
"Biarkanlah, pasti Digo juga tidak mau kalah meskipun gue belum pernah melihat Digo bermain basket tetapi gue yakin jika pasti Digo akan memenangkan pertandingan ini. Oh ya leher lo kenapa? kenapa merah-merah begitu?"
Aduh mampus sepertinya gue lupa untuk mengoleskan foundation atau mungkin juga ada yang terlewat...
Aruna meringis tidak mungkin ia menceritakan kalau ini adalah bekas gigitan dari Digo yang mana tadi pagi sebelum berangkat ke sekolah juga mengajaknya bercinta dan tentu saja kebiasaan Digo memberikan tanda cinta di lehernya meskipun Aruna sudah mengatakan kepada Digo kalau jangan memberikan tanda itu di sana tetapi Digo yang memang ketagihan dengan Aruna tetap saja memberikannya walaupun hanya satu atau dua.
"Jangan bilang kalau lo sebelum berangkat bercinta dulu dengan Digo? Gila memang! sikap luarnya aja yang kalem tetapi dalamnya nyosor, pantesan Digo berteman dengan keempat laki-laki yang suka main-main perempuan ternyata Digo ganas juga."
Aruna tidak menanggapi, ia hanya tersenyum karena memang Digo itu berbeda dengan keempat sahabatnya yang mana keempat sahabatnya sabatnya itu suka bermain perempuan tetapi tidak dengan Digo, walaupun Vina sedikit kaget dengan kelakuan Digo kepada Aruna namun tidak dipungkiri jika Vina percaya kalau Digo hanya melakukan itu kepada Aruna saja.
"Sialan! otak lo sudah ke mana-mana, jangan berpikiran yang buruk dulu, lagi pula lo belum ada lawannya. Punya plester nggak?"
Setelah ditelisik lebih lanjut oleh Vina, Aruna mengambil cermin yang ia simpan di bawah mejanya tentu saja ia melihat seberapa banyak tanda cinta yang diberikan oleh Digo yang Aruna sendiri lupa untuk mengoleskan foundation di sana.
"Makanya lo harus sedia ini!"
Vina menyerahkan plester berbentuk love itu untuk Aruna tentu saja lumayan untuk menutupi sesuatu yang nampak membekas di sana meskipun plaster itu tidak semuanya terpakai tetapi jauh lebih baik daripada tidak menutupinya.
__ADS_1
"Ini benar-benar gila ya berani-beraninya dia memperlihatkan semuanya ini. Untung aja hanya gue yang lihat kalau yang lain, bisa-bisa habis lo nantinya."
Aruna hanya mendengarkan saja, percuma ia menanggapi apa yang dikatakan oleh Vina, memang suaminya itu benar-benar gila, sudah diwanti-wanti untuk tidak memberikan tanda itu di sana tetap saja Digo sepertinya tidak mengindahkan apa yang diucapkan.
Hingga akhirnya obrolan keduanya berhenti manakala guru pelajaran matematika sudah masuk ke dalam kelas dan tentu saja hari ini adalah jadwalnya matematika dan ulangan.
Beberapa jam kemudian, bel beristirahat berbunyi tentu saja Digo dan yang lainnya siap-siap untuk berganti pakaian dan menuju ke lapangan basket, meskipun sebenarnya Digo sedikit ragu dengan apa yang dilakukannya bukan karena ia takut kalau tidak bisa memenangkan pertandingan ini tetapi tentunya ini adalah pertama kalinya Digo ditantang oleh seseorang yang pastinya ada udang dibalik batu tentang tantangan yang kepadanya.
Selain itu, Digo memang tidak boleh mundur karena ia adalah laki-laki sejati dan juga harus mempertahankan pernikahannya, tidak ingin ada laki-laki lain yang akan merusak hubungannya dengan Aruna tentunya bagaimanapun caranya juga harus mempertahankan itu semuanya.
Hanya saja semua tidak tahu jika Digo juga seorang pebasket handal tetapi sepertinya melawan Rian dan teman-temannya itu membutuhkan kekuatan yang ekstra, terlebih lagi Digo dan yang lainnya sama sekali tidak berlatih selama beberapa hari ini yang biasanya mereka seminggu sekali selalu menyematkan diri untuk bermain basket di rumah Digo tetapi minggu ini seakan semuanya pada sibuk, terutama Digo yang lagi kasmaran dengan pernikahannya bersama Aruna.
"Jangan mundur, enak saja meskipun tantangan itu sangat mengejutkan dan juga mendadak tetapi kita bisa melawannya terlebih lagi musuhnya adalah Riyan, jika kita mundur tentu saja Rian akan menertawakan kita dikirain kita cemen tidak bisa meladeninya."
Bukan Digo yang menjawab tetapi Dino, ia memang sudah geregetan dengan Rian dan teman-temannya itu bukan karena mereka semua bermusuhan tetapi melihat Rian yang selalu mendekati Aruna yang jelas-jelas sudah menjadi istri dari sahabat nya yang membuat Dino menjadi panas, bukan pula karena Dino juga ada rasa dengan Ryan tetapi jika memang ada seseorang yang mengusik salah satu pasangan dari mereka pastinya Digo sendiri tidak ingin tinggal diam.
"Lagi pula tidak perlu takut, kita sudah terbiasa bermain basket meskipun kita belum pernah tanding. Bagaimanapun caranya ataupun ceritanya kita tidak perlu mundur, kita hadapi dia .. lagi pula dia yang nantang kita bukan kita yang membuat perkara duluan."
__ADS_1
Digo yang sudah siap lalu meyakinkan kepada sahabatnya itu untuk tetap percaya diri meskipun memang mereka belum pernah tanding atau memperlihatkan kelebihannya tetapi Digo yakin jika dirinya dan juga keempat sahabatnya itu bisa melawan Rian yang memang menjadi atlet basket dan sudah menjuarai beberapa pertandingan.
"Kita harus bisa dan kalian juga harus tetap semangat."
Laki-laki tampan itu akhirnya keluar dari ruang ganti dan dengan cepat mereka menuju ke lapangan basket yang di sana sudah ada Rian dan teman-temannya tentu saja sebelum pertandingan dimulai mereka semuanya melakukan tos ala laki-laki yang mana saat ini tatapan Ryan dan juga Digo bertemu tentu saja meskipun mereka tidak bersuara tetapi di dalam hati mereka mengisyaratkan sebuah permusuhan, permusuhan tentang seorang Aruna yang sama-sama mereka cintai.
Salah satu teman mereka yang tidak memihak kedua tim yang akan menjadi juri pertandingan ini tentu saja segera menyembunyikan peluitnya dan berarti tanda permainan dimulai.
Sedangkan Aruna, perempuan cantik itu gelisah...ia berharap cepat keluar dari kelas ini yang mana memang menjadi kebiasaan dari guru matematikanya itu jika mengadakan ulangan pastinya suka memakan waktu istirahat dan tentu saja nanti istirahat mereka akan sedikit terganggu.
Aruna gelisah, bukan hanya ia yang tidak bisa mengerjakan soal matematika tetapi kepikiran tentang Digo, bagaimana suaminya itu saat ini bertanding tentu saja lawannya bukan main-main yang nyatanya Rian dan teman-temannya itu memang atlet basket dan tentu saja selama ini Aruna belum melihat kemampuan Diego memasukkan bola ke dalam ring.
"Jangan khawatir, cepat selesaikan pekerjaanmu lalu segera kumpulkan, terus kita ke lapangan .. gue yakin Digo dan yang lainnya pasti akan menang."
Ucap Vina kepada Aruna, ia tau jika sahabatnya itu sedang kepikiran tentang pertandingan ini sehingga meminta Aruna untuk segera menyelesaikan jawaban dari soal-soal matematika itu yang entah nanti benar atau salah yang penting semuanya bisa dikerjakan dan segera dikumpulkan lalu ke lapangan untuk melihat pertandingan.
Aruna menganggukkan kepalanya, segera ia menjawab soal-soal matematika yang mana rumusnya ia ciptakan sendiri, sama sekali Aruna masih belum paham dengan soal-soal ini di mana memang semalam ia tidak belajar, jangankan belajar bahkan Aruna sendiri tidak membaca sama sekali tentang apa yang akan diulangkan hari ini.
__ADS_1