
Cup
"Maafin Papa, habisnya Mama kamu gemesin banget nggak tahan Papa untuk tidak nengokin kamu sayank."
Setelah kurang lebih 1 jam melakukan adegan panas Digo menyudahi aksinya, laki-laki itu sebelum turun dari atas ranjang mengecup dulu perut Aruna, di mana di sana ada anaknya yang mungkin saja tadi menerima hentakan hentakan yang luar biasa dari Digo.
Awalnya memang cukup melakukan secara pelan tetapi lama-kelamaan Digi tidak tahan karena begitu enak dan juga rasanya berbeda, sensasi saat Aruna hamil ini benar-benar membuat Digo mabuk kepayang sehingga Digo terlena dan mempercepat gerakannya namun untung saja baik Aruna maupun anak yang ada di dalam perut Aruna itu tidak masalah karena Digo meskipun melakukan dengan tempo yang cepat tetapi ia tau betul dengan berbagai macam trik yang nantinya akan aman untuk Aruna dan juga anaknya.
Cup
"Makasih Mama Aruna sayank I love you... Mau ikut mandi?"
"Love you too Mas, nggak ah aku masih ingin rebahan di sini mataku ngantuk padahal sebenarnya aku pengen ngemil..."
Mendengar apa yang diucapkan oleh Aruna, Digo semakin mengembangkan senyumannya ia mencubit hidung mancung Aruna yang tambah menggemaskan saja apalagi dengan posisi Aruna seperti ini meskipun Digo sudah menyelimuti tubuh polos Aruna tetapi tetap saja ada di dalam ingatan Digo dan pastinya Digo senang dan bahagia sekali karena benar-benar tulus memanggilnya dengan sebutan itu, andai saja Aruna tidak hamil dan juga sebentar lagi tidak akan ada pertemuan dengan Papi Rendra dan juga mertuanya itu pastinya Digo akan kembali memangsa Aruna namun ia mulai saat ini harus bisa meredam si ular pitonnya untuk tidak memaksa Aruna berlebihan karena ada si kecil di dalam perut Aruna dan Digo juga tidak ingin terjadi sesuatu jika ia terus-menerus meminta sesuatu yang enak-enak itu.
"Seneng kan aku panggil itu?"
Goda Aruna dengan mengedipkan sebelah matanya entah mengapa sejak hamil, selain manja Aruna juga menjadi genit yang membuat Digo semakin bertambah rasa cinta dan juga sayangnya tetapi Digo juga ketar-ketir manakala takut jika kegenitan Aruna itu dipakai di luar yang mana nanti membuat laki-laki lain geer dan menanggapi sikap manis istrinya itu.
__ADS_1
"Jangan ditanyakan lagi, Aku senang banget sayank.. sejak hamil kamu bertambah manja dan juga manis ingin rasanya aku kurung kamu di kamar saja tidak boleh keluar karena pastinya laki-laki diluar sana tidak akan berkedip memandang kamu."
"Biarkanlah mereka memandang aku, Mas... yang penting kan aku cintanya sama kamu, sudah sana mandi sebentar lagi Papi dan Papa akan ke sini kan, aku mau tiduran dulu..."
Cup
Cup
Digo menganggukkan kepalanya sebelum ia beranjak dari atas ranjang, laki-laki itu memberikan ciuman bertubi-tubi di kening, pipi dan juga bibir Aruna dan segera berlalu ke kamar mandi. Digo membiarkan saja istrinya untuk tidur sebentar karena memang ArunaA terlihat telah.
Beberapa menit kemudian laki-laki itu sudah segar dengan rambut yang dibiarkan basah dan tentu saja sudah rapi, Digo melirik ke atas ranjang dan Aruna masih berada di sana dengan posisi yang sangat manis.
"Aku keluar dulu sayank, kamu tiduran di sini camilan kamu aku taruh di sini saja siapa tahu kamu males untuk keluar kamar."
Setelah memastikan semuanya aman, laki-laki itu kemudian keluar dari ruangannya dan tentu saja di depan ruangannya sudah ada Papi Rendra dan juga Papanya Aruna, mereka berdua memang sengaja untuk tidak masuk ke dalam ruangan Digo karena pastinya asisten pribadi Digo sudah memberikan informasi jika di dalam ada Aruna dan kedua laki-laki yang tidak mudah lagi itu tentunya tidak akan mengganggu kebersamaan anak dan menantunya di dalam yang pastinya mereka semua tahu juga sudah terjadi sesuatu di dalam karena mereka menunggu di luar kurang lebih tiga puluh menit yang lalu.
"Ngapain aja kamu di dalam Di? ingat loh istri kamu sedang hamil, jangan kamu mangsa terus menerus."
Ujar Papi Rendra setelah melihat Digo keluar dari ruangannya tentu saja Papi Rendra melihat penampilan Digo dari atas dan bawah yang mana rambut Digo dan juga wajah Digo terlihat segar. Dan pastinya baik Papi Rendra maupun Papah Adi tahu apa yang sudah dilakukan oleh Digo di dalam sana apalagi ada Aruna.
__ADS_1
"Biasalah Pi, menantu Papi itu sangat menggemaskan yang pastinya Digo tidak tahan untuk tidak memangsa istri cantik Digo."
"Tuh lihat menantu kamu bisa-bisanya dia mengerjai istrinya lagi padahal istrinya sedang hamil.."
Papi Rendra hanya menggelengkan kepalanya kemudian beralih dengan menatap ke arah Papah Adi, yang pastinya sedikit mengadu dengan kelakuan putranya itu sudah tahu istrinya hamil malahan masih memangsa Aruna.
"Biasalah Ren, putriku kan memang menggemaskan sejak dulu, kalau nggak mana mungkin kedua anak kamu itu merebutkan putriku tetapi yang lebih beruntung adalah menantuku saat ini di mana ia bisa meluluhkan hati putriku yang sangat sulit di luluhkan itu dan tentu saja aku percaya dengan menantu tampanku ini kalau dia nggak bakal menyakiti istri dan juga calon anaknya."
Papah Adi tentu saja mempercayai Digo, meskipun ia tahu apa yang sudah dilakukan oleh Digo tetapi ia percaya jika menantu tampan nya itu tidak akan pernah menyakiti putrinya terlebih lagi Digo sangat menyayangi dan juga mencintai Aruna.
"Makasih Pah, tuh kan Papa aja tau jika Aku tidak akan pernah menyakiti Aruna..."
"Lalu di mana sekarang menantu Papi?"
Tanya Papi Rendra lagi yang tidak melihat Aruna ikut keluar bersama dengan Digo padahal jika Aruna kali ini mengikuti Digo kemanapun Digo berada tentu saja itu tidak masalah.
"Tidur Pi kecapean, lagi pula biarkan Aruna berada di dalam kalau Aruna keluar malah bahaya bisa-bisa anak klien Papi nanti nggak fokus ke proyek kita malah akan melihat ke arah Aruna, tadi saja banyak karyawan laki-laki di sini memandang istriku jangan sampai ada laki-laki lain yang melakukan hal yang sama.
Pastinya jika mengingat kejadian beberapa waktu yang lalu laki-laki itu menjadi jengekel dan juga cemburu, tentunya Aruna hanya milik dirinya dan tidak ada yang bisa memandang wajah cantik Aruna selain dirinya sendiri , apalagi berusaha untuk menjadikan Aruna miliknya.
__ADS_1
"Tuh kan posesifnya kambuh lagi. Sudah sudah mari kita ke ruang meeting daripada di sini nanti kamu tidak jadi ke sana karena mengingat Aruna terus.."
Papi Rendra langsung saja mengajak Papah Adi dan juga Digo menuju ke ruang meeting yang pastinya sudah ditunggu oleh klien di sana, sementara Digo terlebih dulu memastikan kondisi istrinya di dalam ruangannya dan meminta staf perempuan untuk berada di depan ruangan Digo untuk menjaga Aruna pastinya.