My Crazy Husband

My Crazy Husband
Ngobrol Dengan Nathan


__ADS_3

Digo sejenak terdiam ia berpikir dengan apa yang diinginkan oleh istrinya itu ia juga tidak mungkin mengekang Aruna di rumah sendirian sementara ia sendiri sibuk di luar sana yang pastinya apa yang diucapkan oleh aura benar jika dirinya sudah sibuk dan juga Mami pergi menemani Papi lalu Aruna dengan siapa, terus terang kasihan sekali istrinya jika sendirian di rumah.


"Mau nyanyi beneran?"


Lagi lagi Aruna menganggukkan kepalanya bukan karena ia mahir menyanyi seperti penyanyi-penyanyi yang sudah terkenal di mana-mana tetapi hanya sekedar menyalurkan hobinya saja mungkin memang suaranya pas-pasan tetapi enak didengar.


"Di restoran aku aja ya, lebih tepatnya restoran kita tetapi aku tidak mau kamu sendirian ke sana nanti kalau pas ada waktunya dan itu pun harus sama aku."


Aruna tersenyum kemudian mengangguk meskipun di dalam hati ia berpikir sama saja bohong karena ada suaminya berada di sana namun ia sedikit bisa bernapas dengan lega karena tidak akan jenuh dan hanya berdiam diri di rumah setidaknya ia berusaha menghirup udara segar di luaran sana bukan hanya di kamar saja.


"Nanti kita atur jadwalnya, Aku juga belum tahu bagaimana situasi di sana."


Digo mengacak gemes rambut Aruna kemudian memberikan ciuman di kening Aruna sembari melihat istrinya itu yang saat ini masih mengerjakan soal-soal matematika dan nampaknya Aruna sangat kesusahan sekali namun Digo membiarkannya saja ia ingin melihat bagaimana perjuangan Aruna untuk menyelesaikan itu apakah Aruna ingin meminta bantuannya atau menyelesaikan sendiri yang entah sampai kapan akan selesai.


Bukan karena Digo meremehkan Aruna tetapi memang kemampuannya tidak sebanding dengan apa yang dimiliki oleh di grup Aruna bukan bodoh-bodoh amat tetapi memang ia tidak pandai berhitung meskipun sudah belajar namun sama saja otaknya tidak bisa berpikir untuk mengerjakan rumus-rumus matematika yang jumlahnya banyak itu bahkan kadang Aruna kesusahan untuk menyelesaikan soal-soal yang berbau soal cerita.


Dan mungkin saja menikah dengan Digo adalah suatu keberuntungan bagi Aruna karena bisa mendapatkan les secara gratis meskipun imbalannya juga tidak akan gratis.


Digo menarik kursi satu lagi dan duduk di samping arona ia masih melihat bagaimana istrinya itu mengerjakan tugas matematika yang tampaknya dari 10 soal, 1 soal pun belum diselesaikan oleh Digo.


"Sulit?"


Aruna menoleh sekilas ke arah suaminya, ia melihat ekspresi wajah suami yang menjengkelkan itu tersenyum tetapi sepertinya mengajak dirinya.


"Jangan meledekku, apa kamu mau bilang kalau aku ini bodoh?"


Jelas aja Aruna paham betul dengan ekspresi wajah tikus itu yang akan meledeknya bodoh karena itu memang benar jika dibandingkan dengan Digo karena tidak ada apa-apanya bahkan secuil kukunya pun tidak bisa tertandingi.


"Bukan begitu sayank, tetapi melihat kamu dari tadi tidak bisa mengerjakan soal satu pun, aku jadi kasihan, bagaimana mau aku bantu?"


Tanpa berpikir keras Aruna menganggukkan kepalanya lagi pula tumben-tumbenan suaminya bisa berbaik hati untuk membantu mengerjakan tugas-tugas yang sangat sulit ini.


"Tapi semuanya tidak gratis?"


"Tidak gratis, kamu perhitungan sekali Di .. ya sudah aku bayar."


Aruna mengambil tasnya kemudian ia mengambil dompet yang ada di dalam lalu mengeluarkan 2 buah kartu yang gambar yang diberikan oleh suaminya lalu kartu itu diletakkan di tangan Digo yang membuat Digo menggelengkan kepalanya.


Bukan bayaran ini yang diinginkan kalau masalah uang jangan ditanyain lagi sudah banyak kartu-kartu yang ia punya bahkan mungkin kalau Digo tidak bekerja dan hanya melihat saja uangnya akan mengalir.


"Bukan bayaran seperti ini?"


Seperti ini? sepertinya Aruna memang belum paham betul bayaran yang diinginkan oleh Digo. Hingga ia melihat ke arah suaminya yang sedang menatap tajam dan meminta penjelasan apa yang diinginkan oleh suaminya itu kalau tidak uang.


"Satu soal satu ronde bagaimana?"


Astaga Aruna menepuk keningnya sendiri, iya lupa jika laki-laki yang sudah berstatus sebagai suaminya itu mesum sekali padanya ia jelas saja Digo tidak akan meminta uang atau kartu-kartu yang sudah diberikan kepadanya tetapi meminta imbalan yang lebih.


"Mesum!! mana ada satu soal satu ronde yang ada 10 ronde aku lemes dan tidak bisa berjalan Di.."


Protes Aruna, bagaimana mungkin suaminya semalam akan melakukan 10 roda ini saja sudah jam tujuh malam dan pastinya jika dihitung-hitung, ia nanti malam tidak akan tidur lagi bahkan sampai pagi lalu bagaimana besok ketika di sekolahan pasti Aruna akan kesusahan berjalan dan juga mengantuk.


"Ya sudah kalau tidak mau aku juga tidak akan memaksa, lagi pula kalau besok kamu dihukum itu bukan kesalahanku karena aku sudah menawarkan bantuan kamu saja yang tidak mau."


Digo tersenyum penuh kemenangan ia pura-pura saja berdiri untuk meninggalkan Aruna padahal di dalam hatinya iya begitu senang melihat karena seperti ini ia yakin jika tidak akan lama lagi Aruna akan memanggilnya bahkan menyetujui apa yang sudah ia katakan karena ia tahu guru killer di kelas Aruna itu tidak akan memaafkan jika murid-muridnya tidak mengerjakan PR bahkan akan menghukum keliling lapangan dan juga membersihkan toilet.


Yang pastinya Aruna sudah khatam dengan itu semua tidak mau melakukan itu lagi apalagi saat ini Aruna adalah anggota OSIS yang pastinya apa yang dilakukannya itu akan mendapat sorotan dari teman-teman yang lainnya.


Dasar suami gila bisa-bisanya melakukan negosiasi seperti itu tetapi kalau aku tidak meminta bantuan diku lalu aku harus meminta bantuan apa lagi yang jelas ini sudah malam tidak mungkin aku menghubungi Vina lagi pula Vina juga belum tentu bisa menyelesaikan ini semua dan kalau aku tidak mengerjakan PR bisa-bisa aku besok disuruh lari keliling lapangan dan juga membersihkan toilet Aku tidak mau aku sudah sering melakukan itu... Tapi kalau menerima tawaran Digo bagaimana nanti tubuhku pastinya remuk redam dan tidak bersisa.


"Di..."


Yes...


Digo bersorak penuh kemenangan tidak ada 5 menit tetapi istrinya sudah memanggil dan itu tanda-tanda jika Aruna akan menyetujui kesepakatan yang sudah terjadi.


"Bagaimana sayank?"


"Terserah kamu saja yang penting sepuluh soal ini harus selesai malam ini dan betul semua aku tidak mau jika ada kesalahan sedikitpun."


"Tentu saja, kamu tidak perlu meragukan kemampuan suami kamu ini yang mana pastinya aku akan cepat menyelesaikan soal-soal ini dan semuanya tentu betul semua tetapi.."


"Tetapi apalagi Di, aku sudah menyetujui semuanya dan jangan kamu ngada-ngada lagi?"


"Tidak sayang hanya saja Depe dulu bagaimana? satu atau dua ronde setelah itu kita kerjain bersama-sama.."


"Ha?"


Aruna melototkan matanya ketika ia mendengar ucapan dari Digo itu, yang benar saja DP seperti membeli sesuatu saja yang jumlahnya sangat banyak dan pastinya ia tahu keinginan Digo itu bukan hanya satu atau dua ronde saja bisa langsung diterjang 10 ronde semalam ini.


Grepp


Melihat Aruna bengong, Digo langsung menarik tubuh Aruna kemudian memeluk istrinya itu dengan sangat radiku juga sudah melancarkan beberapa ciuman dan dengan tangannya yang sudah memberikan sentuhan-sentuhan nakal di tubuh Aruna hingga perempuan cantik itu meremah dan bisa merasakan sensasi yang begitu dahsyat di tubuhnya.


Hingga akhirnya keduanya sudah berada di atas ranjang dan Digo yang dengan apik memulai permainan panas ini....

__ADS_1


*****


"Sayank hei bangun!!"


Setelah berjam-jam melakukan sesuatu yang menyenangkan arona akhirnya tumbang perempuan cantik itu sudah tak kuasa lagi menahan apa yang ia rasakan bahkan sepertinya Aruna sudah pasrah ketika dibolak-balikkan oleh suaminya itu di mana saat ini Aruna malah sudah tertidur pulas dengan hanya menggunakan selimut yang menutupi tubuhnya.


Digo yang melihatnya seketika gemas endiri mengapa istrinya malah tertidur padahal satu soal pun belum dikerjakan.


Ya tentu saja Digo tidak ingin langsung mengerjakannya iya harus memberitahu Aruna bagaimana caranya supaya istrinya itu tidak langsung menulis hasilnya tetapi mengetahui dari mana seluk beluk latihan langkah-langkah soal itu bisa dikerjakan dan pastinya Digo akan mengajarinya dengan sangat baik dan juga sabar tetapi sayang sekali setelah digempur Digo hampir 5 jam perempuan cantik itu malah tertidur lemas bahkan ketika juga membangunkannya tidak ada suara dari Aruna.


Cup


"I love you, maaf sudah membuatmu lelah.."


Sudah dibangunkan tetapi istrinya itu tidak mau bangun juga alhasil diikuti mau tidak mau beranjak dari atas ranjang laki-laki itu membersihkan tubuhnya sejenak kemudian beranjak ke atas meja belajar di mana buku-buku Aruna masih terbuka di sana dan juga dengan cepat menyelesaikan 10 soal matematika.


Meskipun bukan seperti yang ia inginkan, ia ingin mengajari Aruna namun melihat istrinya yang kelelahan akibat ulahnya mau tidak mau Digo langsung saja menuliskan jawaban dari soal-soal itu di sana.


Sesekali Digo menoleh ke belakang di mana istrinya masih tertidur dengan hanya berbalut selimut dan ia mengukir senyum manisnya.


"Aku tidak menyangka jika aku seganas ini bisa-bisanya aku membuat istriku kelelahan!!"


Digo sedari yadi tidak menyangka kalau dia bisa sebuah dan sebutan itu padahal ia dulu yang paling anti dengan perempuan bukan anti yang sebenarnya tetapi di saat sahabat-sahabatnya itu menggandeng perempuan dan membawanya keluar masuk hotel ataupun apartemen Digo hanya menggelengkan kepalanya saja sepertinya melakukan sesuatu seperti itu tidak terlintas di pikirannya masih nanti-nanti saja setelah ia lulus sekolah lulus kuliah dan bekerja baru menikah dan setelahnya melakukan itu dengan istrinya tetapi sayang sekali akibat ia yang tidak mau kehilangan Aruna membuat sahabat yang berpikir jika harus melakukan sesuatu yang akan menjerat Aruna dan tidak akan kehilangan arona dan saat itulah Digo mulai merasakan sesuatu yang begitu cantik buatnya hingga ia tidak akan pernah melepaskan Aruna dan hanya sekali menatap wajah cantik Aruna sesuatu yang dibawa sudah bangun dan ingin masuk kembali.


Bisa dikatakan gila, seorang ketua OSIS yang terkena pintar dan tidak itu bisa bisa melakukan sesuatu Di luar batas bahkan sebelum menikah namun itu semua adalah kemauan di mana memang ia sudah menjadi gila jika ia tidak mendapatkan arona.


Tiga puluh menit berputar dengan mengerjakan soal-soal matematika di buku Aruna, akhirnya selesai juga digoyang memang lelah dan melihat istrinya tidur sangat nyenyak sekali langsung saja menyusul aroma laki-laki itu juga membuka kaosnya dan merapatkan tubuhnya dengan tubuh Aruna dengan memeluk aroma wangi dari rambut dan mencium aroma yang membuatnya candu.


Keinginannya untuk menerkam Aruna lagi tetapi melihat istrinya yang nampak kelelahan akhirnya Digo urungkan niatnya untuk perjanjian yang masih ada 5 ronde lagi pasti akan dilunasi besok pagi atau nanti malam ketika Aruna terbangun karena ia tahu istrinya itu tidak akan mungkin tidur lama dari sekarang sampai nanti pagi.


****


"Jam berapa ini?"


Aruna yang terbangun di tengah malam ia tiba-tiba kaget ketika bangun dalam keadaan yang masih tertutup selimut dengan suaminya yang memeluknya sangat erat ia juga kepikiran tentang tugas matematikanya semalam di mana setelah Digo melakukan anu anu padanya Aruna langsung tertidur dan tidak ingat apapun lalu bagaimana dengan tugas matematikanya pastinya tidak ada satu soal pun yang dikerjakan sementara dirinya tertidur dan pastinya arona yakin jika tidur tidak akan mengerjakan tanpa dirinya.


Jam sudah menunjukkan pukul dua dini hari hingga Aruna menggelengkan kepalanya, ternyata sudah siap itu perlakuannya Digo lakukan padanya tadi hingga membuat ia lelah dan tidak sadar sudah tertidur pulas.


Bukannya langsung beranjak bangun dan melihat ke arah meja belajar tetapi Aruna malah memandang wajah tampan suaminya di mana Aruna mengagumi kalau Digo memang benar benar tampan terlebih lagi hidungnya yang mancung dengan alis yang tebal membuat semua orang terpesona melihat Digo.


Jadi memang tidak salah jika Digo mempunyai banyak fans di sekolah di sekolahnya bahkan banyak perempuan yang ingin mendapatkan posisi di hati Digo seperti dirinya tetapi sayang sekali hanyalah yang ada di dalam hatiku dan Aruna patut bersyukur untuk semuanya ini.


Aruna juga tidak menyangka laki-laki yang saita tidur pulas adalah suaminya di mana suaminya itu sudah melakukan hubungan badan dengannya yang pastinya ia juga masih tidak berdaya Digo yang nyatanya kalem dan tidak aneh-aneh bisa saja melakukan anu anu dengan dirinya bahkan tidak cukup satu atau dua ronde saja.


Puas melihat wajah tampan suaminya Aruna pelan pelan beranjak dari kasur ialah segera menuju ke kamar mandi dan mengambil baju tidurnya tidak mau jika Aruna masuk angin dengan olah Digo, Digo yang setiap malam harus menggunakan selimut tanpa menutupi dirinya dengan pakaian pada umumnya.


"Terima kasih Di, tidak sia sia kamu menjadi suamiku."


Terkesan lucu sekali jika ia mengucapkan seperti itu sepertinya Aruna hanya memanfaatkan keadaannya saja dan memang benar-benar Aruna manfaatkan karena ia tahu bagaimana kemampuan suaminya itu bukan hanya pintar di atas ranjang tetapi di dalam pelajaran apapun Digo juga sangatlah pintar terlebih lagi hitung-hitungan seperti ini.


Setelah memasukkan buku nya ke dalam tas ia juga tidak lupa mempersiapkan buku pelajaran untuk Diko di mana sebagai wujud rasa terima kasihnya karena Digo sudah mengerjakan 10 soal itu tanpa membangunkannya Aruna menuju ke balkon sepertinya ia tidak bisa tidur lagi dan ingin menghirup udara yang segar plus dingin di sana.


"Belum tidur? udaranya di sini dingin Dek, ngapain ada di sini?"


Aruna yang sudah berdiri di balkon langsung saja kaget mendengar seseorang yang mengucapkan itu padanya ia seketika langsung menoleh ke kanan di mana Di sana sudah berdiri Nathan yang saat ini tersenyum manis padanya.


Iya kamar Nathan memang bersebelahan dengan kamar Digo yang mana malam ini Mami Nina menginginkan Nathan untuk menginap di sini saja dan tidak membiarkan putra sulungnya itu pulang.


Mungkin setelah Aruna menikah dengan Digo, ini adalah pertama kalinya Nathan menginap di rumah ini di mana memang sadari dulu Nathan menempati rumah ini namun setelah dipikir-pikir setelah dikomunikasi tidak baik rasanya jika ia masih tetap berada di sini tidak baik untuk mata dan juga hatinya Nathan takut jika ia tidak menghindar dari Aruna maka rasa cinta dan sayangnya untuk Aruna semakin bertambah dan itu tidak boleh terjadi.


"Nggak bisa tidur lagi kak, lalu kenapa kak Nathan berdiri di sana apa kak Nathan tidak tidur juga?"


"Mungkin sama seperti kamu, aku terbangun di tengah malam dan juga tidak bisa tidur, Digo di mana tumben tidak ada sama kamu?"


Pertanyaan yang lucu yang ditanyakan oleh Nathan pastinya Digo sudah terlelap setelah melakukan sesuatu yang mengenakkan tadi malam dan natambang betul itu tidak mungkin adiknya melepaskan Aruna begitu saja dan tidur tanpa melakukan sesuatu perbuatan yang halal tentunya.


"Digo sudah tidur setelah mengerjakan PR matematika aku."


"Digo yang ngerjain lalu kamu ngapain?"


"Aku ya tidurlah Kak mana bisa Aku mengerjakan soal matematika yang jumlah 10 itu otakku tidak sampai ke sana."


Ketiduran habis ditidurin Digo maksud nya...


"Digo mau?"


Aruna mengaggukan kepalanya, mana mungkin Digo menolak apa yang diinginkan, meskipun harus membayar dengan sesuatu yang tidak wajar.


"Tumben-tumbenan sekali anak itu mau mengerjakan soal tanpa mengajarinya terlebih dahulu.."


Dan pastinya aku tahu apa yang dilakukan Digo setelahnya pasti digo meminta imbalan yang bukan berupa uang...


Nathan tersenyum tipis ketika mengingat kalau Aruna dan Digo sudah menikah pastinya sudah melakukan yang begituan dan itu adalah sah dan halal tidak ada yang berani mengusiknya ataupun melarangnya.


"Kak Nathan sendiri kenapa tidak tidur bukannya nanti berangkat ke kantor?"

__ADS_1


Aruna mencoba untuk mengakrabkan diri yang pastinya tidak mungkin ia merasa canggung dengan Nathan seterusnya yang mana Nathan sekarang ini sudah menjadi kakak iparnya dan pastinya tidak menutup kemungkinan jika ada Nathan akan bertemu setiap hari.


"Tiba-tiba terbangun dan tidak bisa tidur lagi mungkin karena aku sudah lama meninggalkan kamarku jadinya aku tidak bisa langsung terlelap begitu saja sudah nyaman berada di apartemen."


Aruna menjadi merasa tidak enak dengan ucapan Nathan ia yang sudah membuat Nathan keluar dari rumah ini meskipun sebenarnya itunya tidak diinginkan oleh Aruna tetapi mau gimana lagi supaya ia dan Digo berada di sini dan memilih tinggal di apartemen.


"Maafkan aku Kak gara-gara aku kakak harus keluar dari rumah ini."


Sepertinya rasa bersalah Aruna masih tetap ada di dalam hatinya manakala ia mengingat bagaimana ekspresi wajah Nathan yang sepertinya tidak baik baik saja ketika terbangun dan tidak bisa tidur lagi.


"Hai sudah aku bilang itu semua bukan karena kesalahanmu Aku seharusnya sadar diri aku adalah anak tertua di sini dan pastinya aku harus lebih bisa mandiri dan memang sudah lama Aku menginginkan untuk tinggal terpisah dari kedua orang tua tetapi yang nyatanya Mami dan Papi tidak mengizinkan itu Dan mungkin saja dengan kehadiran kamu di sini itu membuat kesempatan supaya aku bisa tinggal sendirian di luaran sana dan kamu jangan merasa bersalah seperti itu Run?"


"Bagaimana aku tidak merasa bersala sejak aku menikah dengan Digo dan tinggal di sini Kak Nathan memilih tinggal di apartemen."


"Lalu apakah aku harus juga tinggal di sini?apa kamu tidak takut jika suatu saat kamu berpaling dari Digo dan mencintai aku?"


Ujar Nathan yang sedikit menggoda Aruna meskipun ia tahu Aruna bukan tipe perempuan yang suka tertarik dengan laki-laki dengan perhatiannya tetapi melihat ekspresi Aruna yang seperti itu membuat mata ingin sekali menjahili Aruna siapa tahu saja itu menjadi kenyataan Aruna akan berpaling darinya dan mencintainya.


"Ha? Ada ada saja..."


"Hahaha dan bener kan, aku hanya menjaga hubungan kalian saja dan juga menjaga perasaan Digo meskipun aku tidak berniat sedikitpun untuk merusak hubungan kamu denganku tetapi aku tahu bagaimana perasaan Digo jika aku tinggal di rumah ini dan pastinya sebagai seorang laki-laki aku pun paham jika mungkin aku yang menjadi Digo saat ini dan menjadi suami kamu aku juga akan melakukan yang sama aku tidak mau kehilangan istri yang aku cintai. Jangankan untuk tinggal di sini tadi pas waktu makan malam saja aku sudah melihat ekspresi wajahku yang tidak senang melihatku?"


Tidak dipungkiri Aruna juga merasakan seperti itu tetapi ia tidak mau membesar-besarkan masalahnya ataupun tidak mau menanyakan kepada Diego dengan semuanya ini.


"Bagaimana Digo senang melihat wajah Kak Nathan, dari tadi Kak Nathan terus memandangku dan tidak menyantap makanannya."


"Kamu tahu dan kenapa kamu tidak membalas tatapan mataku?"


Astaga ngobrol dengan Kak Nathan malam-malam begini bisa membuat aku gila...


"Apakah Kak Nathan mau terjadi perang dunia di sini jika aku membelas tatapan Kak Nathan? Melihat Kak Nathan yang menatapku saja Digo sudah cemburu padahal sama sekali aku tidak membalasnya apalagi kalau kita saling bertatapan mata bisa-bisa Digo membunuh Kak Nathan dan Digo mengurung untuk tidak keluar kamar."


"Hahaha... Posesif sekali suami kamu.."


"Suamiku juga adik kak Nathan sendiri.."


Keduanya masih asik ngobrol-ngobrol di balkon meskipun tidak satu balkon tetapi mereka berdua sama sama menikmati obrolan malam ini meskipun tidak ada perasaan apapun di dalam hati Aruna namun sejenak ia terhibur dengan ocehan ocehan Nathan yang tidak bermanfaat berbeda dengan Nathan yang di dalam hatinya merasa berbunga-bunga karena malam ini ditemani dengan bidadari cantik yang memenuhi isi hatinya tetapi sayang sekali nonton tidak bisa memiliki bidadari itu hanya bisa melihat dan mengaguminya.


Sedangkan di dalam kamar, Digo menggeliat laki-laki itu meraba di samping posisi tidurnya tetapi tidak menemukan Aruna di sana.


Langsung saja membuka matanya melihat dengan jelas apakah istrinya memang benar-benar tidak ada di sampingnya atau malah terjatuh karena olahnya yang mungkin saja tidur sembarangan.


Tetapi setelah dilihat-lihat tidak ada Aruna di sampingnya dan juga tidak ada Aruna di bawah ranjang dan sudah dipastikan Aruna terbangun dan entah ke mana.


Digo yang seketika kehilangan Aruna langsung saja duduk ia yang masih dengan posisi yang bertelanjang dada dan hanya memakai celana boxer saja kemudian menoleh ke samping di mana angin masuk ke dalam kamarnya dan sudah dipastikan jika itu berasal dari pintu belakang yang terbuka.


"Di sana rupanya.."


Digo tersenyum karena ia yakin Aruna pasti berada di balkon kemudian laki-laki itu turun untuk menghampiri istrinya dan meminta Aruna untuk segera masuk ke dalam karena suasana menjadi sangat dingin dan tidak ingin istrinya itu nanti masuk angin.


Namun baru saja beberapa langkah Digo sudah mendengar ocehan ocehan dari bibir Aruna dan juga mendengar seseorang yang menanggapi apa yang diceritakan oleh Aruna itu suatu ketika laki-laki itu menjadi cemburu ia menghentikan langkahnya sejenak lebih lanjut suara siapakah itu. Dan Digo baru tersadar Jika suara itu berasal dari kamar Nathan. 


"Bang Nathan, berarti semalam Bang Nathan tidur di sini?"


Digo menggelengkan kepalanya pelan, ia tambah terbakar cemburu saja jika mengetahui kalau kakaknya tidur di sini semalam yang pastinya siapapun yang mendekati Aruna dan tersenyum manis kepada Aruna, Digo tidak akan membiarkannya, cemburu laki-laki itu menaru amarah yang besar bahkan terhadap kakak kandungnya sendiri.


Grepp 


"Sayank kenapa nggak masuk, udara  di sini dingin nanti kamu masuk angin."


Digo.emeluk dari belakang istrinya laki-laki itu melirik sekilas ke arah Natan yang saat ini melihatnya dan tanpa memperdulikan tatapan mata-mata yang sangat tajam diku semakin mempererat pelukannya sembari menciumi leher Aruna.


Memang sengaja melakukannya itu ia ingin membuat Nathan cemburu dan meyakinkan kepada Nathan kalau Aruna adalah miliknya dan tidak akan membiarkan laki-laki lain untuk merebut Aruna dari dirinya siapapun itu.


"Di ada Kak Nathan,naku malu.."


Bisik Aruna yang merasa tidak nyaman karena pelukan Digo dan juga ciuman Digo yang semakin panas saja sementara Nathan sedari tadi melihat ke arahnya.


"Biarkan saja kita sudah sah menjadi suami istri dan itu salah Kak Nathan karena dia malah melihat ke sini lagi pula kamu kenapa malam-malam begini ada di sini bukannya malah tidur dan memeluk aku tetapi malah ngobrol dengan Bang Nathan."


Astaga Aruna jadi berpikir tampaknya suaminya ini cemburu dengan apa yang dilakukannya memang Aurora tidak sengaja untuk keluar balkon bahkan tidak janjian sama sekali dengan Nathan hanya saja tiba-tiba iya ingin menghirup udara segar saja dan bertemu dengan Nathan di sini.


"Eh ada Bang Nathan, Bang Nathan kenapa tidak tidur bukannya nanti ada pertemuan penting dengan klien?"


Pura-pura saja Digo bertanya kepada abangnya itu di mana ia masih memeluk Aruna dan menciumi Aruna.


"Ya sudah aku masuk dulu dan jangan biarkan Aruna terlalu lama di sana."


Tidak ingin membuat heboh apalagi membuat Digo semakin lama cemburu terlebih lagi hati natanya tidak baik-baik saja Nathan memutuskan untuk masuk ke dalam kamar memendam perasaan yang begitu sakit melihat Digo memeluk Aruna dengan sangat mesra tidak dipungkiri laki-laki itu cemburu dan masih mencintai Aruna dan entah sampai kapan perasaannya akan hilang.


Sementara Nathan sudah masuk ke dalam kamarnya Digo tersenyum pernah kemenangan tetapi ia juga tidak melepaskan pelukannya dan juga ciumannya malah semakin ke sini semakin bertambah panas saja yang membuat Aruna merinding seketika dan tahu betul apa yang akan dilakukan suaminya setelah ini.


"Masuk Di, aku ngantuk.."


"Tetapi sayang sekali, Aku malah tidak bisa tidur bagaimana kalau kita lanjutkan 5 ronde yang belum aku lakukan dan pastinya semua tugas-tugas kamu sudah aku selesaikan."

__ADS_1


Aruna ingin protes tetapi sayang sekali bibirnya sudah dibungkam oleh bibir Digo yang membuat perempuan cantik itu tidak berdaya dan pasrah saja mendapatkan sentuhan-sentuhan panas dari suaminya.


__ADS_2