuan cantik yang saat ini menyandang status sebagai istrinya itu benar-benar bisa mengambil hati Maminya bahkan dengan ia membawa Aruna, Mami tidak marah-marah padanya.
"Lain kali kalau diajak Digo begadang jangan mau kamu gigit saja atau kalau perlu tendang dan jangan biarkan Digo masuk ke dalam kamar kalau dia masih menginginkan kamu lagi. Bukannya Mami tidak mau memiliki cucu tetapi kasihan sama kamu Kamu jadi tidak mengikuti pelajaran dan juga kelelahan padahal mau rencana ingin ngajakin kamu jalan-jalan nanti sore."
Bagaimana aku mau menggigit dan menendang Digo, Digo saja sudah gerak cepat untuk menguasai tubuhku aku juga tidak bisa kemana-mana lagi setelah dikunggung olehnya.
"Maaf Mami l, bagaimana kalau besok setelah pulang sekolah kita jalan-jalan sepertinya Digo hari ini mengurungkan niatnya untuk ke kantor dan besok setelah pulang sekolah aku meminta Digo untuk mengantarkan langsung ke sini."
Ya di dalam taksi tadi Digo sempat mengutarakan niatnya untuk meng-cancel pertemuan dengan papanya nanti siang ia juga masih lelah dan mengantuk pastinya tidak akan ada hasil jika digunakan siang ke sana. Tetapi sayang sekali, itu hanya diucapkan oleh Digo kepada Aruna saja tidak dikatakan kepada Papi Rendra.
Meskipun Papinya akan marah-marah padanya tetapi itu tidak masalah daripada Digo tidak konsentrasi sekali sama sekali.
"Boleh sayang tetapi bener ya besok ya, awas aja kalau nanti suami kamu itu rempong dan menahan kamu Mami akan kurung dia."
"Santai saja Mi kalau aku tidak di boleh jalan sama Mami Digo yang akan aku kurung dan tidak boleh masuk ke dalam kamar."
"Bagus itu atau nanti malam Kamu tidur di kamar Mami saja biarkan diiku tidur sendirian lagi sama kamu baru beberapa hari tinggal di sini tetapi Digo sudah membuat kamu kelelahan."
Aruna hanya mengagukan kepalanya tetapi ia pikir pasti suaminya tidak akan mengijinkan kalau dirinya nanti malam tidur bersama mami Aruna tahu bagaimana sifat Digo itu yang mana tidak akan mungkin bisa tidur kalau tidak dengan dirinya.
Hingga akhirnya Aruna sudah keluar dengan Mami Nina dan kebetulan sekali Diko juga sudah membeli pakaian ganti untuknya.
Digo melongo menatap Aruna yang pagi ini terlihat cantik lebih lagi memakai pakaian yang entahlah Digo sendiri bingung karena ia sama sekali belum pernah melihat Aruna berpakaian yang sedikit menarik seperti ini meskipun bukan terlihat seksi tetapi entahlah mata Digo memandang ke arah Aruna yang betul-betul mempesona dan sangat seksi.
"Apa tidak ada pakaian lain untuk Aruna Mi? jangan itulah!"
Protes Digo yang setelah ia memperhatikan Aruna nampaknya itu tidak cocok dengan istrinya bukan karena pakaian yang kurang bagus atau bagiannya tetapi dengan arona memakai pakaian seperti itu pastinya nanti laki-laki banyak yang melirik ke arah istrinya itu di mana lu kan telukkan tubuh Aruna terlihat dan itu membuatku cemburu padahal itu hanya biasa saja dan tidak nampak seksi sekali.
"Tidak ada memang kenapa ini masih sopan di!"
Protesnya Digo tidak ditanggapi oleh Mami Nina yang mana memang pakaiannya itu masih tergolong sopan terlebih lagi dengan usia arunai masih sangat muda dan pas sekali dipakai di tubuh Aruna Digo saja yang terlalu berlebihan.
"Tapi, Mi..."
"Ayo Di, tidak ada tapi tapian atau kita tidak pergi sama sekali lagi pula sebentar lagi filmnya akan dimulai."
Tidak ingin mendengarkan apa yang diucapkan oleh Digo lagi, Aruna segera menarik tangan Digo kemudian setelah berpamitan dengan meminima kedua anak malas yaitu langsung saja keluar dari butik.
"Kamu cantik banget sayank, aku jadi tidak tega untuk membawa kamu ke mall yang pastinya di sana punya laki-laki yang memandang kamu."
"Mereka punya mata Di kalau tidak memandang aku lalu memandang ke siapa yang pastinya bukan hanya laki-laki saja yang akan memandang aku perempuan-perempuan di sana juga nanti akan melirik ke arah kamu apa kamu tidak sadar kenapa selama ini kamu hanya cemburu kepada aku lalu bagaimana dengan fans fans kamu yang di sekolahan meskipun kamu sudah mengatakan jika kamu adalah pacar aku tetapi mereka masih saja deketin kamu bahkan mereka masih saja mengirimkan hadiah-hadiah untuk kamu."
Meskipun Aruna tidak tahu secara langsung tetapi banyak yang mengatakan padanya jika memang diikuti sekolah masih sering menerima hadiah-hadiah dari perempuan-perempuan centil yang tertarik pada Digo meskipun Aruna juga tahu juga suaminya itu tidak menerimanyabah bahkan hanya dilirik sekilas saja dan yang menerima kado-kado itu adalah tempat saya banyak atau kalau tidak mereka akan membuangnya ke tempat sampah.
"Aku tidak menerima yank, mereka sendiri yang ngotot untuk menaruh di meja aku lagi pula aku dari dulu sampai sekarang tidak pernah menerima pemberian dari wanita manapun kecuali dari kamu dan juga Mami."
"Aku bisa apa, aku tidak mempunyai apa-apa yang bisa diberikan sama kamu, uang saja aku masih minta sama kamu."
"Jangan cemberut, lagi pula aku juga tidak minta apa-apa dari kamu cuma yang aku inginkan kamu setia sama aku kamu mencintai aku dan kamu menerima aku apa adanya meskipun aku seperti ini cemburuan dan posesif sama kamu."
"Akan aku usahakan!"
__ADS_1
Digo menggenggam tangan Aruna kemudian menarik tangan Aruna untuk kepelukannya laki-laki itu begitu senang walaupun hari ini ia bolos sekolah dan ini ada pertama kalinya ia lakukan tetapi bersama dengan Aruna semuanya menjadi indah.
Dan Digo menganggap ini adalah kencang pertama kalinya dengan Aruna dan tidak akan melewatkan sedikitpun momen bersama dengan Aruna.
Keduanya kini sudah sampai di mall di mana langsung saja mereka berdua menuju ke atas lantai di mana bioskop itu berada dan pas sekali kurang dari 30 menit film kesukaan Aruna akan diputar dan dengan cepat Digo membeli tiket dan juga makanan begitu jam minumannya untuk menemaninya nonton.
Hingga 3 jam kemudian.
Setelah keluar dari bioskop dan juga menikmati siang hari berbunyi akhirnya mereka keluar dari mall dan di sinilah Aruna dan Digo berada yaitu di sebuah apartemen yang tidak jauh di mall karena apartemen itu adalah apartemen milik pribadi Digo.
Masih menunjukkan pukul 11.00 siang hingga mereka mau tidak mau kembali ke apartemen dulu dan menghabiskan siang harinya di sana ingin istirahat sejenak tanpa melakukan apapun.
"Mandi dulu habis itu istirahat, pakaian kamu sudah ada di sini."
Aruna menuju kamar mandi sebelum suami nya mengikutinya ya kali ini Digo berjanji untuk tidak melakukan macam-macam dengan Aruna tetapi janji itu tidak akan ditepati nanti malam setelah pulang ke rumah.
Dih, tidak apalah setidaknya siang sampai sore iya bisa istirahat dan bebas dari cengkraman Digo.
Digo sendiri sudah merebahkan tubuhnya di atas ranjang laki-laki itu menunggu istrinya yang keluar dari kamar mandi.
"Sini sayang tidur, nanti aku peluk janji deh tidak macam-macam sama kamu meskipun sebenarnya berat juga tidak memangsamu tetapi aku akan menahannya aku tahu jika kamu lelah."
Aruna yang sudah keluar dari kamar mandi langsung saja menghampiri suaminya ia percaya dengan apa yang diucapkan Digo meskipun sedikit agak ragu-ragu namun melihat keseriusan digoda juga dilihat dari mata digoyang lelah sepertinya memang diikuti tidak akan melakukan macam-macam padanya.
Hingga akhirnya Aruna merangkak untuk naik ke atas ranjang dan dengan cepat memeluk tubuh Aruna.
"Nanti aku tidak bisa bernafas lagi pula apa kamu tidak mau mandi dulu Di?"
"Aku tidak terbiasa mandi siang-siang tidak masalah kan lagi pula itu bukan masih wangi. Dan kalau aku tidak meluk kamu dengan erat nanti kamu malahan kabur."
Ya memang benar aroma tubuh Digo masih sangat wangi dan itu membuat Aruna candu dan merapatan tubuhnya meskipun ia belum benar-benar mencintai Digo tetapi ada rasa nyaman ketika bersama dengan Digo.
Hingga akhirnya keduanya tidur terlelap dan tanpa melakukan apapun juga karena baik arona maupun Digo keduanya sama-sama ingin beristirahat sore ini dan akan melakukan aktivitas yang menyenangkan untuk nanti malam meskipun bukan sebrutal kemarin.
Kring... kring..
Mendengar bunyi ponsel yang berdering Digo dengan cepat mengambil ponselnya ia masih terlelap dalam tidur begitu juga dengan Aruna tetapi kalau tidak diangkat ponsel itu akan semakin berdering.
"Papi?"
Digo mengeryitkan alisnya Rupanya iya lupa untuk memberitahukan kepada Papinya Kak untuk meng-cancel pertemuannya di kantor hingga akhirnya Papi Rendra menelponnya dan bertepatan ini adalah sudah jam tiga sore di mana memang juga kemarin berjanji setelah pulang sekolah langsung ke kantor menemui Papinya.
"Astaga aku lupa!"
Mau tidak mau Digo mengangkat telepon dari Papinya itu dan sebelum mengatakan kalau ia meng-cancel pertemuannya Papinya sudah berbicara panjang dan lebar dan meminta Digo untuk segera datang ke kantor karena untuk diperkenalkan dengan klien penting begitu juga dengan tetap yang akan menemani Diko nanti di perusahaan.
"Papi tunggu 30 menit lagi, ajak Aruna juga tidak masalah..."
Sebenarnya Papi Rendra kesal dengan putra bungsunya itu di mana sudah mendapatkan informasi jika Digo dan Aruna bolos sekolah tadi pagi dan pergi ke mall untuk jalan-jalan juga setelah ke mall di Kuningan Aruna menuju ke apartemen.
Sebenarnya tidak masalah tetapi karena Digo sebentar lagi harus memimpin perusahaan maka semuanya harus ditata dengan rapi diiku tidak boleh malas-malasan apalagi mengingkari janji yang sudah ditepatinya itu bahkan tidak membatalkannya tadi pagi.
Hingga akhirnya Papi Rendra memaksa Diego untuk menuju ke kantor dan diberi waktu selama 30 menit untuk siap-siap karena Papi Rendra tahu jarak apartemen Digo dengan kantor itu sangatlah dekat.
"Bagaimana ini? aku tidak tega membangunkan Aruna tetapi aku harus ke kantor.."
Digo menggerutu sendiri ia tidak mungkin meninggalkan Aruna di sini tetapi kalau membangunkan Aruna rasanya Digo tidak tega hingga akhirnya Aruna yang mendengar keruntuhan Digo langsung saja membuka matanya.
"Kenapa? aku sudah bangun?"
"Papi meminta aku untuk datang ke kantor sepertinya aku tadi pagi lupa tidak mengabari Papi untuk mengencel saja."
"Tidak masalah, pergi saja Di nanti aku bisa pulang naik taksi atau ke butik tempat Mami"
"Tidak sayang, Papi meminta aku untuk mengajak kamu sekalian tidak masalah daripada aku kepikiran sama kamu."
Digo kemudian mengajak Aruna ke dalam kamar mandi untuk mandi atau sekedar membersihkan diri dan lagi-lagi di dalam kamar mandi mereka tidak melakukan apapun juga meskipun sebenarnya Digo ingin sekali melakukannya tetapi ia ingat dengan ancaman tapi kalau tidak datang tepat waktu maka semua perusahaan dan aset-aset atas namanya akan papilimpahkan ke panti asuhan tentu saja tidur tidak mau itu bagaimana nasib istri dan juga anak-anaknya nanti kalau aset-asetnya dilimpahkan kepada orang lain.
"Sebentar aku pakaikan dasinya dulu."
Beberapa menit setelah mereka keluar dari kamar mandi Aruna dengan cepat mempersiapkan pakaian untuk diikutin juga dirinya beruntung sekali digoyang memang perfect sudah menyiapkan semuanya bahkan pakaian kantor pun sudah ada di sana berikut pakaian Aruna yang bersifat resmi sopan dan tidak terlalu seksi.
"Terima kasih sayank, aku beruntung sekali mempunyai istri seperti kamu."
Cup
Digo yang tahu jika Aruna saat ini khawatir dan takut jika nanti terlambat datang ke perusahaan pasti Papi Rendra akan marah-marah.
"Sudah telat malah main cium-ciuman kamu tidak takut nanti juga Papi marah?
"Kalau Papi marah aku bilang saja jika menantu cantiknya yang membuat aku telat datang ke kantor pasti Papi tidak akan marah-marah.."
"Enak aja aku dijadikan kambing hitam,.ayo Di cepat nanti Papi benar-benar marah."
Dengan cepat Aruna meminta suaminya untuk segera keluar dari apartemen dan Aruna juga sudah memesan taksi supaya standby di depan apartemen itu.
Entahlah meskipun belum ada rasa cinta tetapi Aruna melakukan itu dengan senang hati ia bahkan sudah terbiasa dengan Digo saat ini terlebih lagi diperlakukan tikus dengan manis dan juga dibuat melayang-layang terbang tinggi ke udara karena sudah terbiasa bahkan aroma tubuh maskulin dari Digo sudah membuatnya candu dan ingin berada di samping digoda tidak ingin Digo jauh-jauh darinya.
Hingga akhirnya keduanya sudah sampai di perusahaan arendra di mana pabrine dan juga Nathan sudah menunggu digosok dari tadi dan juga beberapa klien penting yang memang sengaja diundang oleh Papi Rendra untuk dikenalkan dengan Digo.
"Itu dia."
Ucap Nathan ketika ia sudah melihat digoyang masuk ke dalam sebuah ruangan begitu juga dengan Aruna mata-mata tidak berkedip sama sekali melihat ke arah Aruna di mana Aruna siang ini tampil sangat beda dengan balutan pakaian yang resmi yang cocok dipakai di tubuh Aruna.
Dia adalah adik ipar kamu, istri dari Digo bukan perempuan single lagi yang akan kamu pacarin...
Menyadari jika Aruna saat ini sudah menikah dengan digunakan segera memalingkan wajahnya bukan berarti ia tidak suka melihat Aruna lama-lama namun ia takut saja jika perasaan cintanya.
Papi Rendra tersenyum kemudian meminta Digo untuk bergabung dengan beliau karena sudah banyak orang yang menunggu Digo.
"Ganteng sekali bagaimana aku meminta Papa untuk menjodohkannya dengan dia sepertinya lagi-lagi itu cocok untuk dijadikan suamiku apalagi dengan wajahnya yang sangat tampan dan juga kekayaan orang tuanya yang berlimpah pastinya hidupku akan makmur nantinya."
Ucap Nadia di dalam hati ketika melihat Digo masuk ke dalam ruangannya tanpa memperdulikan Aruna yang saat ini bersama dengan Digo, Nadia pikir Aruna itu juga salah satu anak dari Papi Rendra yang mana membuat Nadia berpikir untuk meminta kepada ayahnya menjodohkan dirinya dengan Digo.
Ya selain rekan-rekan bisnis Papi Rendra yang sudah diajak bergabung di sini teman-teman Papi Rendra itu kebanyakan juga bersama datang bersama dengan putra-putrinya kebetulan sekali memang semua yang ada di sini ingin mewariskan bisnisnya itu kepada anak-anaknya dan supaya juga nanti juga bekerja sama mereka lebih akrab bukan hanya orang tuanya saja tetapi dengan anak-anaknya juga seperti itu.
"Ini perkenalkan dia putra bungsuku, Digo Narendra yang pastinya ini adalah pertama kalinya Digo datang di sini dan juga pertama kalinya nanti Digo bisa bergabung dengan perusahaan kita."
Digo lalu menyapa satu persatu plain dan teman-teman dari Papi Rendra itu tak lupa juga dengan anak-anaknya yang saat ini berada di samping orang tuanya.
"Hai aku Nadia."
Pas di depan Nadia gadis cantik itu mengeluarkan tangannya meminta berjabat tangan dengan Digo dan tentu saja Digo hanya membalas dengan aku kan kepalanya ia sama sekali tidak berniat untuk membalas uluran tangan dari Nadia.
"Kita bisa bertemu lain waktu selain di kantor ini."
Digo tidak menanggapi yang nyatanya tidak ada perempuan yang lebih menarik daripada istrinya bahkan wacana dia hanya pas-pasan saja tidak secantik dan menarik Aruna saat ini.
Sementara Aruna, perempuan cantik itu sudah duduk di samping Papi Rendra memang Papi Rendra sengaja tidak memperkenalkan arona sebagai istri Digo bukannya tidak mau tetapi nanti saja ia ingin melihat bagaimana kain klien penting dan juga teman-temannya itu memandang ke arah Diego yang memang posisi Digo dan Nathan saat ini kedudukannya sama mereka sama-sama mempunyai posisi yang penting dan mempunyai harta kekayaan yang sama banyaknya hingga Papi Rendra mengetes satu persatu teman-temannya yang mana datang ke sini memenuhi undangannya dan membawa putra-putrinya terlebih lagi dengan Papinya Nadia yang mana Papi Rendra memang sudah tahu jika Papahnya Nadia itu menaruh harapan yang besar kepada Papi Rendra yaitu ingin menjodohkan dia dengan salah satu putranya dan tentu saja kemarin Nathan tidak mau dijodohkan dengan Nadia dan sekarang gantian sasarannya adalah Digo.
"Aku mau sama Digo, Papi minta sama Tuan Rendra untuk menjodohkan aku sama Digo,.Papi lihat sendiri kan kalau Digo itu tampan dan juga kaya, kekayaan nya juga sama besarnya dengan Nathan Kalau kemarin Kak Nathan tidak mau karena karena sudah dijodohkan dengan perempuan yang lain saat ini Papi meminta kepada Tuan Rendra untuk menjodohkan aku dengan Digo yang pastinya ini adalah kesempatan emas untuk Papi supaya kita perusahaan kita bisa melambung tinggi."
Bisik Nadia di telinga Papinya hingga membuat Papinya mengganggu kan kepala dan akan menyetujui apa yang diucapkan oleh putrinya itu.
Dia juga melihat jika potensi Digo itu lebih besar daripada Nathan dan tentu saja dengan usianya yang hampir sama pastinya membuat pernikahannya nanti bahagia sementara Papinya Nadia juga menginginkan bisnis lebih besar daripada ini ia mungkin saja jika ia menikahkan Nadia dengan Digo maka perusahaannya akan sejajar dengan perusahaan Narendra
"Kamu tenang saja nanti setelah ini Papi akan bicarakan dengan Tuan Rendra dan Papi akan pastikan jika Papi Rendra menyetujui perjodohan ini."
Sementara Papi rendyra sudah melihat gelagat aneh dari Papinya Nadia itu yang mana memang beliau tidak suka dengan sikap Papinya Nadia yang sudah menyodorkan putrinya itu untuk menjadi bagian dari keluarga yang terindah dan tentu saja untuk menjadi bagian dari keluarga Rendra tapi Rendra itu pun harus selektif bukan hanya harus dari keluarga yang kaya raya tetapi memang semuanya harus diteliti dan dinilai dari awal sampai akhir bukan hanya tampilannya saja yang cantik dan menarik tetapi juga dalam hatinya.
Seperti Aruna saat ini yang ternyata dari dulu sudah mengenal baik kedua orang tua Aruna bahkan dulu mereka sempat berteman lama dan begitu akrab hingga akhirnya Papi Rendra dan juga bapaknya Aruna memutuskan untuk menjodohkan anak-anak mereka yang nyatanya meskipun bukan nyatanya menjadi suami Aruna tetapi Digo yang menggantikan posisi Nathan.
Dan setelah Digo berkenalan dengan rekan bisnis dan juga teman-teman Papi Rendra laki-laki itu menghampiri Aruna kemudian duduk di samping arona dengan tersenyum manis kepada istrinya itu di mana Aruna sedikit cemburu karena melihat ada seorang perempuan yang menatapnya dengan begitu tajam dan pastinya diiku tidak ingin membuat Aruna marah-marah apalagi nanti malam sampai ia tidak bisa mendapatkan jatahnya.
"Terima kasih semuanya dan sekalian saya perkenalkan putri cantik saya, bukan hanya sebagai Putri saja tetapi Aruna adalah istri dari Digo di mana beberapa hari yang lalu mereka sudah menikah dan maaf saja kami belum mengadakan resepsi pernikahan jadi hanya sebatas keluarga saja yang menghadirinya."
Arona tersenyum kemudian melihat satu persatu klien dan teman-teman bisnis dari Papi Rendra itu di mana ia menangkap sosok perempuan yang sederet tadi memandang ke arah suaminya nampak kecewa apalagi ekspresi wajahnya yang saat ini menatap ke Aruna sepertinya perempuan itu ingin membunuh Aruna karena sudah berhasil mendapatkan Digo.
Sialan!! Berarti perempuannya di samping Digo itu adalah istrinya, oh Tuhan bagaimana lagi Aku bisa mendapatkan laki-laki yang ganteng dan juga kaya raya Digo sendiri sudah mempunyai istri lalu siapa yang harus aku baik apa mungkin Kak Nathan?
Nadia kecewa padahal ia berharap sekali bisa bersanding dengan Digo dan menikmati kekayaan keluarga Narendra tetapi setelah mendengar apa yang diucapkan oleh Papi Rendra, Nadia begitu lemas.. apa yang diinginkan tidak tercapai walaupun masih ada kandidat Rendra tetapi ia sudah ditolak mentah-mentah oleh Rendra beberapa minggu yang lalu dan pastinya tidak mungkin jika ia meminta Papanya untuk menyodor-yodorkan dirinya supaya Nathan mau bersama dengannya.
"Nanti Papi pikirkan supaya kamu bisa merebut hati Digo sepertinya Papi lihat keduanya terpaksa melakukan pernikahan itu yang mana nanti kamu bisa merusak hubungan mereka dan kamu masuk ke dalam keluarga Narendra."
Licik sekali Papi Nadia itu mereka tidak berpikir jika pernikahan adalah sesuatu yang sah dan juga sakral dan tidak boleh menghancurkan sebuah pernikahan itu tetapi kenyataannya apapun akan dilakukan untuk membuat perusahaannya melambung tinggi dan sejajar dengan perusahaan Rendra meskipun cara yang dilakukan itu sangatlah tidak baik.
__ADS_1
"Tidak usah dekat-dekat sama aku Di,.Kamu lihat sendiri kan perempuan yang di ujung sana sedari tadi melihat kamu tanpa berkedip dan sesekali dia juga melihatku sepertinya ingin membunuhku saja perempuan itu sepertinya suka sama kamu apa kamu tidak tertarik dengan dia?"
Bisik Aruna di telinga digoyang mana ia masih memperhatikan gerak-gerik Nadia yang curi-curi pandang dengan suaminya sementara Digo sendiri masih berkutat dengan pekerjaan dan obrolan penting dengan Papinya.