My Crazy Husband

My Crazy Husband
Karena Paksaan


__ADS_3

"Minggir!!"


Aruna mendorong tubuh Digo karena ia juga tidak mau diantarkan oleh Digo, apalagi nanti Digo mengatakan itu kepada orang tuanya, Aruna belum siap dan belum sanggup untuk melihat kekecewaan yang ada di dalam wajah orang tuanya nanti.


"Run, aku serius.. aku akan nganterin kamu."


Digo memegang tangan Aruna, laki-laki itu tidak akan membiarkan Aruna pulang sendirian pagi ini, meskipun ini sudah pagi dan pastinya banyak orang yang berlalu-lalang namun Digo khawatir dengan apa yang sudah terjadi dengan Aruna.


"Aku tidak sudi diantarkan sama lo, lo jahat ... lo laki-laki yang brengseekk!! minggir!!"


Aruna kembali mendorong tubuh Digo, karena laki laki itu sama sekali tidak mau menyingkir dari hadapan nya.


"Aku cinta sama kamu Run, izinkan aku untuk mempertanggungjawabkan semuanya karena aku memang sengaja melakukan ini supaya aku bisa memiliki kamu, supaya kamu tidak menikah dengan Bang Nathan dan aku yang menikahi kamu."


Aruna menatap tajam ke arah Digo, apa yang ia dengar membuat Aruna semakin marah, kenapa laki-laki itu bisa berbuat seperti ini, kalau cinta sebaiknya tidak melakukan seperti ini, tetapi mengapa Digo malah melakukan sesuatu hal yang mungkin tidak akan termaafkan oleh Aruna, apalagi sesuatu itu sangat Aruna jaga dan akan dipersembahkan untuk suami yang dicintainya nanti.


"Kalau lo cinta gue, seharusnya lo tidak melakukan ini dan lo sadar nggak... gue ini adalah calon tunangan Kakak lo!!"


"Lalu bagaimana cara aku untuk mendapatkan kamu, sementara kedua orang tua kamu dan kedua orang tuaku sudah menjodohkan kamu dengan Bang Nathan dan aku tahu jika Bang Nathan itu menerima perjodohan karena dia mencintai kamu, lalu aku harus berbuat apa Run? aku tidak bisa melihat kamu bersanding dengan Bang Nathan, apalagi melihat kamu bermesraan dengan Bang Nathan, hatiku sakit Run, hatiku sakit..dan hanya ini satu-satunya cara yang aku lakukan. Oke aku memang salah, perlakuanku ini memang brengseekk, aku memang bej@t tetapi aku akan bertanggung jawab semuanya, karena aku yang menginginkannya, aku menginginkan kamu."


Semua yang dilakukan oleh Digo memang salah, bahkan sangat sangat salah, bukan seperti ini caranya untuk mendapatkan Aruna atau menggagalkan pertunangan Aruna dengan Bang Nathan namun Digo tidak mempunyai cara lain lagi semuanya sudah buntu bahkan untuk meminta kedua orang tuanya membatalkan perjodohan Aruna dengan Nathan pun rasanya tidak mungkin apalagi meminta Nathan untuk membatalkannya, yang jelas-jelas diketahui jika Nathan sangat mencintai Aruna seperti dirinya.

__ADS_1


"Gue benci sama lo, lepas!!"


Aruna melepaskan genggaman tangan Digo, ia benar-benar bertekad untuk tidak mau diantarkan Digo pulang meskipun ia harus berjalan dengan terseok seok, tetapi ia masih sanggup dan mampu untuk pulang ke rumahnya pagi ini.


"Aku akan nganterin kamu Run, aku akan bertanggung jawab semuanya."


Digo kembali menarik tangan Aruna dan mengucapkan kata-kata itu yang mungkin membuat Aruna nanti luluh seketika, namun sayang sekali Aruna melepaskan genggaman tangan Digo dengan begitu kencangnya.


"Kalau lo nekat nganterin gue, lo tidak akan pernah melihat gue!!"


Ancam Aruna kepada Digo yang membuat Digo terdiam seketika dan tidak bisa berbuat apa-apa.


Bukan karena Digo laki-laki yang lemah tetapi Digo tidak mau kalau terjadi sesuatu dengan Aruna karena Aruna mengatakan itu dengan ekspresi yang meyakinkan dan juga dengan raut wajah yang sangat marah yang membuat Digo akhirnya berhenti untuk mengejar Aruna dan membiarkan Aruna keluar dari kamarnya.


Teriak Digo pada akhirnya setelah ia tersadar jika Aruna saat ini sudah keluar dari kamar utamanya dan saat ini beranjak menuju ke depan untuk keluar dari apartemennya.


Aruna tidak menggubris sama sekali apa yang dikatakan oleh Digo, perempuan cantik itu bahkan masih terisak dengan air mata yang menetes di pipinya.


Aruna tidak tahu dengan apa yang terjadi kedepannya karena ia bukan Aruna yang dulu lagi, ia sudah tidak gadis lagi dengan keperawanan nya yang sudah direnggut paksa oleh Digo, sementara dirinya beberapa hari lagi akan dilamar oleh seseorang.


"Bagaimana aku mengatakan kepada Kak Nathan, tidak mungkin aku menerima pertunangan itu sementara aku sendiri sudah tidak sempurna sebagai seorang perempuan."

__ADS_1


Sedangkan di dalam apartemen, setelah kepergian Aruna... Digo mengacak rambutnya kesal, ini yang ia takutkan sejak kemarin, kalau Aruna membencinya bahkan ia takut juga jika Aruna pergi meninggalkannya.


Tetapi kembali lagi Digo meyakinkan dirinya sendiri jika Aruna tidak akan berbuat nekat dan ia akan bisa menikahi Aruna setelah semuanya yang sudah terjadi dan setelah ia mengatakan kepada kedua orang tua nya dan kedua orang tuanya Aruna.


Aku tidak boleh menyerah, karena aku sudah sejauh ini dan aku harus yakin jika aku bisa menikahi Aruna, apapun yang akan terjadi kedepannya nanti.


Digo kembali tersenyum, ia meyakinkan dirinya sendiri untuk bisa menikahi Aruna dan membuang semua pikiran-pikiran buruk tentang di hubungannya nanti dengan Aruna.


Laki-laki itu kembali ke kamar, kamar utama yang semalam ia menghabiskan malam panas bersama Aruna dengan posisi ranjang yang masih acak acakan dan Digo mendekati ranjang itu.


Lagi lagi, laki-laki itu mengembangkan senyumannya manakala ia melihat bercak merah yang ditinggalkan di sprei dan itu adalah darah perawan dari Aruna yang sudah ia renggut kemarin.


Digo menarik sprei itu kemudian menaruh sprei itu ke dalam lemari dan ia tidak berniat mencucinya karena akan ia gunakan sebagai pengingat bahwa dirinya sudah benar-benar sempurna sebagai seorang laki-laki dan bukan perjaka lagi dan dirinya yang sudah memiliki Aruna sepenuhnya, lalu laki-laki itu mengganti sprei dengan yang baru kemudian setelah semuanya rapi, Digo menuju ke kamar mandi... ia harus membersihkan diri setelah itu pulang ke rumah dan merencanakan untuk mengatakan semuanya kepada kedua orang tuanya dan juga kepada Nathan, karena Digo tidak ingin menunda-nunda lagi karena Digo tahu, lusa adalah hari pertunangan Aruna dengan Nathan dan sebelum itu, Digo harus menceritakan kepada Nathan dan orang tuanya.


Sementara Aruna sendiri, perempuan itu sudah menyetop taksi yang berada di depan apartemen, ia berusaha untuk terlihat baik baik saja dan menghapus air mata yang membasahi pipinya.


Aruna meminta Pak sopir untuk segera melajukan taksinya menuju ke rumahnya, ia juga berpikir bagaimana mengatakan kepada orang tuanya karena semalam ia tidak pulang dan pastinya orang tuanya akan cemas lalu menghubunginya.


Aruna teringat dengan ponselnya ia kemudian membuka tasnya dan mengambil ponselnya, ingin menyalakan ponselnya namun sayang sekali ponselnya tidak menyala mungkin karena baterainya sudah habis.


"Pak berhenti di apotek sebentar ya."

__ADS_1


Aruna mengingat sesuatu, meskipun ia bukan siswa yang pandai di sekolahnya, namun pelajaran biologi Aruna tidak pernah lupa apalagi tentang kesuburan dan juga reproduksi perempuan.


Dan Aruna tidak ingin hamil, apalagi mengandung anak dari Digo yang jelas-jelas ia tidak melakukan hubungan itu atas dasar cinta tetapi karena paksaan.


__ADS_2