My Crazy Husband

My Crazy Husband
Ingin Di Manja


__ADS_3

"Bagaimana Than? apa kamu sudah menemukan calon pendamping hidup? sepertinya belakangan ini om lihat wajah kamu bahagia sekali?"


Tanya Papa Adi, bukan bermaksud beliau untuk menyindir Nathan karena gagal menikahi putrinya tetapi Papah Adi hanya saja tidak mau jika Nathan nanti belum move on dari Aruna dan masih terus memikirkan Aruna.


Seketika Nathan tersenyum, ia bahkan tidak berpikir untuk mencari pengganti Aruna setelah gagal menikahi Aruna bahkan saat ini Nathan juga berpura-pura untuk bahagia meskipun di dalam hatinya sakit, namun ia juga tidak mungkin untuk mengatakan perasaan yang sebenarnya di depan Papa Adi maupun Papah Rendra apalagi di depan Digo.


"Aku belum memikirkan soal perempuan, Om. Masih fokus menyelesaikan kuliah dan melanjutkan kuliah aku dulu sembari memajukan perusahaan."


Jawab Nathan dengan begitu yakin meskipun jawabannya itu berbeda dari dalam hatinya tetapi Nathan berusaha untuk bersikap baik dan tidak menyinggung sama sekali perasaan Digo karena ia tahu jika Nathan menjawab kalau dirinya belum move on dari Aruna sudah dipastikan Digo nanti akan cemburu dan membuat jarak antara dirinya dengan Aruna.


"Dia sekarang beda Di, Nathan lebih fokus ke perusahaannya dulu dan tidak memikirkan tentang perempuan, tetapi ya misal kamu ada calon istri yang cocok buat Nathan bolehlah dikenalin selama itu perempuannya baik-baik dan juga tidak neko-neko pasti Nathan mau, iya kan Than?"


Nathan menganggukkan kepalanya meskipun di dalam hatinya ia tidak akan mau dijodohkan lagi dan ia akan memilih perempuan sesuai dengan hatinya, meskipun saat ini mungkin Nathan belum membuka hatinya untuk perempuan lain dan mencoba melupakan Aruna, namun tidak menutup kemungkinan kalau suatu saat ia akan bersama dengan perempuan lagi karena sudah jelas jelas jika Aruna tidak bisa dimiliki dan sudah menjadi istri Digo.


Akhirnya keempat laki-laki itu melanjutkan makan malamnya sembari ngobrol yang entah mengobrolkan apa hanya mereka berempat yang tahu yang pastinya seputar laki-laki, hingga menunjukkan pukul sembilan malam dan satu persatu laki-laki yang ada di sana pamit undur diri.


Pertama Digo, Digo sudah lima belas menit yang lalu meninggalkan ketiga laki-laki itu, ia memang tidak mau terlalu lama berada di sini meskipun bersama dengan keluarganya tetapi pikirannya ada bersama dengan Aruna, takut saja jika istrinya itu masih menunggunya apalagi tidak makan malam karena tidak ada dirinya.


Digo pulang terlebih dahulu, tetapi sebelum ia sampai di rumah, Digo mampir dulu ke sebuah toko perhiasan di mana memang ia sudah janjian dengan karyawan maupun pemilik toko itu dan beruntung sekali karyawan di sana masih menunggu Digo malam ini.


Laki-laki itu sudah memesan satu buah kalung cantik untuk Aruna dan tentunya selama menikah dengan Aruna, Digo belum memberikan apapun juga kecuali cincin berlian yang harganya sudah tidak bisa ditanyakan lagi berapa dan malam ini Digo ingin memberikan sesuatu yang spesial untuk Aruna sebagai tanda cintanya kepada istrinya itu.

__ADS_1


Setelah mengambil kalung berlian itu, Digo segera melajukan mobilnya menuju ke rumah, ia yakin jika Aruna pasti belum tidur karena ia tahu jam berapa jadwal istrinya itu tidur setiap malamnya.


Hingga akhirnya mobil yang dikemudikan oleh Digo sudah sampai di halaman rumahnya di mana Digo bergegas untuk keluar dari mobil dan segera masuk ke dalam rumahnya.


"Loh..bukannya kamu sudah pulang dari tadi, kenapa baru sampai rumah?"


Tanya Mami Nina ketika ia melihat Digo baru saja membuka pintu utama di mana Mami Nina saat ini bersama dengan Papi Rendra dan sedikit curiga dengan kelakuan putranya itu, padahal menurut informasi dari Papi Rendra ..Digo sudah pulang beberapa menit yang lalu tetapi kenapa sampai di rumahnya malah duluan Papi Rendra.


"Ada deh mau tahu aja Mami sama Papi, kepo!! yang jelas aku tidak nongkrong dengan teman-teman."


Jelas saja ini adalah rahasia meskipun sebenarnya  kedua orang tuanya itu curiga dengan tingkah laku Digo, namun tidak mengapa biarkanlah.. toh juga memang ia malam ini tidak nongkrong dengan teman-temannya.


Setelah mengatakan itu, Digo langsung saja menuju ke kamarnya .. ia yakin jika Aruna belum tidur dan Digo memang melihat jika lampu di kamarnya masih menyala dan itu pertanda jika Aruna masih belum memejamkan matanya.


Aruna saat ini mengerjakan pekerjaan sekolahnya meskipun ia tidak bisa mengerjakannya tetapi sebisa mungkin ia akan menuliskan sesuatu di bukunya meskipun ia tahu jika jawabannya tidak ada yang benar sama sekali tetapi daripada bukunya hanya kosong saja lebih baik ditulis saja apa yang Aruna tahu.


Hingga kedatangan Digo pun Aruna juga tidak tahu karena perempuan cantik itu masih fokus dengan apa yang ada di depannya dan tidak melihat jika Digo saat ini sudah berdiri di sampingnya.


Cup


"Serius banget sampai suaminya pulang tidak denger. Bagaimana tadi Kalau yang buka pintu itu adalah orang lain pastinya kamu juga tidak tahu sayank?"

__ADS_1


Digo memberi kecupan di pipi Aruna sementara Aruna kaget melihat kedatangan Digo tiba-tiba, memang bukan sengaja ingin mencuekin suaminya namun ia memang tidak mendengar bunyi pintu dibuka.


"Kalau orang lain yang masuk kamar ini bakalan aku tendang, coba aja kamu ... sekali lagi ngagetin aku pasti kamu juga akan merasakan tendangan mautku."


"Hahaha mana bisa coba saja kalau berani."


Digo dengan cepat memeluk tubuh Aruna, ia benar-benar sudah kangen dengan istrinya itu di mana beberapa jam tidak bertemu dengan Aruna.


"Mandi dulu, aku siapkan baju ganti."


Dengan cepat Aruna melepaskan pelukan dari Digo tetapi bukan Digo namanya yang buru-buru melepaskan pelukan dari istrinya terlebih lagi saat ini aroma tubuh Aruna membuatnya candu sepertinya ada yang berbeda dengan istrinya. 


Hingga akhirnya Digo membawa Aruna untuk berdiri dan mengubah posisinya yang saat ini Digo sudah memeluk Aruna dari depan dan dengan menatap wajah cantik Aruna dari atas ke bawah sepertinya memang beda, Aruna tambah cantik hari ini bahkan auranya sangat terlihat apalagi aroma wangi dari tubuh Aruna membuat Digo cepat-cepat ingin membawa Aruna ke atas ranjang.


"Kamu cantik banget sayank dan harum sekali."


Digo sudah mencium kedua pipi Aruna dan saat ini ciumannya turun ke leher, yang membuat Aruna was-was seketika. Aruna tahu jika setelah ini apa yang akan dilakukan oleh suaminya.


"Lebih baik kamu mandi, badan kamu bau dan tentu saja gerah setelah beberapa jam berada di luar."


Lagi dan lagi Aruna mendorong tubuh Digo tetapi sayang sekali kekuatan Digo lebih besar daripada Aruna.

__ADS_1


"Mau ngapain lagi, bukankah tugas seorang istri itu membantu suaminya dan melayani suaminya? sekarang aku minta kamu buka kan pakaianku,.Aku juga ingin dimanja-manja oleh istriku."


__ADS_2