
Digo bergegas untuk membuka pintu ruang perawatan Aruna,.tidak menunggu lama laki-laki itu kini sudah masuk ke dalam dan melihat Aruna yang sudah tertidur.
Tidak bisa dibayangkan rasa kangen yang ada dalam diri Digo saat ini, benar-benar 3 hari tanpa memeluk Aruna hanya bisa memandangi wajah cantik Aruna dari jarak jauh saja.
Sungguh tidak ingin Digo melakukan kesalahan lagi yang akan membuat fatal semuanya ucapkan juga tidak mau gegabah kali ini ingat tidak boleh egois dan akan membicarakan semuanya dulu kepada Aruna entah itu Aruna setuju atau tidak yang jelas juga tidak akan pernah mengulangi kesalahan yang sama meskipun itu perihal tentang anak.
Ya saat ini Digo pasrah, dan Digo juga sudah menyerahkan semuanya kepada Aruna meskipun nanti keputusannya Aruna tetap gagah tidak ingin mempertahankan janin yang ada di rahimnya diikuti tidak apa walaupun sebenarnya ia ingin sekali membesarkan anak itu namun jika Aruna sendiri tidak mau tidur juga tidak berbuat apa-apa.
Satu tangannya kini mengulur untuk mengusap rambut Aruna dan juga perlahan bibirnya maju untuk mencium kening Aruna.
"Maaf sayank, aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama, aku tidak mau egois dan kehilangan kamu."
Tanpa terasa air mata Digo jatuh menetes membasahi tapi banyak yang sungguh laki-laki ini yang dari luarnya kuat dan juga tegar tetapi di depan Aruna juga bisa menangis bahkan ia tidak sanggup lagi jika sampai kehilangan Aruna.
Mungkin kehilangan anak yang sudah diimpi-impikan oleh Digo itu tidak masalah walaupun sebenarnya ia juga tidak mau itu semuanya tetapi kalau kalian kehilangan Aruna itu jauh menyakitkan dari segalanya.
Tidak ada pergerakan sama sekali dari Aruna, rupanya obat yang diminum Aruna itu menimbulkan efek yang sangat luar biasa membuat pasiennya bisa beristirahat bahkan beberapa kali Digo memberikan ciuman di kening di pipi dan juga bibir Aruna sekilas tetapi perempuan itu juga tidak akan terusik.
Hingga Digo yang lelah karena memang begadang tidak pulang dan juga tidur di depan ruang perawatan Aruna akhirnya laki-laki itu ikut tidur di samping Aruna, tentu saja bed yang dipakai Aruna itu sangatlah besar hingga muat untuk dua orang.
__ADS_1
Laki-laki itu juga tidak lupa sebelum membaringkan tubuhnya di samping Aruna mengusap lembut perut Aruna yang ada calon anaknya di dalam sana Dan berharap jika Aruna tidak sampai hati untuk menghilangkan bayi yang tidak berdosa itu dan akan merawatnya dengan sepenuh hati.
Cup
"Papa sayang sama kamu,.sama kalian... Kamu dan mama."
Setelah itu Digo langsung saja membaringkan tubuhnya di samping arona laki-laki itu memeluk Aruna dengan sangat pelan tidak ingin kegiatan nya itu mengusik tidur Aruna.
Dan akhirnya Digo pun memejamkan mata anak dari tersenyum dan merasakan kembali keceriaan di wajahnya ia bisa lagi memeluk tubuh istrinya dengan penuh kasih sayang.
Satu jam kemudian Aruna yang merasakan sesuatu disampingnya perlahan membuka matanya perempuan cantik itu juga merasakan ada yang menempel di perutnya.
"Euh...."
"Pantas saja rasanya nyaman banget aku tidurnya ternyata kamu sudah ke sini kenapa tadi nggak bangunin aku?"
Aruna bergumam sendiri kemudian menatap ke arah wajah tampan Digo yang sudah beberapa hari ini dirindukan sungguh Aruna menyesal telah berbicara sedikit kasar kebas dan suaminya bahkan ia tahu jika beberapa hari ini Digo juga kecewa padanya sehingga tidak mau menemuinya memang Aruna salah arona yang masih labil tidak mementingkan kepentingan orang lain ia hanya berasumsi kepada dirinya sendiri dan berpikiran negatif tentang dirinya nanti yang sudah mempunyai anak padahal itu tidak sama sekali Digo bahkan tidak akan pernah melarang karena berbuat apapun juga yang jelas selama Aruna masih dalam tahap aman dan bisa mengimbangi antara kehidupan dirinya dan juga suami serta anaknya juga tidak mempermasalahkan itu.
Tidak ingin membangunkan suaminya, Aruna mengusap lembut kepala Digo kemudian jari-jari manisnya itu turun ke kening lalu ke hidung mancung Digo kemudian turun lagi ke bibir sungguh ingin rasanya perempuan cantik itu mencium bibir Digo ya sudah membuatnya candu tetapi sayang sekali arona menggelengkan kepalanya manakala ia tidak mau jika apa yang akan dilakukannya itu nanti membangunkan suaminya.
__ADS_1
"Kenapa nggak dicium sayank?"
Aruna melototkan matanya manakala ia mendengar suara tetapi mata Digo masih menutup setelah itu di igo tertawa tetapi masih dengan mata yang tertutup seakan-akan laki-laki itu mengikuti padahal sejatinya Digo sudah bangun sedari tadi saat ketika Aruna bergerak-gerak dan membuka matanya namun ia ingin sekali melihat ekspresi wajah Aruna ketika ia sudah berada di sampingnya apakah Aruna ingin mengusirnya atau menerimanya.
"GR.. lagian siapa yang mau mencium kamu?"
Aruna tentu saja tidak mau mengakui jika dirinya tadi ingin sekali mencium bibir Digo yang pastinya perempuan cantik itu gengsi.
Cup
"Begini kan? atau mau aku per dalam lagi ciumannya sekalian aja kita buka-bukaan di sini kangen banget sama kamu sayang."
Tentu saja Aruna menggelengkan kepalanya tiba-tiba suaminya itu sudah mencium bibirnya lalu mengucapkan kata-kata yang membuat Aruna merinding seketika tidak mungkin juga ia akan melakukan sesuatu yang mengenakkan di sini terlebih lagi kehamilan yang masih sangat muda yang rentan jika mendapat kan goyangan-goyangan dari suaminya yang pastinya sangat brutal.
"Jangan takut begitu,.tenang meskipun aku tidak tahu jika di dekat kamu tetapi aku akan menggantikan diri demi kamu dan calon anak kita."
Anatara pede atau bagaimana tetapi Digo yakin juga Aruna sudah menerima kehadiran anak yang ada di perutnya itu hingga akhirnya tangan Digo mengusap lembut perut Aruna yang masih datar memberikan sentuhan-sentuhan kecil di sana yang jujur saja itu malah membuat Aruna nyaman dan memejamkan matanya.
Sepertinya memang perutnya yang sedari kemarin bergejolak itu tiba-tiba tidak lagi manakala tangan tikus sudah mengusap lembut perutnya apakah ini memang keinginan dari anak Digo yang menginginkan kehadiran Papanya menginginkan sentuhan-sentuhan lembut dan juga kasih sayang dari Papahnya itu.
__ADS_1
Kalau sudah seperti ini mana mungkin Aruna tega untuk menghilangkannya meskipun belum ada nyawanya sama sekali tetapi bayi yang ada di dalam kandungan Aruna itu sama sekali tidak berdosa dan Aruna tidak boleh egois karena dia ada itu berkat cinta dari orang tuanya bukan karena sekedar paksaan dari Digo saja.
"Bolehkah aku memohon dan berharap kamu akan mempertahankannya? Aku janji apapun yang kamu inginkan akan aku penuhi asalkan kamu tidak akan pergi dariku?"