
Permainan semakin panas di mana 5 menit lagi pertandingan basket itu akan berakhir tapi kedudukan masih sama yaitu belum ada yang menang dan juga tidak ada yang kalah di antara keduanya.
Bukan hanya penonton saja yang ketar-ketir melihat siapa nanti yang akan keluar sebagai pemenangnya tetapi di sini Aruna juga, ia khawatir sekali jika suaminya itu akan kalah dari Rian melihat Ryan yang memang menjuarai pertandingan basket ini.
Sementara di lapangan, Rian dan Digo sedang berlomba-lomba untuk meraih basket dan memasukkan ke dalam ring tentunya satu kali masukin bola itu sudah menambah poin dan membuktikan siapa yang akan menang dalam pertandingan ini.
Digo tersenyum mana kala saat ini ia sudah berhasil meraih bola dari tangan Rian, laki-laki itu memang sengaja untuk mengecohkan segala sesuatunya meskipun ini belum seberapa.
Digo juga ingin bermain-main dulu dengan bola yang dipegangnya tidak serta merta langsung memasukkan ke dalam ring, ia ingin melihat bagaimana reaksi Ryan dengan apa yang akan diucapkannya karena ini merupakan rencana dari Digo untuk sesuatu yang nantinya akan membuat cemburu bahkan akan membuat laki-laki itu berhenti untuk mendekati istrinya.
"Bagaimana? gue terima tantangan lo dan ternyata kita seri. Gue tidak seburuk di mata lo meskipun Lo sudah menjuarai kejuaraan tentang basket ini."
Saat ini Digo masih mendrible bola, sepertinya memang ia tidak mau buru-buru untuk memasukkannya biarkanlah ia sedikit ngobrol-ngobrol dengan Rian di atas lapangan.
"Tetap saja gue lebih unggul dari lo dan siap-siap gue akan ngerebut Aruna dari Lo jika lo kalah."
Digo tersenyum mana mungkin Rian bisa merebut pujaan hatinya yang mana kedudukannya saat ini sudah sah sebagai suami Aruna dan tentunya Digo lah pemenangnya.
Lagian ia sudah tahu jika Aruna tidak ada rasa sama sekali dengan Ryan, hanya sebatas teman saja yang mungkin memang kedekatannya lebih dekat Ryan daripada Digo.
"Oh ya silakan saja meskipun gue kalah, gue juga tidak akan pernah melepaskan Aruna, asalkan lo tahu gue dan Aruna sudah bertunangan dan sebentar lagi kita akan menikah."
__ADS_1
Ujar Digo dengan tersenyum danĀ memperlihatkan cincin di jari manisnya yang mana membuat Rian menghentikan langkah kakinya untuk tidak mengambil bola basket yang dipegang Digo, saat ini ia malah fokus ke jari manis Digo yang tersemat cincin emas.
Nyesek kan Lo!!
"Dan gue peringatkan sekali lagi tidak usah mengusik hubungan gue sama Aruna karena sebentar lagi kita menikah dan tentu saja Aruna cintanya hanya sama gue, bukan sama lo."
Tringg...
Bersamaan dengan itu pula Digo memasukkan bola basket ke dalam ring dan tentu saja membuat pertandingan kali ini dimenangkan oleh tim Digo.
Yes...
Ya meskipun Rian bukan tipe laki-laki yang suka mengumbar berita kemana-mana tetapi siapa tahu Rian keceplosan untuk bicara kepada teman-temannya itu atau mungkin saja ada yang mendengar tentang percakapannya ini hingga akhirnya Digo memilih untuk mengatakan jika dirinya dan juga Aruna sudah bertunangan dan sebentar lagi akan menikah.
Sorak sorai penonton terdengar menggema di seluruh lapangan itu di mana pertandingan kali ini dimenangkan oleh tim Digo dan mereka tidak menyangka jika memang Digo dan keempat sahabatnya itu benar-benar bisa mengalahkan tim Rian yang sudah jelas teruji bagaimana kehebatan Ryan dan timnya itu ketika di atas lapangan bermain bola basket.
Tidak ada kebanggaan tersendiri karena memang Digo bukan tipe laki-laki yang suka membanggakan dirinya apalagi ini merupakan tantangan dari seseorang yang ingin merebut istrinya dari tangannya.
Hanya ingin sekedar membuktikan jika memang Digo bukan laki-laki yang cemen, dia laki-laki yang gentle dan siap untuk mempertaruhkan apa yang menjadi miliknya dan tidak akan melepaskan Aruna sampai kapanpun.
5 laki-laki tampan itu bertos dan berpelukan ala lali laki, tentu saja mereka sudah memprediksi jika tim mereka akan menang meskipun di awal sedikit ragu tentang pertandingan dadakan yang akan dilakukannya.
__ADS_1
Setelah melakukan pelukan ala laki-laki, Digo segera menghampiri Aruna , laki-laki itu ingin menyapa istrinya dan juga sekaligus ingin meminta hadiah dari istrinya karena sudah menang dalam pertandingan ini.
"Sayank, aku sudah membuktikan jika aku bisa menang dan mengalahkan Rian."
Aruna hanya tersenyum dan mengangguk tidak perlu ia menanggapi yang berlebihan toh juga memang kenyataannya seperti itu dan memang Aruna mengharapkan jika suaminya yang menang kali ini.
"Minum dulu pastinya kamu haus."
Aruna menyerahkan sepotong air mineral kepada Digo, tentu saja Digo mengambilnya dengan senang hati begitu juga dengan Vina yang memberikan satu persatu minuman kepada keempat sahabat nya Digo.
Memang seperti itu meskipun Aruna hanya melayani suaminya saja tetapi ia meminta Vina untuk memberikan minuman yang sama untuk sahabat sahabat nya Digo karena memang Aruna tahu Digo dan sahabatnya itu tidak bisa terpisahkan, sudah seperti saudaranya sendiri sehingga Aruna harus bisa mengimbangi meskipun dengan porsi yang berbeda.
Aruna segera mengambil handuk yang memang ia sudah persiapan kemudian mengusap keringat Digo yang saat ini masih membasahi wajah tampannya.
Digo sendiri tersenyum melihat perlakuan manis dari istrinya itu ia tidak menyangkap jika Aruna bisa seketika perhatikan dengan dirinya tanpa diminta dan perhatian Aruna itu membuat semua perempuan-perempuan yang ada di lapangan menjadi cemburu dan iri.
Terlebih lagi Miranda yang saat ini sudah membawa satu botol minuman dan juga handuk berharap ia akan memberikan itu kepada Digo dan mengelap keringat Digo tetapi sayang sekali Aruna lebih dulu melakukannya.
"Sialan! memang baru segitu saja sudah bangga, awas aja gue akan merebut Digo lagi dan pastinya Digo akan menjadi milik gue."
Umpat Miranda kesal, yang mana melihat Aruna dengan begitu mesra nya yang membuat lagi lagi Miranda cemburu dan merasa tersaingi.
__ADS_1