
Merasa gemas dengan istrinya, Digo mendekati wajah Aruna kemudian menempelkan bibirnya dengan bibir Aruna, tentu saja itu membuat Aruna memejamkan matanya seketika karena ia paham betul apa yang akan dilakukan oleh suaminya.
Melihat ekspresi Aruna yang seakan-akan mengizinkannya, Digo kemudian mencium lembur bibir Aruna bukan hanya mencium saja tetapi Digo kuga *****@* bibir Aruna dengan menggigit kecil bibir bawah Aruna yang membuat Aruna mau tidak mau membuka bibirnya.
Merasa sentuhan-sentuhan dari Digo membuat Aruna melayang melayang, Aruna pun membelas apa yang dilakukan oleh Digo. Perempuan cantik itu pun ikut *****@* bibir Digo dengan memberi ses@pan dan juga lidahnya yang juga ikut menari-nari di dalam bibir Digo.
Bukan hanya bibir mereka saja yang bertautan tetapi tangan Digo juga kembali nakal. Digo membuka satu persatu kancing Aruna dan menelusupkan tangannya di balik seragam Aruna yang saat ini sudah terbuka, kemudian memberikan sentuhan-sentuhan lembut di dua benda kenyal yang juga membuat Digo candu.
Laki-laki itu begitu apik memainkan dua benda favoritnya dengan kedua bibir yang masih saling bertautan dan memberikan sensasi yang begitu berbeda.
Hingga akhirnya beberapa menit kemudian, pasukan udara Aruna akan habis, maka Digo melepaskan pagut@n bibir di antara keduanya. Meskipun sebenarnya Digo tidak rela untuk menyudahi aksi panasnya pagi ini tetapi ia takut jika lama-kelamaan diteruskan maka dirinya akan hilang kendali dan tidak jadi berangkat ke sekolah dan akan berakhir di sebuah hotel atau apartemen di dekat jalan itu.
Cup
Laki-laki tampan itu mencium kening Aruna memberikan sensasi nyaman kepada istrinya sembari mengusap lembut bibir Aruna yang basah karena ulahnya.
Sedangkan Aruna memalingkan wajahnya, tentu saja ia malah mendapat tatapan manis seperti ini dan juga Aruna sendiri malah ikut-ikutan gila, ikut-ikutan membalas apa yang dilakukan oleh suaminya.
"Percaya sama aku semua akan baik-baik saja, aku juga tidak akan mengorbankan semuanya terlebih lagi kamu. Jangan khawatir, kamu tidak akan pernah kekurangan kasih sayang dan perhatian aku meskipun aku di luar sana sibuk."
Digo kembali menatap wajah cantik Aruna dengan kedua tangannya saat ini meraih dagu Aruna membiarkan istrinya itu menatap arahnya, Aruna sendiri sebenarnya malu dengan aksinya pagi ini yang benar-benar bisa membuat Digo kewalahan.
"Terima kasih sayank, kamu benar-benar luar biasa, kalau setiap malam seperti ini Aku malah tambah bersemangat."
Digo menggoda Aruna lagi yang membuat Aruna langsung saja mendorong tubuh Digo, ia tidak mau jika Digo mengulangi apa yang sudah dilakukan karena saat ini Digo masih berada di depannya dengan jarak yang sangat dekat.
"Galak banget sih istrinya Mas Digo, tapi kalau seperti ini Kamu cantik sekali dan aku malah pengen nambah lagi. Tau nggak yank punya kamu dibawah sini sudah menegang lagi, sepertinya kalau kita tidak sekolah, pastinya kamu saat ini sudah aku bawa ke apartemenku juga, sudah kelihatan tuh di seberang."
Digo mencoba lagi menggoda Aruna bahkan saat ini Digo malahan tidak memakai sabuk pengaman dan tidak siap siap untuk melajukan mobilnya, laki-laki itu memang suka jika arunan mayun seperti ini, ia tahu jika istrinya jengkel dengan dirinya karena perbuatan pagi-pagi tetapi Digo juga yakin jika Aruna juga menginginkan sentuhan-sentuhan dari nya, bahkan yang lebih dari itu.
"Ngarang!! otak kamu itu Di, mesum! ayo ke sekolah daripada nanti terlambat dan aku nggak mau lagi yang pagi-pagi ada adegan seperti ini. Kamu lihat sendiri bagaimana pakaianku yang kucel seperti ini dan juga bedakku yang luntur karena ulah kamu."
Aruna kembali memasang sabuk pengaman dengan bibirnya yang masih manyun dan memberikan ajaran-ajaran kepada suaminya yang nyatanya Aruna sendiri juga tidak memungkiri apa yang dikatakan oleh Digo adalah benar, ia sudah terbuai dengan sentuhan-sentuhan lembut dari bibir dan juga tangan Digo hingga membuat Aruna tidak berdaya dan ikut membalas semuanya.
"Pulang sekolah nanti ke salon, tetapi maaf sayank, aku tidak bisa temenin kamu, nanti kamu sama Vina saja.. kamu bisa nyalon sepuasnya sebagai ganti rugi karena telah aku acak-acak pagi ini."
Digo tersenyum, ia sama sekali tidak marah dengan ocehan istrinya bahkan ia senang karena berhasil mengacak-acak dandanan Aruna, kalau begitu istrinya nanti tidak selalu dipandang cantik oleh orang lain dan hanya dirinya yang bisa memandang wajah cantik istrinya.
"Ckk padahal aku sama sekali tidak berniat untuk ke salon."
"Kenapa? trauma? Kalau semalam aku tidak membiarkanmu tidur."
Aruna melototkan matanya ia jadi teringat tentang kejadian beberapa hari yang lalu di mana ia dan juga Mami Nina seharian pergi ke salon untuk memanjakan tubuhnya dan perawatan tubuh bagian bawahnya, alhasil semalam penuh Digo tidak membiarkan dirinya tidur, memangsanya dari malam sampai pagi tanpa jeda.
"Gila! ayo di cepetan berangkat, kalau nggak aku turun dan naik taksi saja!!"
Tidak ingin kembali mengingat kejadian yang itu yang membuatnya malu sekaligus jengkel dengan suaminya, Aruna sedikit mengancam supaya Digo segera melajukan mobilnya.
"Iya ya sayank, jangan naik taksi nanti aku kesepian di sini lagi pula kapan-kapan kamu sama Mami pergi ke salon itu lagi, aku bener-bener candu dengan semuanya."
Tidak ada tanggapan dari Aruna, perempuan cantik itu memilih untuk melihat jalanan saja daripada menanggapi suami yang pagi-pagi ini sudah menggila, pastinya jika Digo dituruti nanti yang ada semua badannya remuk, bukannya dari salon segar tetapi malahan membuat yang lelah.
Sesampainya di sekolah, semua teman-teman sudah ada di sana bahkan 5 menit lagi pintu gerbang akan ditutup, padahal tadi Digo dan juga Aruna berangkat lebih awal tetapi karena insiden di tengah jalan membuat keduanya hampir saja telat ke sekolah.
"Aku nggak mau tahu ya, pagi ini aku nggak ikut jaga di gerbang!!"
Ujar Aruna yang sudah membuka sabuk pengaman nya. Perempuan cantik itu buru-buru untuk keluar dari mobil karena ia ingin segera masuk ke kelas untuk menyiapkan ulangan hariannya.
"Nggak apa-apa sayank, lagi pula 5 menit lagi sudah masuk, kamu ada ulangan kan pagi ini?"
Aruna mengaggukan kepalanya, kemudian ia meraih tangan Digo dan mencium punggung tangan suaminya.
Ya hal baru yang dilakukan oleh Aruna pagi ini karena ia selama 2 hari dan 2 malam berada di rumah Mamanya, Mamanya sudah memberikan ceramah yang panjang dan lebar dan tentunya itu membuat Aruna jadi sedikit lebih berpikir, meskipun ia belum benar-benar mencintai Digo tetapi ia harus memperlakukan Digo layaknya sebagai suami dan menghormatinya.
__ADS_1
Digo kaget, rasa-rasanya ia begitu senang dengan apa yang dilakukan Aruna, ini adalah pertama kalinya hingga ia menarik tubuh Aruna setelah istrinya itu salim padanya.
"Tambah cinta deh aku sama kamu yank, love you.."
Digo kembali mendekati tubuh Aruna yang membuat Aruna berontak untuk segera dilepaskan, terlebih lagi ini di sekolahan.. bagaimana nanti jika ada orang yang tahu dengan kelakuan Digo padahal di sekolah ini mereka tahunya dirinya dan juga Digo hanya sebatas sepasang kekasih, bahkan lebih parahnya lagi mereka tahu kalau sudah bertunangan, tetapi tidak dalam ikatan pernikahan namun jika melihat apa yang dilakukan padanya pagi ini pastinya membuat mereka semua bertanya-tanya, pasti hubungan Digo dan Aruna itu lebih dari sekedar tunangan saja.
"Lepas Di, ini di sekolah .. kamu jangan macam-macam!!"
"Bukan ini macam-macam tetapi aku tersentuh saja melihat istriku pagi ini yang begitu manis. Aku suka dengan perubahan sikap kamu yang seperti ini dan terus mempertahankan sayank, karena bagaimanapun juga aku adalah suami kamu, sebesar apapun rasa benci kamu terhadapku, aku tetap suami kamu yang perlu kamu hormati."
Aruna tidak menanggapi, kemudian ia mendorong pelan tubuh Digo supaya ia bisa terlepas dari dekat suaminya, lalu dengan cepat perempuan cantik itu keluar dari mobil Digo sembari melihat ke kanan ke kiri, apakah banyak teman-teman nya saat ini berada di belakangnya yang menyaksikan bagaimana kemesuman suaminya.
Dan memang suatu keberuntungan karena parkiran sepi dan tidak banyak orang hingga Aruna langsung saja berlari untuk menuju ke kelasnya tanpa memperdulikan Digo yang saat ini senyum-senyum sembari menggelengkan kepalanya.
Digo juga buru-buru untuk keluar dari mobil, ia pagi ini bertugas untuk berjaga di gerbang meskipun hampir telat namun tidak masalah toh juga semua maklumi terlebih lagi keempat sahabatnya yang saat ini sudah berada di depan mereka pasti paham apa yang dilakukan oleh Digo setelah menikah dengan Aruna.
"Riyan tunggu!!"
Teriak Aruna tiba-tiba yang saat ini memanggil Rian, tentu saja panggilan Aruna membuat Digo dan keempat sahabatnya itu ikut menoleh.
"Shittt!! Cari mati bini lo rupanya Di!"
Dino melihat ke arah Digo yang kini sedang memperhatikan ke arah Aruna yang tiba-tiba memanggil Ryan, Dino sendiri sebenarnya bukan benci dengan Rian tetapi kadang-kadang sikap Riyan itu tidak masuk akal karena masih ingin mendekati Aruna yang jelas-jelas sudah menjadi istri dari Digo.
Digo sendiri hanya menggelengkan kepalanya, memang tingkah istrinya itu ajaib, terhadap Riyan bisa bisanya bersikap lembut, dan itu membuat Digo jengkel juga membuatnya cemburu, tetapi ia yakin jika Aruna tahu diri dengan statusnya, meskipun pagi-pagi sudah dibuat terbang melayang tetapi setelah sampai di sekolah, Digo juga dibuat cemburu karena tiba-tiba memanggil Ryan dan berjalan di samping Rian, entah apa yang ada di dalam pikiran istrinya saat ini atau memang sengaja ingin membalas nya yang tadi pagi merusuh dengannya.
"Wah tidak bisa dibiarkan itu Di, bini lo harus diberi pelajaran, nanti malam kalau bisa sekap dia dan jangan biarkan dia turun dari atas ranjang, mangsa dia semalam sampai pagi.. jangan biarkan dia tidur."
Dimas memberikan ide yang benar-benar buruk, tetapi itu malah mendapat angkutan dari Digo, ya begitulah cara menghukum istrinya yang tiba-tiba nakal dan genit dengan laki-laki lain, tidak dengan kekerasan tetapi membuat Aruna berteriak memanggil namanya dan itu juga menguntungkan bagi Digo karena semakin sering ia membuatnya maka benih yang ada di dalam rahim Aruna akan cepat jadinya dan tentu saja jika Aruna hamil dan mempunyai anak, tidak ada laki-laki lain yang akan melirik istrinya itu meskipun wajah Aruna tidak bisa dibohongi karena masih sangat terlihat cantik.
"Ide bagus, nanti malam akan aku praktekkan, istri seperti itu memang harus diberi pelajaran!!"
Meskipun Digo cemburu, tetapi ia yakin kalau Aruna hanya sengaja membuatnya panas dingin saja, untuk membalas perlakuannya tadi pagi tetapi Digo juga tidak ingin menghampiri Aruna dengan Ryan, ia percaya dengan istrinya yang hanya sekedar memanggil saja karena dari gelagat Aruna, Aruna malahan melihat ke belakang sebentar rasanya memang istrinya itu bener-bener ingin menguji kesabarannya, dengan sengaja memanggil Rian yang jelas-jelas mencintainya dan berjalan bersama dengan laki-laki itu.
Riyan sendiri menghentikan langkah kakinya ketika dia dipanggil oleh Aruna, bukan berarti Riyan tidak senang tetapi ia takut saja jika nanti Aruna malahan ditarik oleh Digo dan diperlakukan semena-mena oleh laki-laki itu, meskipun sebenarnya Ryan juga tidak yakin jika Digo yang marah akan menyakiti Aruna, namun siapa sangka jika cemburu sudah membutakan mata dan hati.
"Biarin saja, lagi pula aku hanya memanggil kamu dan ****** bareng sama kamu untuk ke kelas,.tidak aneh-aneh dan juga neko-neko."
Ya entah mengapa melihat Rian, Aruna jadi ingin memanggil dan berjalan di samping Rian, pastinya ia juga masih kesal dengan suaminya, ia juga ingin melihat bagaimana reaksi Digo saat ia berjalan dengan laki-laki yang menaruh hati padanya, tentu saja sudah terlihat jelas dari ekspresi Digo jika suaminya itu marah bahkan cemburu namun sepertinya Aruna juga paham jika setelah ini Digo akan memberikan sesuatu yang mungkin membuat Aruna tidak bisa berbuat apa-apa.
"Kalau mau macam-macam dan neko-neko juga nggak masalah, gue masih membuka hati gue untuk lao, meskipun hanya dijadikan yang kedua ataupun pacar selingkuhan kamu juga tidak apa-apa, gue akan merahasiakannya dari Digo, yang jelas gue bisa merasakan kasih sayang yang Lo berikan untuk gue."
"Gila!! apa nggak ada perempuan lain yang bisa jadikan pacar? bukan malahan bercita-cita untuk menjadi selingkuhan?"
"Hahaha yang minat sih banyak tetapi sayang sekali gue maunya cuma sama Lo, meskipun tidak jadi pacar yang sebenarnya jadi selingkuhan pun tidak masalah yang penting bisa bersama dengan lo terus."
Aruna hanya mampu menggelengkan kepalanya, rupanya niatnya untuk memanas-manasi Digo itu salah langkah yang ada malahan Riyan terus berharap besar dengannya, bahkan laki-laki itu tidak ragu-ragu untuk dijadikan kekasih simpanan dari Aruna yang Aruna sendiri tidak ada niatan ke sananya . Aruna dari awal memang tidak mencintai Ryan dan hanya menganggap Rian sebagai teman baiknya saja seperti Vina karena memang Aruna dan Ryan itu sudah dekat sejak masuk sekolah ini namun sayang sekali tidak ada perasaan apapun untuk Rian.
"Selamat belajar cantik, kapanpun Lo berubah pikiran bilang saja sama gue, pintu hati gue selalu terbuka untuk Lo, yang pastinya gue masih berharap jika suatu saat kita bisa bersatu meskipun gue juga tidak tahu kapan itu karena ada pacar lo yang jelas-jelas menjadi penghalang hubungan kita."
Sesampainya di depan kelas Aruna, Rian menarik tangan Aruna. Laki-laki itu ingin menggenggam lembut tangan Aruna tetapi jelas saja Aruna langsung menepis tangan Ryan. Ia memang ingin jalan bareng dengan Ryan untuk masuk ke dalam kelas tetapi bukan berarti Aruna ingin digenggam tangannya oleh Rian ataupun ingin bertindak lebih dari sekedar jalan bareng saja.
"Jangan berpikir yang tidak-tidak, sudah sana lo kembali ke kelas daripada Lo di sini malah oleng dan otak lo menjadi gila apalagi omongan Lo yang ngelantur!!"
"Hahaha tidak masalah. Gue gila karena lo dan gue benar-benar serius, ya sudah kalau begitu gue ke kelas dulu, selamat pagi sayank cintaku."
"Dasar sinting!!"
Sama sekali Aruna tidak tersentuh dengan ucapan dari Rian, perempuan cantik itu langsung masuk ke dalam kelas bahkan ia juga tidak menganggap serius ucapan dari Ryan itu, tetapi jika itu yang diucapkan oleh Digo, maka Aruna benar-benar kepikiran, bahkan ada sesuatu yang hinggap di dalam dadanya yang sepertinya sedikit ucapan mesra dari Digo sudah membuat Aruna melayang bahkan serasa dihipnotis.
"Awas saja kamu nanti malam sayank, Aku tidak akan melepaskanmu, kamu berani berani nya jalan dengan laki-laki lain bahkan laki-laki itu jadi berharap banyak sama kamu." Ujar Digo dengan tatapan yang menyelidik.
Aruna yang sibuk mengambil buku di dalam tasnya tiba-tiba dikejutkan oleh kedatangan Digo yang memang secara tiba-tiba dengan laki-laki itu membisikkan sesuatu di telinga Aruna yang membuat Aruna kembali meremang seketika dengan apa yang dikatakan oleh semalamnya.
__ADS_1
"Aku kan tadi hanya jalan sama Rian, kenapa? kamu cemburu?"
Sepertinya Aruna menetralkan jantung di dalam hatinya yang saat ini entah mengapa pesona Digo benar-benar luar biasa, padahal ini adalah di dalam kelas yang pastinya banyak teman-temannya yang melihat interaksi antara dirinya dengan Digo, meskipun tidak ada yang mendengar apa yang dikatakan oleh Digo barusan.
"Jelas aja Aku cemburu sayank, tetapi kamu sepertinya memang sengaja untuk membuat aku cemburu pagi ini dan jangan tanyakan lagi bagaimana nanti malam, aku akan ganas dengan kamu di atas ranjang, kalau perlu aku akan membeli obat perangsang supaya kamu benar-benar hot berada di atas kemudian membuat kita nanti malam tidak akan tidur dengan sentuhan-sentuhan panas yang aku berikan."
"Dasar mesum!! sudah sana kembali ke kelas, sebentar lagi guru akan datang ke sini!"
Sebenarnya Aruna takut dengan ancaman Digo, apalagi kalau sudah menyangkut obat terlarang itu yang pastinya sedikit sedikit Aruna tahu mengenai manfaat dari obat itu meskipun selama berhubungan dengan Digo tidak pernah sama sekali menggunakan tetapi stamina dan juga keperkasaan suaminya tidak bisa diragukan lagi, cukup benar-benar perk@sa yang bisa mengungkungnya dan memangsanya semalaman penuh tanpa jeda iklan sebentar saja.
"Baiklah istriku dan kamu harus berpikir bagaimana caranya nanti malam bergoyang di atasku yang pastinya kamu harus membayar karena sudah membuat aku cemburu.'
Cup
Digo yang gemas kembali mencium kening Aruna, laki-laki itu sekarang sudah biasa dengan perlakuannya bersama Aruna, meskipun ia tidak mencium bibir Aruna karena masih mempunyai sopan santun di sekolahan, tetapi dengan ciumannya di kening sudah membuat yang lainnya merasa panas dan ikut merasakan getar-getar jatuh cinta yang dimiliki oleh Digo.
"Digo!!"
Teriak Aruna yang mana ia merasa malu di depan teman-temannya, bisa-bisanya Diego mencium keningnya meskipun hal itu sudah biasa dilakukan Digo dan tentu saja pemandangan itu juga sudah biasa pula dilihat oleh teman-teman kelasnya, tetapi lama-kelamaan Aruna jengkel sendiri.. sepertinya Diego malah tidak tahu malu dengan tiba-tiba mencium keningnya, kalau tidak dibiarkan bisa-bisa Digo malah mencium bibirnya dan melakukan yang aneh-aneh di sekolahan ini.
"Apa sayank, mau lagi?"
Sebentar saja teriakan Aruna dan jawaban dari Digo membuat semua teman-teman Aruna jadi memperhatikan Aruna, padahal mereka sedari tadi memang sudah memperhatikan, namun melihat interaksi yang begitu mesra antara keduanya membuat mereka jadi kepo sendiri, bagaimana sebucin itu Digo terhadap Aruna yang nyata nyatanya Digo dulu waktu berpacaran dengan Miranda tidak seperti itu.
Mereka malahan kini membanding-bandingkan antara Aruna dengan Miranda yang jelas saja pemenang hatinya adalah Aruna dan mereka semua berpikir apakah dulu memang Digo tidak benar-benar cinta dengan Miranda? atau hanya Miranda dijadikan sebagai pelampiasan saja yang nyatanya Digo saat ini bersama dengan Aruna dan bucin, itu tidak pernah Digo melakukan apapun dengan Miranda dulunya ataupun memberikan perhatian lebih dan bersikap mesra terhadap Miranda, namun dengan Aruna seakan-akan Digo benar-benar jatuh cinta dan bukan hanya sekedar sebagai pacaran saja tetapi lebih dari itu.
"Ih sana pergi, ngapain di sini! kamu tidak malu dilihat teman-teman yang lainnya."
"Ngapain malu sayank, mereka sudah tahu jika kamu adalah milikku dan biarkan saja jika mereka iri melihat kemesraan kita."
Aruna yang gemes ketika langsung berdiri mendekati suaminya di mana Digo masih berada di depannya dengan berdiri karena ia sudah beranjak dari tempat duduknya.
"Kamu mau keluar dari kelas ini dan kembali ke kelasmu atau nanti malam tidur di luar bagaimana?"
Melihat Digo yang sepertinya enggan untuk keluar kelas dan selalu menggodanya membuat Aruna jadi jengkel sendiri, ia harus menemukan bagaimana caranya supaya laki-laki itu segera keluar dari sini.
"Ya jelas aku tidak mau kalau tidur di luar tetapi bagaimana kalau nanti malam 5 ronde? Kalau kamu setuju aku akan keluar dari sini dan tidak membuat ulah."
Sepertinya Digo bukan lah laki-laki yang mudah diancam dan buktinya laki-laki itu malah balik mengancam Aruna hingga membuat Aruna akhirnya pasrah dan menganggukkan kepalanya pelan.
"Good girl, yang pastinya Aku sangat mencintai kamu."
Cup
Dengan cepat Diego keluar dari kelas Aruna dan kembali memberikan ciuman di kening Aruna, yang membuat perempuan cantik itu tidak bisa berbuat banyak, percuma saja jika ia berteriak yang ternyatanya teriakannya akan kembali mengundang Digo dan Digo tidak akan keluar dari kelasnya.
"Cie cie yang pagi-pagi sudah mendapatkan ciuman mesra dari doi."
Ledek teman-teman Aruna setelah Digo meninggalkan kelas tentu saja Aruna masih menjadi pusat perhatian teman-temannya bahkan mereka semua iri dengan perhatian yang diberikan Digo padanya.
"Run, Lo pakai susuk apa sih? bisa-bisanya si ketua OSIS itu jadi bucin seperti itu, bukan hanya dia tetapi sahabat gue juga sepertinya masih tidak mau melepasin lo, gila saja bisa-bisa mata gue sakit temenan sama lo hingga nanti kelas 3, gue akan klepek-klepek melihat kemesraan kalian berdua."
Ujar Bagas sahabat dari Ryan yang dari tadi memperhatikan kemesraan Digo dengan Aruna, bukannya iri dengan hubungan mereka tetapi bisa-bisanya seorang Aruna bisa menaklukkan dua orang laki-laki sekaligus dan dua-duanya mempunyai cinta dan kasih sayang yang sama besarnya kepada Aruna.
"Susuk wajan, Gas."
"Ha?? Dan gue juga heran bisa-bisanya Digo dan Riyan sama-sama cinta lo."
"Tau ah kalau itu lo tanya sendiri sama mereka bisa-bisanya dia jatuh cinta sama gue."
"Nanti gue tanyain sama Digo, padahal dia dulu sama Miranda nggak seperti itu, kalau Riyan sih gue sudah tahu, dia sebenarnya sudah menaruh rasa sama lo sejak masuk sekolah ini, tetapi sayang sekali lo nya cuek-cuek saja dan hanya menganggap Rian hanya teman biasa, hingga akhirnya Rian tidak mau dan tidak berani mengutarakan niatnya tetapi malah keduluan sama Digo, benar-benar beruntung itu si ketos."
Aruna hanya mengedikkan bahunya, percuma saja jika ia menanggapi apa yang diucapkan oleh Bagas, toh juga nanti akhirnya sama saja yang malahan Bagas menceritakan bagaimana Rian dulunya menaruh hati padanya, sama saja itu membuat Rian malahan menjadi tidak bisa melupakannya.
__ADS_1